
Suara pintu kelas terbuka, Rena masuk dengan tergesa-gesa memenuhi apa yang ditulis di atas kertas kepadanya. Namun tampaknya, Theon tidak menyambutnya dengan sangat baik. Bagaimana tidak, dia melemparkan kedua elemen tersebut kepada Rena.
Secara spontan, Rena menggertakkan giginya sambil mengeluarkan elemen kegelapan. Namun, elemen air dan api milik Theon tampak begitu kuat, sehingga membuat ledakan elemen kegelapan milik Rena kalah. Sehingga, kedua elemen Theon menerjang menuju di kepala Rena.
Rena memejamkan matanya, tetapi sesaat kemudian, dia tidak merasakan adanya sebuah serangan yang terjadi padanya. Sehingga, dirinya membuka matanya dan melihat bahwa elemen air dan api terhenti tepat di depan matanya.
Theon menarik kedua elemen tersebut. Dia tidak ingin Rena terluka karena Rena adalah sosok yang paling penting baginya. Sehingga apa yang dilakukan Theon tadi adalah hanya mengetes kemampuan Rena saja.
Dengan wajah yang begitu buruk seolah penuh emosi, dia menghampiri Theon. Seketika sebuah suara tamparan terdengar begitu keras memenuhi sudut kelas ini. Theon yang menerimanya, membuat wajahnya langsung terpaling dari hadapan Rena.
“Kau memintaku ke sini hanya untuk memamerkan kekuatan yang baru saja kau dapatkan? Apa kau tidak ingat perkataanku dua hari yang lalu?” Rena berkata dengan penuh amarah.
Theon menyentuh pipinya sendiri usai ditampar Rena. Benar-benar menyakitkan apabila diberikan oleh seorang wanita. Tatapan Theon juga tampak begitu datar tanpa berekspresi apapun. “Rena yang sebelumnya telah mati karena kecelakaan. Aku benar?”
“Apa maksudmu? Aku adalah Rena. Theon apakah kau sudah gila?”
“Aku ingin bercerita sejenak.” Theon berbalik badan dan menghampiri kaca jendela kelas. Dia bisa melihat kota dari lantai tiga dengan begitu jelas. "Sebenarnya Theon Alzma juga telah tiada. Dia telah mati meninggalkan jasad ini seperti Rena meninggalkan jasadmu.”
“Kita memiliki perubahan sifat yang signifikan. Theon yang sebelumnya memiliki sifat feminin, Rena yang sebelumnya memiliki sifat yang lemah lembut. Kemudian, kau tahu sendiri bahwa tidak ada kekuatan elemental kegelapan di dunia ini, kau juga mengatakan bahwa tempatmu sebenarnya juga tidak berada di sini.”
“Bisakah kau langsung pada intinya saja? Aku benar-benar tidak mengerti perkataanmu yang berbelit-belit. Jika tidak, aku akan pergi dari sini.” Kata Rena dengan nada yang cukup tinggi.
“Sialan, Kau membawa penguntit Rena?” Theon langsung membuka jendela kelas dengan cukup lebar. Masalahnya, Ali dan Lesha berjalan menuju ke sini dengan tergesa-gesa, mungkin karena sebelumnya mengikuti Rena. Hanya kemungkinan.
“Ada apa?” Rena menoleh ke belakang lebih tepatnya pada pintu kelas yang terbuka lebar. Namun, yang menjadi pertanyaan, bagaimana Theon tahu ada orang yang menuju ke sini.
Tanpa berpikir lama, Theon langsung menggendong Rena menggunakan kedua tangannya dan meloncat melalui jendela yang tingginya bermeter-meter. Masalahnya, Theon berada di lantai tiga, sehingga sebenarnya meloncat adalah hal yang begitu bodoh.
“Bodoh! Apa kau ingin membawaku mati? Lepaskan aku!” Rena mencoba memberontak dari gendongan Theon di saat Theon terjatuh. Namun, siapa yang menyangka di punggung Theon mengeluarkan sayap berapi yang kemudian dia kepakkan ke bawah. Sehingga, Theon yang menggendong Rena, dia bisa terbang bagaikan seekor burung.
Theon berniat untuk pulang secara langsung ke rumahnya, karena itulah tempat teraman yang bisa digunakan untuk mengungkapkan siapa itu Rena. Masalahnya, terbang seperti ini begitu merepotkan karena bisa dipantau dari daratan dan langit oleh manusia modern.
“Gunakan gerakan bayangan Rena, bergerak ke rumahku!” Tegas Theon.
Sebagai manusia biasa, seharusnya Rena akan ketakutan apabila terbang seperti ini. Namun, siapa yang menyangka dirinya seolah tidak memiliki ketakutan sama sekali yang membuat Theon yakin siapa itu Rena sebenarnya.
“Kau percaya atau tidak, itu kemampuan Byakko. Aku terbang menggunakan kemampuan Seiryu. Cepat bodoh! Apakah kau ingin di tembak oleh drone modern?” Theon berkata dengan nada tinggi diantara terjangan udara di atas langit.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Theon, Rena benar-benar kaget. Namun, dia tidak memiliki waktu untuk memikirkannya sekarang juga karena apa yang dikatakan oleh Theon ada benarnya. Bahwa apabila ada benda asing yang terbang setinggi pesawat, maka akan mendapatkan sebuah masalah yang serius.
Sehingga Rena menyentuh kedua lengan Theon yang menggendongnya. Dia mentransfer energi kegelapan kepada Theon agar Theon dan dirinya bisa bergerak secepat bayangan, yang mana kecepatannya hampir sama dengan kecepatan cahaya. Sehingga, Theon dan Rena berubah menjadi sebuah bayangan yang bergerak secepat kilat.
Kini, Theon sudah berada di depan rumahnya sambil menurunkan Rena. Tanpa berpikir panjang, Theon langsung menarik tangan Rena untuk masuk ke dalam rumahnya sebelum ada sesiapapun yang tahu.
“Siapa kau sebenarnya, mengapa kau tahu siapa itu Byakko dan Seiryu?” tepat di dalam rumah Theon, Rena menatap dengan serius wajah Theon yang tampaknya berwajah serius pula. Sehingga, tampaknya, rumah ini seperti terdapat dua aura pekat yang saling berbenturan.
Theon mengangkat dagu Rena menggunakan tangannya, tampaknya apa yang dikatakan oleh Rena tadi benar bahwa dirinya harus mengatakan secara inti. Sehingga, dia harus menghela napas sambil berkata, “Kau belum mengerti juga? jadi kau masih belum mengenalku? Elzabeth?”
Bak disambar petir, Rena benar-benar terkejut bukan kepalang, matanya seolah keluar mendengar apa yang dikatakan oleh Theon. Masalahnya, bagaimana Theon bisa mengetahui nama aslinya? Bukankah Theon hanya manusia biasa? Seharusnya Theon tidak tahu itu semua. Namun, dia langsung mengerti dan bertekuk lutut di hadapan Theon, wajahnya yang kini terkejut berubah menjadi senang karena mengerti, siapa sosok yang ada di hadapannya, “Maafkan aku, pangeran Fang Theon. Aku tidak mengerti jika itu Anda.”
“Menyebalkan, berdirilah!” Theon mengangkat lengan Rena, lebih tepatnya Theon meminta Rena untuk berdiri. “Kau harus membantuku Elzabeth, aku kehilangan enam elemental karena terlempar di dunia ini sehingga aku perlu untuk membangkitkannya.”
“Bagaimana mungkin pangeran, aku tidak kehilangan elemental kegelapan sama sekali. Apa ada yang salah pada tubuh Anda? Begini saja, jika mau Anda, bisa mengambil elemental kegelapan dari diriku untuk menyegel pada tubuh Anda.” Rena atau Elzabeth menyangkal apa yang Theon katakan. Di sisi lain, dia juga cukup senang karena bisa dekat dengan Theon, meski wajah Theon berubah sekalipun.
“Kau tidak perlu melakukan itu, elemental seed keenam elemental itu masih ada, hanya saja rasanya seperti terhambat yang membuat energi elemental itu tidak bisa keluar. Sebenarnya ada tujuh, namun aku berhasil membangkitkan elemental air.” Theon mulai menjelaskan. “Jika aku sudah mendapatkan keenam elemental yang lain, maka kita akan kembali ke alam dewa.”
“Aku mengerti pange....” Rena tidak melanjutkan perkataannya, masalahnya telunjuk Theon menyentuh bibir Rena seolah tidak mengizinkan Rena berbicara.
“Panggil aku Theon seperti sebelumnya, kau paham? Aku akan tetap memanggilmu Rena dan bukan Elzabeth. Sehingga itu tidak akan membuat teman sekelas kita memandang aneh.” Theon berkata demikian sambil menarik tangannya kembali.
Rena tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya, “Secara Harafiah, dalam ingatanku, Rena menyukai Theon. Itu artinya ....”
“Terserah kau saja, yang paling penting tidak menghilangkan pandangan aneh teman sekelas. Lagipula kau juga begitu di alam dewa, meski sebenarnya aku juga belum peduli.” Sahut Theon.