
"Astaga, padahal lukamu belum cukup untuk sembuh. Tapi kau memaksa dokter agar kau bisa pulang." Theon membantu Rena untuk berjalan. Memang, baru tiga hari Rena berada di rumah sakit, tapi dia memaksa untuk pulang, karena menurutnya jika Theon dan Rena berada di rumah sakit dan menjadi incaran, maka satu rumah sakit yang jadi korbannya.
Mungkin, Theon juga berpikiran seperti itu. Hanya saja dia juga agak sulit untuk menyetujui Rena pulang secepat ini. Padahal lukanya saja baru saja dioperasi yang mana ada pantangan untuk bergerak terlalu banyak.
Namun siapa yang berpikir bahwa Rena langsung menarik perban yang baru saja diganti. Itu tentu saja membuat Theon benar-benar histeris karena itu adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Bahkan luka itu belum kering dalam waktu yang dekat.
"Kita adalah seorang dewa dan dewi yang memiliki kemampuan pemulihan yang begitu cepat. Apalagi ketika Anda memiliki api suci atau bahkan elemental cahaya." Rena menyentuh lehernya. Mendapati sebuah jahitan yang terlihat benar-benar kering seolah sudah lama.
Theon membuang keterkejutannya dan menatap Rena dengan begitu datar, "Bukankah kau bilang daya tubuh Rena benar-benar lemah sehingga bisa terluka dengan cukup mudah?"
"Memang, tapi kemampuan pemulihanku juga terbawa di alam manusia." Rena menjelaskan.
Theon melihat kondisi sekitar, keadaan benar-benar ramai dengan adanya orang-orang yang mungkin makan siang pada waktu bekerja. Kendaraan juga berlalu lalang di jalan raya yang membuat keadaan benar-benar berisik, apalagi ada sebuah proyek.
Dia sebenarnya ingin mengeluarkan api suci pemulihan untuk menyembuhkan leher Rena dengan sangat cepat. Tapi rasanya sangat tidak mungkin karena dia berada di ranah publik. Dan tentunya menunjukkan kekuatan seperti ini bukan waktu yang tepat, mengingat bahwa aparat pasti akan menemukannya.
Membahas tentang aparat, Theon benar-benar teringat, siapa aparat yang berada di rumahnya? Apakah ada aparat yang mencoba untuk membunuh Theon karena Theon memiliki kekuatan elemental? Tapi rasanya sangat mustahil, karena aparat agensi itu tampaknya melindungi Theon dari komplotan pembunuh bayaran.
"Rena, apa kau menyadari bahwa kita sebenarnya sudah diincar semenjak tadi? Ada empat penembak jitu dari segala sisi yang bersiap untuk menghancurkan kepala kita." Theon memperhatikan banyaknya gedung yang begitu tinggi. Tapi diantara gedung tersebut, Theon benar-benar menyadari ada empat penembak jitu yang mengincarnya.
Rena mengangkat alisnya dan memperhatikan keadaan sekitar seolah mencari dimana penembak jitu itu berada. Hanya saja, Theon menahan Rena agar tetap berdiri tegak.
"Jangan membuat pegerakan yang mencurigakan. Tetaplah berjalan seolah tidak terjadi apa-apa kau paham?" Bahkan Theon juga sempat mengalungkan lengannya pada bagian leher Rena agar Rena tidak terlalu menunjukkan sikap yang membuat penembak jitu itu merasa curiga bahwa Theon benar-benar menyadari.
.....
“Mereka baru saja keluar dari rumah sakit pagi ini. Sudah kuduga memang begitu. Aku adalah seorang penembak jitu yang tak pernah meleset untuk menembak sasaran. Apalagi sasaranku adalah anak Sma.” Kata penembak jitu tersebut sambil menghisap rokok. Sedangkan tangannya fokus untuk memegang sebuah sniper.
“Tunggu, apa?” Penembak jitu itu mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin tidak tepat sasaran? Padahal kelembaban udara dan kecepatan angin juga normal yang membuat peluru tersebut seharusnya tepat sasaran.
Sungguh, bahwa Theon hanya tersenyum, padahal sudah beberapa detik telah lewat yang mana seharusnya dia mati terbunuh. Memang dia menyadari bahwa ada penembak jitu yang hendak melepaskan pelurunya.
Menggunakan sebuah pertahanan peluru air yang mana diberi dengan elemen petir sehingga dapat melampaui kecepatan peluru sekaligus. Theon berhasil menghancurkan peluru senapan berlaras panjang dengan cukup mudah. Untung saja orang-orang benar-benar sibuk, sehingga tidak ada yang menyadari bahwa Theon memgeluarkan empat peluru air yang menahan peluru senapan.
"Apakah sudah, pa-pangeran? Anda mendekapku terlalu kuat. Membuat semua orang memandang aneh kita." Rena berkata dengan gugup, masalahnya dia berada di bahu Theon karena Theon merangkulnya cukup kuat hanya karena tidak ingin Rena tidak terlalu banyak bergerak.
"Elemental air: peluru tajam, kecepatan petir." Theon tanpa menjawab apa yang Rena katakan, dia mengeluarkan peluru air lagi. Fungsinya untuk menahan peluru kesekian kalinya yang akan membunuhnya. Dan kemudian, setelah empat peluru itu berhasil ditahan, dengan begitu cepat Theon langsung melepaskan empat peluru dari berbagai penjuru tempat penembak jitu itu berada.
Keempat penembak jitu merasa sangat dibingungkan. Bagaimana bisa pelurunya tidak ada yang mengenai Theon? Mungkin terlihat wajar apabila hanya dirinya yang meleset, tapi penembak jitu yang lainnya juga meleset seolah tidak ada satu pelurupun yang mengenai Theon. Mungkin karena sebenarnya mereka tidak dapat melihat peluru air milik Theon.
Siapa yang menyangka, ketika mereka berpikir demikian, kepala mereka pecah seolah terkena sebuah peluru tajam yang menembak dengan sangat cepat tanpa mereka sadari. Mereka, atau lebih tepatnya tidak hanya satu penembak jitu yang terkena, melainkan keempatnya terkena secara bersamaan yaitu tertembak peluru air milik Theon.
Tentu dengan menggunakan peluru air, tidak ada barang bukti sama sekali yang tertinggal, sehingga membuat Theon merasa sedikit aman yaitu membunuh tanpa diketahui oleh seseorang. Apalagi dia menyadari bahwa di dunia modern ini penyelidikan benar-benar ketat, setidaknya para polisi bisa menemukan pelaku hanya menggunakan sidik jari.
Theon melepaskan Rena yang benar-benar malu, tapi Theon sama sekali tidak peduli. Karena selain agar Rena tidak terlalu banyak bergerak, juga agar peluru tidak terkena Rena pula. Bukan masalah apabila Rena tidak terluka pada bagian vital seperti leher bagian luar, tapi apa yang Theon takutkan peluru itu tersesat di jantung atau otak.
“Sudah selesai, mereka telah terbunuh. Tapi kita tidak bisa tinggal diam, kita harus ke tempat gedung itu berada untuk menyelidiki .” Kata Theon melepaskan lengannya dari leher Rena. Tapi tak berhenti di situ, Theon langsung menarik lengan Rena untuk menuju salah satu tempat dimana penembak jitu berada.
“Proyek gedung yang tidak dilanjutkan. Sepertinya salah satu penembak jitu berada di lantai paling atas.” Ujar Rena sambil menoleh ke atas. Tentu dia tahu bahwa penembak jitu memang mencari tempat yang tinggi untuk menembak sasarannya. Baik penembak jitu dari pembunuh bayaran, atau mungkin penembak jitu dari aparat agensi.
Apa yang dilakukan oleh Theon dan Rena adalah mencoba untuk naik menuju lantai paling atas meski menggunakan ribuan anak tangga sekalipun. Rasa penasaran mereka mengalahkan rasa malas untuk menaiki anak tangga. Karena apa yang paling penting, mereka harus mencari tahu siapa tahu ada sebuah jejak yang membuat Theon tahu dimana letak geng Skeleton berada.