The God in the Modern World

The God in the Modern World
Keturunan penyihir kuno



Semuanya benar-benar terkejut, Helen dan kedua cucunya terlempar ke belakang karena terkena hembusan angin yang benar-benar sangat kuat. Bahkan, Helen juga membentur lantai yang membuat dia hampir kesulitan untuk berdiri karena usia tua nya.


“Bagaimana dia bisa mengetahuinya?”


“Penyihir?” Ayah Agis segera berdiri, dia benar-benar terkejut saat mengetahui bahwa yang menyerang ibu dan kedua anaknya adalah seorang penyihir. Hanya saja, dia sama sekali tidak mengetahui bahwa dia adalah bawahan petinggi dunia, yang mana petinggi dunia memiliki perintah mutlak kepada petinggi negara, petinggi negara kepada presiden, dan presiden kepada aparat. Sehingga, bisa dibilang keduanya adalah bagaikan sebuah saudara.


Apa yang ayah Agis lakukan, dia menarik sebuah pistol dari selongsongnya, menembakkan sebuah peluru tajam yang benar-benar sangat cepat ke arah penyihir bawahan petinggi dunia.


Namun, apa yang terjadi? Peluru itu tak mampu menembus, sebuah pusaran angin muncul ccul dan menghancurkan sekeliling rumah Agis. Kepulan debu juga berkumpul menghalangi pandangan dari penyihir bawahan petinggi dunia itu sendiri.


“Bagaimana kau bisa mengetahuinya!” Helen muncul dari sebuah kepulan asap, dia mengayunkan kedua tangannya untuk mengeluarkan elemen api dari tangannya untuk menyerang penyihir petinggi dunia itu. Apalagi dia tahu bahwa elemen api pasti akan unggul dibandingkan dengan sebuah elemen angin.


Siapa yang berpikir begitu? Kayden bergerak dengan sangat cepat, bergerak secepat angin menuju belakang Helen dengan memukul tengkuknya. Apalagi Kayden melapisi telapak tangannya menggunakan elemen angin yang menjadikan kekuatan pukulannya memberikan sebuah damage yang besar.


“Agis lari!” Helen berteriak sambil tersungkur di bawah lantai yang retak.


Kayden mengangkat tangannya, dia mengumpulkan sebuah energi berwarna biru yang berasal dari tangannya. Tampak terlihat begitu jelas, bahwa Kayden sama sekali tidak menggunakan sihir elemental, melainkan kekuatan magis yang menjadi sebuah kekuatan kuno di dunia ini. “Sihir suci: Pelindung supremasi.”


Energi berwarna biru yang ada di tangan Kayden meledak, memancarkan dalam satu titik di langit yang kemudian menyebar, membentuk sebuah kubah pelindung di sekitar rumah Helen.


Agis yang sebelumnya lari untuk menuruti permintaan neneknya, dia seketika tertahan oleh kubah tersebut, yang membuat dia tidak bisa lari dari jangkauan Kayden.


Kayden sendiri masih terlihat tenang, dia hanya melihat Helen yang mencoba untuk berdiri karena serangan Kayden baru saja. Wajahnya terlihat marah karena anak dan menantunya mungkin tidak akan bisa bertahan dengan serangan Kayden. “Kau tahu? Nama penyihir kuno tertulis di bebatuan puncak gunung olympus. Bukankah di situ menara penghubung dimunculkan oleh avatar dewi rembulan generasi pertama?”


“Nama penyihir kuno tersebut adalah, Isabella, Isabelle Argyros. Dan sayangnya, meskipun selama beberapa generasi kalian menyembunyikan nama marga kalian, dan menyebut bahwa kalian tanpa marga. Tetapi, jejak historical pasti akan tetap ada. Dunia ini telah maju. Bukankah begitu, Nyonya Helen Argyros??”


Helen yang mendengarkan hal itu, dia berputar, mengeluarkan semburan api dari tangannya untuk menyarang Kayden. Hanya saja, Kayden langsung mengeluarkan sebuah hembusan angin dari tangannya.


Memang, bahwa semburan api milik Helen membesar dan menjadikan keberuntungan bagi Helen seharusnya. Akan tetapi, semburan api yang semakin membesar itu, justru berbalik dan menyerang Helen, karena hembusan angin itu tampaknya memantulkan sebuah kobaran tersebut.


Helen tersenyum kecut, dia mengeluarkan dinding tanah pelindung untuk menahan kobaran api yang justru berbalik kepadanya. Dan untungnya, dinding tanah pelindung yang dia keluarkan mampu untuk menahan elemen api tersebut.


Kayden tidak memiliki waktu banyak, di luar kubah pelindung sudah banyak helikopter yang siap untuk menembakinya apabila dia keluar dari kubah. Apalagi dia menyadari, bahwa salah satu keluarga yang dia bunuh adalah seorang aparat.


Sehingga, tanpa menunggu waktu yang lama, dia bergerak secepat hembusan angin untuk menyerang Agis yang membawa peti emas yang tampaknya berisi sebuah kitab After Death.


Kayden tidak mau kalah, dia justru juga melancarkan sebuah pukulan dikala dia bergerak. Sehingga, membuat Kayden sendiri beradu pukul dengan Emerald, yang mana Kayden menggunakan tangan kosong, tanpa menggunakan elemen apapun.


“Kraak ...”


Suara tulang retak terdengar sangat nyaring, di selingi oleh Emerald yang berteriak karena merasakan sebuah rasa sakit yang begitu luar biasa. Ketika mereka beradu pukul, kekuatan mereka tidak sebanding, yang membuat lengan Emerald benar-benar patah meski dia menggunakan elemen api sebagai sebuah pelindung.


“Emerald!” Teriak Agis dengan cukup panik. Dia langsung berbalik badan untuk melawan Kayden. Persetan dengan peti emas yang ada di tangannya, dia tidak bisa diam begitu saja.


Namun, Helen masih berdiri di hadapannya. Mengeluarkan sebuah tinju api tepat di sisi samping Kayden yang belum sempat untuk menoleh ke arah Agis. Wajahnya benar-benar marah apabila melihat salah satu cucunya di serang seperti itu.


Akan tetapi, sebuah hembusan angin benar-benar cukup kuat. Setidaknya mampu membuat Helen terlempar ke belakang.


Tak begitu menyerah, Helen langsung berdiri, mengulurkan tangannya dan membuka kepalan tangannya. Hingga memunculkan sebuah bola-bola api yang begitu banyak, wajahnya terlihat seolah menjadi lebih tua dibandingkan dengan sebelumnya.


Ditambah dengan Agis yang muncul, mengangkat tangannya perlahan hingga membuat Kayden tercengkram sebuah gundukan tanah yang tidak mampu untuk bergerak.


Kayden berwajah datar saat melihat bola api itu berada di hadapannya, terlebih tubuhnya tercengkram oleh gundukan tanah di atas sisa-sisa reruntuhan rumahnya, wajahnya sama sekali tidak berubah.


“Sihir suci: Pelindung es!”


Seketika di hadapan Kayden muncul sebuah dinding es yang benar-benar cukup tebal. Setidaknya, mampu untuk menahan semua bola api milik Helen. Kemudian, dia menurunkan dinding es itu dan menghancurkan tanah yang mencengkram tubuhnya menggunakan bilah angin.


"Sihir suci: Cengkraman Es!”


Agis dan juga Helen seketika membeku, tubuhnya merasakan sebuah getaran yang hebat saat es yang mendadak muncul di kakinya dan merambat hingga separuh tubuhnya yang membuat mereka tidak mampu untuk bergerak.


Kayden bergerak, melangkahkan kakinya ke arah Agis untuk merebut peti emas yang ikut untuk membeku. Hanya saja, sebuah kobaran api muncul di depannya, muncul seorang wanita cantik yang membawa sebuah pedang dari tangan kirinya yang dia ayunkan ke arah Kayden dengan cukup cepat. Dia juga merasakan rasa sakit yang begitu luar biasa karena tangan sebelahnya benar-benar patah.


Kayden mengeluarkan pedang es dari tangan kanannya, kemudian dia menahan ayunan pedang milik Emerald. Dia juga langsung menendang perut Emerald karena yang dia takutkan adalah Emerald akan mengeluarkan tekniknya lebih lanjut.


Yang membuat Emerald kesakitan dan tersungkur di atas dinding hancur. Merasa bahwa Emerald adalah sebuah hama, Kayden mengulurkan tangannya, yang mana telapak tangannya muncul ujung kristal es yang begitu banyak. Dan ketika di keluarkan, banyak kristal es yang ukurannya sekepalan tangan yang kemudian membunuh Emerald dengan cara brutal.


“Tidaaak!” Helen berteriak dengan cukup keras.