The God in the Modern World

The God in the Modern World
Jangan lari Jean



“Mungkin terlihat keji, tapi aku juga akan membunuh adikmu agar rantai balas dendam putus.” Kata Theon dengan sangat dingin.


Jean menggertakkan giginya, dia memiliki adik kecil yang baru saja tertidur, namun kedatangan Theon serta pertarungannya membuat adiknya merengek menangis. Apa yang dia benar-benar benci sebenarnya ketika ibunya tidak membawa adiknya sehingga kini seolah menjadi tanggungannya. Yaah, untung saja ada pembantunya yang cukup baik.


Dia tahu bahwa Theon benar-benar kuat, dikepung oleh ratusan orang sekalipun membuat Theon tidak menghilangkan ketakutannya. Meskipun begitu, sampai detik ini, Jean benar-benar ingin mengalahkan Theon pasca Theon mengalahkannya di pesawat yang membuat dirinya seolah dipermalukan.


Belasan anggota berpedang memegang pedangnya kuat-kuat sambil turun melalui tangga, wajah mereka dipenuhi tekad untuk mempertahankan Jean dan adiknya agar tetap hidup meskipun diri mereka mati sekalipun.


Mereka semua langsung berlari tanpa mengeluarkan suara gema teriakan, meskipun sebenarnya tanpa berteriak sama sekali mereka benar-benar bersemangat dan tidak takut untuk menghadapi apa yang namanya sebuah kematian.


Theon mengangkat ujung bibirnya, kini dia seolah bertugas sebagai dewa kematian atau malaikat pencabut nyawa yang akan panen kematian. Menggenggam pedang yang dia ambil tadi dengan cukup erat, bahkan Rena yang ada di sampingnya bersiap untuk mengeluarkan bela diri serta kekuatan elemental yang sangat mengerikan bagi orang bumi.


Suara sayatan pedang terdengar ketika Theon memainkan sebuah pedang yang dia pedang dengan cukup baik. Semua serangan dari beberapa orang, Theon bisa menghindarinya dengan cukup gesit. Walaupun, dengan kemampuan pedang begini, Theon kesulitan untuk melukai lawannya.


Sulit, bukan berarti tidak bisa, sesekali Theon juga menahan salah satu tangan pengguna pedang dan memotongnya dengan cukup kuat dan mengerikan. Bahkan, potongan tangan yang masih memegang sebuah pedang dia lemparkan kepada Rena agar Rena sendiri bisa bertarung menggunakan sebuah pedang.


Apa yang Rena lakukan adalah menangkap tangan tersebut yang bercucuran dengan darah, memisahkannya dengan pedang yang tergenggam, sehingga kini Rena memegang sebuah pedang dan menebaskannya ke arah depan dengan cukup kuat. Mungkin seseorang melihat apa yang dilakukan Theon barusan, orang tersebut akan muntah darah. Lagipula, orang keji mana yang jijik ketika memegang pergelangan tangan seseorang?


Melihat Jean yang hendak lari, Theon merasa cukup geram, pedang yang dia pegang mengeluarkan sebuah elemental api dengan kobaran yang cukup tebal. Kemudian, dia membenturkannya di atas lantai yang membuat sebuah energi panas kuat muncul dan membuat mafia berpedang terlempar.


“Jangan lari Jean!”


Jean berhenti, dia berbalik badan sambil mengayunkan tangannya, sehingga sebuah ledakan elemental petir menyambar Theon. Mengarah ke arah Theon sesuai alunan tangan Jean, seolah Jean sendiri sudah bertekad untuk melawan Theon. Dia sebenarnya bisa lari keluar sekarang juga, tapi mengingat bahwa adiknya masih berada di lantai atas.


Tapi, siapa yang menyangka bahwa sambaran petir itu bisa dipegang Theon dengan cukup mudah, bahkan tanpa perantara seperti sarung tangan karet atau bahan isolator yang dapat menahan kekuatan elemental petir. Tentu hal tersebut cukup membuat Jean membuka matanya, melihat sesuatu hal yang mustahil dilakukan oleh para elementalist.


Takut dirinya tersengat oleh sambarannya sendiri, Jean melepaskannya, mengeluarkannya lagi dari kedua tangannya untuk melawan Theon yang sudah tidak berekspresi sama sekali.


Mungkin Jean berpikiran, bahwa kekuatan yang dia keluarkan secara terus menerus akan membuat Theon kewalahan. Tapi, dia benar-benar salah, tak ada satupun kekuatan elemental petir milik Jean yang mengenai Theon, seolah ketika hendak mengenai Theon, petir yang dia sambarkan meleset.


“Tidak, jangan!” Jean berteriak, mencoba untuk menghindari pertarungan dengan Theon dan menahan Rena yang sudah mulai untuk naik anak tangga menuju lantai atas.


Sayangnya, nasib Jean sungguh sial, Theon bergerak dengan cepat dan melakukan sebuah serangan telak kepada Jean. Membuat Jean langsung terlempar, di atas lantai dan menabrak sebuah perabotan di rumahnya. Wajahnya benar-benar sangat emosi bahkan terlihat berwarna merah.


Theon bahkan bisa melihat bahwa kedua tangan Jean mengeluarkan sebuah elemen api dan juga petir. Bersamaan dengan itu, Theon langsung mengeluarkan elemental petir pula di tangannya dan melepaskannya ke arah Jean yang sudah berdiri dan berlari ke arahnya.


“Kesalahan terbesarmu ketika kau turun Jean.”


Namun, Jean bisa menghindar sambaran elemental petir milik Theon dengan cukup baik, kini dia sudah berada di hadapan mata Theon sambil mengayunkan kepalan tangan yang terbakar dengan cukup besar, bahkan kobarannya bisa menutup wajah Theon.


Theon tidak selemah itu, apalagi melawan manusia rendahan seperti Jean. Pukulan Jean memang berapi, tapi Theon bisa menahannya dengan cukup mudah menggunakan tangan kirinya, kemudian ujung pedang atau gagang pedang yang masih digenggam Theon sendiri dia pukulkan pada punggung Jean.


Tampaknya, Jean sendiri tidak membiarkan hal tersebut terjadi, dia langsung memutar tangannya sehingga menciptakan sebuah bor api. Tentu hal tersebut membuat tangan Theon yang menahan tangan Jean terluka dengan dirinya yang terdorong ke belakang.


Jean tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia langsung kedua tangannya ke depan sehingga mengeluarkan sebuah kobaran api berbentuk wajah skeleton menyerang Theon yang masih memposisikan diri.


Siapa yang menyangka, bahwa Theon masih tidak begitu panik, wajah Skeleton berapi itu berhenti di depan Theon ketika Theon mengulurkan tangannya, bahkan ketika Theon mengayunkan tangannya ke bawah, wajah skeleton berapi itu hancur membentur lantai sehingga membuat sebuah kobaran yang menyebar di atas lantai.


Lantas, Theon langsung bergerak secepat kilat di depan Jean secara langsung, tanpa berpikir panjang, Theon mengangkat pedangnya dan menebaskannya tepat pada lengan Jean. Namun, Jean sempat mengeluarkan elemental petir pada telapak tangannya dan langsung mendorongnya pada leher Theon.


Theon mengurungkan niatnya untuk memotong lengan Jean, secara cepat, tangan kirinya juga mengeluarkan sebuah elemental petir dan menangkap tangan Jean ketika sudah beberapa inchi hampir memotong leher Theon. Alhasil, dengan kekuatan petir yang tidak terlalu kuat milik Theon, membuat Jean jatuh tak berdaya karena tegangan itu sendiri.


Jean tidak menyerah, napasnya terengah-engah menandakan bahwa dirinya sudah hampir dikalahkan. Theon juga sudah bersiap untuk mengayunkan pedangnya, bersiap untuk memenggal kepala Jean. Tidak, Theon masih belum memiliki niatan untuk membunuh Jean karena dia harus melakukan sesuatu yang sangat licik terlebih dahulu.


Hanya saja, Theon langsung mundur sejauh beberapa meter ketika tubuh Jean terbakar. Tampaknya, Jean masih belum menyerah dengan menggunakan teknik kemampuan yang dia miliki. Dia juga berusaha berdiri di depan Theon, tersenyum licik sambil membakar dirinya yang mana itu bagian dari kekuatannya.


“Kau pikir aku takut?” Tanya Theon mengangkat alisnya, kemudian dia mengulurkan tangannya ke arah Jean yang bersiap untuk mengamuk. Dan, tentunya seketika api di tubuh Jean menjadi padam, memperlihatkan tubuhnya sama seperti semula.