
Theon melompat dan mengejarnya, hanya saja dia cukup terkejut saat Azazel mengangkat tangannya di bawah rembulan. Terlihat sangat begitu jelas bahwa sebuah pusaran dimensi keluar, apalagi saat mengeluarkan sebuah pusaran dimensi, Azazel berteriak yang membuat dimensi yang akan dia masuki berada sangat-sangat jauh dari dunia ini.
Hanya saja, Theon menggapai sayap Azazil, yang kemudian dia membantingnya dengan cukup cepat ke arah tanah bersamaan dengan pusaran dimensi yang dalam proses terbuka.
Saat Azazel terjatuh, mungkin dia memposisikan dirinya agar bisa terbang. Sayangnya, Lesha muncul di depannya dalam kondisi melayang. Mengulurkan tangannya hingga muncul sebuah cambuk kegelapan yang mengarah ke arah Azazel itu sendiri. Yang membuat, Azazel semakin jatuh ke bawah.
Posisi di bawah Azazel yang terjatuh, terdapat Lesha dan juga Fritz yang juga mengulurkan tangannya ke atas. Mereka langsung mengeluarkan sebuah elemental blast yaitu ledakan cahaya dan kegelapan untuk menandingi Azazel itu sendiri.
Lagi-lagi Azazel mendapatkan sebuah serangan beruntun, yang membuat dia memuntahkan seteguk darah saat dia terlempar lagi ke arah lain dan membentur tanah dengan cukup keras. “Aku tidak menyangka, manusia rendahan seperti mereka memiliki sebuah kekuatan dewa yang cukup mengerikan. Aku harus menuju alam dewa, untuk menuju alam lintas dewa.” Azazel terus menerus memuntahkan seteguk darah.
Pusaran dimensi itu hampir terbuka, yang membuat Azazel sendiri cukup senang. Meskipun dia seorang iblis, akan tetapi dia hanyalah iblis bumi yang kekuatannya tidak seberapa dibandingkan dengan para dewa, sehingga semestinya dia sedikit tunduk dengan para dewa tertinggi.
Meski seperti itu, dia gemar melakukan sebuah kerusakan. Seperti yang dia lakukan seribu tahun yang lalu. Sayangnya, dewi rembulan muncul dan mengalahkan dirinya. Jadi, mau bagaimana lagi, meskipun dia tunduk kepada dewa tertinggi sekalipun, dia juga harus melawan dewi rembulan untuk menyelamatkan dirinya. Lagipula, dewi rembulan juga bukan bagian dari dewa tertinggi.
Sehingga, selama Azazel sendiri melawannya, dan mampu membunuh avatar dewi rembulan, maka seharusnya tidak ada laporan kepada dewa tertinggi yang membuat Azazel sendiri sedikit lega. Sayangnya, dia kalah dari kekuatan dewi rembulan, yang membuat dia tersegel oleh ruang hampa.
Apa yang dia pikirkan bukanlah mengadu para dewa, tidak dan bukan seperti itu. Hal tersebut merupakan sebuah pemikiran yang cukup bodoh bagi seorang iblis. Meskipun dia membuka portal menuju alam dewa, maka avatar dewi rembulan pasti tidak akan mau melakukan pertarungan karena akan merusak alam asal penitisnya berada.
Dia hanya ingin menuju alam lintas dewa, yaitu alam iblis yang letaknya berada di balik alam dewa. Konon, itu merupakan tempat iblis terkuat di alam lintas dewa atau alam iblis, sayangnya iblis terkuat di alam lintas dewa sudah dikalahkan oleh dewa itu sendiri. Sehingga, Azazel sebagai iblis bumi ingin menempatinya, dan siapa tahu dia kehilangan rasa tunduknya kepada dewa.
Beberapa detik yang lalu, portal alam dewa sudah terbuka lebar, yang membuat Azazel langsung bergegas untuk masuk ke dalamnya dengan sangat-sangat cepat. Bahkan dia berusaha agar dia tidak mendapatkan sebuah serangan dari avatar dewi rembulan, atau orang yang persis dengan Alzma.
Theon yang melihat sebuah pusaran dimensi, dia membuka matanya lebar-lebar, karena itu itu seperti sebuah gerbang menuju alam lain yang membuat Theon sendiri cukup penasaran. Hanya saja, dia melihat bahwa Azazel, bergegas untuk masuk ke dalam gerbang menuju alam lain itu seolah ingin menyelamatkan dirinya.
Tentu saja dia tidak ingin tinggal diam, dia segera menuju Azazel untuk menangkapnya dan tidak ingin membiarkan dia lari begitu saja. Hanya saja, itu terganggu dengan Azazel yang melemparkan sebuah elemental kegelapan ke arah dirinya, sehingga membuat Theon langsung menunjuk ke arah Azazel dan seketika elemen kegelapan itu terhenti.
Dia baru ingat, bahwa elemental kegelapan miliknya sudah muncul. Yang mengartikan bahwa dia sebagai seorang yang memiliki kemampuan penguasa, mampu mengendalikan salah satu elemen yang dia miliki dan dimiliki musuh, salah satunya adalah elemen kegelapan.
Azazel cukup terkejut, tapi dia terus mengepakkan sayapnya dan berusaha untuk lari dari pandangan Theon. Meskipun saat dia menoleh ke bawah, dia bisa melihat bahwa Theon terus menerus melepaskan kekuatan miliknya.
Dalam tembakan cahaya milik Theon, Azazel tersenyum yang kemudian dia masuk ke dalam pusaran atau gerbang dimensi menuju tempat lain. Sehingga, di bumi ini dia sudah menghilang sepenuhnya, dan berhasil untuk lari.
Theon menghentikan laju terbangnya ketika berada di mulut. Dia cukup ragu, sebenarnya ini gerban dimensi menuju alam apa, dalam dimensi juga hanya seperti sebuah alam semesta yang berputar tidak menentu yang membuat Theon benar-benar ragu.
Lesha, Rena dan juga Fritz melayang di samping Theon dan bertanya-tanya tentang gerbang ini.
“Ini menuju alam apa? Bukankah sebaiknya kita masuk untuk tetap mengejarnya?” Kata Fritz dengan penuh keberanian.
Theon menahannya. “Tidak jangan terburu-buru, ketika kita masuk secara bersamaan, maka kita akan terpisah dan itu justru akan sangat merepotkan untuk mencari Azazel itu sendiri.”
Namun, bersamaan dengan itu, sebuah benda misterius jatuh dari pusaran dimensi tersebut. Membuat Theon yang penasaran, dia menangkapnya menggunakan sebuah tali cahaya karena apabila menggunakan tangan, rasanya tidak begitu mungkin karena benda itu benar-benar cukup besar.
Namun, dia cukup terkejut, bahkan matanya benar-benar terbuka lebar saat menarik benda dengan elemen cahaya miliknya. Bahkan, dia mengusap matanya seolah benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
“Patung tersebut sangat mirip Azazel.” Kata Lesha yang bertanya-tanya.
Benda tersebut merupakan sebuah patung, yang bentuk dan wajahnya sangat mirip dengan Azazel. Bahkan bekas lukanya juga ada dan sama persis. Beberapa dari mereka memandang cukup aneh, bagaimana tidak, bagaimana mungkin Azazel masuk ke dalam gerbang dimensi tersebut dan berubah menjadi sebuah patung seolah Azazel membatu?
“Tidak mungkin.” Rena menutup mulutnya dan bergetar, dia juga menatap Theon yang tengah menatapnya. Begitupun Theon, mulutnya bergetar ketika dia menatap Rena dan mengetahui sebuah kemungkinan paling buruk yang pernah dia alami selama ini.
Theon menatap atas dan menghancurkan patung tersebut. Dan apa yang dia pikirkan ternyata benar bahwa itu adalah sesuatu hal paling buruk dalam hidupnya. Sehingga, Theon menarik semua temannya, Lesha dan juga Rena untuk terjun ke bawah, tapi sangat disayangkan sekali, bahwa dia ketinggalan Fritz yang sama sekali belum menyadarinya.
“Tidak, Fritz! Sialan, bagaimana mungkin serangan itu masih bertahan dalam waktu yang cukup lama?” Theon menggertakkan giginya sambil menarik Lesha dan juga Rena.
Apa yang sebenarnya terjadi?