The God in the Modern World

The God in the Modern World
Di luar kendali (2)



Verme tak berdaya, dia mencoba untuk berdiri dengan perasaan campur aduk. Amarah dan sedih, semuanya dalam satu kondisi. Dia melihat istrinya sendiri mati dalam kondisi mengenaskan, kepalanya remuk karena mendapatkan sebuah tekanan air yang cukup tinggi dari tangan Anna, atau putrinya, sehingga bisa dibilang bahwa istri Verme atau ibu Anna sudah kehilangan nyawanya.


“I .... ibu?” Anna seketika tersentak, kesadarannya tiba-tiba berubah sekejap dan menyadari pemandangan yang tak biasa. Hanya saja, dia juga mengingat tentang apa yang dia perbuat barusan, sehingga membuat dirinya membuka matanya lebar-lebar dan tak percaya tentang apa yang dia lakukan baru saja. Bahkan, dia juga mengangkat kedua tangannya, memperhatikan kedua telapak tangannya dengan penuh ketegangan.


Dia bahkan juga bisa melihat, bahwa ayahnya tengah menyeret diri, menuju jasad ibunya yang mati mengenaskan. Mata ayahnya berkaca-kaca, mencoba menggoyangkan tubuh ibu Anna dengan suara tangis dan teriakan yang memekikkan telinga. Bahkan Anna langsung meloncat karena ayahnya berada di dekat kakinya sendiri. Dia, tidak tahu apa yang harus dia lakukan selain mengeluarkan air mata yang membasahi pipinya. “Apa yang perbuat? Kenapa aku melakukan hal tersebut?” Batin Anna bertanya kepada dirinya sendiri.


Tapi, pikirannya berubah. Walaupun dia baru saja larut dalam kesedihan, dia langsung menghampiri ayahnya, menendang kepalanya dengan cukup keras tanpa rasa bersalah sedikitpun. Lebih tepatnya rasa bersalahnya menghilang secara tiba-tiba, dan justru digantikan dengan tertawa yang cukup keras.


Verme yang menerima itu, dia mengalami sebuah pusing. Hanya saja, dia masih mampu untuk menatap Anna dengan raut wajah yang mudah ditebak, bahwa amarahnya benar-benar memuncak. Sehingga, dia berteriak dengan cukup keras. “Iblis! Dasar iblis, kau hanyalah iblis yang menyamar menjadi anakku!”


“Anna Michaele Shon, putra Verme Shon. Lahir 19 Januari 2005. Aku adalah anakmu ayah, perlu bukti apalagi agar aku tidak disebut iblis?” Kata Anna dengan senyum iblis di wajahnya. Memang dia tidak ingin disebut iblis, tapi di mata ayahnya sendiri, dia bisa melihat iblis dalam bentuk putrinya.


Bahkan Rena saja cukup kebingungan, mengapa Anna bisa seperti itu? Kondisi hati dan emosinya seolah bisa berubah-ubah dengan tiba-tiba. Yang membuat Rena benar-benar cukup penasaran dan mencoba untuk mengabari Theon. Tapi sebelum itu, dia membaca pesan Roney bahwa intinya Roney tidak berpikir bodoh, dirinya berada di luar dan tidak melakukan tindakan sembrono, selagi dia tidak melihat Rena dalam keadaan berbahaya.


Hal tersebut membuat Rena menghela napas lega, dan mengirim kembali pesan bahwa dia melakukan tindakan yang benar. Lagipula, dirinya aman dan hanya ingin mengetahui rasa penasaran.


Sebelum Rena mengirim pesan kepada Theon, tatapan Rena terfokus kepada Anna yang tidak membunuh ayahnya. Justru dia mengambil sebuah kunci mobil dan membiarkan ayahnya mengalami rasa sakit yang luar biasa baik mental dan juga fisik. Tampaknya, dengan membawa sebuah kunci mobil, Anna pergi dengan membawa sebuah mobil, entah pergi kemana, Rena sama sekali tidak mengetahuinya dan sama sekali tidak begitu peduli.


Rena keluar untuk menghampiri pamannya, menepuk-nepuk pipi pamannya agar sang paman itu sendiri tersadar. “Drama apalagi ini? Mengapa anakmu bisa mengamuk tanpa rasa bersalah? Apapun itu jawabannya, aku sama sekali tidak begitu peduli.” Kata Rena mengangkat ujung bibirnya, dia langsung pergi karena dia tidak ada urusan lagi.


.......


“Rena, dia benar-benar lama. Aku harap dia bisa membunuh pamannya. Itupun jika pamannya main kasar.” Batin Theon menghela napas. Di sis lain, dia memiliki sebuah firasat yang cukup besar, tapi bukan firasat buruk kepada Rena. Firasat, seperti akan ada sebuah kerusakan yang cukup besar.


“Apakah Lord Unknown dan Dark Witch harus turun tangan lagi?” Sambungnya merasa sedikit malas. Bagaimana tidak? Dia harus pergi menuju negara Ellada untuk melihat menara yang menjadi sebuah gerbang menuju alam dewa, sekaligus untuk mencari tahu siapa avatar dewi rembulan pada masa ini. Tidak ada waktu untuk menjadi Lord Unknown, lagipula keadaan juga sudah seimbang, aparat juga tidak memburu, elementalist juga tidak semena-mena. Sungguh, dirinya tidak akan tahu apa yang akan terjadi.


Hanya saja, Theon mampu melihat ekspresi sumringah dari wajah Rena seolah dia kebanjiran bahagia. Hal tersebut membuat Theon ikut senang. Namun, sangat berbeda jauh dengan Roney yang tampak kosong seolah dia baru saja melihat sesuatu yang cukup mengerikan.


“Aku cukup senang Theon. Aku sama sekali tidak mengeluarkan tenaga untuk menghancurkan mental dan fisik pamanku.” Kata Rena yang mana menarik tangan Theon dan memintanya untuk duduk.


Kemudian, dia menceritakan tentang apa yang dia lihat. Mengenai sepupunya, yaitu Anna membunuh adik-adiknya dan ibunya tanpa rasa bersalah di hadapan ayahnya. Bahkan, Anna sendiri terlihat begitu bahagia bagaikan seorang pembunuh berantai yang haus darah. Hanya saja, belum sempat dia membunuh ayahnya sendiri, dia atau Anna pergi dengan membawa mobil.


Sebelumnya, Anna Michaele Shon dikabarkan menghilang, lebih tepatnya pada waktu sebelum hasil ujian akhir. Rena juga menceritakan apa yang dia dengar dari sang satpamnya.


Theon mengerutkan dahinya. “Jika itu di alam lain, seseorang yang menghilang dan kembali setelah beberapa hari dengan sifat yang berbeda, biasanya orang tersebut memang baru saja terkena sebuah hasutan. Orang-orang itu biasanya adalah orang yang memiliki hati yang rapuh, tidak mendapatkan sebuah kepercayaan dari orang terdekatnya sehingga sangat mudah sekali untuk dihasut.” Kata Theon mencoba menjelaskan kepada Rena, meskipun Rena tahu hal tersebut. Sedangkan Roney, dia hanya terdiam dan tidak mengerti apa yang Theon katakan.


Memang, kejadian itu benar-benar sangat banyak. Orang-orang yang kehilangan kepercayaan dari orang terdekatnya, mendapatkan sebuah perlakuan buruk, bahkan kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya, sangat mudah sekali untuk dihasut. Dan puncaknya adalah sebuah balas dendam. Taktik seperti itu benar-benar sangat mudah untuk menghancurkan sebuah kerajaan dan mengadu dombanya.


“Tapi Anna sama sekali mendapatkan sebuah kepercayaan yang cukup penuh. Dia mendapatkan sebuah kasih sayang dari orang tuanya. Dan aku sama sekali tidak melihat dia melakukan hal tersebut seperti dendam. Karena jika dia dendam, maka dia akan membunuh keluarganya dengan penuh emosi, tapi nyatanya? Bahkan dia berkata bahwa dia melakukan hal tersebut karena menyenangkan dan menuruti apa yang dia pikirkan.” Kata Rena.


Theon menyentuh dagunya, tentu ini adalah hal yang sangat janggal. Tapi, sebelum itu dia menatap Roney karena tampaknya dia sudah tak berkepentingan untuk berada di sini. Lagipula, dia sudah mendapatkan berkas milik Theon dan juga Rena. “Roney, kau bisa sekarang untuk mengurus semuanya.”


“Baik tuan, aku undur diri terlebih dahulu.” Katanya dengan sangat gugup.


Kini Theon dan Rena, mereka saling menatap, memikirkan tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi, Rena mencoba menjelaskan kepada Theon, “Mungkin ada beberapa faktor yang tidak ku ketahui, biarkan saja Anna melakukan hal tersebut. Lagipula dengan adanya Anna yang hampir membunuh pamanku, kau sama sekali tidak diuntungkan.”


“Sebenarnya sangat diuntungkan. Akh benar, lupakan saja. Ini hari bebas kita sebelum pergi ke Ellada. Ingin jalan-jalan berdua di sekitar kota?”