
Keesokan harinya, Theon dan Rena berangkat ke sekolah mereka secara bersamaan dengan berjalan kaki. Tentunya, mereka sudah melupakan dan meningat kejadian semalam. Tentang, sebuah senjata plasma yang memiliki kandungan radioaktif, yang mana itu bisa membunuh seorang elementalist, maka Theon akan melupakan kejadian itu seolah tidak pernah terjadi dalam hidupnya. Karena dia tahu, bahwa ketika dia bahas, maka hidupnya akan menjadi tidak tenang, sehingga membuat kecurigaan seseorang kepada dirinya.
Sedangkan undangan makan malam kepala sekolah, Theon mengingatnya. Dia dan Rena akan berangkat lima hari lagi menggunakan sebuah pesawat terbang yang kepala sekolah sendiri sudah pesan. Sehingga mereka tidak perlu cemas lagi tentang kendaraan.
Namun, hal yang tidak bisa Theon lupakan adalah ketika Rena berada di rumahnya, atau lebih tepatnya tinggal di rumahnya. Bagaimana tidak? Ketika mereka hendak tidur, perasaan canggung menghantui mereka semua, tidak ada yang mau menang untuk tidur di atas ranjang, mereka terus mengalah untuk tidur di luar. Seperti Theon yang ingin menghormati wanita, serta Rena yang ingin menghormati tuan rumah.
Jika dewan guru mengetahui bahwa Theon dan Rena tinggal serumah, maka kejadian buruknya keduanya akan dikeluarkan. Karena hal tersebut sudah menyalahi norma masyarakat yang beredar dan dianggap hal yang tabu. Walaupun sebanarnya Theon tahu sendiri perbuatan itu sangatlah tidak etis.
Menurut Theon dan Rena, menjadi seorang siswa di dunia modern benar-benar membuat mereka muak. Sistem pendidikan sama sekali berbeda dengan yang ada di alam dewa seperti pekerjaan rumah yang benar-benar menumpuk. Berbeda jauh dengan yang ada di alam dewa, pendidikan akademi tidak pernah memberikan pekerjaan rumah, karena para pengajar di alam dewa tahu bahwa para murid juga memiliki pekerjaan lain. Apalagi Theon yang merupakan seorang putra god of gods.
Tapi hal tersebut membuatnya menjadi sebuah pengertian bagi mereka, bahwa hal tersebut membuat pemikiran manusia modern jauh lebih maju dibandingkan dengan alam dewa. Tapi jika dibandingkan dengan spiritual, maka alam dewa adalah pemenangnya.
“Kita harus bergegas pangeran, apa kau tidak ingat? Ledakan senjata plasma itu berada di atas kita. Jadi kemungkinan radiasinya masih ada sampai sekarang.” Rena mengusulkan.
“Kau benar, sepertinya petinggi negara juga tidak peduli dengan keselamatan orang-orang di sini. Atau mungkin tidak sadar? Karena para tentara dan kepolisian sendiri masih bergegas menuju tempat jatuhnya helikopter tanpa membawa alat pelindung diri.” Theon merasa ada yang aneh. Jikapun terdapat pancaran radiasi di sini, pihak berwenang akan menggunakan pakaian pelindung diri anti radiasi, tapi mengapa tidak ada yang menggunakannya.
“Itu artinya, dampak radioaktif hanya menghilang sangat cepat. Yaitu dalam satu malam saja. Akh sudahlah, kita akan terlambat nantinya.”
.....
Keduanya pada ahirnya sudah sampai di sekolah tepat waktu. Tentunya, mereka berdua mendapatkan tatapan yang begitu aneh, karena Rena seperti kembali untuk dekat kepada Theon. Terutama Lesha, dia menatap sinis Rena karena sikapnya yang plin-plan.
“Kalian berdua, kalian kemarin dari mana saja? Aku mengikutimu Rena, tapi kau seperti menghilang di telan bumi. Jika tidak percaya, kau bisa tanya Lesha mengenai keanehan kalian berdua.” Protes Ali. Bagaimana tidak, dia benar-benar terkejut ketika mengikuti Rena menuju lantai tiga, dan dia melihat dengan jelas bahwa Rena masuk ke dalam sebuah kelas. Namun, saat Ali dan Lesha mengeceknya, dia sama sekali tidak melihat keberadaan Rena.
Theon dan Rena saling menatap sebelum mereka berdua duduk di kursinya masing-masing. Mau bagaimana lagi, Theon berkata, “Kau salah lihat, mungkin? Kami berdua sudah pulang pada saat itu.”
“Theon, aku membuatkan bekal untukmu. Tolong dihab....”
“Theon sedang berpuasa, jadi jangan beri dia bekal menjijikkan punyamu.” Sahut Rena kepada Lesha yang muncul dan menaruh bekalnya di depan Theon.
Mungkin jika sampai sekarang Rena belum tahu siapa Theon sebenarnya, dia tidak akan memandang Theon dan tidak dekat kepadanya seperti ini. Sehingga perubahan sifat yang terjadi kepada Rena lagi membuat seisi kelas benar-benar terkejut, terutama Rolland yang berwajah buruk saat tahu bahwa Rena kembali dekat kepada Theon.
“Asmara anak Sma, benar-benar membuatku ingin tertawa. Sepertinya belum menyukai siapa-siapa adalah pilihan yang benar.” Batin Theon sambil memperhatikan keadaan sekitar. Selain itu, dirinya juga benar-benar tidak menyangka bahwa kehidupan sekolahnya menjadi normal, tanpa adanya sebuah diskriminasi dari pihak sekolahan. Apalagi Rolland dengan tubuhnya yang babak belur, dia hanya diam saja dan tidak lagi menganggu Theon.
“Lesha, terimakasih untuk tawaranmu, tapi aku tidak ingin makan.” Ucap Theon dengan begitu malas.
“Ba-baiklah.” Kata Lesha dengan begitu berat.
Theon mengangguk dan menoleh ke arah Ali yang kebingungan dengan keadaan disekitar tentang Rena yang kembali peduli dengan Theon. Namun, apa yang dilihat Theon adalah ketika smartphone Ali menunjukkan sebuah layar yaitu gambar seseorang yang dilapisi oleh api dengan sayap berwarna jingga seperti Api pula. Hal tersebut membuat Theon begitu terkejut, dia langsung bertanya kepada Ali perihal foto tersebut. “Ali, itu foto apa? Dan darimana kau mendapatkannya?”
“Cosplayer? Atau mungkin pemeran film? Sepertinya begitu, aku mendapatkan dari pesan milik sepupuku.” Jawab Ali demikian.
Tanpa berpikir panjang, Theon langsung merebut hp Ali, memperhatikan dengan begitu seksama bahwa itu sebenarnya adalah sosok dirinya yang mana tubuhnya dilapisi oleh Api tanpa membakar pakaiannya, serta mengeluarkan sayap dari Api pula. Kemudian, dalam kegelapan yang ada dalam foto, hanya terlihat karena api miliknya yaitu Rena yang melapisi dirinya menggunakan elemental kegelapan.
Kenapa Theon tampak begitu panik? Masalahnya, orang-orang yang berada di bawah kekuasaan para petinggi, mereka memiliki senjata plasma, sehingga Theon tidak bisa bertindak secara sembarangan, apalagi kekuatan elemennya yang masih dia miliki adalah air dan api, yang mana sangat mudah untuk ditahan menggunakan senjata plasma. Andai kata dia memiliki elemen cahaya dan kegelapan, maka dirinya tidak terlalu panik. Karena kedua elemen itu tidak memiliki senjata penangkal di dunia ini.
“Tidak mungkin, foto ini menyebar. Untung saja orang-orang menganggap ini adalah cosplayer atau mungkin pemeran film.” Batin Theon sambil menunjukkan layar hp tersebut kepada Rena yang duduk di kursi seberangnya.
Menunjukkan ekspresi yang sama, Rena juga terkejut saat tahu bahwa dua orang yang ada dalam hp tersebut adalah dirinya dan Theon. “Untung saja kita menutupi wajah kita dengan elemen masing-masing, jika tidak, para petinggi akan bisa melacak kita dengan begitu mudah.” Bisik Rena.
“Bersikaplah seperti biasa tanpa mengundang rasa curiga apapun.”
“Aku mengerti Theon.”
“Kalian ini berbicara apa?” Tanya Ali penasaran, karena semenjak tadi Theon dan Rena seperti berbisik membahas sesuatu. “Setidaknya jangan rebut hp ku Theon.” Ali merebut kembali hp dari tangan Theon.