The God in the Modern World

The God in the Modern World
Dimana Lesha?



“Bisakah aku menyelidiki tentang tembakan itu? Akh setidaknya pada salah satu mayat saja.” Ucap Theon dengan cukup serius. 


Orang itu hanya mengangguk dengan cukup ragu, dan membiarkan Theon membuka penutup mayat salah satu keluarga Marza yang tampak melakukan perlawanan besar-besaran. Meskipun orang itu cukup ragu, karena apa yang akan diperbuat Theon dan juga Rena itu sendiri.


“Benar, bahwa terjadi luka tembakan. Itu artinya, antara mafia dan juga aparat yang menyerang Marza. Apa yang sebenarnya terjadi?” Theon bertanya-tanya sambil melakukan sebuah spekulasi dan menyentuh luka di perut yang berlubang akibat sebuah peluru. “Rena, periksa kamar Lesha sekarang juga.”


“Dimegerti.”


“A-apa yang sebenarnya terjadi?” Orang yang berada di sebelah Theon bertanya-tanya, masalahnya Theon melakukan hal aneh yang membuat dia menjadi sebuah pusat perhatian.


Seketika sebuah getaran terjadi di luar rumah Lesha. Yang membuat Theon sendiri cukup terkejut. Tidak hanya Theon sebenarnya, tapi beberapa orang yang ada di kediaman Marza untuk mengurus mayat semua keluarga Marza.


Beberapa menit setelah Theon mencoba untuk berpikir.


“Lord Unknown, aku sudah muncul. Aku melakukan pelacakan pada smartphone milik Dark Witch sebenarnya.” Ucap Strega yang berjalan, masuk ke dalam Marza dan menghampiri Theon.


Hal tersebut membuat Strega menjadi sebuah pusat perhatian. Beberapa orang ketakuan karena di hadapkan dengan robot hidup yang bisa berbicara.


Namun, orang lain mungkin lebih terkejut saat Strega mengatakan tentang Lord Unknown dan Dark Witch. Yang mana matanya terpusat kepada Theon. Sehingga, menjadikan keadaan benar-benar cukup heboh.


“Berhenti! Aku tidak ingin adanya sebuah kehebohan!” Teriak Strega dengan mengulurkan tangannya.


Semua orang bergidik ketakutan, apalagi suara robot yang benar-benar khas yang menandakan bahwa dia memang asli robot. Sehingga, mereka memilih untuk diam daripada harus berurusan dengan seorang robot.


“Apa yang terjadi?” Tanyanya kepada Theon. Namun, saat dia melihat sebuah tembakan. Strega memasukkan jarinya pada lubang tersebut, dan mengangkat peluru yang bersarang. Kemudian, Strega meletakkan peluru itu di atas telapak tangannya untuk menganalisis tentang peluru tersebut melalui data di pikirannya.


“Peluru buatan Ziosam, benar. Jika dilihat melalui luka di tubuhnya, penembakan ini terjadi pada dini hari tadi.”


…...


"Dewi rembulan …." 


Seseorang berbicara dengan nada yang cukup menekan. Seseorang dengan setelah berjas yang berada di luar ruangan berkaca. Terlihat bahwa orang tersebut sangat mirip seperti orang-orang yang memiliki sebuah kekuasaan.


Berbicara di luar ruangan berkaca, dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana yang membuat dia seolah benar-benar sangat tegas. 


Di dalam ruangan berkaca, dengan tempat yang serba putih. Duduk seorang wanita cantik, bahkan benar-benar sangat cantik bagi wanita di New Santara. Rambut pirangnya membuat sesiapapun terpikat, bahkan mungkin Theon sekalipun. Mata birunya bak pusaran samudera, membuat dia terlihat seperti orang barat, padahal sebenarnya dia lahir di kalangan timur.


Lesha duduk diam, lehernya dikenakan sebuah Anti sihir yang membuat dia tidak bisa berkutik. Namun, dia semakin menyadari dirinya siapa. Otaknya seolah berputar, mengingat pikiran generasi sebelumnya yang berada dari masa ke masa. 


"Siapa aku? Dunia dengan diterangi sebuah rembulan, menjadikan malam gulita menjadi benderang. Siapa aku? Bukankah ini hari ulang tahunku?" Batin Lesha menundukkan wajahnya. Dia berusaha menyadarkan diri siapa dirinya sebenarnya.


"Dewi rembulan, dimana kau menyimpan kitab After Death di generasi pertamamu?" 


"Kitab After Death?" Lesha bertanya-tanya. Dia seketika pusing saat mengingat generasi pertamanya menggunakan kitab itu untuk melawan perang besar di dunia ini. Melawan para roh di seluruh dunia.


After Death, kitab yang digunakan untuk membangkitkan orang-orang mati. Semakin kuat orang itu, sebenarnya membutuhkan energi kematian yang cukup banyak, memerlukan sebuah tumbal yang setimpal untuk membangkitkan sosok orang mati.


Bisa saja tidak hanya satu orang yang digunakan untuk membangkitkan satu mayat. Bisa dua atau mungkin sampai ratusan tumbal untuk membangkitkan satu mayat, tergantung seberapa kuat mayat itu selama hidupnya.


"Apakah menurutmu, aku akan mengatakannya?" Tanya Lesha dengan cukup dingin.


Orang itu bergerak mondar-mandir di sekeliling ruangan kaca. Wajahnya terlihat begitu santai namun memiliki pemikiran yang cukup licik. "Kami baru saja mendapatkan chip dari New Santara. Akhh aku lupa, bawahanmu Lord Unknown dan juga Dark Witch sudah tertangkap oleh petinggi negara New Santara."


"Bagaimana jadinya jika mereka dipasang sebuah chip dan bekerja untuk kami? Menuruti tujuan utama petinggi dunia untuk menguasai dunia ini."


"Jika kau tidak mengatakan dimana kitab After Death, maka kami akan memasangkanmu sebuah chip dan bekerja untuk kami untuk membunuh seluruh umat manusia sesuai yang dipikirkan petinggi negara."


"Lord Unknown dan juga Dark Witch?" Lesha mengerutkan dahinya. "Mereka bekerja sendiri, tidak ada hubungannya denganku." 


Lesha seketika mengalami sebuah kejang-kejang hebat seolah terkena sebuah sengatan listrik yang begitu luar biasa. Lehernya bahkan menampakkan sebuah urat berwarna hitam yang menandakan bahwa apabila jika Lesha merupakan manusia, maka dia sudah mati.


"Pilihanmu hanya dua, kau mengatakan dimana kitab After Death, atau kau dipasangkan sebuah chip pengendali pikiran. Kau bisa menjadi pemimpin organisasi Eternal yang baru saja dibentuk." 


Lesha menghela napas dengan cukup lemah. Jika bukan karena sesuatu yang berada di lehernya, maka dia bisa menghancurkan ruangan berkaca ini dan membunuh sosok yang mencoba untuk menginterogasinya. 


Dia tidak memiliki pilihan lain, jika dia tidak mengatakannya maka dianya akan ditanam sebuah chip yang pada akhirnya juga mengakui dimana After Death itu berada. Tapi apabila dia mengatakannya sekarang juga, maka kemungkinan besar dia tidak ditanam sebuah chip.


Pikirannya juga semrawut, masih berbenturan antara 14 generasi untuk berada dalam satu otak yang baru. Sehingga, Lesha benar-benar cukup pusing untuk mengingatnya. 


"Negara Ellada, keturunan penyihir kuno yang bisa meramal tentang kebangkitan ku. Kemungkinan kitab After Death diturunkan oleh beberapa generasi keturunannya sehingga kini mungkin berada di tangan keturunan penyihir kuno tersebut." 


"Akh, ternyata generasi kelima belas avatar dewi Rembulan memiliki pemikiran yang naif." Kata orang itu yang kemudian beranjak pergi. 


Sebagai bawahan elite global, orang tersebut memiliki niat untuk langsung menuju negara Ellada sesuai apa yang dikatakan oleh avatar dewi rembulan generasi kelima belas atau sosok yang bernama Lesha.


“Jaga dia, sebagai pasukan khusus yang ditakuti dunia, aku tidak ingin mendengarkan kabar bahwa dia lari.” Kata orang itu berbicara pada tentara khusus yang membawa perlengkapan yang benar-benar sangat lengkap. Seperti armor, helmet serta senjata berlaras yang dia pegang menyentuh dadanya. Dan, sebelum orang itu sepenuhnya pergi, dia memberikan sebuah pesan, “Buat dia pingsan.”


“Tunggu, apa maksudmu!”