
Hanya saja, di kala seperti itu, dia merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Sehingga, dia mencoba menganalisis diri apa yang sebenarnya terjadi?
Mengetahui hal tersebut, dia mengumpulkan tenaga yang benar-benar penuh. Kemudian, dia mengalirkan semua tegangan listrik ke seluruh tubuhnya. Sehingga, sebuah semut terbang langsung keluar menghindar dengan sangat cepat.
Strega yang melihat hal itu, dia benar-benar mengerti mengapa pesawat-pesawat hancur dengan sendirinya. Tampaknya ada seseorang yang berubah menjadi seukuran semut dan menaiki semut terbang untuk merusak komponen mesin. Hal tersebut tidak membuat Strega tinggal diam, dia terus melepaskan energi ke arah semut terbang meskipun ukurannya sangat kecil sekalipun.
Hanya saja, semut itu pergi. Yang membuat Strega sendiri kesulitan untuk mengejarnya. DI kala seperti itu, dia mendapatkan sebuah panggilan dari Theon.
“Sial sekali, tapi tidak apa-apa. Aku akan fokus untuk menyerang pasukan yang menyerang Lesha. Sehingga pasukan ini akan tergabung. Kemungkinan kami akan berperang satu hari penuh.”
........
Siang hari, di wilayah utara Ziosam.
“Jika berkenan, siapa namamu sebenarnya? Dari pakaianmu terlihat bahwa kau adalah seorang kesatria.” Tanya seorang yang duduk memeluk kedua kakinya. Seseorang yang menggunakan sebuah zirah berwarna hitam dengan pedang di selongsongnya. Bola matanya yang menghitam menandakan bahwa dia memang seorang undead.
Di sebelahnya juga merupakan seorang kesatria seperti yang dikatakan orang tersebut. Duduk di atas sebuah perbukitan tandus sambil menatap sebuah kepulan asap dari kejauhan. Hanya saja, pria berzirah putih, dengan rambut yang panjang menghela napas sambil berkata, “Namaku adalah Lancelot. Sir Lancelot, seorang ksatria dari Britania Raya. Bagaimana dengan dirimu?”
Undead berzirah hitam itu tersenyum. “Gilles De Rais, seorang mantan kepala militer yang kemudian menjadi pembunuh berantai. Aku berkebangsaan Perancis.”
Lancelot menatap Gilles De Rais dengan cukup sinis. “Kau anak buah Napoleon?”
“Tidak, kau bisa mundur 400 tahun dari zaman Napoleon.” Gilles menghela napas sambil memposisikan duduk agar lebih nyaman. “Sebelum kita bertarung sebagai sebuah boneka. Maukah kau bercerita denganku? Apakah kau mempunyai sebuah kesalahan terbesar dalam hidupmu?”
Lancelot berpikir sejenak yang kemudian dia berkata. “Kau tahu? Sebelumnya aku memiliki sebuah kesetian kepada sang raja Arthur. Dan, kesalahan terbesarku adalah menikung istrinya yaitu Lady Guinevere.”
“Aku dulu merupakan seorang kepala prajurit, kemudian aku pensiun untuk menikmati sebuah kekayaan. Tapi siapa sangka, ketika kekayaanku habis, aku justru menjadi seorang pembunuh berantai yang membunuh anak-anak.” Jawab Gilles. Hanya saja, dia seolah biasa saja, wajahnya tidak ada tampang penyesalan bahwa dirinya adalah seorang pembunuh anak-anak. Justru dia langsung berdiri ketika pasukan dari utara benar-benar sudah mendekat.
“Jangan pikirkan kesalahanmu sir Lancelot! Ayo kita bunuh mereka semua setelah petinggi dunia mengirim pasukan undead abnormal sesuai dengan rencana.” Teriak Gilles dengan wajah yang semulanya tampak datar, kini terlihat tampak ceria.
Sir Lancelot menatap malas sambil membatin. “Benar-benar sangat kuat pengaruh sihir dari iblis berkedok petinggi itu.”
.......
Kloningan Theon kini benar-benar fokus dalam mengendalikan kudanya. Di hadapannya adalah sebuah Glen Canyon atau merupakan sebuah bukit dengan tebing tandus dengan celah-celah yang sangat kompleks. Meski begitu, Theon tetap melanjutkan dalam berkuda. Lagipula istana petinggi dunia hanya berjarak beberapa kilometer setelah Glen Canyon.
Theon akhirnya telah sampai di Glan Canyon. Mereka melambatkan kecepatan kudanya karena harus berhati-hati dalam melewati Glan Canyon.
Di kala seperti itu, Theon cukup tertegun saat dia berada di antara bukit tebing Glan Canyon. Keadaan benar-benar cukup indah dengan air yang mengalir. Kondisi bentang alam yang mampu untuk memanjakan mata hingga Theon kloningan mampu menenangkan sebuah pikiran paniknya.
Namun, tak terasa saat menikmati keindahan tempat. Dia hampir keluar dari Glen Canyon. Akan tetapi, Theon dikejutkan dari balik tebing sebuah pasukan berkuda undead yang mengangkat pedangnya untuk menyerang Theon yang berada di celah Glen Canyon.
Hal tersebut tentu saja membuat Theon benar-benar cukup terkejut. Dia langsung berteriak kepada pasukannya untuk mundur karena kondisi medan Glen Canyon yang sangat sulit untuk digunakan sebagai sebuah pertarungan.
Di kala membiarkan pasukan Theon mundur, kloningan Theon melompat dari kuda. Dia langsung mengeluarkan api putihnya untuk mengulur keadaan. Tidak peduli bagaimana kondisinya, dia tidak bisa membiarkan semua pasukannya untuk terbunuh begitu saja.
Meski dia mengeluarkan api putih. Tampaknya jumlah pasukan tidak bisa untuk diremehkan. Sehingga Theon tidak henti-hentinya melemparkan sebuah api putih untuk membakar mereka.
“Lord! Kita telah dikepung. Bagian belakang juga terdapat pasukan musuh yang sepertinya mengitari Glen Canyon.”
“Apa?” Theon menggertakkan giginya. Dia bisa melihat pasukan miliknya memilih untuk bertarung di belakang melawan pasukan yang jumlahnya tampaknya lebih sedikit. Hanya saja, medannya saja yang tampak tidak bisa untuk dijinakkan karena mereka berada diantara dua tebing bukit Glen Canyon.
Tidak ada pilihan lain, Theon terus mengeluarkan api putih. Meski dia juga harus mundur beberapa meter ke belakang. Untuk menjaga jarak karena saking banyaknya pasukan yang masuk ke dalam dua tebing Glen canyon untuk memojokkan dirinya.
Di kala seperti itu, dia membuka matanya lebar-lebar saat melihat sebuah anak panah menancap tepat di bawah kakinya. Sehingga, dia mencoba melihat ke atas bahwa para pemanah dari undead muncul di atas tebing dan melepaskan anak panah mereka.
Keadaan benar-benar terpojok, kloningan Theon berada di dalam ambang menyerah karena dia salah mengambil jalur dengan cerobohnya. Dia tidak menyangka bahwa ada sebuah jebakan di Glen Canyon yang membuat dia tidak bisa memikirkannya terlebih dahulu. Sangat wajar, karena sebelumnya dia hanya mengikuti peta untuk bergerak secara lurus tanpa memperhatikan sebuah bentang alam.
Theon menciptakan sebuah pedang es, dia menggertakkan giginya sambil menebaskan pedang es nya ke depan. Sehingga sebuah bilah cahaya muncul menebas para pasukan di depannya. Tidak berhenti begitu saja, kloningan Theon menebaskan pedangnya secara berulang kali yang membuat bilah api putih juga keluar membakar mereka.
Dia melihat ke belakang bahwa pasukannya banyak yang tewas karena para pemanah yang cukup merepotkan. Ditambah dengan pasukan di belakang yang tidak ada habisnya.
Geram dengan para pemanah, Theon mengulurkan tangannya, mengeluarkan sebuah hembusan angin yang cukup kuat. Yang mana hembusan angin itu mengeluarkan sebuah sayatan dan bilah-bilah yang mampu memotong para Undead. Namun, itu tidak berlaku pada mereka karena memiliki sebuah regenerasi yang cukup tinggi.
Bersamaan dengan itu, Theon fokus memegang pedangnya menggunakan kedua tangannya. Berbalik badan dan mengayunkan pedangnya secara vertikal karena merasakan sebuah krisis.
“Tang!!”