
Rena menggelengkan kepalanya sambil berbisik, “Jangan tiba-tiba terlalu baik, itu akan menumbuhkan kecurigaan baginya. Serta juga jangan terlalu menjauh, itu juga akan menumbuhkan kecurigaan. Bersikaplah apa adanya sama seperti tadi.”
“Benar juga, dia akan curiga ketika kita mendadak menjadi baik.” Bisik kembali Theon.
“Starllet, aku cukup sedih tentang kematian ibumu. Meskipun sebenarnya aku membencimu, tapi orang tuamu tidak memiliki kesalahan apa-apa denganku, sehingga aku tidak membencinya yang membuatku turut sedih. Aku, aku pamit pergi karena esok harus sekolah.” Kata Theon dengan tatapan yang sangat datar.
Starllet menarik napas dengan sesak ketika dia mencoba untuk ditenangkan oleh Roney, serta setelah Theon berkata demikian. Matanya tiba-tiba menjadi bengkak dengan dipenuhi oleh air mata yang kini sedang menatap Theon. “Pergilah, terimakasih sudah membunuh Jean, sehingga aku cukup lega karena aku seolah sudah balas dendam.” Sterllet menutup kedua wajahnya sebelum melanjutkan ucapannya, “Meskipun itu tidak sanggup membayar kematian ibuku.
Theon terdiam, tampaknya Starllet berpikiran bahwa kematian ibunya terlebih dulu dibandingkan dengan Jean, sehingga membuat dia berpikir dan berterimakasih bahwa Theon telah melampiaskan dendamnya kepada Jean. Padahal, bisa dibilang, kemungkinan kematian Jean terlebih dahulu dibandingkan dengan ibu Starllet. Hanya kemungkinan, Theon juga tidak tahu.
Namun, apa yang dia sesasali, mengapa Yosep Scott dikabarkan menghilang? Dan bukannya mati dengan istrinya? Tentu itu membuat Theon merasa kurang puas dengan apa yang dia capai. Setidaknya, jika Yosep sudah mati, maka dirinya akan menarik simpati Starllet untuk mengandalkannya seperti membalas dendam kepada Harry Skelet, sehingga membuat dirinya bisa meminta bantuan kepada mafia Gaia kapanpun.
“Baiklah nona, aku akan mengantar tuan Theon untuk pulang. Karena tidak mungkin mereka berdua keluar kota tanpa sebuah tumpangan. Aku harap Anda bisa pulang menuju pulau Zenphary sekarang juga.” Kata Roney.
Starllet tidak menjawab, dia hanya larut dalam kesedihannya dan tidak ingin memikirkan apapun selain kematian ibunya dan hilangnya ayahnya yang entah kemana.
“Mari, tuan.”
“Kita akhirnya pulang, mobil kepala sekolah sudah tak ada yang menandakan bahwa mereka berdua telah kembali. Mayat anak buah Jean juga sudah tak ada karena sudah di urus oleh Gaia. Aku harap tidak ada gangguan lagi malam ini.” Theon benar-benar senang karena mungkin sudah aman hari ini. Tapi bukan berarti bahwa politik adu dombanya sudah selsai, Theon belum menghadapi keluarga Zuan yang merupakan dalang di balik tragedi empat hari yang lalu.
“Nanti pagi kita akan sekolah. Aku akan menyiapkan pelajaran dan seragammu, pangeran. Sayangnya, mungkin aku tidak bisa mengerjakan untuk tugas.” Pinta Rena merasa bahwa ini lebih dari tengah malam atau tepatnya dini hari.
Theon menggelengkan kepala, dia memang setuju dan tidak keberatan Rena menyiapkan segalanya, tapi tidak dengan kalimat terakhir. “Bukankah kita sudah tak masuk selama lebih dari seminggu yang berarti tugas rumah sudah lewat, dan digantikan dengan tugas baru? Lupakan tentang tugas, kerjakan nanti pagi di kelas.”
“Baiklah.”
Keesokan harinya, mereka telah berangkat ke sekolah, dimulai dengan Theon yang membuka pintu rumahnya. Namun, dirinya benar-benar terkejut saat mendapati bahwa paman Theon sedang berdiri dari balik pintu dengan wajahnya yang datar.
Namun, dia sama sekali tidak melihat bahwa Rena memiliki luka segorespun. Jika memang sembuh, maka tak mungkin untuk sembuh dalam empat hari, setidaknya terdapat bekas jahit. Apalagi pada malam itu, tak mungkin Theon bisa berlari cepat untuk mendapatkan pertolongan bagi Rena.
“Paman, cukup jangan ganggu aku. Aku ingin bersekolah.” Theon memalingkan wajahnya, dia benar-benar sedikit kurang suka pada paman Theon Alzma.
“Kau tidak ada di rumah selama lebih dari seminggu, kau berada di mana?” Kata paman Theon dengan tatapan yang kejam. Dia benar-benar kebingungan dengan Theon yang sebelum sebuah tragedi, paman Theon tidak mendapati Theon berada di rumah. Karena memang, Theon menghadiri sebuah festival, kemudian setelahnya Theon berada di rumah sakit dan mengakhiri urusannya dengan para pembunuh sampai malam.
Theon tidak bisa mengatakan yang sebenarnya kepada pamannya, sehingga dengan nada berbohong, Theon berkata, “Lebih dari seminggu kelas kita mengadakan festival ke luar pulau sebelum hari kelulusan. Jadi, jangan heran kami tidak ada di rumah selama hampir dua minggu.”
Agen Zero mempersilahkan mereka berdua untuk berangkat. Sehingga tanpa salam, Theon dan Rena langsung menutup pintu dan beranjak pergi untuk bersekolah. Di sisi lain, Agen Zero sendiri merasa ada yang janggal dengan Theon. Bagaimana tidak? Theon sendiri mengatakan bahwa selama lebih dari seminggu dirinya mengikuti sebuah festival. Sedangkan empat hari yang lalu, dirinya memperhatikan dengan mata kepalanya sendiri bahwa Theon sedang berhadapan dengan pembunuh bayaran. “Sungguh aneh, apalagi anak yang bernama Rena itu, tampaknya aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.” Agen Zero menggertakkan giginya begitu kesal.
“Pagi kelas.” Rena berkata dengan semangat dan penuh senyuman ketika dirinya masuk ke dalam sebuah kelas yang mana hampir dua minggu dirinya tak masuk. Bersama dengan Theon yang tampak sedikit mengangkat wajahnya yang mana kejantanannya semakin hari semakin bertambah.
Tentu itu membuat teman sekelasnya bertanya-tanya, mengapa Theon dan Rena tidak masuk sekolah selama itu? Hal tersebut membuat sekertaris kelas benar-benar bermuka masam karena Theon dan Rena Alfa selama tiga hari, dan surat tidak masuk terlampir Izin selama tujuh hari atau seminggu tepat tanpa dihitung minggu.
Mereka berdua duduk di kursi mereka masing-masing, dengan Theon yang mendapati Ali sedang termenung tentang kejadian kemarin. Tampaknya, dia masih tak begitu percaya bahwa dirinya adalah seorang pembunuh. Theon mengelus punggung Theon, kemudian dirinya mencoba untuk meyakinkan Ali, “Kau akan gila jika terus memikirkannya. Apa kau pernah membunuh serangga? Anggap saja seperti itu, membunuh tanpa penyesalan.”
“Tapi bagaimana jika aku ditangkap?”
Wajah Ali benar-benar buruk seolah dia seperti sedang ingin menangis ketika menatap Theon. Dia sudah tak bisa berpikir tenang membayangkan rumahnya dikepung oleh polisi dan dirinya ditangkap atas sebuah dasar pembunuhan di hotel Nirwana.
“Jangan khawatir, tidak akan ada yang tahu. Mereka adalah penjahat, tak apa membunuh seorang penjahat.” Kata Theon.
“Itu namanya main hakim sendiri.” Sangkal Ali.
“Selama ada sebuah bukti, apa salahnya? Lagipula aparat tidak akan becus mengurus hal yang seperti itu. Intinya bayangkan saja, sudah berapa puluh nyawa dihilangkan oleh pembunuh tersebut. Dan kau membunuh satu orang itu yang menandakan bahwa kau menyelamatkan puluhan nyawa di masa depan.” Theon mencoba untuk menenangkan Ali dengan perkataan yang lirih agar tidak ada yang mendengar. “Sekarang keluarkan tugasmu, aku ingin menyalinnya sebelum guru datang.