
"Aparat?" Theon mengangkat alisnya. Bagaimana bisa seseorang yang menggunakan pakaian tentara dengan helm yang menutupi wajahnya berada di rumahnya? Untung saja dirinya tidak mengeluarkan ketiga Beastnya. Sedangkan aparat itu sendiri sudah melawan pembunuh bayaran.
Namun, dia bersyukur meski aparat itu sendiri menatapnya dibalik kaca helmnya. Memperhatikan Rena terluka yang begitu berat, hanya saja dirinya benar-benar tidak peduli untuk menolong Rena, karena dia harus melawan secara fisik dengan para pembunuh bayaran itu.
Theon melompat melewati jendela rumahnya. Jarak rumah sakit sekitar ada 5 Km dari rumahnya. Hari juga tengah malam, dalam kondisi benar-benar sepi.
"Sialan! Rena bertahanlah!" Teriak Theon dengan begitu histeris sambil menahan darah yang keluar dari leher Rena. Dia terus berlari menuju rumah sakit. Dan, kemudian dia berpikir tidak ada cara lain selain mengeluarkan sayap api berwarna hitam dan terbang. Setidaknya dengan terbang maka pasti akan cepat untuk sampai.
Tapi, terbang dengan kecepatan seperti ini juga sangat merepotkan. Dirinya tidak tahu jika tiba-tiba ada seorang aparat yang menembakinya dari udara. Bahkan dirinya juga teringat dengan aparat yang ada di rumahnya.
"Andai aku punya kec...." Theon yang tidak melanjutkan apa yang dia ucapkan. Di dalam tubuhnya seperti mati rasa, atau seperti kesemutan pada kakinya. Dia membuka matanya dan menyadari ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Dan sepertinya, itu mungkin karena emosinya yang benar-benar panik.
"Gerakan kilat!"
"Duarr!" Sebuah petir menyambar di langit-langit kota Agrabinta. Padahal, bisa dibilang langit begitu cerah dengan rembulan dan bintang ysng menampakkan wujudnya. Dan itu membuat orang-orang yang masih terbangun di tengah malam mengerutkan dahinya.
Tentunya, itu adalah Theon yang barusan bergerak secepat petir untuk membawa Rena. Lebih tepatnya emosional kepanikan membuat elemental petirnya tiba-tiba bangkit yang membuat dirinya harus bergerak secepat kilat untuk membawa Rena.
Kemudian, sebelum di depan rumah sakit, Theon langsung mendarat sebelum ada yang melihat. Dan tentunya dengan bantuan beberapa penjaga, Theon berhasil membawa Rena menuju instalasi gawat darurat yang masih terbuka di tengah malam ini.
.....
"Petir apa itu?" Aparat yang membawa senapan, dia keluar rumah. Tapi bukan hanya untuk melihat petir, melainkan mengejar para pembunuh bayaran yang menyerang rumah Theon.
Tampaknya, pembunuhan bayaran itu tidak membawa kendaraan, sehingga membuat dirinya bisa mengejar sambil melepaskan peluru dari senapannya. Sayangnya, para pembunuh bayaran itu terlalu cepat.
Tapi, siapa yang menyangka bahwa pembunuh bayaran memasuki sebuah rumah kosong. Tentu, sang aparat itu memasuki rumah kosong dengan mengikuti mereka untuk menjelaskan dan bertanggung jawab semuanya.
Sambil masuk ke dalam rumah kosong, aparat tersebut menyentuh telinganya. Atau lebih tepatnya dia menyentuh alat komunikasi.
"Apa kau sudah membunuh anak yang bernama Rena itu agen?" Kata salah seorang yang ada dalam alat komunikasi aparat tersebut.
“Kenapa ada yang mengincar keponakanmu? Ini sungguh aneh. Kalau begitu, cepat selesaikan urusanmu jika kau memang sayang keponakanmu.” Katanya.
“Memang itu kenyatannya.” Agen Zero melihat sekitar dalam posisi yang benar-benar gelap. Hanya saja, dirinya meraskaan ada sekitar 5 orang yang mengepungnya dengan membawa sebuah katana yang begitu panjang. Sedangkan Zero sendiri dirinya membawa sebuah senapan yang seharusnya digunakan untuk jarak menengah dan jauh, serta senjata Plasma yang digunakan untuk menahan kekuatan Rena. Tapi tak apa menurutnya, dia sudah berpengalaman untuk menghadapi seorang pembunuh bayaran seperti ini.
Zero menurunkan tangannya, tatapannya tajam walaupun kondisi benar-benar gelap. Setidaknya jika dirinya merupakan seorang agen mata-mata, maka bertarung dalam kegelapan adalah hal yang normal baginya.
“Aku memang sedikit jahat dengan keponakanku. Tapi setidaknya aku akan melindunginya hingga tetes darah terakhir jika ada yang hendak membunuhnya. Aku juga bersyukur dia sudah sembuh dari penyakit mental dan berubah menjadi anak yang pemberani.” Kata paman Theon.
Pertarungan kini benar-benar terjadi, Zero melawan lima orang dengan senjata jarak dekat. Tentunya paman Theon juga menarik senjata sepanapannya, setidaknya juga digunakan untuk menahan pedang mereka. Atau bahkan mungkin untuk menembaki mereka dalam jarak dekat. Hanya saja, mereka terlalu banyak, sehingga ketika paman Theon menarik pelatuk, maka pembunuh yang lain akan menahan paman Theon.
Untung paman Theon masih memiliki kemampuan bela diri dan tidak hanya mengandalkan sebuah senapan saja. Dan tentunya, kemampuan bertarung paman Theon juga tidak perlu dipertanyakan lagi, meskipun musuhnya dalah pembunuh bayaran, paman Theon sanggup untuk melawan mereka dengan mudah. Bahkan gerakannya yang lihai dan sulit untuk ditebak ketika harus berhadapan dengan lima orang sekaligus.
Sebaliknya, kini hanya tersisa tiga orang setelah salah satu orang yang menerima sebuah peluru di otaknya, sedangkan yang satunya lagi, sebelumnya paman Theon berhasil menghindari sebuah serangan katana dan menangkap lengannya, kemudian membalikkan katana secara paksa hingga menembus jantungnya.
"Aparat sialan! Kenapa kau selalu ikut campur dalam urusan kami.” Teriak salah satu dari mereka.
Paman Theon tidak menjawab, memang sudah hal yang wajar bagi dirinya untuk ikut campur. Apalagi ketika tahu bahwa keponakannya menjadi target seorang pembunuh bayaran. Memang dia tidak terllau peduli tentang kehidupan Theon sehari-hari, hanya saja dia juga tidak bisa tinggal diam ketika Theon akan dibunuh dengan cara keji.
Tiga pembunuh bayaran menggertakkan giginya. Tampaknya dia gagal menjalankan tugas dari keluarga Zuan karena ada aparat yang tiba-tiba ikut campur. Sehingga daripada ketiga aparat itu mati sia-sia, dia langsung berlari.
Yaa tentu saja agen Zero langsung mengejarnya, keluar dari rumah kosong dan melepaskan beberapa tembakan yang mana itu justru membuat geger warga sekitar. Banyak lampu dalam rumah yang tiba-tiba menyala sehingga membuat kericuhan akan datang di kompleks ini. Sayangnya, ketika Zero mengejarnya, mobil berwarna hitam tiba-tiba datang dan mengangkut para pembunuh bayaran terebut.
“Ini aneh, ada apa dengan Theon? Apakah dia memiliki sebuah masalah dengan orang lain.” Batin agen Zero dengan penuh pensaran. Sungguh, dia benar-benar tidak tahu bahwa keponakannya sendiri memiliki kekuatan elemental dan memiliki masalah dengan keluarga terkuat dari segi kekuatan elemental tanpa dia tahu.
Sedangkan Theon sendiri, dia masih merasa benar-benar prihatin dengan kondisi Rena. Untung saja pecahan kaca itu tidak membuat menghancurkan nadi yang ada di lehernya. Sehingga pecahan kaca seukuran kaca itu hanya menusuk pada bagian leher sampingnya. Meski Rena bisa di selamatkan, Theon tidak bisa tinggal diam. Dirinya mulai berpikir siapa yang menyelinap di rumahnya pada malam hari dan melepaskan sebuah tembakan yang mengenai kaca rumahnya?
“Skeleton?” Theon berpikir sampai itu. Bagaimana tidak, di pulau ini hanya dirinya yang memiliki urusan dengan mafia Skeleton yang dimiliki oleh kelurga Skelet. Sehingga, dia sudah memiliki tujuan kali ini, yaitu menghancurkan mafia skeleton beserta keluarga Skelet nya sekalipun. “Jean, jangan berpikir bahwa ketika kau sudah mengeluarkan pembunuh untuk membunuhku, kau bisa tidur nyenyak.”