The God in the Modern World

The God in the Modern World
Ali pembunuh



"A-apa itu?" Bak disambar petir, Ali benar-benar terkejut hingga matanya terbuka lebar. Kobaran api keluar dari tangan Theon seolah hendak membakar semua peluru yang muncul. Hanya saja, api tersebut tiba-tiba menghilang ketika ada seseorang yang menembakkan sesuatu dari senjata yang menurutnya asing.


Theon menggertakkan giginya, tak disangka ada yang membawa senjata plasma di awal-awal ini. Sehingga, dirinya cukup merasa kesulitan apabila harus menghadapi senjata anti elemental. 


"Tarik pelatukmu Ali! Jangan diam saja!" Theon berlari ke arah mereka. Terlihat, sekitar ada 10 orang yang membawa senjata mereka masing-masing. Di antara mereka juga membawa senjata plasma. Theon berlari, seolah menyerang dari jarak dekat karena dia tahu bahwa menyerang menggunakan elemen api benar-benar sangat mustahil.


Tapi, dia teringat bahwa dirinya memiliki kekuatan elemental petir. Sehingga dengan sebuah sambaran, Theon langsung menghajar dengan sangat cepat mereka semua secara satu persatu. Bahkan mereka benar-benar terkejut karena hal ini tidak ada di data orang-orang yang akan dibunuh. Dalam data, Theon dikabarkan hanya memiliki dua elemental yaitu air dan api, tapi siapa yang menyangka ternyata dirinya memiliki kemampuan elemental petir.


Sebelum mereka mengangkat senjatanya untuk menembak Theon, banyak orang yang bergelimpangan dengan nyawanya yang melayang. Mungkin, mungkin ada beberapa yang sekali atau dua kali yang menembak, tapi sayangnya Theon terlalu cepat.


“Bodoh!” Theon mengeluarkan elemen petir dari tangannya, berdiri di belakang seseorang sambil mengayunkan tangannya. Sehingga, sebuah sambaran meledak-ledak membunuh orang tersebut secara tiba-tiba. Atau lebih tepatnya membunuh orang terakhit yang menggunakan senjata biasa.


“Jangan harap kau bisa hidup!” Pembunuh yang membawa plasma berteriak, mengangkat senjata plasmanya dan menembakkannya ke arah Theon. Meskipun, sebenarnya plasma sendiri hanya bisa menangani semua elemen kecuali petir, sedangkan penangkal elemen petir sendiri memiliki senjata tersendiri. Hanya saja mereka tidak membawanya.


Theon menggigit bibirnya, dia langsung menoleh ke belakang dan memperhatikan pembunuh tersebut seolah sedang mengunci Theon. Kemudian, Theon langsung bergerak secepat petir untuk menyerangnya secara langsung. Namun, tampaknya orang tersebut tergeletak terlebih dahulu ketika Theon hendak menghajarnya. Siapa yang menyangka, bahwa orang tersebut tengkurap dengan darah yang menggenang.


Ia pun menoleh, sedetik sebelum bergerak secepat petir dia merasa ada suara tembakan. Hanya saja, dia tidak sempat melihat karena terlalu cepat untuk bergerak. Dan, siapa yang menyangka, dengan tubuh gemetar, Ali mengangkat sebuah pistol dan menembak orang yang hendak menembakkan senjata plasma ke arah Theon.


“Ali seorang kriminal sekarang.” Theon tersenyum mengangkat ujung bibirnya, seolah menjarak Ali, apalagi Theon bertepuk tangan seakan baru saja melihat seorang anak kecil yang baru saja melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan.


Ali menjatuhkan pistolnya, dia membunuh seseorang? Dirinya benar-benar tidak menyangka bahwa dia telah melakukan tindakan pembunuhan untuk pertama kalinya. Sebenarnya dia tidak tahu mengapa dirinya menarik pelatuk, mungkin melihat Theon yang berada dalam ambang berbahaya. Meskipun, sebenarnya tidak.


Theon masih menahan senyumannya, dia memegang sebuah senjata plasma dengan inti senjata tersebut berwarna kuning menyala. Yang konon katanya itu adalah logam uranium yang dapat memancarkan radioaktif. Sesekali, Theon mengangkatnya dan membidik ke salah satu sisi atau menembak pintu kamar di sebelahnya untuk mencoba senjata modern milik manusia ini.


“Bumm!”


Sedikit seperti itu, namun, Theon benar-benar terkejut saat dia menekan tombol yang membuat peluru senjata plasma yang berbentuk seperti elemen petir berwarna kuning keluar, selain itu saat dia menembakannya, elemental seed yang bergerak di tubuhnya seolah netral yang membuatnya kemungkinan tidak bisa mengeluarkan kekuatan elemental untuk sementara waktu.


Gempa sudah berhenti beberapa menit yang lalu, Theon cukup puas dengan Lesha yang baik dalam menjalankan tugasnya. Apalagi juga yang memadamkan seluruh listrik di hotel ini sehingga membuat Ali tak bisa untuk ditangkap.


“Sudahlah, tidak ada cctv. Membunuh itu menyenangkan, asalkan tidak membunuh orang yang tidak bersalah.”


Perkataan Theon benar-benar dicerna Ali yang membuat seolah Theon haus darah. Ali juga mengangkat wajahnya yang pucat, menatap Theon dengan gemetar. “Kau-kau sebenarnya siapa? Kau mempunyai sebuah sihir?”


Theon menggelengkan kepala, “Manusia rendahan selalu mengatakan bahwa ini adalah sihir. Tidak, maksudku seperti apa yang kau katakan ini tidak lebih seperti sihir, sedangkan senjata ini adalah penangkalnya. Jadilah partnerku untuk melakukan hal yang menakjubkan di luar nalar.” Katanya seolah menghasut Theon.


“Perhatikan tatapanmu tuan!” Kiba berkata di dalam tubuh Theon.


Menuruti apa yang dikatakan Kiba, Theon menoleh ke arah depan. Tak di sangka, dalam satu lorong di lantai kedua ini, sudah bermunculan beberapa orang yang membawa senjata berapi. Beberapa dari mereka berjongkok sambil mengangkat senjata mereka masing-masing. Mungkin ada beberapa yang mengangkat senjata plasma.


Sepertinya semuanya, semua pembunuh bayaran berada di lantai ini karena kemungkinan pasca gempa tadi, semua orang berlarian keluar dari hotel ini. Bahkan, Theon juga bisa melihat ketua pembunuh bayaran itu berdiri sambil mengangkat wajahnya seolah menunjukkan kesombongannya.


“Apa kabar nak? Sepertinya kau sudah membunuh bawahanku dengan cukup mudah. Tapi kali ini, aku membawa belasan orang dengan senjata jarak jauh yang akan menembakimu dengan cukup brutal. Kecuali, kau bawakan bintang neutron itu kepada kami.” Kata ketua pembunuh bayaran tersebut.


Theon sudah menduga, bahwa pembunuh bayaran itu berada di bawah instansi big three, atau lebih tepatnya keluarga Skelet. “Katakan kepada pemimpin mafia Skeleton sekarang juga melalui smartphone, bahwa kalian sudah menyerah untuk membunuhku.”


Mendengar ucapan dari Theon, ketua pembunuh bayaran itu sempat kebingungan. Bagaimana tidak? Dirinya sama sekali tidak berada di bawah perintah mafia skeleton, atau langsung dari keluarga Skelet. Melainkan perintah dari keluarga Zuan atau keluarkan terkuat di New Santara. Tapi, ketua pembunuh bayaran itu tidak terlalu banyak bicara, dia menatap Theon dengan sangat sinis sambil berkata, “Tembak dia! Kita bisa mencari bintang di rumahnya.”


“Theon, ba-bagaimana ini!” Ali berkata dengan penuh ketakutan. Apalagi di hadapannya dipenuhi oleh belasan pembunuh bayaran yang hendak menembakkan peluru dari senapan berlaras panjang.


Theon memasang kuda-kuda, dia melirik ke arah Ali, “Tarik pelatukmu sebisa mungkin untuk membunuh mereka, kau bisa memilih, ada plasma dan pistol. Di sampingmu juga ada jasad dengan senjata berlaras panjang, serta amunisnya juga berada di dalam jaketnya.”


Usai berkata demikian, suara ledakan peluru muncul, mengeluarkan sebuah peluru yang berada di ujung senapan bahkan muncul percikan api.


“Dindin tanah!”