
Lesha dengan sangat cepat muncul di hadapan Theon, membenturkan kedua tangannya di atas permukaan lantai sehingga memunculkan sebuah dinding tanah. Bersamaan dengan hal itu, sebuah peluru membentur dinding tanah milik Lesha. Untung saja, Lesha membuatnya benar-benar cukup tebal sehingga tidak terlalu menembus.
Tidak tinggal diam, pembunuh yang membawa senapan plasma, mereka melepaskan tembakan untuk menghancurkan dinding tanah milik Lesha yang mana itu menjadi sebuah penghambat untuk peluru yang seharusnya membunuh mereka.
Tapi, siapa yang menyangka, ketika mereka menembakkan ledakan plasma, Rena muncul dengan jubah kegelapan seolah seorang penyihir yang begitu mengerikan. Dia bahkan berada di samping dinding tanah Lesha sambil mengibaskan jubah kegelapannya. Alhasil, energi kegelapan berbentuk seperti pancaran keluar menahan senjata plasma tersebut dengan cukup mudah.
Tak berhenti begitu saja, Rena, dia langsung mengayunkan tangannya, sehingga sebuah bayangan kegelapan mengalir dengan sangat panjang, serta keluar dari permukaan lantai menerjang para pembunuh bayaran tersebut.
Mereka benar-benar terkejut, membuat pengguna plasma langsung menembakkan ledakan plasma untuk menghancurkan akar bayangan milik Rena yang bahkan keluar dari permukaan lantai. Namun, plasma hanya menghancurkan empat elemental, yang membuat tidak mungkin untuk menghancurkan bayangan atau kegelapan.
Sehingga, para pembunuh bayaran terhempas ketika akar bayangan milik Rena menyerang mereka semua. Kemudian, Theon yang ingin bergaya, dia memunculkan senapan di samping dinding Lesha dan memainkannya secara berulang kali.
“Bagus, terimakasih Ali, aku jadi mengerti bagaimana caranya memasang amunisi pada senjata ini. Tapi setidaknya, gunakan senjata yang ada di tanganmu kau mengerti?”Kata Theon sambil menyipitkan matanya. Tangannya bergetar karena getaran senapan itu terus muncul ketika mengeluarkan beberapa peluru.
“Lindungi tubuh kalian!” Beberapa pembunuh bayaran langsung mendobrak pintu kamar di sebelahnya untuk bersembunyi dari peluru yang ditembakkan oleh Theon. Kemudian, mereka juga menunjukkan sedikit tubuh mereka di setiap pintu kamar untuk beradu tembak dengan Theon.
“Sungguh, aku tadi benar-benar ketakutan. Tapi beradu tembak seperti ini benar-benar menyenangkan. Namun, a-aku benar-benar terkejut saat kalian ternyata adalah seorang penyihir.” Ali masih berkata dengan gugup. Tapi, dia mencoba untuk memberanikan diri untuk memacu adrenalin untuk beradu tembak kepada para pembunuh bayaran dari balik dinding Lesha. Lagipula, dia meyakinkan diri bahwa ini adalah mimpi.
“Jangan pedulikan dengan pengunjung. Lesha sudah menutup semua akses masuk dengan elemental tanah!” Rena yang tak mau kalah, dia sebenarnya juga tertarik dengan senjata modern yang ada di samping jasad di depannya. Hanya saja, dirinya harus menahan senjata plasma milik musuh yang mana itu akan menghancurkan dinding tanah milik Lesha. Karena hanya itulah salah satu pelindung atau tameng bagi mereka.
“Tembak penyihir hitam itu terlebih dahulu! Dia memiliki kekuatan non elemental yang dapat menahan senjata plasma!” Teriak ketua pembunuh bayaran yang terus menerus menembakkan peluru dari senapannya.
Seluruh penembak mengangguk, dia kemudian langsung menargetkan Rena yang cukup merepotkan. Karena dia, senjata plasma benar-benar tidak mempan.
Theon yang menyadari itu, dia melepaskan senapan yang dia pegang. Dia langsung melompati dinding tanah milik Lesha. Tatapannya begitu datar dengan kedua telapak tangannya yang terdapat elemental petir dan api yang bercampur menjadi satu. Kemudian, kedua tangannya membentur di atas permukaan lantai, yang mana membuat energi listrik berpencar di atas lantai, serta elemental apinya juga.
Mereka yang bertahan, langsung melepaskan tembakan lagi untuk membunuh Theon secara langsung. Hanya saja, Elzabeth langsung mengumpulkan energi kegelapan dari tangannya, kemudian dia langsung melemparkannya kepada pengguna plasma dan plasma anti petir yang membuat mereka langsung terhempas dan terbentur gawang pintu.
Theon dan juga Rena, keduanya langsung berlari untuk membunuh siapa yang masih hidup. Atau lebih tepatnya mereka harus membunuh tanpa menyisakan, termasuk orang yang pingsan karena sambaran petir.
“Dimana ketuanya?” Teriak Theon yang tak lagi melihat dimana ketua pembunuh bayaran. Dia pikir, ketua pembunuh bayaran masuk ke dalam salah satu kamar di belakangnya untuk melindungi diri, namun pingsan karena sambaran petir. Tapi, Theon tak menemukan lagi dimana ketua pembunuh bayaran.
“Kalian semua! bunuh semuanya yang masih hidup. Sepertinya ketua pembunuh bayaran sedang lari!” Theon semakin yakin bahwa pembunuh bayaran saat ini sedang lari. Tampaknya, Theon benar-benar lengah karena tidak melihat ketua pembunuh bayaran itu lari. Namun, Theon tidak membiarkan begitu saja, dia langsung mencari melalui jendela salah satu kamar karena barang kali ketua pembunuh bayaran
Dan yang benar saja, dari jendela kamar hotel, Theon bisa melihat pembunuh bayaran berlari menjauhi hotel ini. Tentunya, Theon mengangkat ujung bibirnya, apa yang dia lakukan adalah mengeluarkan senjata sniper yang masih ada di dalam ruang cincinnya, yang mana dia masukkan lagi ketika Ali tidak menyadarinya tadi.
Memang, tidak ada isi peluru di dalamnya. Namun, Theon bisa menciptakan peluru buatan mengunakan elemental api yang dipadatkan. Kurang lebih cara kerjanya sama seperti anak panah, namun tampaknya menggunakan senapan lebih modern. Sehingga, Theon menaruh ujung senapan di atas jendela, menyipitkan matanya untuk mengunci target yang sedang berlari.
“Tak ada peluru mesiu, api yang dipadatkan pun jadi.” Batinnya sambil melepaskan peluru buatannya ketika dia sudah mengunci target yaitu pembunuh bayaran yang sedang lari.
“Menggunakan peluru buatanku, tidak akan meninggalkan sebuah jejak. Sehingga, tidak ada yang tahu siapa yang membunuhnya.” Kata Theon sambil mengangkat snipernya kembali. Dia cukup tersenyum saat ketua pembunuh bayaran sudah mati di pinggir jalan yang membuat heboh semua orang. Sebelumnya memang sudah heboh karena gempa yang terjadi pada hotel, tapi tiba-tiba tempat benar-benar menjadi sangat ramai ketika ada orang yang mati secara tiba-tiba.
“Aku pikir, pembunuh bayaran yang ada di alam elementalist manusia dan alam dewa masih sangat hebat dibandingkan dengan yang ini. Pembunuh bayaran di alam dewa, mereka tidak bisa diremehkan, berbanding terbalik dengan alam ini.” Batinnya sambil keluar dari kamar hotel ini.
Tentunya, ketika Theon keluar dari kamar hotel, dia sudah melihat mayat yang diseret oleh Rena dan ditumpuk pada salah satu kamar. Dan kemudian, senjata berapi juga berserakan di atas lantai yang membuat Theon cukup senang. Selain itu, Theon bisa melihat bahwa Ali dan juga Lesha sedikit ketakutan, karena baru kali ini mereka terlibat dalam pembunuhan.
“Ali, aku akan meminta bantuanmu lagi untuk mengendalikan senapan, dan senjata plasma suatu saat, Rena juga berhasil mengumpulkan amunisi yang disembunyikan dari balik jaket mereka untuk bisa kau gunakan. Tapi untuk berjaga-jaga agar kau tidak terlibat penyelundupan senjata ilegal, aku yang akan menyimpannya.” Kata Theon sambil menaruh senjata sniper di pundaknya,