The God in the Modern World

The God in the Modern World
Misteri siapa avatar dewi Rembulan



“Kau serius tidak ingin pulang?” Ali berkata dengan cukup sinis. Dia melihat bahwa Theon dan Rena tidak memiliki keinginan untuk pulang. Padahal, teman-teman mereka benar-benar ketakutan karena tidak menemukan seorang pun semenjak tadi kecuali teman mereka.


Mereka semua menatap sinis Theon dan Rena, memandang aneh keduanya karena seperti berlagak mencurigakan. Tapi, mereka tidak ingin bertanya lebih banyak, ketakutan mereka sudah memuncak tentang kejanggalan yang ada di hotel ini. Yang mana hanya disadari oleh Ali, Theon dan juga Rena sendiri.


“Pulanglah, aku akan berada di sini lebih lama. Jika kalian merasa takut, maka pulang adalah pilihan terbaik. Ali akan menjelaskan saat perjalanan pulang.” Pinta Theon.


“Bodohnya kau, jarak sini dan Agrabinta cukup jauh! Bagaimana kau akan pulang? Mungkin kami juga bisa pulang setelah temanmu menelepon ayahnya untuk membawa supir kembali. Setelah merasakan sebuah kejanggalan, supir bis yang tinggal di hotel ini juga menghilang.” Lagi-lagi Rolland berkata dengan nada yang cukup tinggi.


“Jangan pikirkan kami. Pikirkanlah keselamatan kalian, terus terang, jika kalian terus menerus berada di sini, maka kalian akan ditakuti oleh rasa takut yang luar biasa. Aura kematian sudah membuktikan bahwa kalian cukup curiga kemana hilangnya semua orang yang ada di wilayah ini. Sudah ku bilang, Ali akan menceritakan semuanya."


Tidak banyak bicara, satu persatu orang pergi. Mereka tidak ingin menerima ketakutan luar biasa di wilayah ini. Tentang kejanggalan yang mereka dengar dari Ali tadi bahwa semua orang dibunuh oleh Kadita.


Mereka pergi, bahkan Lesha dan  Rolland sekalipun, menyisakan Ali yang berdiri dan masih berani untuk menatap Theon. Sebenarnya dia berdiri di tempat karena Theon sendiri memberikan sebuah isyarat untuk berdiri sejenak.


“Katakan kepada mereka. Bahwa semua pelayan, dan semua hubungannya dengan pantai, mereka semua adalah makhluk halus bawahan Kadita. Sopir bus milik ayah teman kita, mereka terbunuh oleh makhluk halus.” Kata Theon kepada Ali. Jika dia membiarkan bahwa kematian semua yang ada hubungannya dengan panai dibunuh oleh Aura, maka mereka benar-benar akan takut akan Aura. Dan Aura menjadi stres, dan merasa benar-benar bersalah.


“Aku mengerti Theon, aku akan sampaikan kebohongan itu. Aku berterimakasih karena kau cukup baik kepada Aura.” Ali menundukkan kepalanya dan pergi melewati Theon.


Namun sesaat, Theon menepuk pundak Ali dengan cukup keras seolah menahan Ali pergi untuk sejenak. Dia juga berkata, “Apa yang kau lihat selama ini bukanlah yang sebenarnya. Ini mungkin perpisahan kita, tapi bukan yang terakhir kali. Sampaikan, aku tidak akan ikut wisuda atau acara perpisahan.”


“Apa maksudmu tentang yang ku lihat bukan yang sebenarnya?” Ali menatap Theon dengan kebingungan.


“Suatu saat kau akan mengerti, dan aku butuh bantuanmu. Ini ada hubungannya tentang legenda tentang God of Gods yang kuceritakan. Meskipun mereka hanyalah legenda, tapi mereka juga ada hubungannya denganku. Persiapkan dirimu.” Kata Theon.


Ali sama sekali tidak mengerti tentang apa yang dikatakan oleh Theon, tapi setelah pundaknya dilepaskan, dia pergi dengan penuh pertanyaan terlintas dipikirannya. Memang, memang dia mengetahui tentang legenda God of Gods yang Theon ceritakan, tapi dia tidak tahu apa hubungannya dengan Theon. Siapa Theon yang sebenarnya?


“Mereka sudah pergi.” Rena menatap kepergian semua temannya keluar dari hotel ini. Hotel ini telah berubah menjadi sebuah tempat angker, mungkin hanya hari ini. Dia tahu, bahwa esok hari hotel ini akan ramai kembai dengan pengunjung yang kebingungan, tentang di mana para pelayan hotel?


Theon menarik Rena menuju kamarnya untuk memberitahukan sesuatu hal, yaitu tentang semua apa yang dia dengar dari Kadita itu sendiri. Maka dari itu, Theon membutuhkan sebuah ketenangan degan meminta semua temannya untuk pulang.


Tepat di dalam kamar hotel miliknya, Theon duduk di ranjang, dengan Rena yang duduk di sebelahnya. Untuk memulai pembicaraan, Theon berkata. “Kita akan menuju negara Elleda, untuk melihat sebuah menara. Itu adalah gerbang menuju alam dewa. Sayangnya ....” Theon menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Menara itu hanya bisa dibuka oleh dewi rembulan atau avatarnya. Sedangkan kita sama sekali tidak mengetahui siapa avatar dewi rembulan di dunia ini.”


“Dewi rembulan atau avatarnya? Seharusnya Kadita mengetahui siapa avatar dewi rembulan?”


“Itu sulit. Untuk keluar negeri, kita harus menggunakan sebuah paspor. Membuat paspor itu cukup lama.” Bantah Rena.


Theon tau itu, dia tiba-tiba memiliki sebuah beban pikiran tentang bagaimana caranya menuju ke luar negeri, terutama Ellada. Jika ini adalah alam elementalist manusia, keluar wilayah atau menuju sebuah kekaisaran yang lain cukuplah mudah, hanya membayar beberapa koin emas, maka akan diizinkan masuk. Atau mungkin dengan sesuatu yang lain tergantung perjanjian anatar dua kekaisaran.


Tapi, di alam ini benar-benar sangat rumit. Seperti harus memiliki paspor, dan juga visa agar diizinkan untuk masuk ke dalam negara lain.


“Pangeran!” Rena seketika memiliki sebuah pemikiran, kemudian dia menyampaikannya kepada Theon. “Apakah kala itu, Anda membunuh Roney? Bawahan Starllet? Aku pikir tidak, karena aku tidak melihatnya sama sekali kala itu.”


Theon menjentikkan jarinya, dia benar-benar hampir lupa saat mengingat bahwa Roney kabur dari pertarungan mengerikan itu. Dan Theon sebenarnya membiarkannya untuk pergi. Jadi, apa yang Theon pikirkan, pasti Roney membangun kembali sebuah mafianya, atau mafia milik tuannya yaitu Gaia kembali. Maka dari itu, dia ingin membuat Roney sebagi kaki tangannya, sehingga mengurus seperti demikian, maka dia akan bisa dengan cukup mudah.


“Telepon dia, bukankah kau pernah ditelepon Roney? Maksuku, ketika Starllet meneleponmu secara tiba-tiba, tidak ingin dia menggunakan nomor asli Starllet untuk menghilangkan jejak apabila dia terbunuh. Sehingga besar kemungkinan, Starllet menggunakan nomor Roney.” Theon menatap Rena.


Rena buru-buru memanggil Smartphonenya, dia mencari nomor Starllet yang mana pernah memanggilnya secara tiba-tiba yang mana besar kemungkinan adalah milik Roney. Karena sebagai anak mafia, Starllet tidak mungkin menggunakan nomor aslinya untuk menjebak Rena.


Siapa yang berpikir bahwa telepon itu terangkat dengan cepat, membuat Rena tersenyum mengangkat ujung bibirnya. Apalagi, ketika dia mendengar bahwa itu adalah suara Roney yang mengangkat telepon itu. Apa yang Theon pikirkan ternyata benar bahwa Roney yang memiliki nomor itu.


“Roney, aku tidak menyangka bahwa kau masih hidup.” Rena berkata dengan nada yang cukup kejam.


“Nona Rena, maafkan aku. Aku membangun kembali mafia ini, tapi sudah tidak ada lagi hubungannya dengan kalian. Kami berjanji tidak menganggu Anda lagi.”


Theon menarik telepon yang Rena genggam, dia ingin berbicara, “Memang, tapi jika kau ingin tenang, maka datanglah di hotel pantai selatan provinsi Envuella timur. Aku akan menunggumu sampai malam ini.”


“Ba-baik tuan, untuk menghindari masalah dengan Anda, aku akan menerima yang Anda minta. Aku akan menuju tempat itu sekarang juga. Tunggu aku dua jam lagi, karena aku berada di wilayah Envuella Tengah.”


Tanpa menjawab, Theon mematikan smartphone milik Rena dan memberikannya lagi. Dia benar-benar cukup lega saat dia sudah selangkah untuk kembali ke alam dewa. Tentang kekuatan elementalnya, dia berharap ketika dirinya melangkah, elementalnya akan bangkit secara beriringan.


“Pangeran ....”


Sebelum Rena menjawabnya, Theon berdiri tepat di depan Rena, kemudian dia mendorong Rena hingga tergeletak di atas kasur yang membuat Rena benar-benar berdebar kencang. Tapi, Theon masih menyangga tubuhnya menggunakan kedua tangannya. “Jangan sebut aku pangeran lagi, kita merupakan seorang pasangan. Kau paham tuan putri?” Theon berkata dengan lembut, sebelum dirinya mendorong kepalanya dan mencium leher Rena dengan sangat lembut.