
Mereka kini kembali menuju hotel, untuk berisitirahat dan merasa sudah sangat cukup untuk hari ini. Pengalaman yang mengerikan, mereka tidak ingin melihatnya kembali, sehingga membuat semua teman sekelas Theon memutuskan untuk mengakhiri momen terakhir. Tidak ada foto kebersamaan, bukanlah sebuah masalah. Yang ada sebuah ketakutan, syok dan rasa yang bergetar menembus tulang mereka.
Mereka baru saja dihadapkan seorang penguasa ratu laut selatan meski tidak dalam wujudnya langsung, melainkan menggunakan jasad Aura sebagai sebuah wadah. Mereka ingin menangis sebenarnya, ingin pulang dan mencoba untuk menelpon ayah mereka.
“Jujur, apa yang kau perbuat Theon? Kau hampir membunuh kami semua.” Rolland berkata dengan nada yang cukup tinggi.
Aura yang tahu, dia menundukkan kepalanya dan tidak ingin mengatakan apa-apa tentang perbutan Theon dan Rena yang mampu membuat Kadita marah. Dia tidak ingin Theon membunuhnya karena dia memberitahukan perbuatanya kepada Aura.
Theon menggelengkan kepala dan tidak memberitahukan terus terang. Lagipula, orang mana yang ingin memberitahukan dirinya baru saja melakukan suatu hubungan badan kepada temannya kecuali seseorang yang tidak memiliki rasa malu? Meski begitu, Theon masih memiliki rasa malu, sehingga dia tidak menjawab apa yang Rolland tanyakan.
Begitupun Rena, pipi nya benar-benar memerah ketika mengingat kejadian semalam. Entah apa yang dia pikirkan sampai-sampai melakukan sebuah hubungan bagaikan sepasang suami istri dengan Theon. Padahal, dirinya saja baru lulus SMA, tapi sudah berani melakukan hal yang tidak-tidak. Selain itu, dia juga merasa sangat bodoh, karena Rena Shon adalah wanita yang benar-benar pendiam, tapi Elzabeth kini membuatnya menjadi wanita pertama yang telah rusak di kelasnya. Mungkin.
Meski begitu, dia merasa bahwa dirinya telah dirusak, dia yakin bahwa Theon akan berpegang teguh kepada dirinya. Saling cinta melakukan hal tersebut merupakan suatu hal yang wajar, sehingga tidak ada salahnya melakukan hal tersebut. Apalagi, di dunia modern sudah meninggalkan sebuah adat istiadat, yang mana hubungan seperti itu bukanlah hal yang begitu tabu.
Ketika mereka memasuki hotel kembali, keadaan benar-benar sangat sepi, seperti sebuah keadaan sintrum yang mengeluarkan sebuah aura yang begitu mengerikan. Tidak hanya Theon, tapi semua teman sekelasnya merasakan bahwa hotel ini seperti terkesan angker, tidak ada pelayan sama sekali yang membuat mereka merasa bahwa apa yang dikatakan Ali ada benarnya.
“Ali, aku harap apa yang kau pikirkan tidak menjadi kenyataan. Kami sudah dihantui oleh sebuah ketakutan, jadi aku harap itu tidak nyata.” Kata salah satu temannya yang berdebar ketakutan. Ketakutan yang sebelumnya muncul karena kemunculan Kadita, harus ditambah dengan sebuah gedung yang tiba-tiba mendadak menjadi kosong.
Theon menganggukkan kepalanya mengerti tentang ucapan Kiba yang tidak didengar oleh teman-teman sekelasnya. Bahwa hal ini terjadi karena semua pelayan telah tebunuh, intinya yang memiliki sebuah pekerjaan dengan pesisir laut selatan ini. “Jika kalian merasa cukup takut, maka kalian bisa kembali ke kamar untuk bersiap untuk pulang. Anggap saja ini sebagai sebuah pelajaran bagi kalian dariku. Aku masih baik tidak membunuh kalian semua hari ini.” Kata Theon dengan cukup dingin sambil menaikkan kepalanya.
Dia tahu bahwa Theon Alzma sebenarnya masih terluka secara mental, sehingga membuat Theon sendiri harus memberikan mereka sebuah pelajaran. Sebagian, apa yang dia perbuat hari ini adalah untuk merusak mental yang membuat mereka tidak begitu berdaya. Sebenarnya, dia bisa membiarkan Kadita mengamuk hingga teman-teman Theon menjadi korban, tapi dia masih menghargai apa yang Theon Alzma pikirkan bahwa membunuh teman sendiri bukanlah hal yang cukup baik.
Mereka semua menatap Theon dengan penuh ketakutan. Apa yang telah mereka perbuat selama ini sehingga membuat Theon mampu membuat mereka hampir terbunuh, jika bukan Theon yang masih memiliki hati, dia pasti akan membiarkan Kadita mengamuk dan membunuh mereka.
“Maafkan mereka Theon. Aku baru mengerti bahwa kau sebenarnya ingin melampiaskan dendam dengan membuat sebuah ulah.” Ali menundukkan kepalanya.
Theon tersenyum dan menggarukkan kepalanya. “Tidak juga sebenarnya, aku hanya ingin bertarung dengan Kadita tanpa melibatkan kalian sedikitpun. Meskipun ada rasa sedikit untuk balas dendam. Kembalilah ke kamarmu, dan bersiaplah untuk pulang. Jangan katakan kepada mereka bahwa Aura sebenarnya membunuh semua orang yang ada di wilayah ini.” Kata Theon tanpa meninggalkan sebuah kebohongan dari pelupuk matanya. Kepada Ali, dia cukup serius bahwa Aura yang dirasuki Kadita tengah membunuh semua orang yang ada di sini untuk mengumpulkan sebuah kekuatan.
Hal tersebut membuat suasana terpecah. Ali yang sebelumnya sedikit mengendalikan diri bahwa apa yang dia harapkan bahwa ucapannya adalah sebuah kebohongan. Dia benar-benar terkejut bukan kepalang. Wajahnya menjadi seputih kertas saat mendengar bahwa Theon mengatakan sesuatu hal yaitu Aura membunuh semua orang yang ada di wilayah ini.
Dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata, berbalik badan untuk segera pergi menuju kamarnya serta memberitahu semua temannya untuk segera pergi dari wilayah ini.
“Benarkah apa yang Anda katakan pangeran?” Rena mengerutkan dahinya. Sebenarnya dia cukup terkejut saat mendengar bahwa Aura yang dirasuki Kadita membunuh semua orang yang ada di sini.
“Ikut aku.” Kata Theon sambil menarik pergelangan tangan Rena.
......
Theon akhirnya berada disebuah pintu yang terhubung dengan ruangan bawah tanah. Lebih tepatnya gudang bawah tanah. Dengan penuh keberanian, dia membuka pintu tersebut dan mencium sebuah bau anyir darah yang tak karuan. Tempat yang begitu gelap membuat suasana yang begitu mencengkam, hanya saja membuat Theon semakin membernaikan diri untuk menuju ke lantai bawah.
“Saat kita, emm bagaimana menyebutnya.” Theon berkata dengan cukup samar sambil mengangkat telapak tangannya. “Kadita telah merasuki Aura yan tengah menguping perbuatan kita. Untuk mengumpulkan kekuatan bagi Aura sendiri, Kadita mencoba untuk membunuh seseorang. Tapi, aku sama sekali tidak begitu mengerti mengapa Kadita tidak membunuh teman sekelas mereka.” Keadaan yang semakin gelap, mereka juga sudah sampai menuju dasar lantai yang membuat Theon mengeluarkan sebuah bola api dari tangannya.
Seketika pemandangan mengerikan terlihat, tumpukan mayat yang mungkin masih segar terlihat begitu samar. Mungkin karena hanya mengandalkan perapian sebagai penerangan, membuat mereka tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi mereka sudah memastikan bahwa di ruangan bawah tanah ini berisi mayat-mayat yang merupakan semua orang di wilayah ini.
Mereka berdua tidak begitu syok melihat mayat yang mengenaskan. Pandangan seperti ini sudah biasa bagi mereka. Apa yang justru dilakukan Theon adalah, menimbun tumpukan mayat itu dengan tanah-tanah yang dia ciptakan di tempat untuk mengubur mereka di ruangan bawah tanah ini.