The God in the Modern World

The God in the Modern World
Langkah selanjutnya



Mereka berempat kini tengah duduk di sofa milik Theon. Saling diam? Tentu saja, mereka tidak ada yang berbicara satu sama lain terkecuali Theon dan juga Rena yang bersikap tenang. Sedangkan Ali, dia masih tak percaya bahwa yang dia hadapi tadi bukanlah mimpi belaka, melakukan tindakan pembunuhan, bagaimana jika ayahnya mengetahui semua ini? Ali tak sanggup untuk berpikir. Memang, memang yang dia bunuh adalah pembunuh bayaran, tetapi tindakan pembunuhan tidak dapat dibenarkan.


Kemudian, Ali menyadari, bahwa naga air begitu besar, yang dia lihat tempo hari benar-benar nyata dan bukanlah imajinasi Ali. Naga air itu memang milik Theon yang digunakan untuk membunuh geng naga biru. Sungguh, sebenarnya Ali sudah mencurigai ada yang tidak beres dengan Theon sudah lama, dan hari ini dia sudah mengetahui kebenarannya.


Sedangkan Lesha, sebenarnya dia tidak terlalu banyak berpikir. Bahkan dia sedikit demi sedikit bisa melupakan bahwa dirinya baru saja membantu tindakan pembunuhan. Hanya saja mengapa dirinya diam adalah tentang keberadaan Ali yang mengetahui kekuatan milik dirinya dan mereka berdua.


“Lehermu sudah pulih Rena, kau bisa bergerak bebas, asal jangan terlalu berlebihan. Bekas jahitan juga tidak terlalu tampak.” Theon tersenyum lega, melihat luka Rena sudah sembuh total dibandingkan dengan yang sebelumnya. Lagipula, Theon sebenarnya sedikit jengkel yang mana kejadian leher Rena terbelah adalah kemarin malam, namun Rena menarik perban pada pagi menjelang siang hari ini. Itupun Rena bergerak terlalu banyak.


Memang bahwa Rena adalah seorang dewi yang memiliki kemampuan memulihkan tubuh dengan sangat cepat menggunakan kemampuannya sendiri. Namun, tindakan Theon menurut Rena benar-benar tidak dapat dibenarkan secara langsung.


“Kalian kembalilah ke sekolahan atau kepala sekolah akan memarahi kalian. Kami akan masuk beberapa hari lagi karena harus membunuh Jean Skelet dan mafia sekeletonnya yang telah mengirim pembunuh bayaran.”Katanya dengan nada yang cukup rendah, Theon tak bisa berkata dengan nada yang tinggi karena Ali masih merasa trauma karena melakukan tindakan pembunuhan.


“Hidup kalian hanya dipenuhi bunuh membunuh usai kalian hampir mengalami kematian di rumah sakit. Tapi, aku hanya memberi saran saja, daripada kalian mengincar Jean Skelet, kalian tidak akan bisa menemukan rumahnya, bukankah kalian mengetahui dimana rumah Zuan? Kenapa kalian tidak memprioritaskan mereka terlebih dahulu?” Lesha menyentuh kepalanya seolah merasakan sebuah pusing. Meski begitu, entah kenapa dia tiba-tiba memberikan sebuah saran kepada Theon.


Theon dan Rena berpikir sejenak, tampaknya apa yang dikatakan oleh Lesha ada benarnya. Meskipun jauh, bukankah lebih mudah untuk membunuh anggota keluarga Zuan terlebih dahulu? Secara Theon sudah mengetahui dimana letak kediamannya. Sedangkan kediaman Skelet, Theon dan Rena sama sekali tidak mengetahuinya.


Apalagi pada saat itu, keluarga Zuan lah yang kemungkinan meminta keluarga Skelet untuk meminta membunuh Theon. Maka dari itu, bukankah lebih baik membunuh dalang dari dalang seseorang yang memiliki niatan membunuh Theon?


Penyebab Theon tidak membunuh keluarga Zuan mungkin karena Rena yang tidak ingin orang-orang tak bersalah terlibat, orang-orang yang hanya ikut-ikut atau penjilat keluarga Zuan terlibat. Karena saat itu, festival dihadiri ratusan orang yang berasal dari New Santara. Yang mana, jika Theon melakukan sebuah pembantaian, maka akan ada yang melaporkan. Melaporkan dalam artian bukan karena Theon adalah elementalist, melainkan karena Theon melakukan tindakan pembunuhan yang cukup brutal bagaikan pembunuh berantai.


“Kalian ikut tidak? Kita akan terbang menuju pulau Neverry malam ini.” Tanya Theon mengangkat alisnya. Dirinya sudah memutuskan untuk melakukan sebuah pembunuhan kepada keluarga Zuan terlebih dahulu, tak peduli jauh atau dekat sekalipun. Tentang biaya penerbangan, Rena rela mengeluarkan tabungan pribadinya, apalagi sebenarnya dia juga ingin membunuh keluarga Zuan selagi festival itu sudah berakhir.


Lesha menelan ludah, dia berdiri sambil menarik Ali yang termenung dan memikirkan perbuatannya. Dengan sedikit tersenyum, Lesha berkata, “A-aku tidak ikut-ikut lagi, kami akan kembali menuju sekolah.” Katanya meminta izin untuk kembali ke sekolah. Padahal, jika itu Theon, maka Theon akan tetap di sini sampai pulang sekolah. Karena menurutnya sekolah benar-benar membosankan.


“Baguslah, mereka akan pergi. Aku akan memesan tiket lagi untuk dua orang menuju pulau Nevery.” Ucap Rena dengan cukup sinis sambil mengambil smartphone miliknya.


Namun, ketika Lesha hendak keluar melalui pintu milik rumah Theon, ada sebuah bola yang terlempar melalui jendela dan ventilasi rumahnya. Tidak hanya itu saja, bola tersebut mengeluarkan sebuah asap berwarna hijau yang begitu tebal.


Tentu Theon langsung berdiri, keadaan benar-benar rusuh dengan Lesha yang langsung menarik gagang pintu rumah Theon. Sayangnya, pintu rumah Theon seolah terkunci sehingga dirinya tidak bisa untuk keluar. Ali berteriak ketakutan, asap hijau ini benar-benar membuat dia tidak bisa melihat apa-apa.


Kondisi kacau, Theon mulai berpikiran untuk mengeluarkan kobaran api untuk membersihkan asap hijau yang memenuhi ruangan tamunya. Namun, siapa yang menyangka ketika dia mengeluarkan setitik api, api itu seolah membesar dengan sendirinya seolah asap hijau itu merupakan bahan bakar.


Bahkan sambaran kobaran api itu membuat api memenuhi rumah Theon. Membuat Lesha dan juga Ali berteriak ketakutan, yaa untungnya api itu hanya sementara dan kembali dengan asap berwarna hijau. Kemudian Rena, dia mencoba untuk menutup hidungnya, mengeluarkan elemental kegelapan untuk menghalau asap hijau ini.


“Rena! Ali! Bertahanlah!” Teriak Theon mencari sebuah jalan, lebih tepatnya dia langsung mencari keberadaan pintu untuk mendobraknya keluar.


“Keluarkan anginmu Ki ....” Sebelum Theon melanjutkan ucapannya, kepalanya terlihat sangat pusing bersamaan dengan asap hijau yang perlahan-lahan menghilang yang membuat dirinya bisa melihat teman-temannya secara samar-samar. Tapi, betapa terkejutnya dia melihat bahwa teman-temannya jatuh pingsan di atas lantai seolah tak sadarkan diri.


Theon menyadari bahwa ini adalah sebuah serangan mendadak, sehingga dirinya tidak boleh ikut pingsan atau yang terjadi teman-teman dan dirinya akan mendapatkan sebuah bahaya yang begitu besar. Dengan penuh nekad, Theon mengeluarkan sebuah petir yang berwujud seperti sebuah pedang, kemudian dia lemparkan ke atas dengan kondisi tubuhnya sudah jatuh di lantai.


Atau lebih tepatnya, ketika pedang petir itu jatuh, Theon menetralkan semua elementalnya sehingga saat dia menggapai pedang petir tersebut, Theon tersengat hebat yang mengakibatkan sebuah gelombang kejut, sehingga membuat Theon tersadar dan bisa fokus ke depan.


Meski sebenarnya saat dia berdiri, tubuhnya benar-benar sangat sakit. Dia belum pernah tersambar petir namun masih bertahan hidup-hidup yang membuat syarafnya sedikit menghitam karena efek tegangan tinggi.


“Baiklah, jangan berpikir bisa lari dariku!” Theon masih memegang pedang petir miliknya. Kemudian, dia menoleh ke segala sisi untuk menanti musuh yang hendak datang.