
Semua roh, terkecuali empat penjaga arah mata angin, tubuh mereka seperti sama sekali tidak bisa bergerak, wajahnya tertunduk dengan menutup mata mereka. Bahkan Kadita sekalipun, dia menutup matanya dan tidak melakukan apa-apa.
Beberapa detik setelah itu, para roh kehilangan wujud mereka. Seolah mereka hilang menjadi kodrat mereka sendiri yang mana seharusnya tidak menampakkan pada manusia. Semua roh, terkecuali empat penjaga mata angin menghilang seolah diterpa angin, membuat Theon dan yang lainnya membuka mata.
Meski begitu, dia mencoba untuk meredam sedikit ketakutannya. Kehilangan pasukan untuk kesekian kali bukanlah masalah, lagipula roh-roh seperti mereka hanya akan diam dan tidak melakukan apa-apa dan melihat Theon dan yang lainnya bertarung. Karena mungkin itu akan mengganggu mereka.
Dalam detik ini, yang bertahan hanya beberapa. Seperti Theon dan Rena, Avatar dewi rembulan dan Fritz, kepala sekolah dan juga Rolland yang mana mereka menelan ludah secara kasar karena mereka berada di puncak ketakutan. Orang-orang seperti Rolland dan Lyu Shui, mungkin cukup menyesal menjadi orang yang bertahan.
Pasalnya, mereka di sini hanyalah manusia biasa. Berbeda dengan yang lainnya, yang seolah memiliki sebuah kekuatan dewa yang cukup-cukup sangat mengerikan. Sedangkan mereka? energi mereka juga sudah habis, ketakutan mungkin sudah menghantui pikiran mereka.
Berbeda dengan Ali, Ali kali ini dia sudah menumbuhkan semangat setelah bergabung dengan Strega. Seolah dia memiliki kekuatan yang dia harapkan meskipun masih melewati Strega. Apalagi Strega tidak hanya menggunakan elemental buatan, tapi dia juga menggunakan sebuah amunisi, dan energi yang mungkin masih ada.
Alasan Strega tidak ingin menggunakan kecerdasannya untuk mengendalikan tubuhnya, karena itu cukup merepotkan. Energinya pasti akan terkuras dengan cepat, sehingga dia tidak akan lama bisa menikmati sebuah pertarungan. Sehingga, apabila dia mengandalkan Ali untuk mengendalikan tubuhnya, itu membuat Strega sendiri bisa tenang, meskipun dia akan bekerja sebagai sistem untuk memandu Ali. Hanya saja, kontrol robot masih dipegang oleh Ali.
“Tampaknya empat roh itu bukan berasal dari bumi ini?” Azazel mengerutkan dahinya, saat melihat empat ekor hewan roh yang berdiri di belakang Theon dengan mengeluarkan aura yang cukup kental. Aura yang mungkin benar-benar cukup suci.
“Kenapa, apa kau terkejut? Kau sudah mengerti, bahwa kami bukan tandinganmu?” Theon mengangkat ujung bibirnya.
Theon juga menoleh ke arah Lesha, Rena dan juga Firtz sambil berteriak, “Tak perlu takut! Kalian memiliki darah dewa. Aku tahu semenjak tadi kalian tidak menggunakan kemampuan dewa sama sekali. Dihadapan kita adalah iblis, jika itu iblis, maka akan seimbang atau mungkin lebih lemah daripada dewa!”
“Maka dari itu, jangan sungkan untuk bertarung dan menghancurkan dunia ini dengan menggunakan kekuatan dewa kalian. Lagipula sudah tidak ada yang hidup di dunia ini. Kalian mengerti, Fritz, Wulan, dan Elzabeth?”
Lesha dan Rena mungkin cukup percaya diri, tubuh mereka diselimuti sebuah aura dewi yang menjadikan dia lebih percaya diri dan tidak memiliki ketakutan sama sekali. Jati diri mereka juga muncul, yang membuat mereka bukan lagi Lesha atau Rena, melainkan sosok Wulan dan juga Elzabeth.
Begitupun dengan Theon, itulah mengapa dia lebih bersemangat untuk saat ini dibandingkan dia melawan Alzma. Karena untuk melawan Alzma, dia tidak perlu melakukan cara yang hina dengan menunjukkan kekuatan yang besar yaitu menjadi jadi diri seorang dewa. Sehingga, dia bisa menunjukkan sosok dewanya untuk melawan Azazel agar lebih mudah dan juga cepat.
Azazel merasa mereka benar-benar bodoh, sehingga dia menjawab. “Melawan Theon Alzma saja kalian sungguh keteteran, bagaimana dengan .....” Azazel membuka matanya lebar-lebar saat memperhatikan Theon dengan seksama, dia cukup terkejut saat lawan bicaranya seperti Theon yang dia temui ketika masih muda. Tapi Theon yang satu ini, keadaannya benar-benar tidak sepayah dengan Theon sebelumnya. Rasanya, Theon kali ini memiliki sebuah aura keberanian. “Tunggu, kau Theon Alzma?”
“Kau adalah iblis bodoh, bagaimana mungkin aku terprovokasi dengan kesesatan dirimu? Balas dendam bukanlah suatu hal yang cukup baik dalam konteks tertentu. Ya meskipun, setelah mengalahkanmu mungkin aku akan dendam kepada seseorang.” Theon mulai berkata omong kosong. Dirinya seolah-olah menjadi Theon Alzma yang ditemui oleh iblis Azazel agar Azazel sendiri terpengaruh.
“Omong kosong, dan jelaskan kepadaku, bagaimana aku bisa keluar dari segel ruang hampa jika bukan karenamu?” Azazel menjawabnya dengan cukup santai.
“Karena ....” Theon bergerak secepat cahaya, bergerak di hadapan Azazel yang lengah karena tidak melakukan persiapan apapun. Dia mungkin hanya memotong ucapannya sendiri, tanpa menyambungnya, karena dia sendiri tidak tahu harus berkata apa. Hanya saja, dia lebih fokus untuk mengayunkan pedang secara horizontal ke arah leher Azazel.
Azazel cukup terkejut, akan tetapi dia mengumpulkan sebuah energi kegelapan hingga membentuk sebuah pedang yang ukurannya benar-benar cukup besar. Yang mana, langsung dia tebaskan ke arah pedang Theon untuk menahan tebasan miliknya.
Kedua pedang itu tertahan, Theon menariknya dan memutar pedangnya untuk memberikan tebasan kedua kalinya. Yang mana Azazel juga langsung menarik pedangnya untuk menahan pedang Theon. itu terjadi, dan terus menerus begitu, yang mengakibatkan mereka lebih beradu pedang.
Di kala Theon dan Azazel beradu pedang, Lesha muncul di belakangnya dengan napas yang tidak begitu teratur. Tidak mungkin dia diam saja dan melihat Theon bertarung yang bukan musuhnya. Azazel adalah tanggung jawabnya, sehingga sudah seharusnya Azazel menjadi musuh utamanya.
Azazel yang merasakan keberadaan avatar dewi rembulan, dia berbalik badan dengan sangat cepat sebelum kembali melawan pedang milik Theon. Mengeluarkan sebuah unsur kegelapan dengan cukup cepat ke arah Lesha itu sendiri.
Hanya saja, Fritz muncul mengeluarkan sebuah pola elemen cahaya sebagai sebuah perisa. Sehingga, Lesha bisa meloncat untuk memberikan sebuah serangan kepada Azazel.
Merasa cukup kepepet, karena mendapati sebuah dua serangan, Azael menggertakkan giginya sambil mengayunkan tangannya ke depan, sehingga sebuah monster bayangan muncul di depannya dan membuka mulutnya di depan Theon itu sendiri. Sedangkan untuk menghadapi Lesha, Azazel menebaskan pedangnya, sehingga energi kegelapan muncul untuk menyerang Lesha itu sendiri.
“Pelindung tanah!” Lesha menghentakkan kakinya, sehingga sebuah dinding muncul untuk menahan tebasan itu. Hanya saja, energi kegelapan milik iblis benar-benar cukup kuat, yang membuat serangan itu sendiri tembus dan mengarah ke arah Rena.
“Cahaya penghakiman.” Sebuah cahaya muncul dari tangan Fritz, menahan serangan itu meskipun Fritz sendiri merasakan dampaknya seperti sebuah energi yang masih bocor. Hanya saja, setidaknya itu sanggup untuk menahannya. Kemudian, energi cahaya itu memanjang, membentuk seperti sebuah tali yang mencambuk-cambuk Azazel.
Azazel melompat, hanya saja, Theon kembali sambil mengeluarkan sebuah phoenix merah yang menjadi sebuah kekuatan elemental apinya. Phoenix itu muncul di udara, yang kemudian menerjang Azazel hingga Azazel sendiri berteriak dengan penuh kesakitan.
Rena muncul di atas Azazel, mengulurkan kedua tangannya, hingga memunculkan sebuah energi kegelapan berbentuk panah yang cukup besar. Yang kemudian turun ke bawah untuk menghantam Azazel yang tengah memposisikan diri.
Azazel cukup kerepotan, kemudian dia menggunakan sebuah kubah kegelapan untuk menahan semua serangan yang baru saja diluncurkan. Wajahnya penuh amarah saat dia harus melawan para elementalist yang kekuatannya benar-benar sangat hebat. Apalagi dia masih bertanya-tanya tentang Theon Alzma.