The God in the Modern World

The God in the Modern World
Deklarasi perang



Theon dan lainnya, dia muncul dari lubang cacing, yang mana dia terlempar keluar seolah mengalami sedotan yang luar biasa ketika dia masuk. Tampaknya, dia kini membentur rumahnya, rumahnya sendiri yang membuat dia merasakan sebuah rasa sakit yang tidak terlalu luar biasa. Keadaan juga malam hampir pagi karena perbedaan zona waktu dengan negara barat.


“Sialan!” Theon memukul dinding rumahnya dengan cukup keras. Mengakibatkan rumahnya retak karena pukulannya yang cukup kuat. Petinggi dunia terlalu kuat, meski dia tidak mengerti konsep tentang cahaya, gravitasi dan waktu yang dijelaskan oleh petinggi dunia. Akan tetapi, dia sedikit mengerti bahwa itu ada kaitannya dengan teori milik Einstein.


“Kita benar-benar terlambat bergerak.” Lesha menepuk kepalanya. Tampaknya, tiga hari setelah dia menyadari siapa dirinya, dia sudah merasa cukup gagal. Cukup gagal mengemban erat sebagai seorang avatar dewi rembulan yang bertugas menjaga dunia ini.


Semuanya berhenti bergerak, seolah membeku. Memperhatikan di sekitar rumah Theon berserakan mayat-mayat seolah menjadi lautan manusia tak bernyawa. Menjadi sebuah tumpukan yang membuat Theon sendiri tidak bisa memaafkan petinggi dunia yang dipuja-puja oleh mereka. Tapi nyatanya? Manusia mendapatkan bayaran yang tidak setimpal dari petinggi dunia.


Petinggi dunia harus dibunuh, itulah yang dipikirkan oleh Theon. Deklarasi perang sudah di suarakan yang menjadikan ini adalah perang pertamanya. Zaman sudah kembali menjadi kuno, walaupun teknologi tampaknya masih berfungsi. Hanya saja sedikit yang bisa memainkannya.


“Deklarasi perang ya? Aku tidak menyangka bahwa teknologi sepertiku akan ikut campur pada pertarungan sihir ini. Tapi, aku akan berusaha sebaik mungkin Lord Unknown.” Kata Strega.


“Persetan dengan deklarasi perang! Kita harus membunuh petinggi dunia sekarang juga!” Lesha dengan perasaan yang campur aduknya. Dia ingin bergerak secepat kegelapan menuju istana petinggi dunia. Namun, hanya saja Rena langsung menahannya dengan menggunakan sebuah pengikat bayangan agar Lesha tidak bertindak sesuka hati.


“Lesha hentikan! Deklarasi perang sudah disuarakan. Kita tidak akan melakukan tindakan pengecut dengan menyerang dia di luar deklarasi perang. Apa yang perlu kita lakukan, adalah mengumpulkan semua elementalist.” Kata Theon dengan cukup tegas.


Lesha menarik pengikat bayangan milik Rena dengan cukup mudah. Kemudian, dia tidak begitu peduli dengan ucapan Theon.


Melihat hal tersebut, Theon bergerak secepat cahaya, menahan Lesha agar tidak bersikap gegabah. “Petinggi dunia memiliki bawahan, ratusan bawahan yang tengah bertekuk lutut. Kau pasti akan kalah telak. Apalagi elementalmu adalah kegelapan, yang mana sepertinya mampu dicounter dengan sihir astronomi jika tidak berhati-hati.”


“Tapi dia akan membangkitkan pasukan Undead! Pasukan mayat hidup yang memiliki regenerasi yang cukup tinggi. Pemikiran yang tetap, dan sikap yang sama dengan masa hidupnya.”


“Aku memiliki api penyucian, cahaya suci. Itu adalah lawan Undead! Ayahku sudah mengajariku itu semua, dia pernah melawan Undead juga!” Theon mencoba untuk meyakinkan Lesha.


Mungkin Theon cukup naif. Dia sebenarnya, mampu untuk bergerak secepat cahaya menuju Ziosam lagi, melawan petinggi dunia juga. Akan tetapi, dia juga menyadari bahwa melawan petinggi dunia sekarang juga merupakan tindakan naif juga. Orkanya sudah habis, ketika dia melawan sekalipun, mungkin dirinya juga akan kalah. Petinggi dunia memiliki sihir astronomi, dia hanya memiliki kekuatan elemental. Theon sama sekali tidak bisa mengendalikan sihir astronomi yang menjadikan bahwa petinggi dunia menjadi lawan yang sepadan.


Dan apabila dia membiarkan Lesha pergi sendirian, maka Lesha juga akan kalah. Mengingat, meskipun dia mendapatkan ingatan di empat belas generasi, tapi pergerakan tubuhnya juga masih kaku. Di generasi ini dia juga membutuhkan pengalaman untuk bergerak. Kemudian, ketika Theon kehilangan Lesha, maka Theon juga kehilangan pasukan penting dalam pertarungan.


“Baiklah, jika memang begitu. Lagipula kita juga tidak akan mengembalikan hampir 8 miliar manusia ketika aku bertindak sembarangan. Segera kumpulkan 8 Juta elementalist di dunia ini. Dan aku akan mengajarkan kemampuan penyegelan kepada Undead. Tidak ada cara lain untuk melawannya.”


“Baiklah. Aku mengerti. Bersikaplah dengan pemikiran terbuka sama seperti penitismu, Wulan.”


Lesha cukup terkejut dengan panggilan Theon, hanya saja Theon menarik Lesha lagi menuju ke bawah yang membuat dia segera melupakan tentang Theon yang mengetahui nama aslinya, lagipula dia tahu bahwa Theon juga merupakan seorang dewa.


Mereka ke bawah, bersama teman-temannya untuk memulai rencana untuk perang yang dideklarasikan oleh petinggi dunia.


Namun, bersamaan dengan hal itu, ketika Theon kembali, keadaan menjadi seperti semula. Bumi merah perlahan menghilang yang membuat keadaan tidak menjadi seperti berada di neraka lagi. Segitiga iluminasi juga menghilang, memperlihatkan sebuah bulan yang hendak purnama menunggu beberapa hari lagi.


Bersamaan dengan itu juga, semua mayat berubah menjadi energi kegelapan. Percikan energi kegelapan yang seolah diterpa angin menuju arah barat. Padahal, tidak ada hembusan angin sama sekali. Tentu hal tersebut membuat Theon menggertakkan giginya, karena sepertinya Petinggi dunia sudah merubah mereka menjadi sebuah energi kegelapan.


“Mereka diubah menjadi energi kegelapan yang disimpan khusus oleh petinggi dunia. Yang mana, mereka seolah akan menjadi orka, untuk membangkitkan undead. Meski sebenarnya bisa dijadikan tumbal secara langsung, tapi sepertinya petinggi dunia tidak akan repot untuk mencari hampir 8 Miliar mayat.” Kata Lesha menghela napas. Dia sudah pasrah untuk mengikuti sebuah permainan peperangan.


“Siapa kira-kira sosok yang akan mereka bangkitkan. Bagaimana cara kita memanggil ratusan ribu umat manusia biasa, ditambah 8 juta seorang elementalist.” Rena berkata.


“Tidak.” Sahut Strega memberikan pendapat. Robot itu kemudian berkata, “Ratusan ribu umat manusia, mereka tidak ingin berperang karena mungkin sudah mengalami trauma yang cukup besar. Kita tidak layak mengajak mereka, mereka hanya akan menjadi beban dan makanan bagi petinggi dunia, karena mereka tidak bisa apa-apa. Sudah pantas mengajak 8 juta umat manusia yang memiliki elemental.”


“Strega benar, satu milliar umat manusia terkecuali elementalist, mereka tidak akan pernah ikut perang. Tujuan kita adalah mengamankan sisa manusia itu untuk membangun peradaban kembali, sehingga pasukan kita hanya sekitar 8 juta yang merupakan elementalist. Dan yang menjadi pertanyaan, bagaimana mengumpulkan 8 juta manusia itu dalam satu tempat?” Kata Theon menyentuh dagunya, berpikir lebih keras untuk memikirkan langkah pertama sebuah perang.


“Kita harus melakukan cara yang cukup kuno. Dunia ini terbagi menjadi enam benua, Indian, Euro, Antartika, Nigrum, Ocean dan kita berada di benua Hikari.”


Mendengar suara demikian, Theon menoleh ke samping. Dia memperhatikan bahwa Rolland datang dengan luka yang cukup parah, dibantu oleh Roney yang napasnya terengah-engah. Mungkin karena dia mendapatkan sebuah aura yang cukup mengerikan. Namun, Roney tampaknya menjadi salah satu manusia yang cukup kuat menahan aura tersebut.


“Kemudian, kita akan menyebarkan elementalist dari New Santara untuk memberikan informasi yang mengejutkan. Dan mengumpulkan mereka dalam satu titik untuk melakukan apa yang kau katakan.” Sambung Rolland dengan tatapan yang datar. “Hah, perang sihir ya katamu. Cukup menarik.”