
“Sialan, itu artinya kita harus mencarinya sebelum bawahan petinggi dunia menemukannya.” Sahut Rena berdecak kesal. Akan tetapi, ketika dia memandang langit di arah selatan, dia bisa melihat bahwa stasiun luar angkasa terbakar dan hampir menabrak bumi. Itu artinya, dia sudah hampir dua jam berada di bunker underground.
“Kita harus pergi, stasiun luar angkasa akan menghancurkan Icelor. Jika Lesha di culik tiga hari yang lalu, maka bawahan petinggi dunia sudah menuju Ellada. Dan sudah mengambil langkah yang cukup jauh.” Kata Theon yang juga bisa memperhatikan stasiun luar angkasa di ufuk selatan.
Sebelum Theon dan Rena beranjak pergi, Lesha menahan mereka berdua dengan bertanya, “Kalian harus jujur, apakah kalian seorang dewa juga?” dengan mengerutkan dahinya.
Theon dan Rena melirik Lesha yang ada di belakangnya. Tampaknya Lesha sudah cepat untuk menganalisis bahwa elemen cahaya dan kegelapan tidak di dimiliki oleh manusia di dunia ini.
“Setidaknya bukan avatar.” Ledek Rena.
“Kau akan tahu nanti.” Jawab Theon.
Dalam sekali kedipan, Theon dan Rena sudah berpindah tempat. Hal tersebut membuat Lesha sebenarnya kehilangan harga dirinya sebagai avatar dewi rembulan. Akan tetapi, dia tidak terlalu emosi karena jati dirinya sebagai seorang wanita yang tidak etis untuk mengeluarkan sebuah emosi. Meski begitu, Lesha juga cukup penasaran tentang mereka berdua.
.....
“Kita sudah berada di langit Ellada, lagi.” Kata Theon sambil menghela napas dan mengaturnya perlahan-lahan. Diikuti oleh Rena pula yang sebenarnya merasa cukup lelah untuk berpindah tempat secara cepat.
Diikuti oleh Lesha yang bergerak dengan menggunakan kemampuan Rena yaitu langkah bayangan. Dengan elemen kegelapan sebagai elemen dasarnya.
Sebelumnya, Theon tahu persis bahwa Lesha hanya memiliki elemen dasar tanah. Tetapi, setelah Lesha menyadari siapa jati dirinya, semua ingatan terbentur dalam satu otak sehingga dia bisa menggunakan elemen kegelapan dengan cukup mudah. Meski sebenarnya, Theon sedikit tidak peduli tentang Lesha yang tidak memiliki ingatan yang seratus persen sama persis dengan sang penitisnya.
“Bukankah kita mengenal salah seorang di negara Ellada? Kemungkinan kita bisa mencari tahu siapa keturunan penyihir Yunani kuno. Lagipula, dia ingin bertemu dengan avatar dewi rembulan sampai-sampai menebakku.” Kata Rena.
Theon mengingantnya, nenek Helen dan dua cucunya. Jika di pikir-pikir, mereka pasti bisa memberikan jejak tentang keturunan penyihir yang menyimpan kitab After Death milik generasi pertama dewi rembulan.
Akan tetapi, Theon menundukkan kepalanya untuk berpikir. Dia tidak tahu arah dimana rumah Helen berada. Tampaknya benar-benar cukup luas negara Ellada ini. Berbeda apabila dia dari Icelor menuju Ellada, maka dia hanya bergerak dalam garis lurus menuju tenggara, atau lebih tepatnya menuju wilayah paling barat Ellada. Sedangkan wilayah yang sempit yaitu rumah Helen namun jangkauan luas yaitu negara ELlada, Theon akan sulit untuk mencarinya.
“Kita akan menggunakan sebuah patokan. Ibukota Ellada, Athena dengan bandaranya berada di tenggara dari wilayah yang kita pijak. Karena kita menarik garis lurus dari ujung utara Icelorr, menuju wilayah paling barat Ellada.” Rena menjelaskan kepada Theon. “Kemudian, untuk menuju Temple of Apollo dari ibukota dan bandara, maka kita akan menuju barat laut. Sehingga, kita akan menuju tenggara tidak terlalu jauh, setidaknya hanya sampai menuju kuil Apollo.”
“Sedangkan untuk menuju rumah Agis, maka kita hanya perlu ke utara dari temple of Apollo yang jaraknya tidak terlalu jauh.” Sambungnya.
Hanya saja, ketika mereka berbicara demikian, di wilayah tenggara, Theon mampu melihat sebuah ledakan yang cukup besar. Bahkan jamur ledakan itu juga terlihat yang membuat Theon dan yang lainnya membuka mulutnya. Dan arah itu, persis yang akan dia tuju, atau dalam satu arah menuju Helen, sehingga dia juga penasaran tentang ledakan tersebut. Sehingga, tanpa menunggu lama, Theon langsung bergegas.
.....
Beberapa waktu yang lalu.
Agis yang baru saja pulang dari sekolah, dia merasakan sebuah getaran yang begitu luar biasa, begitupula dengan kakaknya yang sibuk juga benar-benar cukup terkejut saat menerima getaran tersebut. Di sisi lain, mereka juga mendapatkan sebuah berita bahwa stasiun luar angkasa dalam keadaan di luar kendali atau jatuh.
“Apa yang terjadi?” Tanya Agis cukup penasaran sambil memandang kakaknya. Hanya saja, dia sama sekali tidak mengerti, yang membuat dia bergegas untuk menuju ruangan belakang atau ruangan neneknya.
Namun, mereka menyadari bahwa neneknya juga sempat mondar-mandir dan kebingungan tentang keadaan yang benar-benar menggemparkan. “Nenek merasakan firasat yang cukup buruk. Jika, terjadi sesuatu, kalian bisa lari sambil membawa kotak ini. Dan temukan Lord Unknown. Bukankah dia merupakan tamu kita kemarin?” Helen memberikan sebuah kotak peti berwarna emas yang ukurannya sepanjang lengan mereka.
Mereka benar-benar bertanya-tanya, apa isi kotak tersebut? pertanyaan tersebut seketika sirna saat mendengar firasat buruk dari neneknya. Padahal, guncangan rendah yang terjadi beberapa detik yang lalu bisa jadi adalah sebuah gempa jangka pendek. Tapi mengapa dikaitkan dengan sebuah firasat yang cukup buruk?
“Nenek Helen, ada yang ingin menemui Anda di depan. Tuan dan nyonya sebenarnya sudah mempersilahkannya untuk masuk, tetapi pria itu benar-benar menolak.” Kata salah seorang pelayan yang menyampaikan apa yang dia lihat di depan. Meski sebenarnya dia cukup merasa aneh, karena sosok yang mencarinya adalah pria bersetelan jas yang datang seorang diri.
Helen mengerutkan dahinya. Tetapi, guna menghormati tamu, dia berjalan ke depan untuk mencari tahu siapa tamu yang menolak masuk dan mencarinya?
“Akh ibu, apakah kau tengah bermasalah dengan Bank? Aku harap kau tidak berhutang ratusan milliar. Atau mungkin lebih baik bank tersebut memberikan 100 Miliar karena Lord Unknown menjadi tamu kami kemarin. Tetapi kami tidak terlalu tertarik.” Ayah Agis berkata dengan cukup sinis. Dia membiarkan sang tamu berdiri di depan pintu. Masalahnya, tamu tersebut benar-benar tidak ingin masuk yang membuat ayah Agis sendiri merasa cukup kesal.
“Ayah, Lord Unknown kembali membounty kepala dewan keamanan? Seharusnya kau bisa mendapatkan 100 Milliar lebih untuk kami.” Ledek Emerald yang cukup malas dengan kedua orang tuanya.
Helen tersenyum dan menyambut dengan cukup hangat. Akan tetapi, balasan dari pria bersetelan jas sebenarnya membuat Agis yang membawa peti emas sendiri merasa cukup kesal. Karena, jika ingin bertamu setidaknya harus mengetahui sebuah sopan santun.
“Tuan, Anda bisa masuk. Dan, ada perlu apa Anda mencari saya?” Tanya Helen yang menatap pria tersebut.
“Tidak perlu, aku menuju ke sini hanya untuk mengambil sesuatu yang ditugaskan oleh petinggi dunia.” Pria tersebut mengangkat telapak tangannya, menyentuhkan ibu jarinya dan jari tengahnya sambil melanjutkan ucapannya. “Sebelum semuanya terlambat, keturunan penyihir kuno.”