The God in the Modern World

The God in the Modern World
Sosok di balik topeng



“Bagaimana bisa? Petinggi dunia, sang elite global adalah Theon itu sendiri?” Rena bertanya-tanya. Dia hampir pingsan saat mengetahui sosok yang berada di balik topeng segitiga iluminasi memiliki wajah yang hampir sama dengan Theon Alzma. Bahkan terlihat mirip, hanya saja, Theon Alzma sang petinggi dunia sebagai identitas sebenarnya memiliki umur yang lebih dewasa dibandingkan Theon saat ini.


Theon, atau Fang Theon, dia mengerutkan dahinya. Dia kini mengerti, mengapa jiwa Theon Alzma sama sekali tidak bertemu dengan kedua orang tuanya? Tampaknya dia telah melakukan hal yang seperti ini, yaitu berdiri di hadapannya sebagai sebuah identitas yang mengendalikan dunia ini.


Dan, yang menjadi penasaran bagi Theon adalah, bagaimana jiwa Theon Alzma bisa membentuk sebuah wujud atau tubuh nyata? Sedangkan tubuhnya sedang Fang Theon gunakan?


“Kau bukan Theon!” Fang Theon meyakinkan diri sendiri, maupun kepada temannya.


“Aku Theon, kau juga Theon. Mengapa kau tidak mengakuiku, sedangkan aku mengakuimu? Ketika sebuah rasa sakit yang teramat pedih, menjadikan sebuah siksaan, seharusnya kau merasakan itu, dan yang menjadi pertanyaan .....” Theon Alzma berwajah begitu serius. Menatap Fang Theon, meskipun Alzma sendiri tidak mengetahui identitas yang sebenarnya.


“Bagaimana bisa kau memiliki sihir itu?” Keduanya serentak berkata. Ketika Fang Theon tidak mengerti, bagaimana Alzma bisa hidup kembali, menjelma menjadi seseorang dalam sebuah perpisahan antara jiwa dan raga, menjadi seorang pemimpin dunia seolah mengendalikan semuanya?


Sedangkan Alzma yang memiliki sebuah pertanyaan tersirat, tentang bagaimana Theon memiliki sebuah sihir modern? Dia merasa, dia tidak memiliki yang seperti itu, ayah dan ibunya juga tidak memiliki genetik seorang penyihir.


Merasa cukup terkejut saat masing-masing memperhatikan dirinya hidup. Bahkan Alzma sekalipun yang tidak percaya dari dulu, bahwa dia adalah Theon, yang seharusnya meninggal dan dimakamkan ketika mengalami sebuah perpindahan jiwa.


“Kita bisa bercerita sedikit, bagaimana kau dan aku memiliki rahasia terbesar? Bagaimana kau bisa hidup, dan memiliki sebuah sihir modern dan melawanku hingga saat ini, dan bagaimana aku bisa hidup, ketika tubuhku meregang nyawa dan mendapatkan sebuah sihir astronomi?” Alzma mengangkat ujung bibirnya.


Ketika dia mengulurkan tangannya ke samping, memunculkan sebuah cacing yang memiliki ukuran setinggi dirinya, otot bisep begitu tampak dibalik pakaian berjas yang telah robek.


Menjadikan Theon, Rena ataupun Lesha sendiri cukup tidak percaya. Karena ketika dia tahu, Theon Alzma bukanlah sosok laki-laki yang maskulin, memiliki sifat feminin mungkin menjadi sifat utamanya, dan bagaimana mungkin memiliki otot yang seperti itu?


Hal tersebut mungkin membuat Lesha kesulitan memutar otaknya, dia memperhatikan pada Theon. Ketika dia tahu, bahwa Theon disebelahnya adalah seorang dewa yang sedang menyembunyikan identitasnya, bagaimana dengan Theon yang ada di hadapannya? Kepalanya terlihat pusing untuk memikirkan hal tersebut.


Ketika tangan Alzma menembus sebuah lubang cacing, dia menariknya dan memperhatikan bahwa tangannya mencekik seseorang. Seseorang yang Theon, Rena dan Lesha kenal cukup baik bahwa itu adalah Rolland yang mengerang kesakitan, ketika wajahnya cukup terkejut saat sosok dibalik petinggi dunia adalah Theon Alzma.


“Seharusnya kau membunuh anak ini.” Theon Alzma menarik napas secara sesak. “Ketika sumber sebuah kesengsaraan masih muncul, maka ingatan masa lalu akan terus menghantui. Lantas kenapa kau masih membiarkan dia hidup dan membantu di sisimu!” Alzma berteriak dengan sangat kencang, sambil membanting Rolland hingga tersungkur di hadapan Fang Theon secara langsung.


Theon membantu Rolland, bersamaan dengan itu, Lyu Shui datang, dengan Strega yang membawa Ali yang dipenuhi luka. Wajah mereka benar-benar menunjukkan ekspresi yang sama, bahwa sebenarnya mereka cukup terkejut ketika melihat bahwa seorang petinggi dunia memiliki wajah yang sama dengan Theon.


Kiba, Genbu, Flamon dan Azure, dia bergerak di belakang Theon, meraung-raung ketika melihat ribuan undead yang masih bertahan. Sedangkan pasukan milik Theon hanya sebatas hitungan yang mampu dilihat menggunakan jari, ketika semua pasukan elementalist telah musnah, menyisakan siapa saja yang memiliki hubungan dengan Theon.


Hanya saja, para undead terhenti ketika Alzma mengangkat tangannya. Wajahnya seolah menatap Theon dengan penuh kekecewaan karena membiarkan orang-orang seperti Rolland, dan juga Lesha masih berdiri hidup. Padahal, Alzma melihat dengan sendirinya, bahwa Theon juga memiliki sihir modern yang cukup kuat.


......


Ketika jiwa Theon Alzma memecah dari raganya, terbayang-bayang sebuah rasa kebencian yang mendalam, secara luar biasa dan penuh dendam.


Siapa yang tahu ketika dirinya meninggal, akibat ulah tangan sosok yang merasa diri mereka hebat, memandang rendah orang tidak memiliki apa-apa. Apalagi sosok seperti dirinya yang memiliki ekonomi yang buruk, dan tidak memiliki ayah dan ibu tentunya. Mungkin perundungan menjadi makanan dia sehari-hari.


Jiwa Alzma duduk, di tempat sebuah ruang tak bercahaya, di sekitarnya hanya serba hitam yang membuat dirinya tidak bisa melihat apa-apa kecuali tubuhnya sendiri. Dia, cukup merasakan sebuah kesengsaraan dalam hidupnya, yang membuat dia sedikit menetes dan berkeluh kesah di atas kedua tangan yang dia angkat untuk menumpahkan air matanya.


Mungkin saat ini dia menganggap ini sebagai sebuah alam kematian. Sebuah alam akhir yang membuat dia ingin bertemu dengan ibunya.


Mungkin saat ini dia menganggap ini sebagai sebuah alam kematian. Sebuah alam akhir yang membuat dia ingin bertemu dengan ibunya.


Tapi siapa sangka, dadanya seolah menjadi sesak. Ketika dia tahu bahwa ini bukanlah sebuah alam yang dia maksud. Wajahnya mulai membiru, ketika dia merasakan seperti aura jahat yang mengintimidasinya. Hanya saja, dia belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Seketika sebuah dua buah mata berkedip di hadapannya. Mata yang entah dari mana muncul dengan memberikan pupil yang sangat merah. Menjadikan Theon Alzma benar-benar sangat ketakutan dan ingin menangis, sebenarnya.


Akan tetapi, tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Wajahnya tetap membiru dalam kondisi tercekik. Dalam sebuah ibarat, mata itu mengeluarkan sebuah aura, yang mana manusia lemah seperti Alzma terpaksa harus menerimanya. Meskipun, memang faktanya seperti itu.


Ada yang janggal, ketika dua mata terbuka, di atas dua mata tersebut terdapat satu mata dengan posisi di tengah segitiga. Kondisi mata tanpa terbuka, hanya saja memiliki garis mata tertutup berwarna merah seperti di bawahnya.


Aura yang ganas, namun Alzma mampu bertahan dalam kondisi tersebut. Dia mencoba untuk beradaptasi dan memperhatikan mata itu, dan berangan-angan, apa yang sebenarnya terjadi? Tidak mungkin kan dia berada di dalam fase penyiksaan hanya karena dia hidup sebagai feminin?


Mungkin bukan dia yang mampu beradaptasi, melainkan kondisi aura yang dikeluarkan dari sang mata yang mulai redup. Sehingga, membuat Theon Alzma bisa sedikit bernapas dengan cukup lega.


Ketika dia mencoba untuk lari, diantara mulai redupnya rasa tercekik, dan aura yang sudah redup dengan cukup cepat. Tubuhnya mendapatkan sebuah rantai, lengkap dengan borgol yang mengikatnya.


Tangan lembut Theon, yang mungkin membuat siapa saja jijik ketika menatapnya. Wajahnya terlihat ketakutan seolah ingin menangis dan tidak menunjukkan rasa laki-laki sejati.


"Aku akan memberikanmu sebuah keabadian."


Dalam sebuah kegelapan dan dipenuhi rasa sakit. Ketika dia tahu bahwa sepasang mata seolah memberikan sebuah suara yang membuatnya lebih takut lagi.