
“Bagaimana kita bisa mencari tahu dimana letak geng skeleton jika orangnya saja sudah meninggal?” Rena bertanya-tanya.
“Mungkin dengan bantuan smartphone yang dia bawa. Lagi Pula, apabila kita menginterogasinya ketika dia masih hidup, dia juga akan memilih untuk mati.”
“Benar juga.”
Pada akhirnya Theon dan juga Rena telah sampai di lantai paling atas di proyek gedung yang dihentikan ini. Tentunya, mereka berdua bisa melihat jasad penembak jitu di sudut lantai dengan kepalanya yang bersimbah darah. Kemudian, Theon berkata, “Jangan sentuh secara sembarangan, sidik jarimu bisa membuat dirimu bisa tersangka.”
“Yaah, tapi jejak alas kaki kita juga membentuk di atas debu lantai atas ini. Apakah ini cukup untuk menjadi barang bukti?” Rena menoleh ke belakang, memperhatikan bahwa jejak sepatunya membentuk di atas debu.
Theon menggelengkan kepala, sambil menjawab, “Aku akan membersihkannya dengan elemental air. Sehingga sudah tidak ada jejak bukti bawah kita yang telah melakukan sebuah pembunuhan.”
Theon sudah berdiri di depan jasad penembak jitu. Tentu dia benar-benar mengerutkan dahinya ketika melihat sebuah sniper atau senapan berlaras panjang bertipe jarak jauh yang sering digunakan oleh para penembak jitu.
Penasaran, Theon mengangkat sniper tersebut dan memegangnya seperti yang ada di film-film. Dan tentunya, dia juga mengarahkan ujung sniper itu kepada orang-orang yang ada dibawahnya. Hanya untuk bergaya, tidak berniat untuk membunuh seseorang. Bahkan, Theon juga menempelkan matanya di Scope sniper tersebut untuk melihat dari pandangan yang sangat jauh.
“Tak kusangka, penembak jitu itu juga membawa senjata api berjarak pendek walaupun dia seorang sniper sekalipun.” Berbeda dengan Rena, dia juga penasaran dengan sebuah senjata modern yang ada di dunia ini. Mengangkat sebuah pistol yang ada di balik jaket hitam pembunuh bayaran tersebut.
Theon tidak menganggap Rena berbicara, dia justru mengangkat ujung bibirnya ketika melihat ada seorang pencopet yang hendak mengambil harta milik seseorang. Dia bisa melihatnya dengan jelas dari balik scope tanpa sengaja.
“Memang aku tidak tahu cara mengisi amunisi, tapi ku harap penembak jitu tadi sempat mengisi amunisi sebelum dia terbunuh. Sedangkan kemampuan menembak, aku benar-benar bisa dalam memanah, setidaknya ibu pernah mengajariku menjadi seorang pemanah andal.” Theon berkata dengan sedikit lirih ketika dirinya menjajal sebuah senjata modern, yang mana targetnya adalah penjahat umum yang mungkin sudah sering dia dengar.
Tanpa berpikir panjang, Theon menarik pelatuk, mengeluarkan sebuah ledakan kecil di ujung senapan yang menandakan bahwa peluru benar-benar keluar dari senapan tersebut. Dia juga semakin mengangkat ujung bibirnya ketika peluru yang dia tembakkan benar-benar akurat dengan mengenai targetnya.
Sehingga, keramaian di dekat rumah sakit benar-benar terjadi ketika seorang pencopet mati secara misterius dengan darah yang keluar dari dadanya.
“Aku heran, mengapa aparat tidak melakukan seperti ini yaitu menembak penjahat secara misterius. Mereka justru membunuh elementalist.” Ujarnya sambil menurunkan senjata sniper di atas lantai. Karena dia tidak ingin ada seseorang yang tidak sengaja melihat Theon menjadi seorang penembak jitu di atas gedung.
Rena yang menggeledah tubuh jasad penembak jitu, dia menjawab apa yang Theon tanyakan. “Republik New Santara pernah melakukan yang seperti itu sebelum tahun 2000. Komplotan penembak misterius yang membunuh penjahat kecil dan para preman bertato. Sayangnya tindakan tersebut dianggap melanggar hak asasi manusia karena tak adanya sebuah bukti dan pemeriksaan.” Kemudian, Rena mengerutkan dahinya sebelum dia melanjutkan ucapannya, “Kita anak sejarah, seharusnya kau tahu akan hal itu.”
“Hei-hei, bukankah membunuh seorang elementalist juga merupakan tindakan yang melanggar hak asasi manusia.”
Theon tak lagi memikirkan tentang sebuah pembunuhan, apa yang dia harus fokuskan untuk mencari nomor seseorang yang berkaitan dengan geng skeleton seperti ayah Jean yang merupakan pemilik geng Skeleton, atau mungkin Jean sendiri agar dirinya bisa melacak keberadaanya. Lebih tepatnya dia akan meminta bantuan Ali untuk hal sepele bagi Ali sendiri.
Mengingat, bahwa Ali agak lebih maju di bidang teknologi, bahkan kemungkinan melacak nomor telepon adalah hal yang mudah baginya.
“Pangeran lari!” Rena yang sedang menggeledah jasad penembak jitu, dia benar-benar terkejut karena ada sesuatu hal yang sangat aneh. Sehingga apa yang dia lakukan adalah langsung menarik Theon untuk menjauh dari jasad sang penembak jitu tersebut.
Lebih tepatnya ketika Theon dan Rena menjauh, sebuah ledakan berasal dari penembak jitu tersebut, memunculkan sebuah kobaran api yang cukup besar sehingga membuat dirinya bertanya-tanya. “Apa, apa yang terjadi Rena?”
Rena berspekulasi, “Sepertinya penembak jitu memasang bom di dadanya, dan ketika dia mati dalam keadaan tengkurap, bom itu akan menyala dengan waktu yang berjalan. Mungkin agar tidak ada yang bisa mencari tahu sesuatu dari benda di tubuhnya.”
Dan yang benar saja, dari lantai gedung seberang yang mungkin juga tempat penembak jitu itu berada, baru saja terjadi sebuah ledakan yang menggemparkan. Membuat Theon bisa memastikan bahwa dirinya tidak bisa turun untuk sekarang juga, bahkan dirinya tidak berani untuk menunjukkan kepalanya dari pinggir gedung karena tampaknya itu benar-benar sangat membahayakan.
“Tapi setidaknya aku berhasil membawa handphonenya, serta aku juga membawa sebuah senapan laras panjang tipe jauh yang mungkin akan sangat berguna. Dan yang menjadi masalah, bagaimana kita akan turun?”
Sudah terpojok, ketika dia turun maka orang-orang mengiranya adalah seorang ******* yang baru saja meledakkan sebuah bom. Banyak orang-orang yang bergegas menuju lantai atas untuk mencari tahu apa yang meledak itu tadi? apalagi ledakan tersebut terjadi setelah adanya sebuah pembunuhan secara misterius oleh penjahat kecil.
Untungnya Theon tidak terlalu panik untuk menghadapi hal yang sepele, sebelumnya dia langsung memasukkan senjata laras panjang dan juga handphone ke dalam cincin ruangnya agar dia bisa bergerak lebih bebas.
Memperhatikan sebuah gedung di sebelahnya, Theon mengambil sebuah kuda-kuda. Kemudian, dia langsung berlari dengan gerakan kilat agar bisa menggapai menuju gedung sebelahnya yang berjarak puluhan meter. Serta karena kecepatannya, tidak ada orang-orang yang melihat wujudnya selain kilatan kuning.
Theon berbalik badan, memberikan isyarat kepada Rena untuk melakukan hal yang sama yaitu meloncat sejauh beberapa meter menggunakan kemampuan langkah bayangan.
Rena adalah wanita yang mudah untuk di atur, apalagi oleh Theon yang merupakan seorang pangeran. Sehingga dia mengangguk dan langsung melompat menggunakan langkah bayangan sehingga pergerakannya benar-benar sangat halus. Apalagi langkah bayangan benar-benar sangat cepat sehingga tidak ada wujud Rena yang tampak.
“Bagus, waktunya kita untuk turun. Dan, maafkan aku, seharusnya kau tidak terlalu banyak bergerak terlebih dahulu.”
“Aku bukanlah seorang dewi yang lemah, pangeran.”