
Theon sama sekali tidak mendengar apa yang Strega katakan. Udara di stasiun luar angkasa internasional telah bocor karena salah satu pintu dan dindingnya sekaligus diledakkan oleh Strega itu sendiri. Yang mana sebenarnya mereka tidak bisa mendengar suara satu sama lain karena berada di ruangan hampa tanpa udara.
Hanya saja, Theon dan Rena sama sekali belum menyadarinya. Justru mereka sedikit panik dengan mencoba berbicara satu sama lain. Tapi, mereka sama sekali tidak mendengar apa yang mereka ucapkan.
Bahkan, Theon seolah berenang menghampiri Strega yang seolah menggarukkan kepalanya apabila dia manusia dalam kebingungan. Bagaimana tidak? Bagaimana Theon dan Rena bisa bernapas di ruang hampa? Dan bagaimana mereka tidak membeku?
Strega juga merasa cukup geli ketika melihat tingkah bodoh Theon dan Rena yang tidak tahu bahwa mereka tidak akan saling mendengar di ruangan hampa. Sehingga, Strega mundur sejenak untuk masuk ke dalam salah satu ruangan di stasiun ini untuk mencari sesuatu yang bisa dimodifikasi untuk meminta sebuah penjelasan.
“Ini aneh. Aku sama sekali tidak mendengar apa yang Rena katakan. Bahkan aku sudah berteriak sekalipun.” Theon menggertakkan giginya. Tapi, dia menarik lengan Rena dan mencoba untuk bergerak kemana perginya Strega yang baru saja menyerangnya karena terkejut siapa yang datang.
Ketika Theon masuk ke dalam ruangan yang Strega masuki. Ruangan yang benar-benar absurd, pasalnya tidak ada lantai yang bisa menjadi sebuah pijakan, semua sisi menjadi alat kerja para awak stasiun luar angkasa yang terlihat begitu rumit.
Strega yang berada di salah satu sisi, dia seperti mengotak-atik pakaian astronot, yang kemudian dia mendapatkan seperti dua buah benda yang berbentuk kotak, lengkap dengan alat komunikasi atau yang digunakan untuk berbicara pada sebuah headset.
Dia melemparkannya pada Theon dan Rena, dan memberinya sebuah isyarat untuk dipakaian pada salah satu telinga mereka.
Theon menurut saja, dia langsung menggunakan alat komunikasi yang dipasangkan di telinganya.
“Jika tidak menggunakan radio, kalian tidak akan bisa mendengar. Ini ruangan hampa.” Kata Strega yang bisa didengar dengan jelas oleh Theon dan juga Rena. Hanya saja, suara itu sedikit berbeda dibandingkan dengan suara Strega sebelumnya.
“Rena, kau bisa mendengarku?” Theon menatap Rena yang posisinya terbalik. Yang mana tubuh Rena benar-benar tidak terkendali karena sama sekali tidak ada sebuah gravitasi di sini.
Rena sedikit tidak bisa mengendalikan diri karena tubuh nya terombang-ambing tak tau arah. Dia menggapai kaki Theon untuk melayang di depannya agar bisa dalam posisi yang sama. Kemudian Theon sedikit membantunya dan merasakan bahwa luar angkasa benar-benar sangat menyebalkan.
“Tentu.”
“Ka-kalian.” Strega berkata dengan ragu. “Ba-bagaimana kalian bisa sampai di sini? Gesekan atmosfer sudah pasti akan membuat kalian hancur. Dan, bagaimana kalian bisa bertahan di luar angkasa seperti ini?” Tanya yang menggebu-gebu. Bahkan, ekspresinya sebagai robot tampak begitu bodoh saat melihat Theon dan juga Rena.
“Bukan apa-apa, kau tidak perlu penasaran tentang bagaimana bisa aku bertahan. Ini bertolak belakang dengan ilmiah.” Theon seolah menarik napas dihadapan Strega, bahkan terlihat jelas bahwa Theon menggerakkan hidungnya. “Seharusnya kau sudah tahu dari angkasa ini bahwa kita dibounty 100 Milliar Ziosam bukan?” Ucapnya sambil menghela napas.
Strega yang melihat itu terdiam. Dia masih bertanya-tanya tentang bagaimana bisa Theon melakukannya? Padahal itu bisa dibilang sangatlah mustahil untuk dilakukan. Tetapi, dia segera merespon apa yang Theon katakan. “Aku sudah tahu ketika aku berada di sini. Kau tidak perlu khawatir, aku membajak semua akses stasiun yang membuat kita tidak bisa berkomunikasi dengan bumi.”
“Menurutmu bagaimana bisa aku mengetahuimu? Manusia sudah mengetahui berita tentang awak stasiun yang telah kau bunuh. Akh aku tahu apa yang kau pikirkan, membutuhkan waktu yang cukup besar untuk membuat roket bukan?” Sahut Rena sambil memperhatikan sebuah kaca di sebelahnya. Dia bisa melihat keindahan bumi biru dari atas sini yang sangat memukau.
“Tunggu sebentar, bagaimana bisa kau mendapatkan uang sebanyak itu?” Strega kembali bertanya.
“Sebenarnya bounty sudah selesai, karena anak buahku memberitahukan dimana diriku. Otomatis, dia mendapatkan apa yang dewan dunia janjikan. Tapi mereka cukup bodoh karena dengan mudah dijebak oleh anak buahku. Itulah mengapa aku menuju stasiun luar angkasa karena militer Ziosam pasti sudah mengepung tempat persembunyian yang dikatakan oleh anak buahku.” Theon menghela napas sebelum melanjutkan ucapannya. “Anak buahku memberiku uang sayembara itu, kemudian dia menambahkan satu trilliun lagi. Sehingga aku gunakan uang itu untuk melakukan apa yang mereka lakukan kepada kita.”
“Kau licik sekali. Tunggu, bukankah kau berniat untuk mencari dewi rembulan yang diculik?” Tanyanya kembali.
“Memang.”
......
Theon dan Rena, dalam sebuah kloningan. Mereka sudah berdiri di markas Ziosam untuk mencari keberadaan Lesha. Mereka sama sekali belum memiliki niat untuk mencarinya di markas dewan keamanan dunia karena dia harus mengeceknya dalam satu persatu.
Tak sulit untuk masuk ke dalam sebuah markas. Sebagai wujud sebuah kloningan, mereka mampu berubah menjadi unsur elemental milik sang pengkloning sendiri. Sehingga masuk tanpa wujud adalah sesuatu hal yang cukup mudah bagi mereka itu sendiri.
Sesekali, Theon juga memukul tengkuk sang penjaga yang tengah berjaga sendirian di sebuah ruangan. Kemudian, Theon mengambil sebuah teknologi WLIS nya untuk menjadikan dia memiliki sebuah senjata apabila dia harus baku tembak dengan seseorang.
Ketika dia masuk ke dalam ruangan tersebut. Mereka hanya melihat gudang senjata yang dipenuhi oleh senjata-senjata canggih yang tidak hanya seperti senjata berlaras panjang. Senjata berwujud plasma, dan berbagai senjata menarik lainnya, Theon dan Rena juga bisa melihatnya.
Bahkan, mereka juga bisa melihat layar hologram tengah menyala.
“Ingat misi kita hanya mencari Lesha. Jangan otak-atik layar hologram itu.” Kata Theon memberitahu Rena yang melihat sekeliling.
Mereka memutuskan untuk keluar, namun, mereka berubah menjadi elemen mereka masing-masing agar bisa bergerak dengan cukup bebas untuk mencari dimana keberadaan Lesha yang seolah diculik di markas ini. Hanya saja, Wlis seolah melayang karena tidak ikut menjadi serpihan embun Theon.
Tetapi, Alarm seketika berbunyi dengan cukup keras, karena salah seorang memberi tanda bahaya karena temannya yang tengah berjaga mengalami pemukulan pada bagian tengkuknya.
Theon dan Rena hanya bersikap tenang dan tidak panik. Lagipula mereka berubah menjadi unsur elemen yang bisa bebas bergerak kemana-mana. Bahkan menuju ventilasi udara sekalipun.
“Ini adalah ruangan terakhir yang belum kita cek. Sebelum kita berpindah menuju markas keamanan dunia.”