The God in the Modern World

The God in the Modern World
Keluh kesah



Ruang kosong perlahan retak, seolah memperlihatkan dimensi lain yang terlihat benar-benar sangat gelap. Lesha yang melihat hal itu, dia menggertakkan giginya, dan berusaha untuk memperbaiki segel itu agar iblis Azazel tidak keluar dari segelnya. Mungkin dia benar-benar berusaha semaksimal mungkin.


Semua undead mungkin tunduk dan sama sekali tidak bergerak, membuat seluruh pasukan roh juga terkejut. Sedangkan Rena, dia segera menghampiri Lesha yang begitu kesulitan setelah melakukan penyegelan para undead yang dikalahkan oleh para roh.


“Di mana Theon?” Tanya Rena dengan cukup panik saat Lesha menambal keretakan dimensi itu menggunakan seluruh kemampuannya.


“Dia dibawa Theon dewasa pergi, aku tidak sempat menambal keretakan dimensi ruang hampa ini! selain itu, di mana teman-teman kita?” tanya Lesha balik.


Rena tidak tahu harus apa, keunikannya memuncak saat Theon di bawa pergi entah kemana. “Teman-teman kita tidak masalah, hanya Ali yang tidak melakukan pertarungan, karena hanya dia satu-satunya manusia biasa yang hidup. Sehingga dia mundur jauh dari pertarungan.”


......


Di sisi lain, di sebuah tempat yang bukan bumi, dengan tempat yang mungkin dipenuhi oleh tanah berwarna aba-aba dengan cekungan kawah yang begitu banyak. Di tempat itu juga, seketika sebuah lubang cacing di ruang hampa muncul, mengeluarkan dua Theon yang terlempar karena lemparan lubang cacing.


Posisi dimana Alzma, mendorong Theon hingga menyentuh tanah rembulan. Benar, kali ini dia berada di rembulan dan memperlihatkan bumi tepat di depannya. Sehingga membuat Theon sendiri cukup terkejut saat Alzma membawanya di bulan.


Alzma membanting Theon kesekian kalinya, dengan posisi mencekik leher Fang Theon. sehingga membuat Fang Theon sendiri merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa. Tidak berhenti begitu saja, dalam mengatur sebuah gravitasi bulan, Alzma menendang Fang Theon hingga menyentuh bebatuan bulan dengan cukup keras.


Theon terbaring di atas tanah bulan, posisinya dia tidak mampu untuk berdiri dengan bola matanya yang terbelalak keluar seolah merasakan tercekik yang begitu luar biasa.


Hal tersebut membuat Alzma tersenyum senang, meskipun dia terengah-engah karena kehabisan napas akibat pertarungannya yang cukup sengit dengan Theon muda. Dia tahu, apabila dirinya bertarung di bumi, energinya akan dikuras oleh Theon muda yang membuat Alzma kesulitan untuk melanjutkan sebuah pertarungan.


Sehingga, dia tidak memiliki cara lain. Dan untungnya ketika dia membawa Theon muda ke bulan, dia menggunakan energi terakhirnya. Sehingga, Theon Alzma duduk di samping Fang Theon yang tengah tercekik karena tidak ada udara sedikitpun di rembulan. Sedangkan Alzma, dia mampu memiliki sebuah sihir astronomi, sehingga bisa bernapas di ruang hampa sekalipun.


“Aku tidak tahu bagaimana caramu untuk hidup, tapi yang pasti itu terjadi agar garis takdir menghindari sebuah paradox yang berat.” Theon Alzma memandang bumi. Dia sudah menyerahkan pada iblis Azazel yang sudah dia bangkitkan. Sedangkan sosok yang merepotkan, yaitu Theon muda yang menurutnya lebih mengerikan dibandingkan avatar dewi rembulan, sudah dia amankan di bulan.


“Jika kau kecewa denganku, maka aku juga kecewa berat denganmu.” Kata Theon Alzma. “Seharusnya kau memiliki perasaan dendam yang berat ketika kau hidup. Seperti Rolland, Lesha dan teman sekelas lainnya. Hanya saja, kau seolah menjadi malaikat yang begitu sok suci.”


Theon Alzma menunduk, dia yang duduk di samping Fang Theon menunggu momen dimana Fang Theon mati secara perlahan di rembulan karena kehabisan udara. Meski sebenarnya, dia benar-benar tidak bisa memperhatikan terlalu lama dirinya terbunuh. Bahkan, dia menggigit bibirnya, perasaan mencoba untuk membujuk untuk menyelamatkan dirinya.


Meski dia harus meneteskan air mata, mendengar erangan Theon muda seolah mencari sebuah oksigen. Tapi rasanya itu tidak mungkin, karena sekalipun dia memiliki niat menolong, dia tidak akan bisa kembali ke bumi.


“Apa kau ingat? Ketika orang tua kita masih hidup? Ketika senyumannya yang begitu cerah, membuat menjadi anak berumur 5 tahun yang periang. Tapi siapa yang berpikir, mereka harus terbunuh oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab, tidak peduli bahwa dua orang yang dia tabrak meninggalkan kita yang kecil.” Theon Alzma melemparkan bebatuan rembulan seolah melampiaskan kejengkelan.


“Dan itu awal kesengsaraan kita, menjadikan hidup kita dipenuhi oleh perundungan, membuat kita tidak memiliki kekuatan yang terpaksa membuat sikap kita menjadi feminim. Seharusnya kau mengerti itu, tapi nyatanya kau? kau mencoba memperbaiki seseorang yang melakukan perundungan kepada kita. Kau benar-benar naif!”


“Siapa sebenarnya yang peduli kepada kita? Paman? Dia memberikan nafkan secara tidak ikhlas, wajahnya benar-benar menjengkelkan ketika mengoceh tentang hidupku. Atau mungkin Ali? Dia bisa apa? Dia juga takut dengan Roland, hanya bisa membantu secara diam-diam bukanlah itu tindakan pengecut?” Lagi-lagi Alzma melempar bebatuan bulan, disertai dengan teriakan yang menggelegar seolah melepaskan sebuah emosi selama ini.


“Mungkin Rena yang membantu kita? Tidak, kau salah besar, dia hanya kasihan kepadamu. Dia hanya menganggapmu sebagai seorang teman.”


Fang Theon tersenyum, sambil menjawab dengan tenang di samping Alzma yang duduk memeluk kakinya. “Benarkah? Kau mungkin akan sangat menyesal, ketika tahu bahwa aku pernah berhubungan badan dengan Rena. Bukankah itu luar biasa?”


Mendengar hal itu, Alzma menoleh dan cukup terkejut saat Fang Theon juga duduk di sampingnya tanpa bermasalah. Bahkan dia bisa melihat bahwa Fang Theon sendiri seolah bisa bernapas di rembulan. Padahal, dia sendiri melihat dengan jelas bahwa Fang Theon tadi tercekik mencari sebuah udara segar untuk menghidupkan paru-parunya.


Fang Theon segera berdiri, kemudian dia menendang Theon Alzma dengan kecepatan cahaya, membuat Theon Alzma sendiri terlempar dengan cukup jauh hingga memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya. Tidak berhenti, Fang Theon muncul di depan Theon Alma dengan tatapan datar, sembari berkata, “Sudah ku katakan, bahwa aku bukanlah dirimu, ketika kau tidak tersesat seperti ini, aku bersikeras tidak akan mengakui bahwa dirimu adalah aku.” Kata Theon sambil memukul wajah Alzma dengan cukup keras.


“Aku adalah Fang Theon! putra dari Zeno’s God dan juga dewi racun. Manusia rendahan sepertimu bukanlah lawan yang terlalu berat bagiku! Sekarang kau mengerti, mengapa aku memiliki kekuatan yang begitu luar biasa seperti ini?” Kata Fang Theon sedikit menyombongkan diri.


Kemudian, Fang Theon menginjak dada Theon Alzma, dengan cukup sinis dia berkata, “Dulu aku memang memikirkan tentang kehidupanmu yang menyedihkan, sempat juga untuk mencari jati diri untukmu. Akan tetapi, rasanya itu benar-benar sia-sia karena kau sendiri kembali hidup dalam sebuah kesesatan.”


Fang Theon terbang melayang di atas Alzma yang tatapannya kosong dan tidak mengerti apa yang Fang Theon katakan sebenarnya. Hanya saja, setitik cahaya keluar dari tangan kiri Fang Theon untuk mengakhiri pertarungan ini. 


“Oh ya, terus terang kau benar-benar bodoh. Jika perlu kembalilah menjadi feminim. Jika tahu kau begini, mungkin aku lebih memilih memihak Rolland dan membunuhmu lebih awal, agar tidak terseret dalam kehampaan iblis yang kau panggil.”


“Bummm!!”