
“Heii, aku bicara denganmu!” Teriak wanita yang beranjak. Tatapan matanya seolah tajam menusuk Theon.
“Apollo Zeus son, bisakah kau kembalikan aku ke masa depan? kau bisa lihat pakaianku? Aku dari masa depan yang tiba-tiba terjebak ke masa ini.” Kata Theon sambil melihat sekeliling. Tatapan matanya tidak fokus kepada mata Apollo atau lawan bicaranya, dia hanya melihat dalam kuil ini yang hanya dipenuhi oleh pilar dan juga atap yang menjadi penutup kuil ini. Padahal, reruntuhan yang dia datangi tadi, hanya berbentuk seperti batu bata yang ditumpuk.
Apollo yang mendengar ucapan Theon barusan, dia berdiri sambil memegang Lira nya. Mengangkat kepalanya yang seolah menunjukkan kesombongan tetat di hadapan Theon. Di sisi lain, semua wanita yang ada di dekat Theon, mereka langsung berdiri tegak, berjalan ke arah Theon dan menatapnya dengan sangat tajam.
Bola mata yang cukup indah, itulah yang dipikirkan Theon, para wanita yang menjadi pelayan Apollo memiliki kecantikan di luar nalar, Theon mengakuinya. Tubuhnya tidak bisa untuk berbohong bawa wanita-wanita di hadapannya memiliki kecantikan yang luar biasa. Sayangnya, mereka benar-benar menjadi marah saat Theon benar-benar tidak sopan.
Tidak salah bahwa mereka marah, Theon mengakuinya. Ini ulahnya yang mana masuk dengan cara tidak menggunakan tata krama. Dia tidak begitu dingin dan tidak menatap bahwa Apollo adalah orang yang begitu sombong. Lagipula Apollo juga tidak tahu bahwa di depannya adalah siapa.
Theon pun ketika berada di posisi Apollo, dia tidak munafik bahwa dirinya pasti juga akan marah mengangkat wajahnya. Karena tidak ada penjelasan sama sekali kenapa orang tersebut datang secara tiba-tiba, dan pastinya juga akan marah karena tidak mendengar jawaban dari orang tersebut mengapa dia berada di sini.
“Maafkan aku, aku berbicara dengan Apollo. Dewa cahaya, musik, panah dan lainnya. Aku benar kan? aku sama sekali tidak memiliki niat berbicara dengan kalian.” Bantah Theon dengan suara yang cukup keras. Berharap bahwa Apollo muncul di hadapannya setelah para wanita menutupi pandangannya.
Sebuah nada dari Lira terdengar, membuat Theon terlempar ke belakang, merasakan bahwa nada Lira memiliki kekuatan magis atau sihir yang dapat menyerangnya. Tentu hal tersebut tidak cukup heran bagi Theon, karena dia tahu sendiri bahwa Apollo merupakan dewa musik. Meski sebenarnya, Theon cukup ragu dari dulu, apakah kekuatan musik termasuk elemental atau sihir magis?
Ketika Theon berdiri, Apollo sudah berada di depannya dengan cukup cepat bak sebuah cahaya dalam kedipan mata. Membuat Theon mengeluarkan perisai es untuk menghindari sebuah pukulan yang akan dilayangkan oleh Apollo itu sendiri.
Dengan cukup cepat, Theon bergerak ke samping, melemparkan kakinya seolah hendak menendang Apollo. Dia bahkan mengayunkan tangannya secara bersamaan yang membuat sebuah sambaran petir keluar dari tangan Theon hendak menyambar Apollo itu sendiri.
Apollo bergerak secepat cahaya, bergerak ke belakang Theon untuk melepaskan kekuatannya. Dia tidak bisa tinggal diam saat mengetahui bahwa ternyata Theon bukanlah seseorang yang dapat diremehkan, setidaknya Theon mampu melawan kekuatannya meskipun hanya menggunakan es yang kini jatuh dan retak.
Theon menyadari, bergerak dengan cepat untuk menuju ke belakang merupakan kemampuan pasaran. Wajahnya tampak begitu tenang meskipun yang dia hadapi adalah Apollo, salah satu dewa Yunani kuno yang sangat melegenda.
Sungguh, apa yang dilakukan adalah menepukkan kedua tangannya, sehingga sebuah bongkahan tanah muncul di belakang Theon dengan ujung yang runcing, yang mana apabila itu terkena musuh yang menyerangnya dari belakang, musuh tersebut bisa dipastikan tidak akan mampu untuk hidup.
Sayangnya, yang dia hadapi adalah dewa pula, membuat Apollo memiliki kemampuan secara lincah untuk melompat ke belakang.
Theon yang tidak membiarkan itu, dia terus menerus menggerakkan tangannya perlahan ke atas, tapi pasti. Hingga bongkahan es terus menerus keluar mengikuti kemana melompatnya Apollo.
Bongkahan es itu meledak, meleleh menjadi aliran air dengan kekuatan yang cukup tinggi yang menerjang Apollo di tengahnya. Hanya mengarah ke Apollo, yang membuat dia menggertakkan giginya. Apalagi saat menyadari bahwa, aliran air yang mengarah ke arah dirinya memiliki sebuah elemental petir.
Apollo melompat ke atas dengan kecepatan cahaya, mengambil Lira nya kembali dengan cara mengulurkan tangannya tepat pada singgasananya. Sehingga terlihat, bahwa alat musiknya melayang dan melesat ke arah Apollo yang tengah terbang melayang.
“Traang!”
Apollo memetik kembali senar liranya. Membuat air menjadi bergetar dan pecah, membasahi semua lantai kuil yang tengah tertata rapi. Hanya saja, Theon juga melayang dengan ikut terpental ke belakang. Sedangkan para pelayan Apollo, mereka menjauh pergi karena tidak ingin ikut dalam sebuah pertarungan.
Theon membekukan lantai yang basah, dia berusaha untuk berdiri di depan Apollo yang menghampiri dirinya dengan tatapan yang cukup sinis.
“Kau, kau bukan tandinganku nak. Kembalilah dan aku akan memaafkanmu.” Kata Apollo sendiri, dia mendarat dan berdiri di atas permukaan es yang Theon ciptakan.
“Bukankah aku sudah mengatakannya? Bahwa aku dari masa depan, bagaimana caraku kembali.” Balasnya sambil tersenyum lebar.
Mimik wajah Theon baru saja membuat Apollo menjadi waspada sambil mengerutkan dahinya. Cukup mencurigakan bagi Apollo itu sendiri, sehingga membuat dia kembali memainkan alat musik lira untuk memberikan sebuah sihir kepada Theon.
Akibatnya, tubuh Theon bergetar hebat, bahkan suara dari alat musik itu mampu membuat permukaan es menjadi pecah. Dia berusaha untuk berdiri sambil menutup telinganya, karena jika tidak, gendang telinganya mungkin akan pecah dan mendapatkan sebuah kemungkinan terburuk baginya.
“Sialan, aku datang berbicara baik-baik kau tahu!” Theon berusaha untuk menggertakkan kakinya. Permukaan es yang sebelumnya retak dan datar, mengeluarkan sosok naga yang membuka mulutnya tepat pada permukaan yang dipijak Apollo.
Apollo tersentak kaget, tapi terlambat. Dia sudah berada di dalam mulut naga es yang membuat dia berusaha keras. Apalagi, yang dia lakukan kini adalah menahan kedua rahang naga tersebut agar tidak menelannya. Sangat di sayangkan sekali, dia harus melepaskan liranya hanya untuk hal tersebut.
“Bukankah aku bilang, bahwa aku datang secara baik-baik Zeus son. Kau pikir aku adalah manusia biasa?” Theon mengulurkan tangannya ke depan, tepat di hadapan wajah Apollo.
“Aku juga sempat menawarkanmu hal baik untuk segera pergi dari sini secara baik-baik.” Kata Apollo sambil melompat ke atas dengan sebuah kecepatan cahaya. Kemudian, dia mengulurkan tangannya tepat pada naga es yang bergerka dengan sangat cepat untuk menerkamnya lagi. “Elemental blast! Ledakan cahaya.”