
Kediaman dua bersaudara.
Mereka turun dari mobil, dengan pandangan yang cukup memanjakan mata. Kondisi kediaman benar-benar sangat hijau meski rumahnya benar-benar sangat besar. Setidaknya seperti sebuah istana yang mungkin diisi oleh beberapa anggota keluarga dalam satu marga.
Theon cukup tertegun, hanya saja mereka langsung mengikuti kemana perginya Agis untuk menemui neneknya Agis itu sendiri. Pasalnya, Theon cukup penasaran, tentang siapa sebenarnya avatar dewi rembulan yang lahir di negara New Santara. Sungguh kebetulan sekali, jika Theon tidak berada di sini, kemungkinan dirinya juga tidak akan tahu tentang keberadaan avatar dewi rembulan, meski sebenarnya jika dipikir-pikir itu akan membuang-buang materi dan juga tenaga.
Dia masuk ke dalam rumah bertingkat itu, keberadaanya menjadi sebuah pusat perhatian bagi beberapa keluarga milik Agis dan juga Emerald. Sayangnya, setelah Theon berbicara dengan Agis dan juga Emerald, mereka sama sekali tidak memiliki nama keluarga yang khas seperti Fang, atau mungkin Marza atau juga Shon. Lebih tepatnya seperti dari kalangan bawah di New Santara.
Mereka memiliki nama panjang yang berbeda-beda tanpa memiliki nama keluarga atau marga. Dan itu merupakan sesuatu hal yang cukup biasa di zaman modern ini. Karena mereka ingin menggunakan nama-nama yang cukup keren. Sebenarnya hal tersebut membuat Theon sendiri cukup kebingungan, apalagi Theon akan sulit untuk mengingat nama mereka jika menggunakan cara seperti itu.
“Kau membawa orang asing? Katakan bahwa kita sama sekali tidak menerima tuna wisma yang menumpang.” Kata seorang wanita paruh baya, yang kemungkinan dia merupakan sosok ibu Agis dan juga Emerald.
Mendengar perlakuan yang buruk, Theon terdiam sejenak. Apa yang dia pikirkan merupakan sebuah kesalahan terbesar bahwa sebenarnya Agis merupakan sosok yang begitu sopan. Keluarga Agis memperburuk penilaian Theon kepada Agis itu sendiri. Karena kemungkinan, Agis juga berpura-pura manis di awalan tadi.
“Kau ....” Rena sebenarya ingin menyahut, tapi Theon menahannya untuk menahan diri sejenak. Ini merupakan sebuah kediaman asing baginya, tak ada sosok yang dikenal bagi Theon dan Rena itu sendiri. Sehingga, Theon memutuskan untuk tidak mengambil langkah terlebih dahulu.
“Aku tidak berbicara denganmu ibu, aku hanya ingin berbicara dengan nenek.” Sahut Agis membalas perkataan ibunya.
“Nenekmu ada di belakang. Apakah kau ingin mendengarkan dongeng tua bangka itu lagi? Kau sudah dewasa, dan jangan dengarkan cerita dongeng yang tak pernah terwujud.” Kata ayah Agis tidak memperdulikan pandangannya kepada tamu yang seharusnya mereka sambut dengan baik.
Theon berpikir sejenak, bukankah itu artinya ayah Agis seperti tidak mempercayai hal mistis? Kenapa dia justru menganggap bahwa dongeng dari nenek Agis tidak pernah terwujud? Meski dia sebenarnya tidak tahu dongeng apakah itu, tapi Theon sedikit berspekulasi bahwa dongeng neneknya tentang menara dan juga avatar dewi rembulan.
Tapi, bagaimana bisa? Bukankah ketika seorang elementalist itu ada, maka hal diluar nalar bisa saja terjadi. Theon benar-benar menjadi habis pikir. Dia langsung mengikuti keamana perginya Agis dan juga Emerald.
Lalu, ketika dirasa Theon sudah jauh dari keluarga Agis, dia melontarkan beberapa pertanyaan yang membingungkan. “Ayahmu berbicara seperti itu, dia seperti menunjukkan bahwa dia bukanlah seorang elementalist.”
“Memang.” Sahut Agis.
Theon terkejut, bagaimana bisa? Bukankah jika ayahnya bukanlah seorang elementalist, maka kemungkinan dia juga tidak. Tapi mengapa Agis dan juga Emerald mengakui bahwa mereka memiliki dua elemen yaitu elemen api dan juga tanah? Dia mendadak menjadi pusing dan tidak mengerti bagaimana jalan pikirannya.
“Seharusnya kalian mengerti bahwa elemental selain faktor keturunan, merupakan sihir yang harus diajarkan bukan? Kakek nenek kami sama sekali merahasiakan apa yang namanya elemental kepada ayah kami. Hingga, siapa yang berpikir bahwa dia bekerja sebagai seorang aparat bagian devisi pemburu penyihir di dunia ini? dan itu sangat bertentangan dengan nenek dan kakek kami.”
Bagaikan musuh dalam selimut, itulah yang diceritakan oleh Agis. Kakek neneknya merupakan seorang elementalist, tapi mereka sama sekali tidak mengajarkan anaknya sihir elemetalist yang membuat ayah Agis dan Emerald sama sekali tidak memiliki elementalist. Dan, siapa yang menyangka, ketika ayah Agis dewasa, dia justru menjadi seorang aparat.
“Tapi ketika Emerald berusia sepuluh tahun, kakek kami justru mengajarkannya sihir elemental tanpa sepengetahuan ayah kami. Dan, ketika aku berusia sepuluh tahun, justru Emerald mengajarkanku sihir elemental, lagi-lagi tanpa sepengetahuan ayah kami. Bisa dibilang, kami sama sekali tidak pernah menggunakan elemental di depan ayah.” Agis menjawab.
Lalu disambung oleh Emerald. “Bahkan Lord Unknown dari negara kalian yang menggemparkan dunia muncul dan mengatakan semuanya, kami belum menunjukkan semuanya kepada ayah kami. Seolah masih bersifat rahasia.”
“Nenek kami selalu menegaskan kepada ayah kami, bahwa seharusnya dia tidak terlalu menghina apa yang namanya sihir. Jangan terlalu meremehkan apa yang namanya sihir. Bahkan ketika ayah kami sudah menjadi aparat, nenek kami selalu menegaskan bahwa sihir itu ada tanpa dia menunjukkan sihir miliknya sendiri kepada ayah kami.” Sambung Agis.
Memang, kemudian Emerald menegaskan bahwa ayah mereka selalu memergoki bahwa mereka benar-benar senang mendengar cerita yang menurut ayah mereka adalah sebuah dongeng, yaitu tentang menara penghubung, serta avatar dewi rembulan itu sendiri. Bahkan, ketika mereka remaja, mereka juga sering mendengarkan itu semuanya.
Meski gemar sekali bercerita hal-hal di luar nalar, nenek mereka dan mereka sendiri sama sekali tidak pernah menunjukkan elemental kepada ayah Agis dan juga Emerald. Sehingga, ayah Agis masih memaklumi apa yang nenek Agis ceritakan, karena itu wajar bagi tua bangka.
Selain itu, ayah Agis kini sudah tahu tentang sihir elemental. Hanya sekedar sihir tersebut, tapi tidak percaya tentang cerita-cerita nenek Agis. Bahkan mitologi Yunani itu sendiri, ayah Agis sama sekali tidak mempercayainya dan menganggap bahwa itu hanyalah sebuah omong kosong belaka.
Dan mengapa dia semenjak tadi hanya menceritakan neneknya? Padahal di awal Theon cukup yakin bahwa Agis menceritakan tentang kakeknya pula. Dan itu karena, kakek Agis tidak bisa hidup sampai saat ini, lebih tepatnya meninggal meninggalkan istri dan anak cucunya.
“Sekarang kau mengerti bukan, mengapa ayah kami seperti itu?” Kata Agis.
Sudah cukup jauh Theon berjalan, padahal ini merupakan sebuah rumah. Tapi jaraknya tak dapat dipikirkan berapa jarak yang sebenarnya. Hanya saja, Theon menyadari, bahwa Agis berhenti tepat dalam sebuah pintu, yang mana ketika dia membukanya terdapat sebuah ruangan yang sedikit lebih sederhana. Seperti tidak berlantai marmer dan dinding cat berwarna.
“Ini adalah ruangan milik nenekku. Ayahku membangunkannya secara khusus, seperti pelayan sendiri, kamar mandi sendiri, kamar sendiri, ruang sendiri. Meski sebenarnya ayahku bisa membuatkan rumah yang cukup besar, tapi sebenarnya nenekku enggan. Dia hanya meminta ruangan pribadi, walaupun itu mengakibatkan dirinya dalam kesepian.” Timpa Emerald.
“Nenek, aku membawa sebuah kejutan.” Teriak Agis dengan sedikit menahan suaranya.