The God in the Modern World

The God in the Modern World
Akat pengikat



Dinding dipenuhi oleh akar yang menempel sangat erat, tidak hanya di tempat Theon, bahkan di seluruh dinding yang membuat para orang-orang di labirin ini benar-benar terkejut. Masalahnya, bagaimana akar ini bisa berada di dinding batu dan muncul secara tiba-tiba. Mungkin tidak hanya itu saja, bahkan akar tersebut juga merambat cukup cepat.


Tidak hanya dinding satu sisi, kedua sisi dinding juga merambat sebuah akar milik Theon. Sehingga besar kemungkinan, bahwa akar milik Theon merambat di seluruh dinding tanpa terkecuali.


Rolland sekalipun, dia juga melihat akar yang berada di dinding labirin. Dia mengerutkan dahinya dan berpikir darimana datangnya akar ini? atau mungkin para putra-putri big Three. Dia juga kebingungan, masalahnya akar merambat di dinding tidak diomongkan oleh orang tua mereka. Sehingga menurut mereka, ini adalah hal yang baru saja terjadi pada pembukaan labirin ini.


“Aku bisa merasakannya, labirin ini sebenarnya berbentuk lingkaran, dengan diameter 1 Km.” Theon bernapas dengan terengah-engah. Tentu saja, menciptakan akar merambat sepanjang itu memang hal yang mudah, tetapi menguras energi yang cukup banyak. Untung saja, ini bukanlah seberapa dan Theon masih memiliki orka yang cukup banyak pula.


Rena dan Lesha benar-benar terkejut, terutama Lesha yang memang baru melihat kemampuan Theon kali ini. “Bagaimana mungkin bisa begitu? Kau bisa merasakan luas labirin ini hanya menggunakan akar?”


Theon tidak menjawab, sebenarnya bukan itu maksud utama dia mengeluarkan akar pohon di dinding. Apa yang dia lakukan sebenarnya adalah mengikat semua dinding labirin menggunakan akar-akar tersebut agar tidak berubah-ubah setiap waktu. Sehingga, apabila labirin sendiri akan berubah kondisi, maka akar yang terhubung dengan lorong labirin didekatnya akan terus mengikatnya.


Karena pada dasarnya, labirin ini benar-benar licik. Seolah memiliki sebuah pikiran bahwa ketika ada seseorang yang dekat dengan ruangan bintang neutron, maka labirin akan mengubah lorongnya di tempat lain.


Selain itu, dengan adanya akar pohon yang merambat, Theon dengan begitu mudah mencari dimana letak bintang neutron. Atau lebih tepatnya, kini Theon mengangkat ujung bibirnya, ketika dia sudah mengetahui, dimana letak bintang neutron. Hanya saja, dia merasa akar pohonnya hanya merambat pada pintu masuk tempat bintang tersebut, karena sepertinya tempat tersebut sama sekali tidak berdinding. Dan, menurutnya itu sangatlah aneh.


“Sebenarnya kita sudah sangat dekat. Ayo cepat, lorong labirin tidak akan berubah, jadi bisa saja bintang neutron tersebut di temukan oleh orang lain.” Kata Theon dengan nada yang cukup tinggi sambil melepaskan tangannya dari dinding. Dan, tentunya, dia langsung berlari mengikuti insting akar merambatnya.


Benar saja, Theon sudah berada di depan sebuah gerbang yang di dalamnya sudah bukan labirin lagi, melainkan sebuah tempat putih tanpa batas dengan bintang neutron yang terlihat berwarna biru menyala.


“Hei, dia menemukannya! Jangan biarkan anak itu masuk!” Teriak Vynh dari sisi kiri. Tidak hanya itu saja, di lorong kanan juga terdapat Jean dan Starrlet yang berlari mengejar Theon yang hendak masuk ke dalam tempat bintang neutron berada.


“Sh*t!! Bagaimana dia bisa menemukannya terlebih dahulu?” Starllet benar-benar tidak begitu terima ketika yang menemukannya pertama kali adalah Theon.


Theon sama sekali tidak mengguburis dua orang yang ada di sampingnya. Sehingga, tanpa berpikir panjang dia langsung melangkahkan salah satu kakinya masuk ke dalam tempat tanpa batas dengan bintang neutron yang melayang.


Diikuti pula oleh Rena, namun sebelum Rena melangkahkan kakinya, Theon mencegahnya karena menurutnya ini sangat-sangat berbahaya. Sehingga, ketika Theon benar-benar masuk, dia mengulurkan tangannya dan berteriak, “Terputuslah akar pengikat!”


Apa, apa yang terjadi? Labirin benar-benar kacau, berubah bentuk baik dari lorong dan dinding secara cepat dengan disadari oleh semua orang yang berada di labirin tersebut. Bahkan Rena saja, dirinya benar-benar menjadi pusing ketika labirin seolah berputar-putar.


Tidak hanya Rena, para pemuda lainnya juga merasakan hal yang sama seperti Lesha, Rolland dan yang lainnya. Bahkan tidak sedikit dari pemuda yang berteriak ketakutan karena ini di luar dari apa yang mereka bayangkan.


Untungnya, beberapa detik kemudian, labirin kembali seperti semula, berhenti berputar dalam keadaan semua orang berdiri secara acak. Bahkan Rena, dia di hadapkan dengan banyaknya lorong sama seperti tadi. Rena juga mengangkat lengannya, 1 jam lebih lima belas menit sudah berlalu, yang menandakan bahwa hanya 45 menit waktu tersisa.


“Pangeran, aku akan mencarikan pintu keluar untuk Anda. Aku harap Anda menggunakan kemampuan Byakko untuk mencariku nanti.” Kata Rena sambil berlari, namun dia mulai berpikir. “Labirin benar-benar licik, itu kata pangeran. Jika lorong akan berubah-ubah ketika ada seseorang yang dekat dengan bintang neutron, maka akan terjadi sebaliknya jika seseorang dekat dengan jalan keluar.”


.....


Theon merasa ada yang aneh, sungguh aneh. Jika di luar hanya dipenuhi dinding batu sebagai sebuah labirin, kenapa tempat bintang neutron tidak ada dinding sekali? Padahal secara harafiah bintang neutron berada di pusat labirin. Yang mana seharusnya dikeliling oleh sebuah dinding.


Dia juga melihat ke belakang, dari depan pintu tempat ini bahwa labirin telah berubah ketika dirinya melepaskan akar pengikat. Namun, mengenai tempat keluar, dia pikir belakangan, apa yang harus dia lakukan adalah harus mengambil bintang neutron di hadapannya terlebiih dahulu.


“Aku tidak menyangka, bahwa kau memiliki cara yang begitu licik untuk mendapatkan bintang ini.” Ujar suara misterius yang tiba-tiba muncul di dekat Theon.


Theon terkejut, hanya saja dia langsung meraih bintang neutron yang berjarak beberapa inchi di hadapannya sebelum kejadian buruk terjadi. Tapi, siapa yang menyangka bahwa ketika dirinya ingin meraih bintang neutron, seseorang dengan pakaian kesatria kuno muncul di sampingnya dan mengayunkan ke arah tangan Theon yang sedang menggapai bintang neutron.


Dia melompat ke samping, menggertakkan giginya karena gagal untuk meraih bintang neutron terlebih dahulu. Selain itu, dia benar-benar penasaran, siapa sosok tersebut yang baru saja muncul dan menyerangnya secara tiba-tiba?


“Maafkan aku, hanya 45 menit sebelum labirin benar-benar tertutup. Jika aku tidak keluar maka aku akan terjebak di sini. Yaa, tentunya jika tidak mengambil bintang neutron pula.” Theon sedikit tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


“Bukankah kau tadi menantangku anak muda? Begini saja, jika kau ingin mendapatkan bintang neutron maka kau harus berhadapan denganku dulu. Perkenalkan aku, tuan labirin.”