
Lesha tersenyum malu sambil menggarukkan kepalanya, dia kala itu benar-benar takut untuk menunjukkan kekuatan elemental kepada publik karena rumor petinggi negara yang akan membunuh siapa saja yang memiliki kekuatan elemental. Sehingga menghadapi mereka dengan kekuatan fisik bukanlah hal yang sangatlah mudah. Yaa, untung saja ada Theon yang baru saja keluar dari rumah sakit, meski dia saat itu belum mengetahui bahwa ternyata api yang muncul dari rokok adalah kekuatan Theon.
Kemudian, Theon juga menatap Ali dengan sinis pula, mengelurkan perkatannya, “Lakukan saja apa yang menjadi tugasmu, tenang saja, aku tidak mencurinya dari angkatan darat.”
Ali mengangguk dengan terpaksa dan penuh ketakutan ketika Theon berkata demikian, seolah Theon memiliki sebuah aura penekanan yang membuat siapa saja harus tunduk. Meski begitu, Ali juga benar-benar penasaran, tentang siapa musuh Theon yang dibicarakan oleh Lesha? Sungguh, pasca masuk rumah sakit, Theon berubah secara total.
“Ba-baiklah, Theon.” Kata Lesha dengan berat pula. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan tentang Theon yang hendak masuk ke dalam singa. Tentunya, itu sama saja menghampiri kematiannya dengan sangat mudah.
Berbeda dengan Rena, wajahnya benar-benar sangat tenang. Dia memang tahu bahwa Theon akan masuk ke dalam kandang singa, tapi Rena juga tahu bahwa Theon yang akan menjinakkan singa tersebut bahkan sampai sang singa tidak bisa melihat keindahan dunia lagi.
“Koordinat, dia berada di hotel Nirwana. 7 Km sebelah barat dari tempat ini.” Kata Ali dengan perkataan yang begitu mengejutkan.
Theon mulai berpikir, bahwa dirinya sebenarnya telah di awasi secara diam-diam setelah dia mengetahui ternyata ketua pembunuh bayaran tinggal di hotel megah yang masih berada di kota ini.
“Tunggu sebentar, bukankah hotel itu bukan milik keluarga Jean? Tapi mengapa pembunuh bayaran tersebut tinggal di hotel itu?” Rena mengerutkan dahinya.
“Jean? Si-siapa itu?” Tanya Ali yang penasaran. Dia semenjak tadi benar-benar tidak mengerti tentang apa yang teman-temannya katakan mengenai musuh, atau Jean.
Theon duduk secara tegak dan memandang Ali. Dia pikir, Ali sebagai sosok pejabat yang berasal dari kalangan atas mengetahui siapa itu Jean, Jean Skelet. Tapi, Theon mulai berpikir bahwa mungkin Jean benar-benar terlalu rahasia atau mungkin belum terkenal dari kalangan atas bahwa dia sebenarnya adalah putra mafia.
“Mungkin dia memang sengaja menyewa hotel tersebut. Kita harus bergegas ke sana! Ali, bawa kita menuju hotel nirwana sebelum pembunuh bayaran datang ke sini lagi.” Theon berkata dengan nada yang cukup tinggi.
“Dengan terpaksa aku akan menuruti apa yang kau mau.” Ali berdecak kesal, dia seolah tidak memiliki akal lagi bahwa ternyata Theon berhubungan dengan seorang pembunuh bayaran. Lalu, dia juga mengerti ternyata bahwa beretta, sama senjata sniper itu merupakan milik pembunuh bayaran.
Pada akhirnya semua orang mengangguk, meski sebenarnya Ali sendiri masih tidak mengerti apa yang temannya bicarakan. Namun, dia hanya mengiyakan dan mengikuti kemana perginya Theon, walau Ali benar-benar takut setelah mengetahui bahwa Theon akan masuk ke dalam kandang singa secara istilah.
“Bukan, kami tidak mencurinya, kepala sekolah sendiri yang memberikan kunci mobil ini kepada kami.” Ucap Lesha sambil menunjukkan kunci mobil milik kepala sekolah, kemudian dia melanjutkan ucapannya dengan santai, “Aku yang akan membawa kalian meski aku seorang wanita sekalipun.”
“Ali, untuk berjaga-jaga, kau bisa membawa beretta dan senjata sniper itu. Tapi, sayangnya aku hanya berhasil membawa amunisi untuk beretta itu saja. Dalam misi ini, jika berhasil kau bisa mendapatkan amunisi yang melimpah baik untuk beretta dan senjata sniper itu.” Sahut Rena sambil mengeluarkan beberapa amunisi untuk beretta yang dia dapatkan dari penembak jitu pagi tadi.
“Terima saja dan ikuti kamu, sebagai pengguna senjata modern, aku mengandalkanmu, Ali. Aku tidak akan pernah memberitahumu mengapa kami memiliki sifat yang berubah, tapi kau akan mengerti nanti secara sendirinya. Ku pikir, ini benar-benar sangat naif apabila aku seolah memberitahukannya kepadamu. Tapi, aku tidak memiliki cara lain jika aku tidak memiliki pengendali senjata modern di pihakku.” Theon menepuk pundak Ali dengan cukup keras, tentu apa yang dia lakukan adalah memberi bisikan demikian.
Theon sendiri sebenarnya tidak ingin mengetahui siapa dirinya sebenarnya kepada orang lain. Tapi, dirinya juga memerlukan Ali mengetahui siapa dirinya tanpa Theon beritahu secara langsung. Theon memerlukan pengendali senjata modern seperti Ali, seperti penggunakan senjata sniper, pistol, atau mungkin sangat bagus apabila Theon memberikan Ali senjata plasma untuk menghadapi aparat.
Dia percaya, ketika Ali mengetahui siapa dirinya, Ali pasti akan menuruti permintaan Theon agar tidak menyebarnya secara publik. Karena Theon akan menunjukkan kekuatan elemental suatu saat nanti untuk menciptakan riuh para petinggi negara dan dunia, karena siapa tahu elementalnya akan bangkit.
Pada dasarnya, Theon percaya Ali karena menurut Theon Alzma sendiri, Ali lah tempat berbagi cerita, tempat untuk berkeluh kesah tentang bagaimana sulitnya menjalani hidup dengan sikap yang sebenarnya tidak dia inginkan. Dengan perilaku yang tidak mengenakkan dari teman-temannya, para guru bahkan lingkungan rumahnya. Nyatanya? Ali benar-benar pandai menjaga rahasia dan tidak menyebarkan keluhan Theon kepada yang lainnya.
Selain itu, Theon sendiri tidak akan takut apabila Ali memberitahukannya kepada petinggi negara bahwa Theon memiliki elemental. Karena itu tidak mungkin, dan pada dasarnya Ali sendiri tidak pernah mengetahui bahwa aparat negara membunuh elementalist. Jadi, bagaimana bisa Ali melaporkan sebuah perbuatan jahat menurut aparat, tapi dia sama sekali tidak mengetahui bahwa itu adalah perbuatan jahat? Istilah kata memang begitu.
Ali menelan ludah secara kasar, menurutnya yang ada di sampingnya bukan lagi Theon Alzma, melainkan orang lain yang menyamar jadi Theon. Begitupun dugaannya dengan Rena seolah ada jiwa tersembunyi yang menempati Shon Rena.
“Kalian bicara apa, Theon? Kenapa kalian tidak mengajakku berbicara..” Wajah Lesha benar-benar cemberut.
Theon tindak menjawab apa yang dikatakan Lesha, dia berjalan dengan menaikkan wajahnya disertai dengan Rena yang wajahnya benar-benar sangat datar. Wajah mereka menunjukkan bahwa mereka tidak bisa tinggal diam dengan para pembunuh bayaran yang mana menurut mereka adalah milik mafia geng skeleton. Tampaknya, Big three benar-benar menghadapi musuh yang salah serta belum menerima bahwa anak SMA mendapatkan bintang neutron.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, tidak duduk pada bagian depan melainkan duduk di bagian kursi tengah. Sehingga kursi depan biar di duduki oleh Lesha serta Ali yang entah kenapa wajahnya berubah menjadi pucat.