
Sebuah sinar cahaya muncul dari tangan Apollo, ditembakkan dengan daya ledak yang cukup besar pada naga es di bawahnya. Dentuman itu mampu menghancurkan naga es milik Theon, bahkan juga melelehkan es-es yang mengotori kuilnya.
Mahkota berbentuk mataharinya menyala, menandakan bahwa dia memang sang dewa matahari perkasa. Ditunjukkan tepat di hadapan Theon, seolah dia menunjukkan kesombongan miliknya. Terlebih lagi, dia juga mengulurkan tangannya, mengeluarkan sebuah Apollo’s Bow atau sebuah panah Apollo yang menjadi senjata andalannya.
Lebih tepatnya Apollo murka, tak peduli dia berada di mana, emosinya sudah memuncak ketika berhadapan dengan Theon yang datang entah darimana. Apalagi kekuatan Theon tidak dapat untuk diremehkan baginya.
“Ouh, kau ingin pertarungan yang begitu serius?” Kata Theon sambil mengulurkan tangannya. Dia menciptakan sebuah busur panah yang tercipta dari sebuah elemental es miliknya. Kemampuan memanahnya juga di atas rata-rata, apalagi dari ibunya yang menjadi seorang pemanah andal di dalam dunia elementalist manusia, atau sebelum ibunya menuju alam dewa menuju ayahnya.
Dia menarik, menciptakan sebuah anak panah dikala dia menarik tali busur. Memperhatikan bahwa Apollo melayang tepat di atasnya sembari menarik anak panah juga. Hanya saja, Theon menyadari bahwa Apollo akan menembakkan sebuah panah cahaya dengan kekuatan matahari, bisa dibilang dirinya akan mengalami sebuah ledakan yang cukup besar.
“Apa yang kau perbuat akan menghancurkan kuilmu sendiri dewa bodoh! Berpikirlah sebelum bertindak.” Meski begitu, dia sama sekali tidak begitu ragu ketika anak panah yang muncul dikala dia menarik tali busur muncul, hendak berhadapan dengan Apollo sang dewa cahaya dengan senjata andalannya. Tidak ragu pula meskipun di atas depannya merupakan panah dengan setitik cahaya yang akan ditembakkan. “Sekali lagi, aku datang ke sini bukan untuk mencari masalah.”
“Katakan itu di Tarataros.”
“Mungkin, tapi aku bisa menggunakan petir tekuat milik ayahmu, Zeus Son.” Kata Theon sambil mengangkat kedua ujung bibirnya. Dia melepaskan sebuah anak panahnya yang terdapat sebuah unsur petir berwarna biru. Hanya saja, petir itu berubah seketika menjadi sebuah warna yaitu warna merah, atau dalam istana nirwana atau alam dewa, petir merah merupakan tingkatan petir tertinggi dalam sebuah elemental petir.
Hanya saja, sebenarnya itu bukan petir milik Zeus. Theon hanya mengada-ngada dan sebenarnya tak tahu bagaimana wujud petir terkuat milik Zeus sebenarnya. Dia hanya melakukan apa yang dia pikirkan untuk melepaskan petir terkuat miliknya tanpa basa-basi. Lagipula, dia juga bisa menggunakannya nanti.
Bersamaan dengan itu, Apollo juga melepaskan panah cahayanya, mengakibatkan sebuah tembakan yang mampu menyilaukan mata hingga Theon sendiri agak menyipitkan matanya agar sang cahaya tidak terlalu merusak retinanya.
Akan tetapi, siapa yang berpikir bahwa panah cahaya milik Apollo terbelah karena panah petir merah milik Theon? walaupun panah Theon juga menjadi hancur karena memang cahaya terlalu kuat. Setidaknya, Theon tidak terkena panah cahaya milik Apollo itu sendiri.
Kemudian, Theon menarik tali busurnya kembali, melepaskan sebuah anak panah yang muncul secara bersamaan dan dia mengulangi sebuah cara yang sama yaitu melepaskan panah petir dengan sebuah sambaran yang terdengar.
Tak sempat menarik anak panahnya lagi, Apollo benar-benar terkejut saat Theon melepaskan anak panahnya secara akurat, itupun benar-benar begitu cepat ketika dia kembali menarik anak panah kembali setelah kedua kalinya.
Karena yang Apollo lihat, Theon sama sekali tidak membawa keranjang panah yang muncul secara tiba-tiba di punggungya sama seperti dirinya. Yang mana harus meletakkannya secara manual. Sedangkan Theon, dia langsung menarik tali busur, dan anak panah pun muncul secara tiba-tiba.
“Apa kau pernah mendengar masa depan? aku beri tahu, manusia dengan bodohnya menciptakan sebuah serial game, yang mana tokoh utamanya membantai semua dewa di olympus.” Kata Theon sambil melepaskannya lagi.
“Dewa ini benar-benar sangat bodoh, dia rela menghancurkan kuilnya sendiri hanya karena ingin membunuhku?” Batin Theon, kemudian dia berinisitaif untuk mengalahkannya dalam sekali serangan daripada harus berhadapan dengan para dewa di olmpus.
“Tunggu sebentar.” Kata Theon sejenak, tapi dia segera memfokuskan diri dengan menjatuhkan busur panahnya dan menggantinya dengan Fire Sword, yaitu senjata andalannya.
Permukaan lantai menjadi retak ketika Theon berpijak dengan cukup kuat. Sebuah sambaran petir keluar saatTheon langsung melompat dengan sekuat tenaga. Membelah semua panah cahaya milik Apollo dengan sekali tebasan berapi, yang mana energinya masih muncul dan menyerang Apollo tepat di hadapannya.
Sehingga, membuat Apollo terkejut sambil meloncat ke belakang. Hanya saja, Theon bergerak dengan cepat di belakangnya.
“Tebasan api tak terbatas, tebasan pembakar matahari.”
Theon menebaskan pedangnya dengan sangat cepat dalam jaraknya yang bagitu jauh dari punggung Apollo. Yang mana dia gunakan untuk berjaga jarak apabila Apollo ternyata dia mengeluarkan kemampuan secara tiba-tiba.
Sebuah tebasan berbentuk api keluar di kala Theon menebaskan pedangnya ke arah APollo. Bergerak dengan sangat cepat seolah hendak menghancurkan leher sang dewa cahaya dari kalangan Yunani kuno. Tebasan maut yang Theon pelajari meskipun dia memiliki kemampuan sang penguasa, kemampuan untuk mengendalikan semua tekhnik elemental dengan cukup mudah.
Tapi, Apollo sudah berada di depannya lagi, bergerak secepat cahaya menghindari tebasan Theon dari belakang. Membuat Apollo menjadi benar-benar murka meski tahu bahwa Theon tak begitu biasa. Bahkan, di hadapan Theon, dia menyentuh pundaknya, matanya bercahaya terang yang membuat Theon sendiri sedikit merasa silau. Sedangkan, salah satu kanannya dia ulurkan ke belakang, menghancurkan tekhnik milik Theon sekaligus menggunakan cahayanya.
Apollo juga tak memiliki cara lain, selain mengintimidasi Theon menggunakan aura dewanya. Aura agung yang dimiliki oleh Apollo yang mana dia jarang sekali untuk mengeluarkan kemampuan tersebut, karena rasanya tidak akan mempan apabila digunakan untuk mengintimidasi dewa lain.
Apalagi Theon, yang pasti Theon hanya terdiam mematung dan belum melakukan apa-apa. Dia memang merasakan aura intimidasi dari Apollo. Tapi, rasanya cukup geli yang membuat Theon tidak bisa menahan tawa.
“Kau membuatku hampir tertawa Apollo. Jika itu maumu, maka lihatlah ini.” Theon mengeluarkan sebuah aura intimidasi dewa miliknya. Bahkan lebih kuat dibandingkan dengan milik Apollo, yang mana mampu membuat Apollo terlempar menjauh dari Theon.
Terlebih lagi, saat Apollo bangkit, dia langsung sesak pada bagian dadanya dengan kakinya yang lumpuh. Sehingga, dia tunduk di depan Theon yang hanya mengangkat ujung bibirnya sambil memasukkan kembali Fire Sword di dalam cincin ruangnya.
Meski, ada yang aneh di dalam cincin ruangnya, yang membuat Theon sungguh penasaran semenjak tadi. “Kenapa bintang neutron menyala dengan sangat terang?”