
Sedangkan di New Santara sendiri, lebih tepatnya pada markas pusat yang berada pada divisi pemburu penyihir, satu malam sebelum peristiwa yang mereka rencanakan. Ribuan orang telah dikerjakan untuk memasang chip pada otak penyihir yang diculik dalam skala besar.
Lebih tepatnya proyek ini merupakan sesuatu yang begitu gila. Bagaimana tidak? Dalam waktu seminggu setelah melakukan uji coba pada sebuah penyihir yaitu Anna Shon, professor Bihazaed mampu membuat puluhan chip dan kemudian dipasangkan pada puluhan penyihir yang diculik oleh agent Zero. Atau secara harafiah adalah paman Theon.
Meski begitu, hal tersebut sebenarnya tidak luput dari bantuan robot-robot pribadi milik Bilhazaed itu sendiri. Yang mana, memang Bilhazaed gemar menciptakan sebuah teknologi dengan bantuan teknologi lainnya. Misalnya seperti chip yang ditanamkan pada otak penyihir itu sendiri.
“Professor, Agen Zero mohon izin.” Kata seseorang dengan memegang sebuah senjata tepat berada di depan dadanya. Dia datang dengan perasaan yang cukup senang, apalagi terlihat wajahnya begitu berseri-seri.
“Ada apa? jika bukan hal yang begitu penting, maka pergilah dan jangan buang-buang waktu.” Tegas Agen Zero memalingkan wajahnya. Dia dan Bilhazaed hanya fokus di balik kaca, memperhatikan bedah otak berskala besar yang berada di ruangan luas di bawahnya yang mana dilakukan oleh pekerja jenius yang memang sudah diatur sebelumnya.
“Professor Tomy, dari negara Zeosam, dia sudah datang melalui bandara ibukota. Dan, ada yang aneh dan cukup menarik.” Kata orang tersebut yang menyentuh dagunya. Mengingat bahwa teknologi yang dia ketahui dari negara Zeosam itu benar-benar sangat keren. Hal tersebut membuat dirinya tidak begitu heran, mengapa Zeosam menjadi negara overpower dalam hal segalanya di dunia ini.
Agen Zero memperhatikan mata orang tersebut. Terlihat begitu penasaran apa yang menarik baginya. Sedangkan professor Bihazaed, dia langsung terkejut saat mendengar nama Tony yang dilontarkan secara langsung.
“Professor Tony? maksudmu dia adalah professor terkemuka di Zoesam. Apa yang menarik bagimu?” Ucapnya.
“Robot dengan kecerdasan buatan, duduk bersebalahan dengan professor Tony. Seolah dia seperti manusia biasa yang memiliki pikiran manusia. Bahkan saat di pesawat sekalipun, dia memiliki tiket sendiri.”
........
Suara dering berbunyi, Theon membuka matanya samar-samar karena menganggap bahwa itu adalah suara yang mengganggu. Bahkan dia berniat membanting smartphone yang berdering di atas meja di sampingnya.
Dia menggapai smartphone milik Rena yang tampaknya berdering. Dengan mata yang belum jernih dan berusaha untuk mengusapnya agar bisa fokus.
"Ali?" Batin Theon saat melihat bahwa itu adalah panggilan dari Ali. Dia bertanya-tanya, mengapa Ali memanggil Rena jam empat pagi? Bukankah itu terlalu mengganggu waktu tidur baginya? Sehingga, terpaksa dia harus menjawab untuk meminta kejelasan.
"Ali, ada apa kau menelpon Rena? Apalagi jam empat dini hari. Kau benar-benar mengganggu." Tanya Theon dengan nada yang lembut, karena dia melihat bahwa Rena masih tertidur pulas.
"Jam empat pagi? Theon kau bercanda?" Tanya Ali dalam telepon itu. Tapi dia menganggap bahwa Theon sedang mengingau, sehingga dia menyahut ucapannya sendiri. "Kalian serius tidak mengikuti acara wisuda? Kami sudah memakai toga dan dirias dengan sangat cantik untuk para wanita."
"Wisuda? Jam empat pagi kau ingin wisuda?" Tanya Theon mengulangi pertanyaannya.
"Ini jam delapan pagi. Aku harap kau tidak gila karena sering berhadapan dengan musuh."
Theon terdiam, kantuknya seketika hilang saat mendengar hal yang mengejutkan. Dia sedikit kebingungan, memandang jam kamar yang menunjukkan bahwa waktu menunjukkan jam empat pagi. Tapi, dia tidak percaya langsung, dia menggulir smartphone milik Rena dan mendapati bahwa waktu menunjukkan pukul empat.
"Benar ini jam empat. Tunggu sebentar…." Theon mengerutkan dahinya, dia bisa membaca dengan jelas bahwa di layar kunci menunjukkan bahwa dia berada di wilayah Ellada. "Pukul empat, waktu Ellada? Sialan, sepertinya aku benar-benar sangat bodoh."
"Ali! Berapa jam perbedaan waktu antara New Santara dan juga Ellada?" Kata Theon dengan cukup panik. Dia sepertinya merasa salah mengambil langkah.
"Jangan bilang kau berada di benua Euro? Aku katakan, perbedaan antara benua itu dan New Santara sekitar empat jam. Ah sial, kau tidak memiliki waktu yang cukup untuk kembali." Ali mencoba menjelaskan.
“Baiklah aku mengerti. Tapi, aku bertanya, apakah Lesha memiliki ciri yaitu sebuah perubahan yang begitu tiba-tiba?” Tanya kembali Theon. Dia harus memastikan wanita itu belum mendapati sebuah perubahan yang begitu tiba-tiba seperti melupakan siapa jati dirinya.
“Lesha tidak ikut wisuda? sialan, sepertinya aku terlambat bergerak untuk memastikan.” Kata Theon berdecak kesal.
Hanya saja, seketika sebuah ledakan terdengar pada panggilan. Membuat Theon benar-benar sangat terkejut saat mendengarnya. Bahkan, Theon juga sempat mendengar sebuah teriakan kepanikan yang terjadi pada tempat tersebut.
"Ali, apa yang terjadi?"
Theon tidak mendengar suara jawaban dari Ali selain suara kepanikan. Bahkan dia mendengar suara Ali bernapas dengan terengah-engah secara tiba-tiba dan langkah kaki.
"Penyihir mengamuk?!"
"Selamatkan diri kalian."
Suara random terdengar melalui panggilan. Intinya Theon dapat menyimpulkan akibat serangan yang dihasilkan para elementalist. Theon sudah mengira hal itu, tapi tampaknya ini benar-benar sangat parah, bahkan lebih parah dibandingkan yang dilakukan Anna.
"Para penyihir mengamuk Theon!" Teriak Ali dengan napas yang tak karuan.
Theon menutup panggilan secara tiba-tiba, meletakkan smartphone nya untuk melakukan sesuatu secara mendadak. Dia sudah tidak memiliki rasa kasihan untuk membangunkan Rena agar bangun lagi.
"Rena bangun!" Gugah Theon menggoyangkan tubuh Rena, berharap bahwa Rena bangun secepatnya.
Rena bangun dengan rasa kantuk di tubuhnya. Dia juga bertanya-tanya mengapa Theon membangunkannya dalam kondisi masih petang. Namun, dia segera mengusap matanya dan beranggapan bahwa Theon mungkin ingin melampiaskan napsunya.
"Aku baru ingat bahwa Ellada dan New Santara memiliki zona waktu yang berbeda! Ini sudah jam delapan waktu New Santara barat "
"Tunggu apa?" Rena terkejut mendengar apa yang Theon katakan. Namun, dirinya juga tiba-tiba menyadari bahwa New Santara dan Ellada memiliki zona waktu yang berbeda. Bahkan dia baru ingat akan hal tersebut yang membuat dirinya langsung beranjak dari tidurnya. “Kenapa aku baru mengingat bahwa setiap negara memiliki zona waktu yang berbeda-beda?” Decak Rena, tapi dia tidak terlalu begitu panik yang sangat berbeda dengan Theon itu sendiri.
“Gunakan identitas Dark Witch, kita akan langsung bergerak ke sana.” Kata Theon mengeluarkan semua item sebagai sebuah penyamaran menjadi Lord Unknown. Ini merupakan keadaan yang menegangkan, Agrabinta di serang dengan para penyihir yang tiba-tiba menjadi agresif tanpa sebab.
“Untuk apa?” Tanya Rena.
“New Santara diserang, Ali baru saja memberikan sebuah kabar yang begitu buruk. Kita akan menuju ke sana empat jam lagi.”
“Bukankah hanya satu detik? Jarak Ellada dan New Santara hanya belasan ribu km.” Bantah Rena sambil menuruti apa yang dikatakan oleh Theon. Dia melakukan transformasi untuk berubah wujud menjadi sosok Dark Witch yang benar-benar sangat mengerikan.
Theon menghela napas, dia membuka pintu balkon dengan tergesa-gesa, lebih tepatnya dia akan bergerak melesat melalui balkon itu sendiri. “Secara harafiah memang satu detik, tapi New Santara empat jam lebih awal. Jadi, bisa dibilang kita dari sini berangkat pukul empat dini hari, dan sampai disana pukul delapan.”
"Iya juga. Jadi hitungannya, kita bergerak sedetik atau empat jam?”
Theon tidak memperdulikan, dia mendapati bahwa kondisi Ellada masih benar-benar sangat petang. Bahkan, dia sama sekali belum melihat aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh warga Ellada itu sendiri. Theon berpikiran, bahwa dunia ini benar-benar sangat luas, setidaknya memiliki waktu yang berbeda-beda setiap wilayah itu sendiri