The God in the Modern World

The God in the Modern World
Sang avatar dewi rembulan



Rena mendudukkan Lesha yang sama sekali tak sadarkan diri. Mungkin karena dia mendapatkan sebuah bius yang membuat dia pingsan selama beberapa jam. Karena, apa yang ditakutkan oleh petinggi dunia, Lesha akan berusaha sekuat mungkin untuk melepaskan alat yang mencekik lehernya, sehingga membuat dia melepaskan kekuatan elemental.


Dua jari milik Theon mengeluarkan bilah angin yang berputar di sekelilingnya. Dia memotong anti sihir milik Lesha yang ada pada lehernya agar memudahkan Theon untuk menggugah Lesha yang tengah pingsan. Meski pingsan seperti ini, akan tetapi, Theon juga cukup berani menyadarkannya secara paksa.


Terbukti, di dua jari milik Theon yang sebelumnya terlapisi oleh angin yang tengah berputar bak sebuah gergaji. Kini berubah menjadi elemen petir yang menyambar di udara di sekitar berskala kecil dengan mengeluarkan suara khas pula.


“Akkhh!!”


Lesha membuka matanya secara paksa. Dia menerima tegangan yang cukup tinggi saat merasakan kulitnya tersentuh oleh dua jari yang memberikan aliran listrik. Secara refleks sekalipun, Lesha mengeluarkan aura kegelapan yang sanggup membuat Theon dan Rena mundur sekalipun. Kemudian, Lesha yang benar-benar belum sadar sepenuhnya, dia mengayunkan tangannya hingga memunculkan sebuah elemen kegelapan yang menyerang Theon.


Rena dengan cukup sigap, dia berjongkok di depan Theon, mengulurkan tangannya dan memunculkan perisai kegelapan untuk menahan kekuatan Lesha yang dikeluarkan secara tiba-tiba. Kemudian, setelah dia mengeluarkan perisai kegelapan, dia menembakkan panah kegelapan ke arah Lesha.


“Cih!” Lesha membuka matanya lebar-lebar, tapi dia juga tersenyum yang menunjukkan bahwa dia memang wanita yang benar-benar sangat cantik. Dia mengulurkan tangannya dan memunculkan sebuah bola kegelapan dan menyerap panah kegelapan milik Rena.


Tidak mau kalah, Lesha menembakkan bola itu, hanya saja ketika keluar, justru menjadi pancaran yang mengarah ke arah Rena. Rena yang merasa cukup geram, dia juga mengulurkan tangannya, untuk mengeluarkan pancaran kegelapan untuk menahan sekaligus menyerang unsur kegelapan milik Lesha.


“Hentikan kalian berdua!” Theon bergerak secepat cahaya, dia berdiri di tengah-tengah dua serangan itu sambil mengulurkan kedua tangannya di masing-masing serangan. Yang kemudian, kedua tangannya mengeluarkan setitik cahaya yang melebar dan membentuk sebuah perisai cahaya berpola.


Ketika dua serangan itu berhenti, Theon mengangkat salah satu tangannya secara perlahan-lahan. Membuat Rena dan Lesha secara bersamaan membeku dan tidak mampu untuk bergerak. Hal itu dia lakukan agar keduanya tidak bertarung. Apalagi, Theon mampu melihat bahwa Lesha sudah menunjukkan ciri dewinya, dia mampu mengendalikan elemen kegelapan milik Rena dengan cukup mudah.


“Bukan saatnya untuk bertarung. Dewi rembulan, hentikan! Kau sudah menyadari siapa dirimu bukan? Sayang sekali kau hanya sebuah avatar.” Theon melelehkan kedua es yang membekukan mereka. Dan kemudian menghampiri Lesha dan membantunya untuk berdiri sepenuhnya.


Di hadapan Theon, Lesha bukannya menyombongkan diri ketika tahu siapa jati dirinya. Tetapi dia masih memiliki insting dan pemikiran tentang Lesha. “Theon, maafkan aku.”


“Kau sudah tahu siapa jati dirimu? Seharusnya kau tahu siapa lawan bicaramu!” Rena meloncat dan menghampiri Lesha. Dia memaksa Lesha untuk mengerti siapa lawan bicaranya.


“Memangnya kenapa manusia rendahan?”


“Kau! Kau hanyalah avatar! Sedangkan aku ....” 


“Lesha, katakan! Apa tujuan petinggi dunia yang sebenarnya?” Tanya Theon dengan nada suara yang cukup tinggi.


Lesha tersentak kaget dia baru mengingat bahwa bawahan petinggi dunia tengah mencari kitab after death menuju negara Ellada. Sehingga, dia beranjak berdiri untuk segera menuju Ellada sekarang juga. Atau yang terjadi, mereka mendapatkan kitab tersebut pada keturunan penyihir kuno Yunani dan membunuh tiga perempat manusia biasa, dan membangkitkan orang-orang terdahulu sebagai pasukannya. Atau lebih tepatnya manusia yang dibangkitkan disebut undead.


Namun, tak seperti cerita-cerita kuno atau cerita modern tentang wabah penyakit zombie yang menjadi makhluk undead. Undead yang dibangkitkan dengan menggunakan kitab dan juga tumbal manusia biasa, undead ini sama sekali tidak persis dengan zombie, melainkan bentuk manusia pada hidupnya dengan wujud yang utuh. Hanya saja, mereka memiliki regenerasi yang cukup cepat.


“Tak perlu ikut campur! Salah satu bawahan petinggi dunia menuju Ellada untuk mencari kitab After Death. Mereka akan membunuh hampir seluruh umat manusia biasa untuk membangkitkan Undead. Atau mayat hidup.”


Ellada langsung berlari keluar dari ruangannya. Tetapi, siapa yang berpikir bahwa dia bisa melihat pemandangan yang cukup mengerikan. Mayat-mayat tertumpuk dengan kondisi yang tak utuh, membuat Lesha sendiri mungkin ingin muntah darah melihatnya.


Theon menepuk pundak Lesha dari belakang. Dia mengangkat ujung bibirnya dan berkata, “Aku akan membantumu mengurus masalah dunia sebagai tugas Zeno’s God, tetapi kau harus membantuku dengan membukakan menara.”


Kemudian, dia mengangkat tangannya. Dia sama sekali tidak ingin menggunakan sihir untuk menuju permukaan atas. Justru, dia mengeluarkan ledakan cahaya yang benar-benar sangat dahsyat. Tidak peduli bunker dengan langit-langitnya memiliki unsur yang sangat kuat dengan pelapis sihir milik petinggi dunia pula. Nyatanya, sejauh satu kilo meter, langit-langit itu berlubang hingga sampai menuju permukaan.


Tentu hal tersebut membuat Lesha membuka mulutnya lebar-lebar. Dia benar-benar terkejut tentang kemampuan elemen cahaya Theon yang benar-benar sangat mengerikan. Sebuah pertanyaan terlintas di pikirannya. “Bagaimana kau bisa mengenal Zeno’s God, menara menuju alam dewa, dan mengapa kau memiliki elemen cahaya yang tidak dimiliki oleh manusia di dunia ini?” Seketika dia juga mengingat bahwa Rena juga pengguna elemen kegelapan.


Theon tidak menjawab sama sekali. Justru Rena yang telah meresponnya. Dengan menepuk pundaknya sambil berkata, “Bukankah sudah kubilang, bahwa seharusnya kau mengerti siapa lawan bicaramu? Apakah penitismu tidak pernah menghadiri hari kelahiran pangeran Nirwana?” Dia juga langsung melompat untuk naik menuju permukaan tanah.


Bukannya mengerti, Lesha justru bertanya-tanya. Dia juga segera naik menuju permukaan untuk mencari jawaban serta segera menuju negara Ellada. “Tunggu sebentar, Apakah Zeno’s God sudah meni.....”


Lesha tidak melanjutkan ucapannya. Di atas bunker Underground, dia benar-benar dikejutkan dengan sesuatu yang benar-benar sangat mengerikan. Daratan es yang sebelumnya dikelilingi oleh empat gunung bersalju, kini ternyata berubah menjadi lautan kehancuran. Daratan sudah tak berbentuk daratan lagi, pegunungan yang sebelumnya empat melingkar, kini sudah tak ada bentuk gunung lagi. Apa yang sebenarnya terjadi? Itulah yang terpikirkan di otak Lesha saat ini.


“Ba-bagaimana bisa?”


“Lesha, siapa keturunan penyihir Yunani kuni yang menjaga kitab After Death?” Tanya Theon menghiraukan apa yang Lesha tanyakan.


Lesha dengan sedikit kesal, dia menjawab. “Di generasi pertamaku, aku hanya memberikannya kepada seorang penyihir Yunani Kuno. Jadi kemungkinan, penyihir itu menjaganya dengan mempercayakannya kepada anak cucunya.”