The God in the Modern World

The God in the Modern World
Kekuatan sejati para dewa



“Ayo kita serius! Jika sudah berhadapan dengan seorang iblis, maka kita juga harus menggunakan kemampuan dewa dan dewi! Bukan lagi kita bermain-main menjadi seorang manusia.” Theon mengangkat ujung bibirnya melihat Azazel muncul dari kubah kegelapannya.


Tubuh Theon sedikit mengeluarkan aura yang cukup hebat, matanya juga bercahaya yang menunjukkan bahwa dia akan merubah kondisinya sebagai seorang dewa sungguhan. Jika itu dia melawan Alzma, maka kemampuan seperti ini sama sekali tidak akan dia gunakan kepada seorang manusia. Sehingga, daripada terlambat, Theon harus menggunakan kemampuan sang dewa agung untuk melawan iblis yang notabene sepadan dengan kekuatan dewa. 


“Tombak penghakiman dewi cahaya!” Theon mengulurkan salah satu tangannya, mengeluarkan sebuah tombak cahaya yang ukurannya cukup besar. Yang kemudian, dia lemparkan ke arah Azazel yang cukup merasakan sebuah aura suci dari Theon itu sendiri. Apalagi dia melihat, bahwa unsur cahaya milik Theon benar-benar cukup terang yang menjadikan bahwa dia memang seorang dewa, dan bukan Alzma yang menjadi bawahannya.


Azazel cukup merasakan sebuah tekanan yang begitu luar biasa. Aura dewa yang dikeluarkan oleh Theon benar-benar membuatnya hampir terintimidasi dan cukup sesak di dadanya. Namun, dia tidak tinggal diam dan mencoba untuk melawan dengan mengeluarkan perisai kegelapan untuk memblokir serangan tersebut.


Sedangkan teman-teman Theon lainnya memilih untuk mundur daripada harus terkena dampak mengerikan dari teknik tombak penghakiman dewi cahaya. Dan itu cukup mengerikan bagi mereka.


Hanya saja, perisai kegelapan milik Azazel cukup mampu untuk menahan tombak cahaya yang dikeluarkan oleh Theon. Tapi itu sama sekali tidak bisa menahan sepenuhnya, ketika tombak cahaya itu bocor dan membuat Azazel terkena dampaknya yang cukup membuat dia terlempar ke belakang.


Tubuhnya mengalami sebuah kerusakan yang cukup parah, wajahnya mengalami sebuah kemurakaan yang cukup besar.


Beberapa detik kemudian, saat dia mulai untuk berdiri, sebuah sesuatu yang menyakitkan muncul di punggungnya. Seolah itu seperti bukan sebuah sihir, atau sesuatu yang berhubungan dengan magis dan spiritual.


Siapa yang berpikir, saat dia berbalik badan, makhluk aneh muncul bergerak dan menendangkan kakinya. Hanya saja, Azazel menangkap kakinya dengan menggertakkan giginya sambil berkata, “Bagaimana besi seperti ini bisa bergerak? Sihir macam apa ini?”


Ali yang berada di tubuh Strega mungkin sedikit berdebar kencang, namun sistem kecerdasan milik Strega mencoba untuk meyakinkan Ali, bahwa di depannya hanya seekor iblis yang lebih rendah dibandingkan temannya yaitu Theon. Jadi selama ada Theon, maka dia tidak perlu khawatir. Bahkan, Strega sendiri membujuk untuk mendominasi diri.


Ali menurut, kemudian dia berkata, “Jangan samakan aku dengan logam rendahan seperti itu! Sepertinya iblis sepertimu terlalu terkurung di ruangan hampa sehingga sama sekali tidak mengikuti sebuah perkembangan Zaman.” Meski sedikit ragu.


Azazel tidak mengerti, dia ingin mengangkat pedang yang ada di tangan sebelahnya untuk melepaskan sebuah energi kegelapan. Namun, sebuah kegelapan mengikat tangannya, hingga membuat Azazel sendiri cukup kesulitan untuk menggerakkan tangannya.


“Tombak penghukum dewa kegelapan!” Lesha sendiri berada di belakang Azazel dengan kondisi aura yang tak kalah mengerikan. Aura dewanya benar-benar muncul membuat Azazel merasakan sesak yang begitu luar biasa. “Strega, kau bisa pergi!” Sambungnya sebelum melepaskan tombak kegelapan miliknya.


“Tidak, kakiku tertahan.” Kata Ali, yang mana Lesha sendiri belum mengerti bahwa dia adalah Ali.


Rena muncul di samping Azazel, dia mengeluarkan sebuah unsur kegelapan miliknya untuk memotong tangan milik Azazel agar dia melepaskan kaki Strega.


Hanya saja, Azazel berteriak cukup keras dengan melepaskan cengkramannya pada kaki besi tersebut, yang mana dia gunakan untuk mengeluarkan sebuah unsur kegelapan kepada Lesha yang benar-benar cukup mengerikan.


Melihat bahwa Strega telah lepas, Rena segera pergi, Theon bergerak cepat untuk membawa Strega pergi.


Di sisi lain, Lesha melepaskan tombak penghukum. Yang mana tombak tersebut berbenturan dengan unsur kegelapan milik Azazel untuk menahannya. Bahkan dia juga berteriak seolah ingin melepaskan sebuah energi yang lebih besar lagi.


“Theon, syukurlah.” Kata Ali. Tapi dia cukup bergetar, saat mata Theon bercahaya bak seperti dewa yang mengeluarkan sebuah aura yang cukup menekan.


“Tunggu, kau Ali?” Theon mengerutkan dahinya. Dia tidak merasa bahwa robot ini berbicara selayaknya robot. Justru suaranya mirip Ali yang membuat Theon penasaran.


“Seperti Zirah dan menggunakan tubuhku, Ali bisa mengontrol penuh. Jadi dia bisa berguna.” Kata Sistem Strega.


Theon tersenyum, dia sama sekali tidak begitu peduli. Apa yang harus dia lakukan adalah menaruh Strega dan Ali sendiri karena dia harus menyerang Azazel dari sisi belakang.


Sehingga, dia sedikit menaruh kakinya di depan, mengulurkan salah satu tangannya dan melepaskan sebuah teknik. “Ledakan cahaya surga!”


“Bumm!” Ledakan cahaya muncul dari tangan kiri Theon, mengarah ke arah sisi belakang Azazel yang terkena sebuah serangan dari berbagai sisi.


Azazel berteriak dengan cukup keras. Dua unsur elemen yang paling kuat, yaitu cahaya dan juga kegelapan menyerangnya dari segala sisi. Benar-benar, tampaknya berhadapan dengan seorang dewa dan dewi merupakan sebuah kesalahan yang cukup fatal.


Apalagi tingkatan Azazel merupakan iblis bumi, jadi kekuatan mereka tidak akan setara dengan para iblis yang hidup di dunia lintas dewa, apalagi seorang dewa yang berasal dari alam dewa. Terkecuali Fritz yang hanya seorang demi god dan bukan seorang dewa sungguhan.


Meski begitu, Fritz adalah anak dewi rembulan, jadi kekuatannya juga tidak dapat diukur secara kasat mata yang membuat dia begitu saja diremehkan. Sehingga, membuat Fritz juga mampu mengeluarkan elemental blast seperti itu.


Azazel berteriak dengan sangat lentang, merasakan sebuah rasa sakit yang begitu luar biasa. Tidak heran, dia masih begitu lemah, apalagi kondisinya baru saja keluar dari segel ruang hampa yang begitu menyiksa. Padahal sebelumnya, dia berharap bahwa Theon Alzma membereskan semuanya, sehingga hanya dia yang ada di dunia ini.


Sebuah kubah kegelapan muncul, menahan kekuatan dari empat dewa di semua sisinya. Kemudian, dengan penuh kekuatan, Azazel melepaskan kubah kegelapan itu seolah meledakkannya hingga menghasilkan sebuah gelombang kejut yang cukup besar.


Keempat orang yang melawan Azazel mundur beberapa meter ke belakang. Tapi itu sama sekali tidak berdampak pada mereka.


“Itukah, kekuatan para dewa?” Lyu Shui membuka mulutnya lebar-lebar, dia cukup terkejut saat melihat bahwa Theon, Rena dan Lesha dilindungi oleh aura dewa yang cukup pekat yang membuktikan bahwa mereka adalah kalangan ras dewa. Meskipun Lyu Shui sendiri tidak akan menyangka bahwa ketiga muridnya adalah seorang dewa. Pantas saja, Theon mampu memecahkan masalah yang dia alami.


“Dewi Wulan, tampaknya kau cukup keteteran ketika seribu tahun yang lalu melawan Azazel.” Elzabeth mengangkat wajahnya, dan memperhatikan Azazel terlihat payah. Mungkin dia tidak sanggup untuk berdiri.


“Cih, jangan sombong kau Dewi, entah siapa namamu, tapi yang pasti ketika kau melawan Azazel seribu tahun lalu, mungkin kau akan mati. Dia baru saja keluar dari segel ruang hampa yang cukup tersiksa, karena pada dasarnya, ruang hampa tidak terikat dengan waktu yang membuat dia antara ada dan juga tidak ada.”


Azazel kemudian berdiri dengan sekuat tenaga, yang mana beberapa detik kemudian, dia menghilang dari pandangan manusia. Berbeda dengan para dewa, yang mengangkat wajahnya karena bisa mengikuti kemana perginya Azazel.