The God in the Modern World

The God in the Modern World
Elemental baru



“Kalian benar-benar kejam, penjahat paling jahat!” Teriak Yosef dalam sebuah amarahnya.


Theon memutar matanya, kini dia menjadi bertanya-tanya, siapa penjahat yang sebenarnya? Tapi menurutnya tidak ada yang baik di sini. Jujur, Theon sendiri juga merasa sangat jahat seperti membunuh Jean dan Starllet dengan keji, walaupun pada akhirnya mereka berempat juga akan Theon bunuh.


“Aku juga tidak menyangka bahwa ada penyihir kegelapan di dunia ini. Aku pikir itu hanya ada dalam dongeng saja.” Luis menggertakkan giginya dan menatap Rena. Dia sebenarnya masih sangat penasaran tentang kekuatan apa yang Rena miliki? Tampaknya dia bisa melihat bahwa Vynh sendiri babak belur dibuatnya.


Waktunya, hampir selesai bagi Theon. Kerusakan yang cukup parah di hutan ini membuat Theon merasa cukup bersalah, empat roh bertarung dengan empat roh berukuran besar, membuat getaran yang cukup hebat.


Meski sebenarnya dia bisa melihat Skeleton hampir mencapai batasnya, Golem pun juga sama. Genbu dan Flamon cukup cepat untuk menghancurkan mereka semua, tanpa basa-basi karena dia mengerti apa yang Theon pikirkan. 


Harry tak bisa berkutik, melawan Flamon cukup sulit. Dia pikir, dengan bergabung dengan rohnya, dia akan lebih selamat. Tapi, justru Luis dan Yosef mereka masih berdiri sambil menatap Theon yang belum bergerak.


Tulang rusuk Skeleton yang menjadi pelindungnya retak, Flamon berulang kali mengeluarkan beberapa semburan api. Tidak hanya teknik dasar seperti itu, melainkan juga teknik tingkat tinggi yang mana dia keluarkan setelah dia menyadari bahwa Harry seolah menjadi jantung Skeleton itu sendiri.


Tak membohongi dirinya sendiri, Theon langsung mengulurkan tangannya. Memang dirinya sudah bertekad membunuh mereka tanpa menunggu lama. Hiburan telah selesai, apa yang dia tunggu? Menunggu aparat tidak mungkin. Asap kehancuran menarik para aparat untuk mengeceknya.


"Rena, lakukan."


“Dimengerti, pangeran Theon.”


Rena melangkahkan kakinya ke depan bersamaan dengan suara remuknya sebuah tulang belulang. Lebih tepatnya,  Flamon berhasil membunuh Harry sekalipun. Di susul dengan Vynh, Luis serta Yosef, mereka memuntahkan seteguk darah segar. Bahkan mereka juga berteriak ketika mendapatkan rasa sakit yang luar biasa pada ulu hati mereka. Faktanya, semua roh milik mereka telah mati, dan itu sangat wajar apabila membuat mereka memuntahkan seteguk darah.


Karena pada dasarnya, roh menjadi partner jiwa, sehingga membunuh roh sama dengan menghancurkan separuh jiwa. Tidak heran mengapa ketika roh-roh itu mati, mereka pasti memuntahkan seteguk darah. Ibarat mereka diputuskan kontrak secara paksa.


Dengan gagahnya, keempat beast milik Theon berdiri di belakangnya, menunjukkan sebuah aura kekuatan yang mampu mengintimidasi mereka. Terlebih, mereka bertiga sudah tak memiliki apa-apa lagi, hanya meratapi kematian yang sudah berada di depan mata.


Mungkin hanya Yosef yang masih memiliki tekad, dia berteriak dengan sangat kencang sambil mengeluarkan ledakan petir dari kedua tangannya. Tampaknya petir ini benar-benar sangat terang dan memiliki daya tegangan yang cukup tinggi.


“Dia benar-benar ceroboh, kehilangan roh miliknya sudah sanggup menguras daya fisiknya. Bisa dibilang itu adalah kekuatan terakhir dari apa yang dia miliki.” Batin Theon.


“Kegelapan: kubah kegelapan.”


“Kegelapan: ribuan tombak kegelapan.”


Rena menghilangkan kubah itu secara cepat, kemudian apa yang dia langsung lakukan adalah mengeluarkan ribuan tombak yang ada disekelilingnya. Tanpa berpikir panjang, Rena langsung menyapu tangannya ke depan sehingga mengakibatkan tombak kegelapan itu bergerak dengan sangat cepat ke arah mereka semua.


Tak ada celah untuk bergerak, tombak kegelapan benar-benar sangat cepat. Suara begitu dahsyat ketika tombak-tombak itu menghancurkan daging dan tulang-tulang mereka. Bisa dipastikan, dalam sekali serang, Rena sudah berhasil membunuh mereka bertiga.


“Kenapa kita tidak melakukan hal ini semenjak tadi?” Rena menurunkan tangannya, dia menatap ke belakang dan memperhatikan Theon yang sedang menarik keempat beastnya kembali.


Theon menghela napas, dia berjalan dan berniat keluar hutan. Sedangkan Rena, dia langsung berlari dan mengikuti kemana perginya Theon sekaligus ingin mengetahui jawabannya. “Bisa saja, tapi aku butuh sesuatu seperti membangkitkan emosional agar elementalku bangkit dengan sendirinya.” Dia mengalunkan tangannya dan mengeluarkan semua elemen yang dia miliki. Namun, seketika dia berhenti dan terdiam ketika melihat ada yang aneh.


Bahkan Rena sekalipun, dia juga terhenti dan membuka mulutnya. Memperhatikan reaksi elemental yang dimiliki Theon. Yang mana tidak hanya tiga elemental yang keluar, melainkan empat.


Apa yang baru? Theon mengangkat ujung bibirnya, dia menyadari ada aliran orka yang sangat sejuk melewati aliran darahnya. Semilir angin juga dia rasakan bebarengan dengan ketika elemental yang dia keluarkan dalam satu tangan. Elemental yang paling dia harapkan, elemental yang menurut orang-orang lemah, namun elemen ini sebenarnya sangat kuat apabila digunakan oleh orang yang tepat. Bahkan teknik-teknik mematikan banyak yang berasal dari elemen ini.


Theon menggenggam tangannya, kemudian dia menebaskan tangannya dengan sangat cepat ke arah beberapa pohon tumbang. Dengan tanpa terlihat, namun memiliki suara yang sangat khas, tebasan tak terlihat sanggup memotong batang pohon itu dengan sangat rapi. “Tebasan angin tak terlihat, teknik favorit ayah.”


Tidak hanya itu saja, Theon mengangkat tangannya secara perlahan-lahan, seketika sebuah bongkahan es keluar dari permukaan tanah sesuai dengan alunan tangan milik Theon. Yang kemudian, ketika Theon menggenggam tangannya, bongkahan es itu hancur menjadi berkeping-keping. Belum puas, kepingan es itu dia sapu menggunakan alunan tangannya, bergerak ke beberapa mayat yang tak wajar yang kemudian dia bekukan.


“Jika aku memiliki air dan angin, ini akan menjadi elemental sekunder yang sangat kuat. Elemental es.”


Lebih tepatnya, Theon menciptakan elemental es itu karena gabungan antara air dan angin. Sehingga membentuk sebuah elemental cabang dari keduanya. Mungkin dari kedua elemental itu tidak hanya mengembangkan satu elemental, yaitu es, melainkan juga menjadi elemental kabut pula.


Dia tahu, di dunia ini tidak ada seseorang yang tahu mengenai cabang elemental, atau elemental sekunder. Seperti elemental es yang baru saja Theon keluarkan. Kemudian, jika Theon memiliki elemental petir pula dan saat ini dia memiliki elemental angin, maka dia bisa menciptakan elemental badai. Tentu Theon sangat menyayangkan tentang pengetahuan tentang elemental di dunia ini benar-benar masih minim.


“Jangan berpikiran untuk menjadi seorang penguasa dunia ini ketika Anda memiliki semua elemental yang Anda miliki. Tujuan kita adalah kembali ke alam dewa.” Kata Rena mencoba menasihati Theon. Karena apa yang dia takutkan, ternyata Theon benar-benar terlena ketika dirinya menjadi sosok yang paling kuat dan berusaha untuk menjadi penguasa dunia ini sehingga membuatnya melupakan alam dewa.


Theon tersenyum dan menatap Rena, “Kenapa tidak? Ayahku menaklukkan alam elemental manusia sebelum dia menuju alam dewa.”