
“Craaakk!”
Yonathan terkejut, dia mengalami rasa sakit yang luar biasa pada bagian tengkuknya. Tubuhnya bergetar saat menerima sebuah serangan tiba-tiba. Tapi yang menjadi pertanyaan, dari siapa serangan itu?
Siapa yang menyangka, dia melihat tangan Rolland yang ada di sampingnya bergerak ke arah tengkuknya dan menyerangnya menggunakan pecahan beling sisa botol yang pecah tadi. Dia benar-benar tidak menyadari, apalagi posisinya tengah berjongkok dan menggeledah celana jeans milik Rolland untuk mencari smartphonya.
Yang mana itu menjadi kesempatan bagi Rolland. Lebih tepatnya Rolland hanya berpura-pura pingsan. Pecahan botol masih dia pegang tadi meskipun dia memegang pucuknya, sedangkan sisanya sudah hancur lebur untuk menahan serangan Yonathan.
Rolland membuka matanya lebar-lebar dan mengatur napas. Dia bisa melihat bahwa ayahnya bergetar hebat saat menerima serangan seperti itu. Tidak menyia-nyiakan waktu, dia menarik tangannya hingga pecahan beling itu merobek leher Yonathan hingga ke samping.
Darah berkucuran dengan cukup deras. Yonathan berteriak sambil menarik tangan Rolland agar tidak melukai lehernya lagi. Dia berteriak bagaikan orang gila sambil menyentuh leher sampingnya yang sobek dan terluka lebar, dan bersimbah darah.
Lantai yang berwarna marmer putih, kini harus banjir darah milik Yonathan. Wajahnya sangat jelek dengan melampiaskan rasa sakit dengan sebuah teriakan. Tapi, Rolland tidak peduli. Dia memegang erat pecahan beling meski harus membuat tangannya terluka sekalipun.
Apa yang dia lakukan adalah, menusukkan pecahan beling bekas botol yang dia pegang tadi tepat pada dagu ayahnya. Yang membuat darah segar muncrat kemana-mana. Bahkan ke wajah Rolalnd sekalipun.
Dia tidak peduli di hadapannya adalah ayahnya. Ayah mana yang begitu kejam kepada putranya sendiri? Istilah itu tidak berlaku pada Rolland. Tiap hari dia mendapatkan perlakuan buruk dari ayahnya. Membuat dia muak dan ingin sekali membunuh Yonathan itu.
Hingga, pada hari ini, setelah dia bertarung mati-matian melawan ayahnya, dia berhasil membunuh ayahnya. Suatu kebanggaan baginya, apalagi tanpa menggunakan elemental yang membuat dia merasa cukup hebat.
Rolland melemparkan beling dari tangannya. Perlahan, ayahnya jatuh di atas genangan darah yang membuat Rolland sendiri sebenarnya ingin muntah. Karena ini adalah kali pertamanya membunuh seseorang yang mana berhubungan dengan sebuah darah, atau lebih tepatnya membunuh di hadapannya langsung.
“Aku telah menjadi tersangka? sepertinya.” Tanyanya pada dirinya sendiri dan dia jawab sendiri. “Para pembantu milik Yonathan pasti mengetahui bahwa aku yang membunuhnya. Karena sebelumnya aku bertarung dengan ayah yanng mereka lihat.”
“Tapi itu bukan apa-apanya dibandingkan dengan Theon dan juga Rena yang telah menjadi buronan internasional.” Rolland mengambil smartphone di saku celananya. Dia tidak tahu apa yang terjadi apabila smartphonenya berada di tangan ayahnya. Yang mana kemungkinan dia akan mendapatkan `1500 Trilliun mata uang Ziosam.
“Nona Rena, kau berada di mana? Aku mencoba menelpon menggunakan nomor Theon, tapi nomornya seolah tidak berfungsi.” Kata Rolland dengan sikapnya yang begitu tetap.
......
“Akhh Rolland. Kau ingin 100 Miliiar mata uang Ziosam ternyata.” Rena mengangkat ujung bibirnya. Di dengar pula oleh Theon yang bersantai di atas kasur. Dan Theon masih membiarkannya.
“Tidak!” Sahut Rolland. “ Kemungkinan aku telah menjadi buronan kali ini, karena telah membunuh ayahku. Katakan dimana dirimu yang bisa-bisanya berada di tempat paling aman di dunia. Bukankah kau menjadi buronan internasional? Aku akan ikut bersembunyi denganmu!”
Theon yang mendengar itu, dia melompat dari kasur dan menyahut smartphone milik Rena. “Jadi kau melakukannya dengan pamrih? Coba tebak, aku berada di mana. Puncak Jayapura? Gurun sahara? Antartika? Samudra pasifik? Amazon? Atau mungkin bulan? Bisa kau jawab Mars juga, itupun jika benar.”
“Aku mohon bantu aku!” Rolland menarik napas dengan sesak. Baru kali ini dia memohon kepada Theon. “Aku berjanji akan melakukan apapun yang kau mau, meski melawan dunia sekalipun.”
Theon berdecak, kenapa bisa menjadi seperti ini? dia berpikiran seperti itu. Meski menurutnya Rolland benar-benar berlebihan. Hanya karena dia membunuh ayahnya, dia takut menjadi seorang buronan negara. Padahal jika dipikir-pikir, aparat tidak memiliki waktu untuk mengurus Rolland karena keadaan negara berada dalam genting-gentingnya. Tapi, dia sama sekali tidak menolak apa yang Rolland inginkan.
“Tunggu di tempat. Aku akan meminta seseorang untuk menjemputmu untuk membawamu di tempat aman. Tapi tidak bersamaku! Karena aku berada di ..... akh aku sama sekali tidak mempercayaimu sepenuhnya. Intinya kau berada di tempat aman, tetapi tidak bersamaku.”
“Terimakasih! Aku kini sudah tidak bisa apa-apa. Sihir ku tidak keluar setelah ayahku menyerang pada bagian perut.” Jawab Rolland yang juga menceritakan masalahnya.
Theon yang mendengar itu, sepertinya Rolland memang dalam masalah. Napasnya terengah-engah juga membuat Theon cukup yakin bahwa Rolland baru saja bertarung mati-matian. Elemental seednya sepertinya juga terhambat karena ayahnya menyerang pada bagian vital atau titik orka. Sehingga, Theon menjawab, “Gunakan posisi bertapa, tarik napas dengan cepat dan keluarkan secara bertahan. Lakukan secara berulang kali.” Katanya terakhir, yang kemudian dia menutup telepon itu karena dianggap tidak terlalu berguna di dalam hidupnya.
Rolland menghela napas lega. Apa yang dia lakukan adalah duduk bersila dan meletakkan smartphone nya terlebih dahulu. Mencoba melakukan apa yang Theon sarankan yaitu bertapa dan mengatur napas.
Siapa yang berpikir saat dia melakukan hal itu lagi, dia merasakan semilir angin seolah bergerak di sekitarnya. Rasanya sangat nikmat seolah angin itu menembus pori-pori. Padahal, dia berada di ruangan tertutup. Ac rumah juga rusak karena pertarungan besarnya dengan ayahnya.
.....
“Yaah, dia berada di Agrabinta. Baru saja membunuh ayahnya. Bawa dia ke tempat aman agar tidak menjadi kejaran polisi. Meski sebenarnya polisi benar-benar tidak ada waktu untuk mengurusnya.” Ucap Theon ketika dia menelpon Roney, yang mana dia mulai setelah menelepon Rolland.
Sebenarnya Theon tidak terlalu peduli dengan Rolland. Apalagi Rolland adalah sosok yang merundungnya ketika dia berada di sekolah menengah atas. Tetapi Theon sendiri juga masih memiliki hati dengan Rolland. Setidaknya Rolland pernah menjadi teman sekolah dasarnya.
“Baik tuan, aku akan melakukannya sekarang juga.” Jawab Roney dalam teleponnya yang kemudian Theon menutupnya.
Di sisi lain, Roney langsung menghubungi bawahannya untuk menjemput seseorang yang bernama Rolland, sosok keluarga Jark atau orang terkaya di Agrabinta. Sekaligus, dia meminta seseorang di sana untuk mengurus mayat Rolland secara cepat sebelum ada warga yang melihatnya.
Kemudian setelah Roney menghubungi seseorang, dia menghubungi nomor yang tidak dia simpan. Dia memencetnya sendiri satu persatu nomor di telepon smartphonenya.
“Ini militer New Santara? Anak yang bernama Theon itu berada di hotelku yang berada di Ziosam. Aku memiliki bukti yang jelas seperti rekaman telepon. Dan, 1500 Triliun itu bisa kau kirimkan menuju rekeningku sekarang juga.” Roney mengangkat ujung bibirnya.