
Theon menjadi ragu ketika dirinya mendengar seruan dari Rena. Berpikir sejenak, dan mencerna bahwa apa yang dikatakan Rena ada benarnya bahwa jika dia menebaskannya kemungkinan terbesar dinding tersebut juga akan memantulkan tebasan yang lebih kuat pula. Tapi.... apa salahnya mencoba? Itulah yang dipikirkan oleh Theon, rasa penasarannya terus menghantuinya jika dia tidak mencoba.
Sehingga, tanpa menghiraukan perkataan Rena, Theon langsung menebaskan Fire Sword, hingga memunculkan sebuah tebasan dengan elemen api berbentuk bulan sabit yang cukup besar.
Dan yang benar saja, ketika tebasan itu menghantam dinding, dinding tersebut seolah mengembalikan apa yang Theon berikan. Serangan dari tebasan pedang Theon terpantul lagi dan menyerang Theon yang ada di hadapan dinding tersebut.
Tentunya, dengan sigap, Theon bergerak ke samping untuk menghindari sebuah tebasan yang dipantulkan. Sehingga, serangan tersebut melewati Theon dengan cukup mudah tanpa melukai Theon sedikitpun. Karena, wajar saja, Theon melepasn tebasan tidak terlalu cepat, sehingga serangan yang dipantulkan juga tidak terlalu cepat, meskipun secara harafiah lebih cepat daripada tadi.
Rena yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala, dia tidak tahu bagaimana jadinya jika Theon terkena serangannya sendiri yang membuat hal tersebut menjadi suatu kecerobohan. Untung saja, dia adalah seorang pangeran yang bisa memikirkan dampaknya ketika dia melakukan sesuatu, sehingga pantulan serangan itu tadi bisa di hindari dengan mudah.
“Tuan, kau membunuh orang.” Kata Rena dengan tatapan kosong sambil menoleh ke belakang. Tampaknya, pantulan tebasan Theon tadi memang berhasil ia hindari, hanya saja ternyata jalur labirin sudah berubah secara tiba-tiba dengan ada orang lain yang muncul, padahal sebelumnya tidak ada orang sama sekali. Dan, tentu saja, pantulan itu mengenai orang tersebut. “Satu, dua, tiga. Sekitar lima orang. Bagaimana ini?” Tanya Rena tanpa panik sama sekali, hanya saja dia benar-benar kebingungan.
“Biarkan saja, lagipula yang membunuh adalah dinding ini. Dan, aku sama sekali tidak peduli.” Kata Theon dengan datar. Lagipula, orang-orang seperti dirinya, yang memiliki kekuatan elementalist ternyata mempunyai kesombongan yang luar biasa. Bahkan seperti yang dia temui, Rolland, Jean Skelet, Starllet Scot dan Vynh. Tak jauh beda. Jadi, kemungkinan mereka juga seperti itu.
Rena tidak habis pikir, dia menghela napas sambil mencoba untuk bersandar di dinding yang ada di sampingnya. Tapi, siapa yang menyangka bahwa dirinya tiba-tiba terjatuh dan menyadari bahwa dinding yang hendak dia sandari berubah menjadi lorong labirin.
“Labirinnya berubah tanpa kita sadari?” Kata Theon mengerutkan dahinya. Masalahnya, ini sudah ketiga kalinya dia tidak menyadari bahwa dinding labirin yang ada di dekatnya berubah menjadi lorong. Sehingga, tanpa berpikir panjang, Theon menarik Rena yang jatuh dan mencoba untuk langsung lari.
“Pangeran, jika terus seperti ini, kita akan sulit untuk menuju inti labirin dan mendapatkan bintang neutron, karena kita sudah 30 menit berada di tempat ini. Kita benar-benar harus berpencar.” Rena menghentikan langkah Theon.
Theon langsung menghentikan langkahnya, karena beberpa hal. Seperti Rena yang menahan langkah Theon, serta Theon yang dihadapkan jalan bercabang untuk ke sekian kali. Karena apabila dia salah pilih, maka pada akirnya dia akan di hadapakan oleh jalan buntu, yaah untung saja labirin berubah secara tiba-tiba.
“Kita tidak akan berpencar, karena....” Kata Theon tidak melanjutkan ucapannya, karena dia membuat sebuah segel tangan yang merupakan sebuah teknik menciptakan sebuah kloningan. Lebih tepatnya, kini ada empat Theon termasuk Theon asli yang berdiri di samping Rena.
Kemudian, tanpa diperintah sekalipun, ketiga kloningan Theon langsung berpencar dan berjalan terlebih dahulu. Karena, siapa tahu salah satu dari kloningan menemukan bintang neutron yang ada di tengah-tengah labirin ini.
Seketika, Theon merasakan ada yang menyentuh pundaknya secara tiba-tiba, yang membuat Theon benar-benar terkejut dans ecara refleks dirinya langsung berbalik badan. Lagipula, Rena ada di sampingnya yang mana pastinya ada orang lain.
“Kau, kau yang baru saja mencekikku?” Pemuda tersebut langsung mendorong lengannya tepat ke arah kepala Theon dengan begitu cepat, bahkan secepat semilir angin kencang.
“Ini yang katanya putra big three?” Rena mengerutkan dahinya. Masalahnya, Vynh benar-benar amatir. Dan benar-benar tidak sesuai dengan tittle keluarganya.
“Jujur, di antara para putra-putri big three, Starllet memiliki aura yang ganas dibandingkan Jean ataupun Vynh. Padahal Starllet sendiri adalah seorang wanita dengan peringkat keluarganya yang berada di nomor tiga.” Ledek Theon sambil membanting Vynh di atas permukaan tanah. Kemudian, dirinya langsung beranjak pergi sambil meninggalkan Vynh.
“Tunggu sebentar, Kiba, kau tidak mencium kedatangan Vynh tadi?” Theon mengerutkan dahinya.
“Mungkin karena labirin yang terus menerus berubah-ubah, jadi bisa jadi lorong yang seharusnya berada jauh di sini berpindah tempat menuju tempat Anda. Dan, aku tidak bisa mencium secara cepat.” Kiba mencoba untuk menjelaskan. Masalahnya, semenjak tadi penciuamnnya tentang manusia selalu berubah-ubah dan tidak tetap, yang mana lorong dari labirin terus-menerus berubah.
“Kalian mencari Vynh? Dia ada di belakang. Tapi sayangnya lorong telah berubah.” Teriak Rena yang ada di samping Theon.
Theon benar-benar terkejut, masalahnya tiba-tiba Starllet dan Jean muncul berjalan membelakangi dirinya. Padahal, sebelumnya di depannya tidak ada sesiapa-siap. Mungkin karena lorong labirin yang telah berubah, membuat mereka bisa bertemu dengan Jean dan Starllet.
Tentu, itu membuat Jean dan Starllet langsung menoleh ke belakang. Hanya saja, Jean benar-benar langsung terpancing emosi dan bergerak karena memiliki dendam yang besar kepada Theon, selagi tempat sepi dan begitu sempit. Namun, Starllet yang ada di sampingnya benar-benar berpikir kritis, dia langsung menghentikan Jean agar tidak bergerak tergesa-gesa.
“Sebaiknya kalian fokus untuk mencari jalan keluar, sudah 40 menit berlalu yang mana tidak mungkin kalian menemukan bintang neutron.” Kata Starllet dengan dinginnya. “Selain itu, kalian masih memiliki hutang dengan tuan muda Jean atau aku yang akan menghabisi kalian di sini.”
Theon berpikir sejenak mengenai konsep yang ada di labirin ini. Yang mana, jika lorong labirin selalu berubah-ubah setiap waktu, itu menandakan bahwa sang labirin sendiri tidak ingin bahwa bintang neutron di temukan, jika ada orang yang hampir berada di penghujung labirin, maka labirin sendiri akan mengubah jalurnya.
Dia melirik Rena yang sedang adu mulut dengan Jean dan juga Starllet.
“Nona Starllet, bisakah kau membantuku?” Theon berkata dengan nada yang cukup tinggi, sehingga mengakhiri perdebatan Rena dan dua orang yang ada di hadapannya.
“Apa hakmu berkata seperti itu?” Starllet menaikkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia benar-benar arogan. Bahkan nada suaranya cukup tinggi tanpa berkespresi di wajahnya, seolah bersiikap dingin.
Theon tersenyum, kemudian dia mengulurkan tangan kanannya yang mana memegang sebuah Fire Sword. Namun, dia tidak berniat untuk menyerang Starller atau Jean. Apa yang dia lakukan adalah memasukkan kembali Fire Sword di cincin ruangnya, dan mengeluarkan sebuah kristal yang memiliki tingkat entitas cahaya yang begitu tinggi.
“Kristal ini, kau membantuku maka akan ku berikan kristal ini.”