
“Roney, dimana tuan Scott dan tuan Skelet sekarang ini? kenapa aku tidak melihatnya?”
DI dalam mobil dengan Roney yang dipenuhi ketakutan, bagaimana tidak? Dia bagaikan membawa seorang monster yang kapan saja bisa mengamuk, bahkan Starllet sekalipun mengakui bahwa Theon tidak bisa untuk diremehkan.
Menelan ludah secara kasar, itulah yang dilakukan Roney sebelum menjawab pertanyaan Theon. “Tuan Yosef Scott dan istrinya, mengadakan hubungan kerja dengan tuan Harry Skelet dan istrinya di luar negeri. Itulah mengapa mereka tidak ikut festival keluarga Zuan tiga hari yang lalu.”
Theon mengangkat salah satu kaki dan meletakkannya di atas kaki yang lain. Entah kenapa dirinya memiliki ide yang benar-benar cemerlang yang mungkin menurut orang lain itu adalah suatu hal yang sangat jahat. Meskipun Theon sendiri mungkin menganggap bahwa itu adalah perbuatan yang sungguh keji.
“Ini adalah rumah Skelet, berhati-hatilah.” Kata Roney dengan ragu, karena berhenti di depan rumah Skelet sangatlah berbahaya. Bisa-bisa anggota mafia skeleton mengetahuinya dan membunuhnya cukup mudah.
Apalagi rumah ini berukuran besar yang berada di pinggir hutan, atau menghindari keramaian yang membuat ketenangan lebih terjaga. Memang, memang seperti itu, Scott juga membuat rumah induk juga jauh dari pemukiman.
Theon dan Rena mengangguk, kemudian dia turun sebelum memerintahkan Roney untuk pergi terlebih dahulu dan menyusulnya setengah jam lagi. Meskipun setengah jam menurut Theon sendiri merupakan waktu yang cukup lama untuk mengurus seisi rumah sebesar ini.
Keduanya berjalan ke arah gerbang yang begitu tinggi, yang mana gerbang tersebut tampaknya dikunci dan tidak bisa untuk di buka ataupun di dorong. Sehingga tak ada cara lain lagi, selain menggunakan kekuatan elemental selagi tidak ada orang yang melihatnya selain Rena itu sendiri.
Tangan Theon mengulurkan tangannya, sehingga sebuah sambaran petir keluar dengan cukup keras menghancurkan gerbang di depannya. Bahkan suaranya mungkin begitu menggelegar yang kemungkinan terbesar seisi rumah mendengarnya.
Tapi, siapa yang menyangka, sepertinya ketika Theon hendak membuka gerbang sekalipun, banyak orang berpakaian hitam yang berbaris dan hendak menyambut Theon dengan sebuah kepalan tangan mereka. Sayangnya, nasib mereka benar-benar sangat sial ketika gerbang yang dilemparkan Theon justru menimpa mereka.
Mungkin ada beberapa anggota mafia yang masih berdiri dan bertahan, mereka langsung berlari untuk menyerang Theon secara langsung, tangan kosong dan tidak membawa senapan atau senjata lainnya. Apalagi anggota mafia tidak memiliki elemental apa-apa.
“Cukup menarik, aku akan melawannya tanpa menggunakan kekuatan elemental.” Kata Theon sambil menekuk kesepuluh sendi jarinya hingga suara tulangnya berbunyi. Kemudian, mendapati sekitar ada belasan orang yang berdiri, Theon langsung berlari dengan normal dengan tatapan yang begitu tajam. Begitupun dengan Rena, dia mengikuti Theon untuk tidak mengandalkan elemental, melainkan kemampuan bela diri.
Suara pukulan terdengar ketika Theon mengepalkan tangannya, pukulannya tidak ada yang meleset sekalipun, mengenai semua wajah, dada atau bagian vital musuh yang dia hadapi. Gayanya benar-benar sangat baik ketika dia menghindar berbagai semua serangan, meskipun lawannya bukanlah satu, apalagi lawannya adalah anggota mafia.
Kekuatannya benar-benar sangat kuat, ketika kakinya di tahan oleh musuh agar rekannya bisa memukul Theon dengan cukup mudah. Tapi, siapa yang menyangka, bahwa tidak bergerak dari pijakan tanah tidak mengurangi kemampuan bertarungnya. Meskipun begitu, dia benar-benar cukup geram, Theon menahan pukulan salah satu musuhnya dan membantingnya ke arah seseorang yang menahan kakinya.
Rena juga bertarung dengan sangat elegan, meskipun dia wanita, tapi dia benar-benar sangat lincah untuk bertarung. Terbukti, dia berhasil mengimbangi musuh-musuh yang dia hadapi. Apalagi dia juga tidak memberi kesempatan musuhnya untuk berdiri, dengan menggunakan tangan dan kakinya yang cukup kuat untuk mematahkan tulang kaki.
“Dimana Jean Skelet!” Theon menggapai kerah baju salah satu musuh yang masih bertahan. Namun, apa yang Theon dengar hanyalah sebuah erangan kesakitan ketika kakinya benar-benar ada yang salah dengan rasa sakit yang begitu luar biasa.
Hanya saja, Theon menyadari ada sebuah tembakan, sehingga dia langsung menggerakkan orang yang dia cekik sebagai perisai tembakan yang di lepaskan. Mengakibatkan, Theon melihat dengan kepala matanya sendiri bahwa orang yang dia cekik sudah memiliki kepala yang pecah.
Theon tak peduli, atau tidak memiliki rasa takut sekalipun ketika orang yang dia cekik sudah menjadi bangkai beberpaa detik yang lalu. Dia menenggelamkan wajah orang tersebut di atas permukaan tanah dengan diperhatikan rekan-rekannya yang terbaring dengan kondisi yang tidak memungkinkan mereka untuk bertarung lagi.
Beberapa detik kemudian, dengan cepat Theon menggeser kepalanya, karena dia menyadari ada sebuah tembakan dari dalam rumah Jean Skelet. Namun, dari segi tembakannya yang memiliki jeda lama, Theon dapat menyimpulkan bahwa senjata yang digunakan adalah tipe jarak jauh yang digunakan oleh pesniper.
“Pangeran, gunakan senapan yang ada di cincin ruang. Kita akan berada di adu tembakan sebentar lagi.” Ujar Rena.
“Tak perlu.” Theon melemparkan tangannya ke depan ketika dia melihat ada salah satu orang yang bersembunyi dari dalam rumah Jean dengan sniper yang masih berdiri di belakang jendela. Dan ketika Theon mengayunkan tangannya, petir berwarna biru keluar menghancurkan jendela tempat persembunyian penembak tersebut.
Rena menyadari tidak hanya itu saja penembaknya, dia mengangkat kepalanya ke atas sambil mengeluarkan elemental kegelapan kepada penembak yang berdiri di balkon. Sehingga, kini sudah tidak ada lagi mafia yang menjaga rumah Sekeleton. Tinggal membunuh Jean saja.
Tak henti-hentinya Theon mengeluarkan elemental, guna memporak-porandakan rumah Jean, atau lebih tepatnya kini dia menghancurkan pintu rumah Jean sehingga kini sudah terbuka begitu lebar. Kemudian, tanpa menunggu lama, Theon langsung berlari masuk untuk menemui Jean sebelum dia kabur.
Sayangnya, ketika Theon masuk, sebuah tebasan pedang melayang tepat di mata Theon, atau lebih tepatnya ada orang yang berdiri di samping pintu yang telah hancur sambil mengayunkan pedangnya ke arah Theon. Itu bukanlah sebuah hal yang berat bagi Theon, dia menggapai tangan orang yang di sampingnya, sehingga pedang tersebut terhenti tepat di depan mata Theon dengan berjarak beberapa inchi.
Rena datang, dia langsung mendaratkan sebuah pukulan telak yang membuat orang itu terlempar. Theon langsung menarik pedangnya sehingga kini dia memegang sebuah katana untuk menghadapi seseorang. Dan yang benar saja, ketika Theon melangkahkan kakinya, Jean muncul dari anak tangga dengan membawa anggota mafia yang membawa pedang.
“Kau tau Theon? menidurkan adik kecil itu benar-benar sangatlah sulit.”