The God in the Modern World

The God in the Modern World
Elemental cabang



Starllet membuka matanya lebar-lebar. Kristal berwarna emas dan menyala itu benar-benar menggiurkan, sehingga dia tertarik pada benda yang dipegang oleh Theon. Hanya saja, dia benar-benar terkejut, bagaimana bisa Theon mengubah pedangnya menjadi kristal cahaya. Itu hanya pemikiran Starllet.


Padahal, Theon hanya memasukkan kembali Fire Sword dan mengambil kristal cahaya yang berasal dari dunia dewa. Apa ada benda berharga seperti ini? Sehingga kemungkinan benda ini benar-benar hanya satu ketika Theon membawanya di dunia nyata. Walaupun, pada dasarnya di cincin ruang milik Theon berjumlah ribuan dan bertumpuk bagaikan benda yang tidak berguna.


Starllet memang tergiur, hanya saja dirinya benar-benar membentengi diri dan mencoba menahan diri agar tidak menerima sesuatu dari Theon. Dia masih bersikap dingin dan berbalik badan dan mencoba untuk menghindari Theon.


"Dua kristal emas?" Theon mengangkat alisnya. Menambahkan sebuah kristal emas yang berjenis cahaya kepada Starllet. Lagipula Starllet juga tidak akan bisa menggunakannya, jika tahu caranya, itupun tidak dapat diserap karena Starllet tidak mungkin memiliki elemental cahaya.


"Tunggu, tidak jadi. Aku baru ingat jika aku punya Genbu." Theon memasukkan kembali kristal cahayanya. Karena, yang dia butuhkan hanyalah elemental tanah dari Starllet. Memangnya kenapa? Theon benar-benar mempunyai sebuah rencana agar bisa menuju pusat labirin.


"Maksudmu kau membutuhkan elemental tanah? Tunggu, bagaimana kau tahu bahwa dia memiliki elemental tanah? Aku belum memberitahumu sama sekali." Rena mengerutkan dahinya.


"Antingnya memiliki lambang elemental tanah." Theon menunjuk anting Starllet. Hanya saja, Starllet dan juga Jean sudah tidak ada di tempat, yang ada hanyalah sebuah belokan lorong. Sehingga besar kemungkinan lorong labirin berubah untuk kesekian kalinya. "Yaah, kesekian kalinya."


"Jika Anda mengeluarkan Genbu, maka kurasa dia tidak akan muat." Rena mengerutkan dahinya.


Theon berpikir, apa yang dikatakan Rena tidak ada salahnya. Namun, ukuran Genbu bisa diperkecil seumurannya. Lagipula, apabila Genbu keluar, maka dia tidak akan bisa mengalirkan elemen tanah kepada Theon. Secara, kekuatan elemental spirit beast dan dewa benar-benar berbeda. Namun, kekuatan dewa dan manusia masihlah sama. Itulah mengapa menghadapi beast spirit juga harus dengan beast spirit atau roh pula.


Apa yang dikatakan oleh Theon tadi, hanya untuk menggertak Starllet dan menghilangkan tawaran yang menurutnya benar-benar berharga. Jika dirinya menjadi Starllet, maka dia akan bersedia untuk membantu Theon. Sayangnya Starllet merasa jual mahal.


Sambil berpikir, Theon berjalan. Setidaknya untuk menemukan jalan keluar, karena waktu sudah berjalan kurang lebih tiga perempat jam. Mungkin, banyak orang-orang yang fokus untuk mencari jalan keluar di waktu seperti ini, padahal waktu sendiri kurang 1 jam lebih untuk gerbang dimensi tertutup.


"Theon! Akhirnya aku menemukanmu!" Teriak sosok yang ada di samping Theon.


Theon menoleh, dia tidak menyangka bahwa dinding berubah menjadi lorong labirin ke sekian kalinya. Dan, apa yang Theon temui adalah Lesha yang tengah berlari ke arahnya. Tentunya, itu membuat pandangan aneh dari Rena.


Mungkin terlihat tidak hanya Lesha, anak-anak yang lainnya juga keluar dan berlalu lalang melewati Theon. Entah, mereka mencari jalan keluar atau mencari bintang neutron tersebut. Hanya saja, apa yang Theon fokuskan adalah Lesha yang kini tengah berdiri di depannya.


"Aku, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau ternyata adalah seorang elementalist." Lesha mengerutkan dahinya. Dia baru melihat bahwa Theon ternyata juga mengikuti frstifal keluarga Zuan untuk mendapatkan bintang neutron yang ada di inti labirin.


Theon berpikir sambil tersenyum lebar. Yaah, untung saja terdapat Lesha di sini. Dan kebetulan sekali, Lesha memiliki kekuatan elemental yang berupa tanah. Persis seperti apa yang Theon cari. Bagaimana dia tahu? Tentu itu karena kejadian tadi, Lesha cukup hebat mengeluarkan gempa bumi untuk menghentikan Rena yang menggunakan pengikat bayangan.


Lesha mengangguk, dia bersedia kapan saja untuk membantu Theon. Karena pada dasarnya sifatnya berubah setelah Theon membantunya kala itu.


"Bisa kau pegang tanganku?" Theon mengangkat alisnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Lesha.


Lesha mengangguk, hanya saja dia ragu tentang perintah Theon. Tapi.... Dia segara melakukannya setelah berpikir tidak terlalu panjang. Seketika, sebuah pertanyaan muncul di benak Lesha, untuk apa?


Pergelangan tangan Theon sudah di pegang, namun jika begitu saja tidak akan muncul dampaknya, sehingga dia kembali menjelaskan. "Bisa kau alirkan orka, emm maksudku energi ketika kau mengeluarkan elemental tanah? Lebih tepatnya salurkan energi itu ke tanganku."


Lesha mengangguk, dia melakukan apa yang Theon perintahkan yaitu mengalirkan energi elemental ke lengan Theon yang dia pegang erat. Meskipun sebenarnya dia benar-benar gugup untuk melakukan itu, karena apa yang dia takutkan bisa jadi hal tersebut tentu saja itu melukai Theon.


"Kau pernah mendengar tentang gabungan elemental? Atau elemental sekunder, atau mungkin elemental cabang?." Theon mengangkat alisnya.


"Maksudmu es, kayu, lumpur, magma dan lain sebagainya?" Sahut Rena, "Tidak ada di dunia ini, dan tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan sepertinya Lesha sekalipun."


Seketika dari telapak tangan Theon muncul akar yang menjalar. Bahkan tentu saja itu membuat Lesha benar-benar terkejut melihatnya. Karena, bagaimana bisa akar itu keluar dari tangan Theon? Apakah itu adalah sebuah sihir non elemental? tapi jika dipikir-pikir, dalam buku cerita fiksi miliknya, kayu termasuk bagian elemental yang merupakan milik alam. Jadi, menurut Lesha, kemungkinan terbesar Theon memiliki kekuatan elemental yang orang lain tak punya.


Theon menghela napas melihat kebodohan Lesha. Mungkin karena Lesha bukan berasal dari alam dewa, atau setidaknya alam elementalist manusia, sehingga hal seperti ini terlihat benar-benar hebat. “Ini adalah elemental sekunder. Aku memiliki elemental air, sedangkan kau memiliki elemental tanah, jika dibenturkan dengan mengekstrak kandungan kedua elemen terlebih dahulu, maka terciptalah elemen kayu.”


“Dan jika tidak diektrak maka akan tercipta elemen lumpur.” Sahut Rena.


“Benar. Jika kau mempunyai dua elemental Lesha, maka sebenarnya kau bisa menggabungkannya dan menciptakannya menjadi elemental baru.” Theon juga mengeluarkan tangan kirinya di depan Lesha, dan tentunya kedua elemen yaitu air dan api keluar beriringan. Hanya saja, beberapa detik kemudian dua elemen itu menghilang menjadi sebuah uap. “Elemen uap, itu karena aku mengabungkan elemen air dan api. Jadi, jangan berpikiran bahwa sebenarnya tiap elemental itu memiliki kelemahan, semua elemen mewujudkan sebuah keseimbangan di dunia ini.”


Tanpa berpikir panjang, Theon meletakkan tangan yang mengeluarkan akar panjang di dinding batu sebelah kirinya tanpa melepaskan pegangan tangan Lesha. Kemudian, ketika dia menyentuh permukaan dinding, Theon mengatur napas dan memejamkan matanya untuk sejenak, setidaknya hal ini akan menjadi sebuah pekerjaan yang berat.


Dan, kemudian, ketika dia membuka matanya, akar dari tangan Theon terus menerus menjalar dengan begitu cepat pada bagian dinding labirin ini. Bahkan, Theon terlihat mengotot agar akar pohon terus merambat di setiap dinding labirin. Mungkin tidak hanya dinding di jangkauannya, niat Theon adalah melapisi semua dinding menggunakan akar merambat.


“Aku ingin lihat, apakah kau bisa berubah-ubah, tuan labirin?”