The God in the Modern World

The God in the Modern World
Bunker underground



Theon berbalik badan sambil menebaskan tangannya, sehingga bilah angin muncul dengan sangat tipis. Mengarah ke seorang perempuan yang tengah bersandar di dinding yang mengalami keretakan dengan membawa sebuah senjata berlaras panjang di punggungnya.


Wanita tersebut sesegera meloncat ke belakang sambil menarik pelatuk senapannya. Kemudian, dia menembakkan peluru tersebut dengan sangat elegan tepat ke arah Theon.


“Peluru magis? Akh, ternyata memang benar bahwa petinggi dunia memang memiliki sihir, apalagi dengan bawahannya pula.” Kata Rena yang bergerak dengan cepat, berubah menjadi sebuah bayangan yang bergerak ke wanita itu dan muncul secara tiba-tiba tepat di bawahnya.


“Tapi tidak sebanding dengan kita.”


Theon juga bergerak dengan cukup cepat, dia memiliki sebuah senjata manusia di cincin ruangnya yaitu berupa sebuah pistol. Sehingga, dia menodongkan pistolnya di belakang wanita tersebut tanpa disadari secara cepat.


“Bagaimana bisa?” Wanita itu bergidik ketakutan, ketika Rena sudah berjongkok di bawahnya secara tiba-tiba dengan menodong sebuah jari-jari yang memiliki elemen kegelapan tepat di bawah dagunya, juga dengan Theon yang dibelakangnya sambil menodongkan sebuah pistol, dia sama sekali tidak melihat pergerakan Theon dan juga Rena.


“Tidak ada waktu jangka panjang untuk bisa berlagak sombong seperti itu.” Theon sedikit menaikkan wajahnya. Dia menendang sendi lutut orang tersebut dengan cukup keras. Yang membuat dia jatuh ke depan. Dan, apa akibatnya?


Ketika dia terjatuh, maka tangan Rena yang berada di bawah dagu wanita tersebut menembus dagu, menembus mulut dan langit-langitnya, bahkan hingga menembus otaknya. Sehingga, ketika Rena menariknya, dia sedikit jijik karena tangannya bersimbah darah, apalagi dia seperti menyentuh otak wanita tersebut yang menurutnya benar-benar cukup menggelikan.


“Ayo segera cari Lesha, dimana dia berada!” Seru Theon sambil menyentuhkan tangannya pada permukaan lantai. Kemudian, dia menyebarkan hembusan angin sebagai pelacak dimana Lesha berada. Dia juga memejamkan matanya, untuk merasakan hembusan angin, merasakan semua udara yang ada di bunker underground ini.


Ketika dia membuka matanya, dia sudah mengetahui dimana keberadaan Lesha. Tidak begitu jauh, dia langsung beranjak pergi. “Ikuti aku!”


Bunker Underground, merupakan tempat yang katanya tempat paling rahasia dengan menjadi tempat persembunyian petinggi dunia. Meski sebenarnya, Theon tidak merasakan keberadaan orang paling kuat di tempat ini. Yang menandakan, bahwa petinggi dunia memang berada di markas utamanya.


Theon bisa melihat, bahwa bunker underground memiliki penjagaan yang memiliki dua kemampuan khusus. Mereka juga ahli dalam menggunakan senjata, tetapi mereka juga bisa menggunakan sihir non elemental. Apalagi, ketika Theon beranjak menuju tempat Lesha, dia selalu dihadapkan dengan orang-orang yang memiliki kemampuan aparat, namun juga memiliki sihir seperti yang terkandung dalam senapan mereka.


Hanya saja, untuk menghadapi orang-orang seperti mereka, itu cukup mudah bagi Theon. Dengan mengandalkan pergerakannya yang tidak bisa dilihat orang lain, seperti ketika dia menendang seseorang, dia menjadikan orang itu sebagai sebuah tumpuan untuk bergerak ke orang lain. Dan begitu seterusnya.


Sebenarnya, dia sendiri ingin mengeluarkan sebuah senjata, yaitu Fire Sword. Akan tetapi, Theon sendiri kelupaan, dimana dia meletakkan Fire Sword itu berada? Terakhir dia mengingat, sepertinya dia menjatuhkan barang berharga tersebut ketika ditangkap oleh manusia rendahan.


Tak masalah baginya, bahkan dia juga bisa menghadapi mereka menggunakan sebuah tangan kosong sekalipun. Apalagi, Theon telah memiliki enam elemen, dan kurang dua lagi yang tersisa dan belum dia bangkitkan, yaitu elemen tanah dan juga kegelapan.


“Tak ada habisnya, mereka pasukan khusus yang berjumlah begitu banyak untuk menjaga bunker underground sebagai tempat persembunyian petinggi dunia.” Kata Theon yang berdiri, di hadapannya sudah ada puluhan orang yang sepertinya memiliki kemampuan lebih tinggi dibandingkan tadi. Theon bisa melihat, bahwa mereka tidak hanya mempunyai kemampuan menembak, sihir non elemental, melainkan mereka juga memiliki  sihir non elemental pula.


Rena mengulurkan kedua tangannya, sehingga elemen kegelapan muncul sebagai sebuah perisai untuk melindungi Theon dan juga dirinya.


Theon menghela napas, dia mengulurkan tangannya dan berkonsentrasi untuk mengumpulkan orka di sekitarnya. Mungkin ini adalah kemampuan andalah milik ayahnya, teknik tingkat tinggi, namun cukup mudah untuk dipelajari.


“Sayatan seribu angin, tahap terakhir!”


Pelindung milik Rena sekalipun tersayat-sayat sehingga membuat pelindungnya pecah. Hembusan angin dari sekitar Theon keluar dengan cukup kencang, menghempaskan kekuatan sihir mereka dengan cukup kuat. Hembusan angin itu juga bergerak cukup kencang ke arah mereka.


Tapi, siapa yang berpikir, bahwa tubuh mereka seketika terpotong-potong yang menjadi sebuah kemungkinan terburuk. Bahkan, mereka telah menggunakan vest sekalipun, tubuh mereka seolah menjadi potongan daging. Dampak paling ringan adalah pasukan dari belakang, yang mana mereka mengalami luka-luka sayatan yang menjadikan mereka kehilangan tubuh mereka.


Benar-benar mengerikan, beberapa orang yang selamat memilih lari karena dihadapkan oleh dewa kematian yang mampu membunuh puluhan orang dalam sekali serang. Benar-benar tidak begitu masuk akal, apalagi angin tersebut mampu memotong-motong tubuh seolah menjadi sebuah pedang yang memiliki bilah tajam.


Tak membiarkan ada orang yang lari, Rena bergerak dengan langkah bayangan, berdiri di depan mereka dan mengayunkan tangannya dengan sangat cepat sebelum berpindah ke orang lain.


Kemudian, mereka berdua kembali berlari, melewati semua ruangan yang menurutnya tidak begitu penting karena tujuan utamanya adalah melepaskan Lesha.


Sehingga, kali ini mereka sudah dekat di sebuah rungan tertutup. Theon mengangkat ujung bibirnya, dia hanya bergerak secepat petir dan langsung menendang pintu tersebut dengan cukup keras. Karena yang dia takutkan adalah ketika dia membuka perlahan, ada orang dibalik pintu tersebut dan melepaskan sebuah tembakan.


Dan yang benar saja, untung saja Theon menendang pintu dengan cukup keras. Dan tendangan tersebut juga berlanjut hingga menghancurkan salah satu kepala penembak yang menunggu Theon. Bahkan tendangan Theon juga mampu memecahkan kaca penjara yang menjadi kaca paling kuat, yang mana dibaliknya ada seorang wanita yang tak sadarkan diri.


Tinggal salah satu penembak yang menarik pelatuknya. Bahkan, dia juga mengeluarkan magis berwarna oranye dari tangannya, dengan pola lingkaran sihir untuk menyerang Theon.


Akan tetapi, Theon langsung membuat kristal es di atas kepala orang tersebut dan menjatuhkannya dengan cukup brutal. Sehingga, mengakibatkan orang itu hancur sebelum melepaskan sihir miliknya.


Melihat tidak ada yang melawan, Theon menyentuh kaca yang menurutnya terkuat. Karena kaca penjara tidak akan mampu dihancurkan meski dengan senapan sekalipun. Tapi, ketika dia menyentuh kaca tersebut, seketika kaca tersebut menjadi retak dan pada akhirnya pecah. Karena sebelumnya Theon memberikan sebuah panas api hitam dengan suhu paling tinggi. Sehingga tidak mungkin kaca itu bisa menahannya.


“Lesha bangun, di masa ini kau tidak perlu menerima tugas ayahku sendirian.”