The God in the Modern World

The God in the Modern World
Roh tersegel



Theon terlempar ketika tubuh Jean dilapisi oleh sebuah tulang belulang berwarna oranye yang mana ukurannya jauh lebih besar dibandingkan Jean itu sendiri. Bahkan, Jean berada di tengah-tengah tulang rusuk Skeleton dengan matanya yang berwarna oranye pula.


Skeleton itu tampak begitu besar, menghancurkan langit-langit rumah milik Jean dengan tengkorak yang memiliki tanduk pula. Pedang berwarna oranye dengan pinggir yang bergelombang bagaikan sebuah keris. Sehingga, bisa dibilang bahwa rumah Jean telah hancur lebur. Theon bisa melihat bahwa dirinya seolah berada di pinggiran hutan.


“Aku pernah lihat, itu bagaikan Susano’o skeleton yang ada di animasi.” Rena menunjuk roh Skeleton di depannya. Tidak ada rasa takut sama sekali di dalam hatinya, justru tangannya semakin mengeluarkan unsur kegelapan untuk menghabisi Jean dan rohnya.


Theon berdiri sambil menatap Rena. “Bukankah susano’o itu nama dewa badai?”


“Memang, tapi nama karakternya memang susano’o.” Jawab Rena sambil mengayunkan melambaikan tangannya, sehingga elemental kegelapannya menyerang Skeleton milik Jean.


Sayangnya skeleton itu mengayunkan pedangnya pada unsur kegelapan milik Rena. Sehingga, dengan sebuah elemental api, pedang Jean Skeleton mampu melawan elemental kegelapan milik Rena, meskipun pedang tersebut hancur terkena elemental kegelapan. Hanya saja, pedang tersebut tumbuh kembali.


Tak mau kalah, Jean Skeleton memukulkan tangan kirinya untuk memukul Rena. Bersamaan dengan itu, Jean Skeleton juga mengeluarkan elemental petir di antara tulang belulang dan menyabarnya pada Rena.


Rena meloncat usai menyadari bahwa kepalan tangan Jean Skeleton hendak memukulnya, namun dia benar-benar kaget saat sebuah petir akan menyambar dirinya.


Untung saja, seekor kura-kura dengan ekor ular muncul secara tiba-tiba di depan Theon, menahan serangan elemental petir yang diberikan oleh Jean Skeleton dengan tegangan yang kemungkinan sangat-sangat tinggi. Lebih tepatnya, yang ada di hadapan Jean Skeleton adalah Genbu, dengan Theon yang berdiri di atas tempurungnya yang sangat besar, bahkan ukurannya menyamai Skeleton milik Jean itu sendiri.


“Roh lawan roh, tapi bedanya aku masih tersadar. Bukan seperti dirimu yang kehilangan kesadaran seolah dikendalikan Skeletonmu sendiri.” Theon tersenyum lebar, dia benar-benar menyadari bahwa sebenarnya Jean sudah kehilangan kesadarannya karena segel Skeletonnya yang sudah rusak.


Sebelumnya, Theon berasumsi bahwa roh Skeleton disegel dalam tubuh Jean. Namun, karena emosinya yang tidak terkontrol, membuat segel rusak dan Skeleton keluar untuk mengendalikan tubuh Jean.


Fokus dalam pertarungan, Genbu menggerakkan ekor ularnya untuk membunuh Jean yang seolah menjadi jantung Skeleton itu sendiri. Namun, sang skeleton mengayunkan pedangnya untuk memutus ekor ular milik Genbu.


Tangan air muncul dari permukaan lantai yang  telah rusak, menahan tangan Skeleton yang menebaskan pedangnya. Sehingga, ular ekor Genbu langsung menyerang Jean yang ada di antara rusuk Skeleton.


Sayangnya, rusuk Skeleton tumbuh terlalu keras, sehingga membuat Jean gagal untuk dibunuh karena dia memiliki sebuah perlindungan. Bersaman dengan itu, ular milik Genbu dcekik oleh tangan Skeleton satunya. Tentu hal tersebut membuat Genbu tak terima, dia langsug mengegrtakkan kakinya yang membuat bongkahan tanah muncul dan meyerang Skeleoton.


Skeleton yang menerima serangan, dia sedikit terlempar ke atas dengan posisi masih mencekik ular Genbu. Untungnya, Theon langsung sigap dan memotong dengan aliran air yang dia ciptakan. Sedangkan tangan air yang keluar dari tanah juga pecah karena Skelton sendiri terlempar.


Lagi-lagi mengalami regenerasi, Skeleton langsung berdiri dan mundur ke belakang untuk menjaga jarak. Kemudian, dengan beberapa tarikan napas, dia langsung berlari untuk melakukan sebuah pertarungan dengan Genbu.


Mengakibatkan bahwa Genbu bisa dibilang sangat diunggulkan. Apalagi tanpa bantuan Theon sekalipun, yang mungkin hanya berdiri di atas kepala Genbu, yang mana sebelumnya dia berdiri di atas tempurungnya.


Pertempuran dua raksaka bagaikan monster itu membuat sebuah getaran yang kuat di hutan ini. Bahkan, Rena saja, dia memilih untuk meloncat beberapa meter karena harus menghindari pertarungan sebuah monster yang ukurannya yang lebih besar dibandingkan dengan rumah Jena.


Tak tanggung-tanggung, baik Skeleton maupun Genbu, keduanya juga sempat meneluarkan kekuaran elemental untuk mengalahkan musuhnya masing-masing. Seperti Genbu yang kali ini mengeluarkan sebuah bongkahan tanah ketika mendapati skeleton yang menebaskan pedangnya hingga muncul sebuah tebasan elemental api.


Sebenarnya Theon bisa saja menghentikan elemental api yang dikeluarkan oleh Jean. Tapi tampaknya, itu membuatnya benar-benar tidak menarik dan kehilangan sebuah seni dalam sebuah pertarungan.


Namun, kemampuan regenerasi tulang dari Skeleton juga benar-benar sangat menjengkelkan. Setiap kali Genbu atau Theon memotong salah satu bagian tubuhnya, itu membuatnya kembali pulih dalam beberapa waktu. Seolah bahwa Skeleton itu hidup dalam sebuah keabadian.


Theon kali ini fokus untuk menghancurkan tulang rusuk yang mana bagian tersebut jauh lebih kuat dibandingkan dengan tulang-tulang yang lainnya. Mungkin karena bagian dalamnya terdapat Jean sebagao organ vital Skeleton itu sendiri, atau ibarat sebuah jantung.


Sedangkan Genbu, dia berfokus untuk melawan Skeleton itu sendiri di kala Theon fokus untuk menghancurkan tulang rusuknya menggunakan sebuah elemental api, petir maupun sebuah elemental air.


Merasa sangat kesulitan untuk berdiri di atas kepala Genbu, apalagi dirinya selalu hampir terkena serangan milik Skeleton, Theon langsung melompat. Mendarat di tanah, kemudian dia melompat lagi sambil mengeluarkan sebuah Fire Sword untuk menebas kaki Skeleton


Genbu memanfaatkan situasinya atau lebih tepatnya tidak ada Theon dia atasnya, dan menghilangkan keseimbangan Skeleton, dia berputar badan mengibaskan ekor ularnya, sehingga membuat Skeleton tersebut jatuh di atas permukaan tanah dengan dentuman yang begitu keras. Bahkan bisa dibilang menghasilkan sebuah gempa yang sangat kecil di atas reruntuhan rumah Jean. Untung saja, Skeleton itu tidak sempat melakukan sebuah regenerasi ketika kakinya di tebas yang membuat dia terjatuh.


Theon bergerak kembali, berlari dengan cukup kencang. Dan ketika sudah berada di depan tulang rusuk Skeleton, Theon langsung melompat dengan mengangkat pedangnya dalam posisi mata pedang ke bawah. Memang, bahwa posisi rusuk memiliki jarak antara rusuk lainnya, dan pedang Theon seolah menancap di antara ruas rusuk yang tidak ada apa-apa selain sebuah kobaran api pada rusuk.


Skeleton tersebut tersadar, dia langsung berdiri dan menggunakan tangannya untuk memukul Theon. Hanya saja, kepala Genbu muncul dan mendorong tangan Skeleton dengan cukup kuat.


Tak menyia-nyiakan waktu, Theon yang kini menggantung, dia langsung berteriak dan sekuat tenaga menarik pedangnya ke bawah. Alhasil, dengan Fire Sword yang terbakar, Theon sanggup untuk menghancurkan tulang rusuk Skeleton.


Theon yang terjauh, dia langsung mengepakkan sayap berpinya, terbang menuju Jean sebelum tulang rusuk Skeleton kembali meregenerasi.


“Selamat tinggal Jean!” Theon mengayunkan pedangnya, sehingga kepapa Jean yang tak sadarkan diri dalam posisi matanya berwarna kuning menyala terpisah dari badan utamanya. Tak berhenti begitu saja, Theon juga langsung memecah tubuh Jean menjadi dua sebelum dirinya keluar dari area sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.