
Roney menelan ludahnya secara kasar, dia tahu apabila dia menolak maka dirinya kemungkinan tidak akan kembali dari tempat ini. Sehingga, pilihan terbaiknya, dia hanya menerimanya, meskipun dia tidak akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar. Lagipula, kesini dan tidak menuju ke sini, Theon sudah bagaikan menjadi seseorang yang terus menghantui di benaknya, sehingga dirinya sudah tahu bahwa akan berakhir dengan seperti ini.
“Apakah kita memerlukan sebuah perjanjian tertulis?” Roney bertanya lebih lanjut. Lebih tepatnya dia setuju apabila Theon yang akan mengambil alih semuanya, dana Roney akan menjadi bawahannya. Atau lebih tepatnya, Roney masih ketua mafia, Ceo dari sebuah perusahaan yang dikembangkan oleh Scott, tapi dia harus tunduk kepada Theon.
Theon mengangkat tangannya, dia mengeluarkan sebuah gulungan kertas yang berasal dari cincin ruang milik ayahnya. Gulungan yang merupakan sebuah segel perjanjian dari bawahan kepada tuannya untuk menghindari sebuah penghianatan dari sang bawahan itu sendiri. Itu terjadi karena Theon sama sekali tidak akan percaya dengan Roney meski menggunakan perjanjian tertulis, karena dia tahu bahwa perjanjian tertulis akan bisa untuk dimanipulasi, apalagi dengan mafia berpengalaman seperti mereka.
Theon membuka gulungan tersebut tepat di atas meja, yang mana itu berisi sebuah pola dan tulisan-tulisan yang Roney sendiri tidak mengerti. Hanya Theon dan Rena saja yang mengerti bahwa tulisan itu adalah isi sebuah perjanjian yang mana sang bawahan harus setia dengan ucapan tuannya. Lebih tepatnya, isi perjanjian itu mengeluarkan kata perkata secara tiba-tiba sesuai dengan Theon katakan.
“Aku sudah mengatakannya tadi apa perjanjiannya, dan itu tertulis di atas gulungan kertas ini. Gigit jarimu dan teteskan di atasnya, kau akan terikat denganku. Jika kau mengkhianati apa yang kau katakan, maka semua darahmu sebagai gantinya. Perjanjian ini disebut dengan perjanjian darah.” Theon berkata dengan nada rendah, tapi justru itu tidak menghilangkan kesan kengeriannya di hadapan Roney itu sendiri. Apalagi Theon menempelkan semua jarinya ke jari tangan lain sambil meletakkan kaki satu kakinya di atas kaki lainnya.
“Ba-baiklah.” Kata Roney dengan cukup ragu. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain selain menggigit ibu jarinya dengan sangat kuat sehingga keluar sebuah darah. Tentu hal tersebut membuatnya merintih kesakitan sambil meneteskan darahnya di atas gulungan kertas.
Hanya saja, dia merasakan sensasi panas di sekujur tubuhnya, jantungnya atau lebih tepatnya semua yang dialiri darah. Bahkan tulang belakang yang menjadi organ pemroduksi darah. Dan itu berlangsung lama, yang mana sanggup untuk membuat Roney berteriak selama beberapa menit yang membuat Theon ingin sekali membungkam mulut Roney.
Dan setelah dampak itu selesai, Roney menghela napas, keringatnya bercucuran ketika dia baru saja merasakan sensasi yang menegangkan. Kini apa yang dia lihat, Theon tengah mengangkat tangannya dengan gulungan itu berada di atas telapak tangannya.
Tapi siapa yang menyangka? Gulungan itu berubah menjadi sebuah abu kertas seperti baru saja terbakar. Tentu hal tersebut membuat sebuah pertanyaan terlintas dibenak Roney. “Anda membakar gulungan itu, bukankah itu artinya Anda membatalkan sebuah perjanjian?”
“Kata siapa?” Theon mengangkat alisnya, “Anggap saja gulungan itu tadi adalah sebuah kunci dari segel yang ada pada darahmu. Kau bayangkan, apabila sebuah gembok kehilangan kuncinya, bagaimana gembok itu bisa terbuka? Ku lakukan hal seperti ini karena bisa saja kau mengetahuinya dan berusaha merebut ini dariku serta membuka segelnya.” Katanya sambil tersenyum jahat.
Roney tertunduk lemas, bukankah itu artinya segel yang ada pada darahnya abadi? Bahkan kunci pembuka segel itu sendiri sudah dibakar oleh Theon yang menandakan tidak ada cara lain membuka segelnya. “Ro ....Roney, siap melakukan tugas apapun dari tuan.”
“Kebetulan, buatkan kami Paspor dan Visa menuju Ellada.” Kata Theon memulai tujuan akhir meminta Roney menuju ke sini.
“Bagus, antarkan kami pulang terlebih dahulu menuju Agrabinta. Akh, ya aku lupa, bisakah kau mengurus terlebih dahulu yaitu menghilangkan semua rekaman cctv pada hari ini dan kemarin? Selain itu hilangkan semua berkas tentang siapa yang datang pada waktu kemarin. Kau seharusnya berpengalaman tentang hal itu semua.” Ucap Theon.
“Jangan bilang....” Roney seolah kehabisan napas saat menebak bahwa semua orang yang ada di wilayah ini telah dibunuh oleh Theon.
“Sungguh, bukan aku yang melakukannya. Jika kau penasaran, kau bisa melihatnya di layar monitor nanti. Aku pikir itu masih menyala, karena penggunanya telah pergi seperti yang kau lihat nantinya. Segera lakukan sekarang juga, karena kemungkinan malam nanti sudah sangat ramai tempat ini dengan misteri-misterinya. Karena teman kami hanya memesan semua wilayah ini hingga sore nanti.” Kata Theon.
“Baiklah tuan.” Kata Roney sambil beranjak berdiri untuk melakukan tugas yang diberikan oleh Theon. Yaitu menghapus semua jejak tentang mengapa semua orang yang ada di sini menghilang secara tiba-tiba?
Meskipun sebenarnya Theon benar-benar menghela napas karena Aura sendiri mengumpulkan semua jasadnya pada ruangan bawah tanah. Sehingga, Theon mampu menguburnya sekaligus di ruangan bawah tanah.
“The .... Theon.” Tanya Rena dengan sedikit gugup, “Bisakah ....”
Sebelum Rena melanjutkan ucapannya, Theon sudah menyambar leher Rena dengan sangat cepat. Dia mengerti apa yang diminta oleh Rena karena tadi belum mampu untuk dilakukan karena adanya sebuah gangguan. Sehingga, dia berniat melanjutkannya kembali selagi Roney pergi, selain itu dia juga menarik kata-katanya kembali tentang dirinya lelah.
“Tidak, maksudku aku tidak meminta hal yang itu lagi. Aku ingin bertanya, bisakah nanti Anda mengizinkanku untuk menuju ke rumah pamanku terlebih dahulu? Aku sedikit lupa bahwa berkas yang akan digunakan untuk mendaftarkan paspor dan visaku masih berada di sana. Lagipula, pembantuku tidak akan tahu dimana itu berada” Kata Rena dengan sedikit menyipitkan matanya, karena dirinya benar-benar sedikit geli karena Theon meraba bagian tubuhnya.
Theon yang mendengarkan hal itu, dia merasa cukup malu dan menarik tubuhnya kembali. Siapa yang berpikir bahwa ini adalah kesalahpahaman? bahkan wajahnya benar-benar menjadi jelek karena sifatnya yang tiba-tiba menjadi mesum. “Maafkan aku.” Kata Theon memukul kedua pipinya, “Baiklah baiklah, aku akan mencoba untuk menahan diri.”
“Hati-hati, bukankah pamanmu sudah tidak menerimamu? Apa yang ku takutkan dia akan mengusirmu menggunakan cara kekerasan.” Kata Theon fokus dengan apa yang dibahas Rena.
Rena menggelengkan kepala, wanita itu tampaknya sudah tak begitu takut apabila pamannya sudah main tangan sekalipun. Bahkan apabila dirinya berkehendak untuk membunuh pamannya sendiri, maka dia bisa saja, tak peduli apakah ada bodyguard di sisinya. Dia menyadari bahwa dirinya adalah seorang dewi yang tidak akan dikalahkan oleh manusia rendahan.