
Aura juga berdiri, bergerak dengan sangat cepat untuk masuk ke dalam kamar miliknya. Hanya saja, sebuah aura yang cukup mencengkam membuat dirinya justru terpental. Seperti aura hewan buas yang membuat Kadita sendiri tidak bisa menembusnya. Tidak heran, dengan menggunakan tubuh Aura, dia masih sangatlah lemah. Tapi di sisi lain, Kadita juga tidak ingin menunjukkan dirinya karena ingin menjadikan Aura sebagai sebuah tameng.
"Sialan, dia juga memiliki. Pantas saja dia cukup berani."
Sehingga, sebagai roh dia harus membunuh seseorang untuk mendapatkan sebuah aura negatif. Tapi instingnya entah kenapa masih berada dalam pikiran Aura sendiri, sehingga dia seperti menolak untuk mendobrak kamar lainnya dan membunuh teman-temannya. Sehingga, bisa dibilang Kadita tengah pergi, melakukan pembunuhan kepada para pelayan hotel menggunakan tubuh Aura.
Teman sekelas Theon tidak berpikiran, bahwa hotel ini telah menjadi mimpi buruk bagi mereka. Aura berdiri di tumpukan jasad di gudang yang dia mau. Karena dia tidak ingin teman-teman Theon melihatnya esok pagi.
Dengan sangat cepat, mungkin seperempat malam Aura sanggup untuk membunuh semua petugas hotel secara diam dan tidak membiarkan jasadnya tergeletak pada tempat yang mampu dijamah oleh para manusia.
Bahkan sebenarnya, seorang wanita duduk di pojok gudang setelah beberapa menit yang yang lalu Aura menyeretnya bagaikan pembunuh bayaran. Mungkin mencoba untuk menelpon polisi dan sejenisnya, tapi dia tidak menyadari yang dia hadapi adalah ratu laut selatan. Sehingga orang tersebut seketika mati saat Aura bergerak sangat cepat dan mencekiknya.
Tumpukan mayat, seketika mengeluarkan sebuah aura, aura berwarna merah yang menjadi ciri khas sebuah aura kematian. Kadita menyerapnya dengan cukup kuat untuk memberikan sebuah kekuatan bagi Auraa sendiri. Kemudian, Auraa bergerak dengan sangat cepat, pergi menuju kerajaannya untuk mengumpulkan sebuah kekuatan, setidaknya dia ingin melatih konsentrasi agar feelingnya tidak berhadapan dengan pikiran Auraa sendiri.
...****************...
Theon terbangun setelah melakukan sebua tindakan yang melanggar sebuah norma. Entah kenapa, kejadian semalam membuat dirinya benar-benar sangat lelah, sehingga membuat dirinya lupa tentang tujuannya untuk membuat murka Kadita.
Dia terbangun tanpa menggunakan sehelai pakaianpun, begitupun dengan Rena yang juga terbangun ketika Theon terbangun. Wajahnya benar-benar sangat malu ketika menatap Rena, entah kenapa apa yang dia pikirkan semalam yang mana perbuatannya benar-benar kebablasan. Padahal, dirinya hanya ingin berciuman saja, untuk melakukan tindakan asusila yang tidak terlalu berlebih-lebihan, tapi Rena terlalu menggoda yang membuat sampai seperti ini.
Tapi, dia juga bisa melihat keadaannya benar-benar sangat aman, dirinya tidak terbunuh ketika tidur atau mungkin terbawa ke dunia lain. Kadita belum menunjukkan kemurkaannya sama sekali yang membuat Theon berdecak cukup kesal.
“Ke-kenakan pakaianmu.” Kata Theon dengan cukup gugup sambil mengambil sebuah pakaiannya. “Tapi gunakan pakaian hijau, dan kita akan bergegas menuju pesisir karena kemungkinan teman-teman sudah menuju ke sana.”
Rena menggaruk kepalanya, dan tersenyum malu. Tapi dia segera berdiri dan menggunakan pakaiannya kembali, serta pakaian hijau yang dia bawa semalam.
Sebelum Theon pergi, dia mengeluarkan sebuah elemental es, yang dia gunakan untuk memorakporandakan kamar ini. Mulai dari persembahan yang ada di atas meja, seluruh perabotan yang ada, serta lukisan di atas meja tersebut. Kemudian, Theon memecahkan sebuah kaca jendela dengan menggunakan sebuah tangan kosong.
Dirinya bisa melihat teman-temannya sedang bermain di pesisir tanpa ada orang lain. Karena, wisata ini sudah dipesan khusus oleh ayah Lesha sehingga tidak ada pengunjung lain. Tampaknya dia terlambat karena seharusnya dirinya datang pada saat matahari terbit tadi. Tapi, Theon sama sekali tidak peduli tentang kebersamaan yang indah tadi.
Theon menarik tangan Rena untuk bergegas menuju pesisir, karena dia ingin tahu apa jadinya jika mereka berdua menggunakan pakaian hijau. Tapi, dirinya benar-benar tidak yakin Kadita akan keluar. Melakukan tindakan asusila saja Kadita tidak muncul, apalagi menggunakan pakaian hijau yang terlihat sepele.
Tentunya, Theon tidak melewati lantai bawah, karena dirinya akan mendapati sanksi dari pelayan hotel karena menggunakan pakaian hijau. Sehingga, dengan membawa Rena yang menggunakan langkah bayangan, dirinya langsung tepat berada di dekat teman-temannya. Meski, mereka tidak tahu bahwa yang masih hidup di wilayah ini hanya Theon dan teman-temannya.
...****************...
“Bukankah Rena dan Aura dalam satu kamar? Aku tidak tahu mereka, tapi Theon pergi malam tadi dan melarangku untuk ikut.” Kata Ali dengan cukup panik.
Teman-teman sekelasnya tidak ada yang begitu peduli dengan Theon, tapi mereka khawatir tentang Rena dan ketua kelas yang tidak kunjung menuju ke sini, padahal mereka ingin melakukan sesi foto bersama.
Tanpa diketahui oleh mereka, Theon dan Rena tiba-tiba muncul di belakang mereka. “Maaf kami terlambat.” Kata mereka berdua serentak.
Theon dan Rena menjadi pusat perhatian. Yang mana, wajah teman sekelas Theon benar-benar sangat kaget saat melihat bahwa Theon dan Rena menggunakan sebuah pakaian hijau. Padahal, itu merupakan sebuah pantangan dan larangan untuk tidak melakukan hal tersebut.
“Theon, kau benar-benar merepotkan! lepaskan bajumu atau aku akan menggunakan cara kasar.” Teriak Rolland mengepalkan tangannya.
“Aku tidak....”
Sebelum Theon melanjutkan ucapannya, dia bisa melihat bahwa di belakang teman-teman sekelasnya bahwa tepat di laut terdapat sebuah ombak yang cukup tinggi, bahkan tingginya berukuran beberapa meter dalam jarak yang dekat dari pesisir. Selain itu, Theon juga bisa melihat seorang wanita yang melayang di depan ombak yang seketika menghilang arena ombak melewatinya.
“Kaditaaa!, akhirnya kau datang juga! apakah kau marah. Ayo lawan aku sekarang juga.” Teriak Theon mengangkat ujung bibirnya sambil berjalan melewati teman-temannya yang langsung terkejut dan berhamburan. Dan berlari karena takut tentang ombak yang begitu dahsyat. Terkecuali, Rolland yang menggertakkan giginya dan berdiri di samping Theon.
“Apa yang kau perbuat haa!! Kau membuat ratu laut selatan marah.” Rolland langsung mengeluarkan sebuah pusaran angin untuk menahan ombak tersebut. Tapi, itu tidak begitu mempan dan tidak begitu berefek.
“Tunggu, itu Aura?” Lesha yang masih berada di tempat, dia menunjuk ke atas dan melihat bahwa Aura terbang melayang di atas ombak. Matanya berubah menjadi putih polos dengan mengangkat kedua tangannya seolah dia ingin menunjukkan kekuasaannya.
“Aku tidak akan mengampuni kalian. Kedua teman kalian melakukan tindakan bejat yang tidak bisa untuk dimaafkan.” Aura yang sepertinya kerasukan Kadita, dia mengayunkan tangannya ke depan, sehingga membuat ombak air yang dapat menimbulkan tsunami menerjang dengan sangat cepat.
“Theon bodoh!” Kata Rolland yang mana dia langsung berlari, karena yang dia hadapi adalah Kadita yang mana kekuatannya benar-benar sangat hebat.
Theon bersikap tenang, dia mengulurkan tangannya tepat pada ombak yang ada di tangannya, sehingga membuat ombak itu berhenti dalam sekejap yang membuat Aura sendiri benar-benar sangat kebingungan. Dia mencoba menggerakkan tangannya lagi, berharap bahwa ombak itu bergerak, tapi usahanya benar-benar sia-sia.
Seketika air laut membeku, bahkan ombaknya sekalipun yang berada tepat di depan Theon yang menjadikan sebuah pemandangan yang cukup indah. Hanya saja, tidak menghilangkan kengerian dari mata teman sekelasnya. Apalagi, teman sekelasnya benar-benar begitu terkejut tentang apa yang dia lihat.