
Alsan menggebrak meja yang diatasnya merupakan monitor untuk mengawasi Theon dan juga Rena. Di kala seperti itu entah kenapa masih sempat-sempatnya bercumbu rayu yang membuat dia sebenarnya ingin membanting monitor yang ada di hadapannya.
Benar-benar tidak begitu etis, apalagi tepat di hadapan beberapa aparat yang mungkin juga benar-benar sangat jengkel melihatnya.
"Bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu? Sialan!" Bentak Alsan sambil menggertakkan giginya.
Kini Theon masih menikmati setiap inchi bibir dan lidah milik Rena. Bahkan dia terus ******* hingga menjadikan Rena sendiri merasa cukup kenikmatan dan terus menggeliat sambil menyentuh kedua pipi Theon, agar Theon sendiri terus membenamkan wajahnya.
Theon tidak menyia-nyiakan waktu, kondisi udara sudah menipis. Dia sudah merasakan bahwa dadanya sesak dengan kesadarannya yang mulai buram. Sehingga, dia meraih serum yang ada di depannya dan menusukkannya tepat pada leher Rena.
Hal tersebut membuat Rena membuka matanya, terkejut saat mengetahui bahwa Theon menyuntikkan serum itu agar dia kebal dari sebuah bius. Sehingga dia menarik wajahnya dan sedikit bergetar saat menyadari bahwa Theon tengah menahan agar serum itu masuk.
"Kau, kau tidak bersandiwara? Aku pikir kau berpura-pura karena kau memiliki cara lain." Kata Rena dengan histeris, dia mencoba untuk memberontak. Tapi Theon mendekapnya yang membuat dia sama sekali tidak bergerak.
"Bodoh, kau akan menjadi musuhku nanti jika seperti itu. Pasti aku akan kalah!" Rena berteriak sambil memberontak.
Theon masih terdiam. Memang benda yang mengikat di lehernya mampu untuk menahan kekuatan elemental nya. Tapi, bukan berarti dia juga tidak bisa mengeluarkan beast spirit miliknya.
Melihat serum itu sudah masuk ke dalam tubuh Rena. Theon melepaskan Rena dan melompat ke belakang dengan kepalanya yang sedikit pusing.
"Kau bodoh sekali! Pria paling bodoh yang ku temui!" Teriak Rena dia berlari ke arah Theon dan berusaha untuk menghajarnya agar Theon sendiri tidak terkena efek bius yang membuat dia pingsan.
"Aku tidak memiliki cara lain selain melanggar apa yang ku janjikan sendiri. Tapi musuhku bukanlah elementalist." Ucap Theon dengan sedikit lirih.
Seketika auman harimau menggelegar cukup keras, auman itu mampu membuat Rena sedikit terlempar sejauh beberapa meter ke belakang.
Hembusan angin berkumpul di ruangan itu, membentuk sosok harimau berwarna putih yang benar-benar memiliki aura binatang buas. Apalagi hewan tersebut meneteskan air liurnya dari taringnya sendiri.
Kiba berbalik badan, sang harimau itu mengayunkan cakarnya tepat pada leher Theon. Hingga alat yang menjadikan dia tidak mampu mengeluarkan sihir terlepas dengan cukup mudah.
Theon kembali tenang, matanya tidak lemah lesu ketika menghirup sebuah bius. Ini adalah elemen langka, elemen yang berasal dari ibunya dan tidak dimiliki oleh sesiapapun bangkit. Merasakan sebuah kepahitan dalam aliran darah setelah dia menghirup sebuah udara yang digunakan untuk membius, atau efeknya sama seperti racun.
Rena menghela napas, dia pikir Theon tidak bersandiwara. Nyatanya memang bersandiwara. Theon menggunakan efek racun untuk menetralkan bius yang membuat dia kehilangan kesadarannya.
Theon kemudian mengeluarkan bilah angin dari tangannya. Menghancurkan anti elemental yang berada di leher Rena. Sehingga, membuat Rena sendiri sudah merasakan orka yang mengalir di seluruh tubuhnya. Elemennya sudah kembali muncul yang membuat dia tersenyum lega.
…..
"Jenderal, Agent! Ledakan terjadi di barat daya markas. Strega mengamuk dengan menembakkan beberapa misil. Bahkan dia mengendalikan beberapa misil markas sendiri dengan pengendalian jarak jauh, dia mampu membajak semuanya!" Teriak salah seorang yang masuk ke dalam ruangan jenderal dan juga Agent yang sebelumnya menatap monitor dengan kosong.
Bagaimana tidak? Dalam ruangan tersebut muncul harimau yang menghancurkan anti elemental milik Theon dan juga Rena. Sehingga membuat dia mengalami kepanikan karena Theon dan Rena bisa saja menghancurkan tempat ini.
Apalagi, ketika dia mendengar bahwa Strega telah mengamuk di barat daya markas. Menghancurkan segalanya seolah ingin membebaskan Theon dan juga Rena yang telah tertangkap.
"Ta …. Tapi." Alsan berkata dengan ragu. Jika dosis bius dinaikkan, itu akan membuat keponakannya akan mati begitu saja. Meski dia tidak begitu percaya bahwa itu memang keponakannya yaitu Theon itu sendiri.
"Karena itu keponakanmu? Buka matamu, dia bukan keponakanmu! Dia adalah Lord Unknown musuh kita semua!" Teriak Jenderal Zurof dengan sangat tegas.
…..
Sirine yang terdengar membuat kegaduhan benar-benar terjadi dengan sangat mengerikan. Bahkan Theon dan juga Rena bisa mendengarnya dengan cukup nyaring.
"Tekanan udara semakin menipis, dosis bius sepertinya dikeluarkan dengan cukup tinggi. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku rasa ini ada sebuah kepanikan di markas pusat ini." Kata Theon sambil menembakkan bongkahan pada sebuah ventilasi udara yang menjadi keluarnya sebuah obat bius. Sehingga membuat ventilasi itu membeku.
"Apa yang terjadi?" Tanya Theon.
"Besi tua itu kembali dengan menghancurkan markas." Ungkap Kiba.
"Pusaran ledakan cahaya!"
Theon membuka kedua tangannya, membuat sebuah cahaya berkumpul dalam satu titik yang kemudian membentuk pusaran yang begitu cepat.
Theon langsung menarik Rena, menggendongnya dan menaiki Kiba yang langsung keluar dari tempat ini karena penjara benar-benar hancur karena cahaya yang memiliki kekuatan yang cukup besar. Kemudian, ketika mereka keluar, yang mereka tempati seketika meledak dan menghasilkan sebuah kepulan asap yang luar biasa.
"Tembak dia! Jangan biarkan Lord Unknown dan Dark Witch lari! Urus Strega! lindungi presiden agar tidak terkena dampak dari tiga makhluk yang begitu mengerikan!" Tetiak Zurof dengan cukup keras. Pasca ledakan dari penjara yang mengurung Theon, dia terlempar begitu jauh seolah terkena dampak dari ledakan itu.
Bahkan Alsan datau Zero mencoba untuk bangkit ketika tertimpa sebuah reruntuhan yang menjadikan dia kesulitan untuk bergerak.
Keadaan benar-benar cukup parah, semua tembakan terdengar dari segala sudut markas. Strega di barat daya, serta Theon dan juga Rena juga memperkeruh keadaan dengan menyerang segala yang dia temui.
……
"Kau kembali? Aku pikir kau tidak akan ke sini untuk menyelamatkan ku. Meski sebenarnya aku sendiri juga tidak perlu di selamatkan." Teriak Theon yang melihat Strega menyerang semuanya menggunakan kekuatan lasernya.
Theon langsung turun dari Kiba, dia ingin memperkeruh keadaan dengan …. Apa yang dia lakukan adalah melompat dari ketinggian, membuka kepalan tangannya lebar-lebar dan membenturkan telapak tangannya di atas permukaan reruntuhan dengan cukup kuat.
"Katakan kepada kekasihmu untuk tidak terlalu percaya diri!" Kata Strega yang terus menerus menembakkan lasernya. Bahkan, dia sanggup membajak seluruh misil untuk menghancurkan markas itu sendiri.
"Bummm!!"
Ledakan benar-benar terjadi, sebuah auman dari tiga hewan kembali muncul dengan menggelegar. Bahkan auman dari ketiga hewan dapat didengar dari sudut ibu kota yang benar-benar sangat mengerikan.
"Bukankah sudah ku katakan, bahwa Theon tidak selemah yang kau pikirkan." Ucap Rena sambil memperhatikan semua beast Theon mengamuk terkecuali Kiba yang masih menjadi tunggangannya.
"Itu, bukankah menurut informasi itu lebih mirip dengan penjaga arah mata angin? Bagaimana bisa?"