The God in the Modern World

The God in the Modern World
Serangan pada matahari terbit



Hari benar-benar dalam kondisi malam. Keempat faksi mungkin akan beristirahat dengan membuat tenda hingga membentuk sebuah perkemahan. Beberapa dari mereka juga memasak makanan untuk dimakan. Atau mungkin ada yang tidur, dan yang paling penting adalah berjaga-jaga secara bergantian, karena mereka tahu bahwa musuh bisa menyerang kapanpun.


Di faksi Euro, mereka benar-benar sangat beruntung karena sempat dari pegunungan beku. Jika mereka tidak sempat keluar, maka bisa jadi mereka tidak akan bisa tidur karena cuaca yang benar-benar cukup extrem. Walaupun sebenarnya, keluar dari pegunungan juga masih mendapatkan suhu yang sangat dingin.


Untung saja, banyak elementalist api yang mampu menghangatkan diri, membuat sebuah perapian untuk kelompok hingga bisa bertanah dari cuaca yang cukup dingin.


Di sisi lain, di faksi Hikari, keberadaan orang benar-benar cukup ramai. Setidaknya mereka membangun sebuah kamp di kota kosong yang baru saja mereka datangi setelah berlabuh. Dan tentu saja, tidak hanya sepuluh atau duapuluh, melainkan ada puluhan ribu orang yang berjaga-jaga karena mereka tidak tahu tentang keberadaan musuh yang bisa menyerang kapan saja.


“Lesha, jadi kapan kita akan memecah pasukan menjadi dua? Dan bagaimana tentang Skadron udara yang seharusnya datang untuk hari ini?” Rolland datang menghampiri Lesha yang tengah beristirahat.


Lesha menjawab. “Yah, tapi kita tidak jadi untuk menyerang dari arah tenggara. Namun akan tetap bersatu untuk melawan pasukan musuh yang ada di depan. Dan untuk skadron udara, mereka akan keluar dengan perintah Strega untuk membantu Theon kapan saja.”


“Jika kita sudah mengetahui ada musuh di depan, bukankah sebaiknya kita serang saja?” Tanya Rolland tanpa memberikan ekspresi yang membahagiakan sama sekali.


Lesha menjawab. “Tidak, para Undead sama sekali tidak mengenal lelah, sehingga penjagaan mereka benar-benar cukup ketat. Apabila kita serang seperti kita masuk ke dalam sebuah kandang, apalagi pasukan kita juga dalam kondisi lelah. Namun, apabila beristirahat seperti ini, pasukan masih memiliki waktu, meskipun kita tidak tahu ada serangan atau tidak?”


Rolland yang mendengar hal itu, dia berbalik badan dan berkata, “Aku heran, mengapa kau tiba-tiba berubah menjadi ambis seperti ini? benar-benar aneh, seperti Theon, Rena dan kau, yang tiba-tiba berubah seolah bukan dirinya yang asli.”


...****************...


Pagi hari telah tiba, dan matahari benar-benar sudah terbit dari timur. Hari yang seharusnya digunakan untuk menghirup udara segar, Faksi Hikari dikejutkan oleh pasukan dari Utara yang tidak hanya berisi pasukan berjalan, pasukan berkuda seolah meluluh lantahkan perkotaan yang membuat mereka seolah bersiap untuk berperang.


Tampaknya, Lesha menggertakkan giginya, sepertinya mereka menyerang ketika matahari terbit dikala para pasukan tengah terbangun. Hanya sebagian yang berjaga-jaga. Untungnya, para pasukan milik Lesha, justru langsung bersikap cepat dan langsung melakukan sebuah penyerangan.


Pertarungan sempit berada di perkotaan benar-benar terjadi. Hampir dua juta pasukan undead, dengan kuda undead pula membuat mereka benar-benar cukup kewalahan. Para aparat yang tergabung di tempat ini segera mencari tempat tinggi seperti menghambat pertarungan pihak musuh sehingga teman bisa menyegelnya dengan cukup mudah.


“Pasukan! jangan takut! Cari rekan dan saling membantu dan berbagi tugas, seperti menghambat dan melakukan penyegelan secara akurat!” Teriak Lesha dengan berteriak sangat kencang. Hanya saja, di kala seperti itu, dia harus berbenturan dengan sebuah gada yang diayunkan hingga dia terlempar ke belakang. Apalagi kondisinya masih belum terisi karena kondisi pagi.


Meski begitu, Lesha langsung berdiri untuk segera melumpuhkan sosok yang menggunakan sebuah mahkota emas, dengan jarik yang terikat dan dia jadikan sebagai penutup badan bagian bawahnya. Dia benar-benar tahu jelas siapa dia. “Gadjah Mada?” Kata Lesha dengan membuka matanya lebar-lebar.


“Lesha di belakangmu!”


“Duarr!”


Saat Lesha menoleh ke belakang, dia melihat seseorang yang menggunakan sebuah pakaian kaisar Roma hendak mengayunkan tangannya. Untungnya, sebuah peluru membuat tangan Alexandre menjadi putus meski sebenarnya pulih kembali. Melihat hal tersebut, Lesha langsung mengeluarkan sebuah elemen kegelapan dan langsung meninju dagu Alexander agung.


“Ali, cari tempat tinggi!” Lesha berteriak dengan cukup kencang ketika menyadari bahwa tembakan yang membantunya berasal dari Ali.


“Aku akan mencoba melumpuhkan, sedangkan kau fokuskan untuk merapal formula penyegelan.” Kata Ali yang berada di dekat Lesha. Bersamaan dengan itu, Gajah Mada mengayunkan palu agungnya, hingga membuat Ali terlempar ke belakang.


Lesha yang melihat hal tersebut langsung menginjak tanah dengan cukup kuat sehingga elemen kegelapan langsung menyerang Gajah Mada. Sayangnya, Gajah Mada benar-benar cukup gesit.


...****************...


Ponsel Theon berbunyi, membuat dia yang hendak menuju istana langsung terfokuskan untuk mengangkat smartphone dan segera mengangkatnya.


“Mereka tampaknya berubah rencana, pasukan yang seharusnya menyerang dirimu, justru membantu pasukan yang akan menyerang Lesha. Sehingga, hal tersebut cukup membuat pasukan Lesha benar-benar kewalahan. Kau bisa membantunya.” Kata Strega dalam alat komunikasinya.


Theon menggertakkan giginya. Petinggi dunia seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh Theon. Tampaknya, dia kesulitan untuk mengimbangi kemampuan milik petinggi dunia yang membuat dia harus memutar otak. Dan salah satu cara yang paling baik adalah membantu Lesha, sehingga dia yang semula dari arah barat, akan menuju selatan sekarang juga untuk memberikan sebuah bantuan.


“Katakan kepada Rena untuk membantu juga, tampaknya kita harus bertarung bersama-sama.” Kata Theon dengan menggertakkan giginya berulang kali.


“Aku mengerti Lord Unknown.” Strega mengangguk, yang mana kemudian dia juga memerintah Skadron udara untuk membantu pasukan milik Lesha.


DI kala Theon hendak bersiap seperti itu untuk segera menuju wilayah Selatan. Theon dikejutkan dengan pasukannya yang tiba-tiba berteriak seolah kesakitan. Dan tentunya, hal tersebut membuat Theon benar-benar cukup terkejut dan memastikan apa yang terjadi sebenarnya.


Hanya saja, ketika dia pergi, dia melihat pasukannya seperti terbunuh di belakangnya. Yang membuat Theon langsung berbalik badan dan melihat ada sekitar lima puluh orang yang mati karena sebuah tebasan pedang.


“A-apa yang terjadi?” Theon melihat sekeliling. Selain melihat ada elementalist pasukannya yang berjaga, apa yang Theon lihat adalah jalanan dengan gedung-gedung pula. Dia juga mencari sesuatu yang janggal. Hanya saja, dia langsung menghampiri elementalist yang baru saja dibunuh untuk mencari tahu siapa penyebabnya.


“Seorang Assassin, mereka bergerak dengan sangat cepat dan bersembunyi dari balik kendaraan terbengkalai.” Kata Kiba menjelaskan.


Dan yang benar saja, para elementalist lainnya mengalami sebuah kepanikan saat melihat ada puluhan rekannya yang mati secara tiba-tiba. Mereka hanya melihat sebuah bayangan, atau mungkin setidaknya seseorang dengan jubah yang menutup seluruh tubuhnya.


“Semua, bersiaga!” Teriak Theon untuk meningkatkan kewaspadaan. Masalahnya, dia cukup terkejut saat seorang assassin bergerak dengan sangat cepat.


Theon langsung berbalik badan dan melancarkan sebuah pukulan. Bersamaan dengan itu, dia juga mendengar sebuah tebasan pedang yang mengiris kulit manusia. Dibarengi dengan suara teriakan manusia yang semenjak tadi muncul karena sebuah kepanikan.


Sedangkan yang dipukul Theon adalah seorang Assassin, yang tersungkur di atas sebuah tanah. Theon langsung menghampirinya untuk menyerangnya menggunakan sebuah elemen api putih. Hanya saja, Assassin itu langsung melakukan sebuah Flip ke depan hingga mendorong tubuh Theon.


“Kau tidak akan bisa melawan bapak para assassin. Yaitu tuan Hassan As Sabah.”