
Sehingga, sebuah kristal es yang ukurannya cukup besar, bahkan hampir memenuhi langit terbentuk secara cepat. Tepat berada di atas Kadita yang membuka matanya karena benar-benar terkejutnya. Bahkan ujung kristal itu berada di depan matanya. Sayangnya, dia langsung menghentikan lesatannya sehingga tidak menabrak ujung es itu.
“Kadita yang dibanggakan. Siapa yang menyangka bahwa roh dikalahkan oleh manusia? tidak, maksudku maha dewa sepertiku? Padahal, aku belum mengeluarkan beast spirit sama sekali.” Kata Theon menunjukkan kekuasaannya. Dia langsung menjatuhkan sebuah kristal es yang kemungkinan akan membuat sebuah ombak yang cukup besar.
Kadita tidak bisa berkata apa-apa lagi, tidak ada waktu untuk bergerak. Hanya saja, dia mengeluarkan sebuah perisai air untuk menahan hantaman ujung kristal es yang ukurannya sangat besar. Dan, itu benar-benar terjadi, kristal es tersebut jatuh dengan sangat cepat hingga akhirnya membentur sebuah permukaan air laut.
Bahkan, gelombang terjadi dengan cukup besar yang mana kemungkinan mampu memporak-porandakan seluruh pesisir dan teman-teman Theon yang memutuskan untuk lari lebih jauh lagi. Tapi, Theon menahannya dan mengembalikan air laut pada tempatnya. Sedangkan kristal es yang seolah menjadi sebuah glester karena seluruh es tidak tenggelam, Theon menghancurkannya dan merubahnya menjadi kristal es berkeping-keping yang kemudian dia hujankan pada air laut dengan cukup brutal.
“Ayo, tunjukkan keberanianmu Kadita?” Theon yang berdiri di menara es, dia melompat dan terjun menuju dalamnya laut dengan sebuah keberanian. Sehingga, dia kembali di dalam laut dan melihat bahwa Kadita sudah tak berdaya karena terkena kristal es penghancur. Jika bukan karena kemampuannya memiliki kemampuan pelindung air, bisa dipastikan bahwa Kadita akan hancur.
Mungkin tidak, yang hancur adalah Aura, sedangkan Kadita sendiri tengah menggunakan tubuh Aura untuk menjadikan sebuah tameng. Mengingat, bahwa Theon memiliki aura yang cukup hebat. Dan lebih hebat dari yang ia kira, bahwa mengalahkan dirinya waktu beberapa menit. Di sisi lain, dia menggunakan Aura juga agar membatasi kekuatannya, karena apabila dia keluar dengan sosok asli, dia bisa saja menghancurkan pantai ini.
Meski dia tak berdaya, dia mengangkat potongan-potongan es yang menimpanya, tubuh Aura terluka berat dengan banyak sayatan muncul di lengannya. Tak memiliki keputusan lain, Kadita pada akhirnya keluar dari tubuh Aura tepat di sampingnya. Sehingga hal tersebut membuat Aura menjadi manusia biasa yang kemungkinan akan mati dalam posisi tenggelam. Apalagi posisinya dalam keadaan benar-benar tidak sadar.
Dengan arus air, Theon menarik Aura tepat ke arahnya. Dia tahu bahwa ketua kelas akan mati jika tidak mendapatkan udara yang cukup layak. Tapi mungkin itu tidak akan lama, Theon pasti akan bisa mengurus yang ini. Tapi, dia memberikan sebuah napas buatan terlebih dahulu yang dia kumpulkan di paru-parunya dan diberikan tepat melalui mulut Aura.
Kemudian, dia meletakkan Aura di sampingnya. Bersamaan dengan itu, dia tersenyum lebar saat melihat sosok wanita yang benar-benar sangat anggun. Mahkota permata dikenakan yang membuat dia dikenal sebagai sosok ratu. Tidak hanya itu saja, selendang dan pakaian hijau yang menjadi sebuah ciri khas ratu laut selatan.
“Pada akhirnya kau keluar dengan wujud aslimu, Rara Kadita.” Ucap Theon dengan wajah yang begitu datar. Selain itu, dia juga menggunakan sebuah aura dewanya untuk mengintimidasi Kadita untuk memberitahukan siapa dirinya. Dia tidak ingin terlalu banyak akting, menunjukkan kekuatannya sedikit sudah cukup baginya.
Hal tersebut membuat Kadita seperti di pukul perutnya dari depan, kakinya mendadak menjadi lumpuh karena mendapatkan sebuah aura yang mencengkram. Aura yang tak biasa dan sangat mustahil untuk di temukan pada alam ini. Dia mencoba untuk berdiri, tapi Theon langsung mencekik lehernya dan mengangkatnya secara perlahan.
Wajah Theon seketika ada dua dari pandangan Kadita. Apa yang Kadita lihat, di sebelah wajah Theon, ada sebuah bayang-bayang yang wajahnya berbeda dari Theon itu sendiri. Hanya saja, bayang-bayang di sebelah Theon benar-benar sangat familier.
Lebih tepatnya, itu adalah wujud asli Theon yang sebenarnya. Wujud asli Fang Theon yang berada di alam dewa sebelum menempati jasad Theon Alzma. Wajah yang benar-benar sangat sempurna mirip sekali dengan kecantikan ibunya, yaitu Turse.
“Sebut ibuku dengan sopan! kau bukan tandingannya.” Theon mengeluarkan sebuah elemen petir di sekelilingnya. Sehingga mengakibatkan sebuah elemental petir itu menyebar dan mengakibatkan sebuah tegangan yang cukup tinggi dengan dampak yang mengenai Kadita itu sendiri. Bagaimana tidak, air merupakan zat konduktor listrik, yang mana sangat bagus untuk mengalirkan dan menyebarkan arus listrik dengan cukup kuat.
Itulah mengapa Kadita seperti menerima tegangan yang cukup tinggi, padahal Theon tidak mengarahkan elemental petir padanya. Sehingga, kali ini Kadita berada antara sadar dan tidak sadar, wajahnya tertunduk lemas tepat di atas pergelangan tangan Theon.
“Hei, sadarlah! Kau adalah roh yang katanya penguasa laut selatan.” Lagi-lagi Theon memberikan sebuah gelombang listrik agar otak Kadita bisa lebih sadar.
Kadita berteriak kesakitan, wujudnya sebagai penguasa laut selatan seperti tidak ada harga dirinya di depan Theon. Namun, akibat dari itu, dia membuka matanya kembali dengan tubuh yang benar-benar sangat lemas.
Theon membuka telapak tangannya, sehingga membuat Kadita terjatuh dari genggamannya. Memperhatikan Theon dengan lesu yang menandakan bahwa dirinya mendapatkan kekalahan dari seorang dewa. Tidak begitu heran, yang ada di hadapannya adalah seorang dewa, putra Turse yang pernah hampir mengalahkannya.
Lebih tepatnya itu adalah kejadian yang cukup lama, ketika Kadita, dan roh ekor sembilan Kitsune harus diharapkan dengan dua orang yang diramalkan akan menjadi sepasang yang menguasai alam dewa, Zeno dan Turse. Hanya saja sangat disayangkan sekali, mereka berada dalam kekalahan telak. Tak begitu terima, pada malam hari Kadita melakukan sebuah perencanaan pembunuhan kepada Turse karena tidak menerima sebuah kekalahan dari seorang manusia yang akan menjadi dewa.
Tapi, apa yang terjadi? Zeno memiliki empat roh kuat, tiga berada dalam tubuhnya, satu berada dalam cincin peliharaan. Sehingga, ketika Kadita muncul dan hendak membunuh Turse, roh-roh Zeno keluar dan tidak membiarkan Turse terbunuh yang menjadi istri Zeno. Sayangnya, roh murni Turse yaitu seekor Flamengo harus terbunuh karena dia menerima serangan dari Kadita.
“Saat kau menjadi roh kaisar dewa air, bagaimana caramu menuju ke alam dewa?” Theon menepuk-nepuk pipi Kadita dengan cukup kasar.
Kadita tertunduk sambil membuka mulutnya berbicara, “Bukan roh kaisar dewa air, melainkan roh bawahan kaisar dewa air. Itu karena sebuah menara yang mana ujung menara merupakan portal teleportasi, yang dibuka oleh avatar dewi rembulan 1000 tahun yang lalu. Sebagai roh, aku ingin berada di tingkatan yang lebih tinggi, masuk ke alam dewa. Tapi siapa yang menyangka, aku justru diburu oleh kaisar dewa air dan menjadikanku sebagai roh tangan kanannya.”
“Dan aku dikembalikan ke asal, oleh ayah Anda, yang mulia maha dewa Fang Zeno ke tempat asalku setelah kaisar dewa air dan tangan kananya divonis hukuman menjadi manusia biasa.”
Theon mengalirkan sebuah gelembung-gelembing udara yang begitu banyak ke arah Aura di dekatnya. Agar Aura bisa bernapas lebih lanjut yang mana ini sudah cukup lama. Kemudian, dia menatap Kadita yang seolah sudah tunduk di depannya. “Tentang di mana menara itu, dan siapa avatar dewi rembulan di bumi ini?”