The God in the Modern World

The God in the Modern World
Amarah Kadita (3)



Theon yang semula menutup mulutnya, dia membukanya perlahan tepat di depan Kadita. Menunjukkan sebuah senyumannya yang terlihat begitu kejam. Terlebih lagi, dia mencoba untuk menarik napas, dan mengeluarkan sebuah gelembung-gelembung dari hidungnya.


“Mudah bukan?” Ucap Theon.


“Pusaran laut suci!” Hal tersebut membuat Aura yang dirasuki Kadita tersenyum kecut, tak disangka bahwa manusia di depannya benar-benar tidak bisa diremehkan. Jika di darat benar-benar sangat kuat, dan dia pikir di dalam laut akan menjadi lemah, tapi siapa yang menyangka itu tidak berdampak sama sekali. Tapi, dia langsung berteriak dan mengeluarkan sebuah pusaran air agar Theon berputar-putar di dalam.


“Lagi-lagi pusaran, apakah kau ini tidak bosan?” Theon berdecak kesal. dia seolah kenyang apabila selalu berhadapan dengan sebuah kekuatan berjenis pusaran. Sehingga, dia ingin mengeluarkan sebuah teknik yang lebih berkelas. “Raungan naga air.”


Seketika, pusaran air yang dikeluarkan Kadita bergetar dan lebur ketika mendapatkan sebuah raungan naga yang cukup besar. Bahkan menghancurkan pusaran itu dan cukup mudah. Tidak berhenti, naga air itu langsung bergerak dan melesat ke arah Kadita.


“Teknik paus pembunuh!”


Kedua hewan keluar dengan wujud air, saling berbenturan sehingga menghasilkan sebuah energi yang cukup kuat. Tapi, meski dua hewan itu berbenturan, faktanya hewan-hewan tersebut tidak hancur ataupun berubah menjadi sebuah serpihan air. Terus menerus bertarung bagaikan hewan buas yang sedang bertemu.


Hanya saja, ini berada di dalam laut, sehingga mengakibatkan sebuah gelombang di dalam laut yang membuat Theon dan Kadita tidak bisa terus menerus diam di tempat. Theon tidak bisa untuk terus diam, dia mengeluarkan sebuah pedang biasa dari dalam cincin ruangnya untuk menghadapi Kadita.


Tapi sebelum itu, Theon memperkuat kekuatan naganya jauh lebih besar. Sedangkan paus pembunuh milik Kadita, dia perkecil menggunakan kekuatan sang penguasanya sehingga membuat Kadita sendiri tidak bisa berkutik. Dia hanya bisa membuka mulutnya karena yang dia hadapi seperti yang dia kenal dua puluh tahun yang lalu. Hanya saja, Kadita tidak begitu menyerah, usai melihat paus pembunuhnya hancur, dia memutar tongkatnya sehingga menghasilkan sebuah pusaran yang berkekuatan cukup tinggi.


Theon yang melihat itu, dia bergerak secepat petir dari dalam air, kini dia berdiri di belakang Kadita sambil menebaskan sebuah katananya ke depan dengan sangat cepat. Bahkan bisa dibilang, air sanggup terbelah karena kekuatan pedang yang Theon keluarkan.


Mengerti dalam bahaya, Kadita menoleh belakang dan menahan pedang Theon dengan sangat sigap menggunakan sebuah tongkat keramatnya. Tapi Theon tidak langsung berhenti, dia segera menarik katananya seolah-olah ingin beradu senjata dengan kecepatan yang sangat mustahil di lakukan di dalam air. Karena tekanan air sendiri mampu untuk menghambat laju sebuah benda.


Sehingga, kini yang terjadi Theon dan Kadita sedang beradu pedang dan tongkat. Meski dia merasa bahwa tongkat Kadita benar-benar sangat keras, pedangnya sekalipun tidak sanggup untuk mematahkannya.


Tapi, Rena tetap menahan mereka, dan tidak membiarkan mereka pergi. Mereka juga meyakinkan bahwa Theon pasti bisa, apalagi dengan dalih bahwa Aura yang dirasuki Kadita. Sehingga, mereka tidak mungkin untuk meninggalkan Kadita.


“Apa yang harus kita lakukan. Tidak mungkin kita berdiri di sini sambil melihat fenomena alam karena kemarahan Kadita? Apa yang harus kita katakan kepada petugas hotel? Sialnya tidak ada penjaga pantai di tempat ini.” Kata salah satu dari mereka dengan cukup panik. Mereka seolah sendirian di pantai ini karena pada dasarnya ayah Lesha sudah memesannya secara pribadi, sehingga tidak ada yang menganggu kesenangan mereka.


“Bukan tidak ada. Tapi Kadita telah membunuh mereka semua karena perbuatan Theon yang sepertinya terlalu berani. Ini sungguh aneh, apa kau merasa bahwa ketika kita berada di hotel dan bangun, hotel terasa cukup sepi? Dimana pra resepsionis, dimana para pelayan hotel? Seharusnya tempat ini dijaga oleh penjaga pantai, tapi, mereka tidak ada?” Ali mencoba untuk menjelaskan. Masalahnya dia cukup jeli untuk menimbang sebuah masalah yang terjadi. Tidak ada orang satupun baik penjaga pantai, atau pelayan hotel tadi, membuat Ali cukup curiga.


“Benar, aku merasa juga seperti itu. Ratu laut selatan telah membunuh semua orang yang ada di sini selain kita. Rena, katakan! Apa yang diperbuat Theon sehingga membuat sang ratu cukup murka? Dan kenapa Aura yang menjadi wadahnya? Kita harus melakukan sebuah cara.” Lesha mengimbuhi apa yang Ali katakan.


Rena tidak bisa menceritakan bahwa dirinya melakukan sebuah asusila. Bukan karena takut, tapi itu merupakan tindakan yang cukup memalukan di hadapan teman-temannya. Selain itu, dia bisa melihat bahwa yang tidak terlalu panik di sini adalah orang-orang yang memiliki kekuatan elemental, dan Ali yang sebelumnya sudah mengetahuinya. Sedangkan orang yang baru mengerti sihir, mereka hanya menggigit jarinya dan tidak tahu apa-apa.


“Yang Theon hadapi adalah ratu laut selatan Rena! Mungkin dia bisa mengalahkanku, tapi ratu laut selatan bukanlah tandingannya!” Rolland berteriak. Dia masih mencari-cari kesalahan kepada Rena tanpa memperdulikan apa yang Ali dan Lesha bahas. Meskipun, dia juga curiga bahwa semua orang yang ada di sini sebenarnya telah terbunuh.


Sebelum Rena menjawab, terjadi sebuah ledakan yang cukup besar berada di laut ini. Bahkan mereka bisa melihat air laut menyembur keluar di dekat mereka dengan begitu tinggi. Selain itu, apa yang mereka lihat? Mereka melihat bahwa Theon berdiri di atas aliran air yang menyembur ke atas sambil bergaya memegang sebuah pedang.


“Ayo, jika kau berani jangan menggunakan temanku sebagai sebuah tameng. Aku tahu, kau menggunakan Aura agar aku tidak bisa membunuhmu. Tapi, siapa peduli? Meskipun kau berada di dalam tubuh Aura sekalipun, aku akan menarikmu keluar.” Kata Theon dengan cukup keras. Dia merasa bahwa aliran air yang tadi di keluarkan Kadita sehingga membuat dirinya terangkat ke atas, kini seolah jatuh ke bawah. Tapi, Theon langsung membekukannya sehingga tercipta sebuah menara yang cukup tinggi.


Bersamaan dengan itu, sang Kadita juga keluar dari permukaan air laut dan melesat ke arah Theon. Karena dia merasa bahwa pertarungan fisik dengan Theon tadi, membuat dirinya kalah telak, sehingga dia langsung mengeluarkan aliran air yang cukup tinggi. Tapi, dia benar-benar kesal saat tahu bahwa Theon membekukannya.


“Kristal es, tahap terakhir! Sang penghancur.” Theon yang berdiri di menara es, dia menjulurkan sebuah pedang ke bawah, tepat pada Kadita yang melesat kepadanya.