
Empat hari kemudian setelah insiden jatuhnya helikopter akibat ulah Theon. Hanya saja, tidak ada yang tahu bahwa itu adalah ulah Theon. Namun para petinggi negara tetap bersikeras untuk mencari sosok yang diduga menghancurkan helikopter tersebut. Padahal, Theon sendiri hanya sedang melindungi diri. Yaa, untung saja, teman-temannya seperti Ali atau mungkin orang awam menganggap bahwa itu adalah cosplayer.
“Theon! Theon!”
Theon yang sibuk bersiap untuk pergi menuju pulau seberang bersama dengan Rena, dia dikejutkan dengan gedoran pintu yang membuatnya merasa terganggu. Namun, dari suara tersebut, Theon mengenalnya, meskipun secara harafiah Fang Theon sama sekali belum pernah bertemu dengan orang tersebut.
Karena, ini sudah hari keempat setelah Rena dan Lyu Shui mengajaknya. Lebih tepatnya, acara tersebut adalah esok hari, tepat pada tanggal 1 Maret. Sehingga, mereka harus berangkat mulai sekarang.
“Siapa pangeran?” Tanya Rena penasaran.
Tanpa menjawab, Theon langsung bergegas ke depan dan membukakan pintu rumahnya yang tertutup. Dan, dia tidak menyangka, yang datang adalah paman Theon Alzma dengan raut wajah yang penuh dengan kebencian.
“Aku dengar dari tetanggamu bahwa kau telah lancang membawa pulang seorang wanita? Apakah kau ingin mempermalukan pamanmu?” Kata paman Theon dengan nada suara yang tidak mengenakkan.
Tentu hal tersebut membuat Theon merasa begitu risih dan kesal, dia berkata dengan dirinya sendiri bahwa apakah begini tata cara bertamu dunia modern? Selain itu, dia juga mengingat bahwa hari ini adalah akhir bulan, 28 Februari. Yang mana, setiap akhir bulan, paman Theon akan mengirimkan beberapa biaya hidup untuk makan meskipun dia memberikannya secara tidak ikhlas. Itupun biaya hidupnya tidak seberapa.
“Maafkan aku paman, mungkin rasanya juga tidak etis. Tapi aku pikir, begitulah cara sepupuku atau anakmu bisa berada di dunia ini. Jadi, apa bedanya? Justru kau lebih parah.” Theon mengangkat ujung bibirnya meledek pamannya. Apa yang dia lakukan adalah mencoba untuk menyadarkan pamannya, bahwa kelakukan pamannya semenjak remaja juga seperti ini, suka main wanita. Hanya saja, kelakukannya jauh lebih parah sampai menghamili wanita tersebut, sedangkan Theon, bisa dibilang dirinya masih bisa untuk menahan napsu.
Paman Theon yang tidak terima, dia mendorong tubuh Theon dengan perasaan kesal, wajahnya berubah dipenuhi oleh keemosian karena Theon yang mencemoohnya. “Apa maksdumu? Kenapa kau tiba-tiba berubah begini? Jika tahu begini seharusnya kau mati saja di rumah sakit.” memang paman Theon mendorong Theon, namun tidak sampai jatuh. Hanya saja, setelah berkata demikian, paman Theon mulai main tangan dan mengayunkan tangannya ke araha Theon.
Theon hanya menghela napas malas, dan dia juga langsung menangkap pukulan pamannya yang menurutnya sangat begitu lemah. Jika saja dirinya adalah Theon Alzma, maka pukulan ini baginya adalah hal yang menakutkan, tapi kali ini bukanla Theon Alzma, melainkan Fang Theon. Sehingga pukulan seperti itu tidak seberapa baginya.
“A-apa?” Paman Theon berkat dengan heran, terlebih dia merasakan bahwa Theon meremas kepalan tangannya dengan sangat erat. “Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan seperti ini?”
“Paman, maafkan aku. Mungkin aku tidak pernah memiliki dendam kepadamu karena pada dasarnya kau juga memperlakukanku dengan sangat baik yaitu tetap memberiku uang bulanan. Namun, mulai sekarang paman tidak perlu melakukannya lagi, simpan uang tersebut untuk keperluan paman sendiri.” Kata Theon dengan nada suara santun. Karena, membeikan uang bulanan kepada Theon Alzma merupakan hal yang baik meskipun secara tidak ikhlas. Namun, paman Theon tidak pernah melakukannya dengan yang tidak-tidak seperti menghardiknya.
Selain itu, Theon segera melepaskan pukulan dari pamannya. Meskipun begitu, raut wajah paman Theon terlihat begitu kasar dan memendam marah kepada Theon. Namun, mendengar bahwa Theon tidak perlu dibiayai lagi, dia bisa meredakan emosinya, “Kau serius? Aku dengar kau juga berhenti dari pekerjaanmu, kau hidup darimana? Kau makan apa dan dari siapa? Apakah kau ingin mati kelaparan?”
“Aku yang menanggungnya paman, aku adalah salah satu anggota keluarga Shon. Jadi, jangan pikirkan bagaimana dia hidup.” Rena muncul dari belakang Theon sambil menatap serius paman Theon.
Paman Theon mengerutkan dahinya ketika dia melihat Rena. Dia juga melihat dari ujung kaki sampai ramput Rena yang terurai, sehingga membuat Rena sendiri merasa risih, karena menurutnya dirinya ditatap dengan mesum. Namun, sebenarnya paman Theon tidak memiliki niat yang seperti itu, dia hanya memastikan bahwa di depannya adalah salah satu dari keluarga Shon.
Sebenarnya Theon dan Rena kali ini hidup bukan karena harta keluarga Shon, melainkan mereka menggunakan kemampuan dewa dan dewi mereka. Sehingga, mereka tidak perlu memikirkan tentang makanan, terkecuali jika mereka ingin merasakan sesuatu.
“Kau sudah bersiap? Kepala sekolah akan menjemput kita menggunakan taksi untuk menuju ke bandara.” Tanya Theon menatap Rena.
“Kapanpun.”
Dan yang benar saja, beberapa menit setelah paman Theon pergi, taksi berwarna biru berhenti di depan rumahnya. Kemudian, turunlah seorang wanita tua yang benar-benar sangat cantik dengan kacamata bundar miliknya. Tidak hanya itu saja, wanita tersebut tampak tampil harum, jauh lebih harum dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Kalian sudah siap? Mungkin ini akan menjadi perjalanan paling jauh, bagi Theon. Tidak untuk nona Rena.”
“Jika dipikir-pikir, ini menjadi perjalananku paling jauh, yaitu keluar pulau. Jadi jangan berpikir bahwa hanya karena aku adalah keluarga Shon, aku pernah ke luar negeri.” Jawab Rena sambil membawa tasnya sendiri. Namun, Theon menyahutnya dan membawanya untuk dibawa masuk ke dalam taksi.
“Tuan Hang tidak ikut?” Theon megerutkan dahinya. Masalahnya, dia sama sekali tidak melihat dimana Hang berada.
“Dia cukup tua untuk ikut, dan merasa tidak akan berguna di sana. Jadi, dia memilih untuk menunggu rumah.” Jawab Lyu sebelum semuanya benar-benar masuk ke dalam taksi tersebut.
......
Seorag pria paruh baya bersandar di sebuah pohon sambil mengangkat sebuah teknologi semacam smarphone namun memiliki antena. Yang mana biasanya digunakan oleh para tentara atau sejenisnya untuk mengabari satu sama lain. Tatapannya terlihat tajam sambil memegang uang yang seharusnya diberikan oleh Theon tadi, hanya saja Theon sudah menolaknya.
Lebih tepatnya orang tersebut adalah paman Theon yang baru saja pulang dari rumah keponakannya meskipun disambut secara buruk untuk pertama kalinya. Namun, entah kenapa dia cukup senang, karena keponakannya memiliki tenaga untuk menangkis pukulannya.
“Aku sudah menghampiri rumah keponakanku. Dan yang benar saja, dia tinggal bersama keponakanku seperti yang kau rumorkan agen. Mungkin setelah kematian orang tuanya, hak perusahaan jatuh di tangan pamannya yang membuat dia dikucilkan.” Kata paman Theon di walky talky yang dia pegang.
“Agent Zero, jangan bilang kau merasa bersalah untuk membunuh tuan dan nyonya Shon. Mereka adalah seorang penyihir, jika tidak dibunuh maka orang seperti mereka akan sangat membahayakan kemaslahatan manusia.” Jawab seseorang yang terhubung dengan panggilan paman Theon.
“Aku tahu, seseorang yang memiliki sihir seperti tuan Shon, seharusnya dia menurunkan kekuatannya kepada anaknya. Apakah kau punya saran, agar keponakanku tidak sakit hati setelah mengetahui kekasihnya terbunuh oleh agent mata-mata pemburu penyihir seperti aku?” Jawab paman Theon, yang mana identitasnya sebagai seorang agen mata-mata, agen Zero.