The God in the Modern World

The God in the Modern World
Pertarungan untuk masa depan



Dia mengikuti kemana perginya Meridith dengan cukup cepat, dan menebaskan ke arahnya hingga mengeluarkan sebuah tebasan api berwarna hitam. Bahkan, tebasan itu juga mampu membakar sisa-sisa pohon yang runtuh akibat serangan yang diberikan oleh keduanya.


Merasa bahwa Meridith benar-benar sangat cepat,  Theon mengulurkan tangannya, mengeluarkan tali-tali cahaya. Mengejar kemana perginya Merditih. Sehingga saat terkena sekalipun, Meridith terikat oleh sebuah cahaya.


Hanya saja, itu masih lemah menurut Theon itu sendiri. Theon menciptakan dua buah ring cahaya yang mengikat Meridith dengan cukup erat. 


Tatapan Theon tidak jauh dari wajah yang cukup sinis, dia perlahan mengangkat tangannya hingga membuat tanah sekitar mengalami sebuah keretakan. Tanah-tanah mulai berkumpul di Meridith hingga membentuk bola tanah yang cukup besar. Tidak berhenti, Theon terus membuat Meridith terjebak dan sama sekali tidak bisa bergerak.


Kemudian, Theon mengepalkan tangannya, hingga menjadikan bola tanah dengan meridith yang ada di tengahnya sedikit retak, mengeluarkan sebuah cahaya api berwarna merah tua. Yang mana, perlahan-lahan, bola tanah itu berubah menjadi merah karena terkena api.


Seketika bola tanah itu meledak, memancarkan lahar-lahar yang berjatuhan di atas tanah. Hingga membuat permukaan tanah cukup sedikit ngeri apabila dipandang.


Siapa yang berpikir, bahwa kemampuan seperti itu sama sekali tidak berlaku kepada Meridith. Bola kegelapan seolah melindungi tubuhnya, dan sama sekali tidak terdampak padanya sedikitpun. Bahkan saat bola kegelapan itu menghilang, Meridith juga dengan cepat bergerak ke arah samping Theon.


Theon mengerti, dia mengayunkan pedangnya ke arah samping. Akan tetapi, Meridith sendiri memiliki pukulan cakar yang cukup keras, hingga membuat Theon yang memegang pedang mundur lima langkah ke belakang.


Meski begitu, Theon yang mundur beberapa langkah ke belakang, dia menancapkan pedangnya ke tanah agar dia tidak terlempar lebih jauh lagi. Mengakibatkan, sebuah naga tanah keluar dari permukaan tanah dengan corak magmanya, menyerang kemana perginya Meridith yang melompat ke belakang.


Setiap Meridith melompat ke belakang, naga tanah akan muncul dan siap membuka mulutnya. Hal tersebut membuat Meridith sendiri cukup kerepotan, dan langsun melayang di angkasa. Selain itu juga, di hadapannya terdapat naga magma yang mengerikan. Meridith langsung mengulurkan tangannya, hingga membuat sebuah tombak kegelapan muncul dan menghancurkan naga magma itu dengan cukup mudah.


Sayangnya, tombak kegelapan tidak hanya membuat naga magma hancur, melainkan memberikan sebuah dampak serangan yang cukup lebar ke arah Theon di bawahnya.


Theon mengerutkan dahinya, dia menebaskan pedangnya sedikit condong ke atas, hingga membelah sebuah unsur kegelapan menjadi dua bagian, yang tidak bertahan lama.


Theon langsung bergerak secepat cahaya mengikuti kemana perginya Meridith. Alhasil, mereka langsung melancarkan sebuah serangan dari jarak dekat, antara pedang dan cakar. Mungkin itu terlihat biasa bagi mereka, akan tetapi apabila ada manusia biasa yang melihat ini, maka akan terlihat sebuah cahaya dan kegelapan yang saling bertempur. Karena kecepatan mereka berdua tidak dapat dilihat begitu saja.


Meridith mundur untuk menjaga jarak, begitupun dengan Theon. Theon tidak menyangka bahwa ketahanan iblis wanita itu benar-benar sangat kuat, cakarnya tidak lebih dari sebuah pedang yang sama kuatnya dengan Fire Sword.


“Dewa rendahan sepertimu tidak akan mampu untuk melawanku!” Meridith berkata, kemudian dia menyentuhkan permukaan tanah di depannya, hingga sebuah naga kegelapan muncul dari permukaan tanah yang dipijak oleh Theon.


Tidak mau kalah, Theon mengulurkan tangannya ke depan sambil mengeluarkan sebuah naga cahaya dari langit yang sama besarnya dengan naga kegelapan milik Meridith.


Selain itu, dia melompat ke arah tubuh naga kegelapan, berlari di atasnya dan bergerak ke arah Meridith yang tidak lama kemudian menghilang. Bersamaan dengan itu, dia melompat karena guncangan karena pertarungan dua naga benar-benar sangat hebat.


Meridith muncul di belakang Theon, dan menendangnya dengan cukup kuat, membuat Theon sedikit terlempar ke depan dan hendak jatuh menuju permukaan tanah yang tidak cukup rata. Hanya saja, Theon langsung segera berdiri, memunculkan kristal es tajam dari bawah tanah yang kemudian dia lemparkan ke arah Meridith itu sendiri.


“Hanya itu saja kemampuan rendahan sepertimu? Kemampuan kaisar dewa tingkat satu? Tidak lebih seperti sebuah permainan anak-anak.”


Theon sedikit terkejut dan melompat ke arah samping ketika Meridith tiba-tiba muncul di sampingnya yang mana keluar dari jangkaunnya. Hanya saja, saat dia melompat ke samping, tampaknya Meridith sendiri menciptakan sebuah kloningan yang dia gunakan untuk menahan Theon itu sendiri.


Untung saja, naga cahayanya masih bertahan, bergerak ke arah Theon yang tidak bisa bergerak karena Meridith yang mencengkramnya. Meski sebenarnya, ketika Meridith yang langsung melompat, Theon menggerakkan naga cahayanya ke arah kemana perginya Meridith.


Sedangkan untuk kloningan Meridith yang masih menahannya, Theon sedikit memukul perut klon Meridith menggunakan klonnya. Yang kemudian, dia berbalik badan dan langsung menebas kloningan yang cukup merepotkan hal tersebut.


Bersamaan dengan itu juga, naga cahaya milik Theon hancur seketika karena serangan milik Meridith yang cukup besar.


Hanya saja, Meridith yang sama sekali belum bergerak dengan menghela napas, keadaan seketika dipenuhi oleh sebuah kabut yang cukup tebal. Meridith benar-benar sangat bersiaga, agar tidak terkena serangan Theon secara langsung.


“Jangan remehkan diriku. Iblis sepertimu benar-benar harus dimusnahkan. Kau tidak tahu siapa aku?”


Meridith menoleh ke arah kiri dan mengeluarkan sebuah elemen kegelapan yang membuat kabut juga menghilang karena kegelapan seolah menerpanya. Hanya saja, serangannya sama sekali tidak mengenai Theon, karena justru hanya sebuah kain  melayang yang digunakan oleh  Theon untuk menutupi identitasnya berada di samping serangan yang dilepaskan.


Meridith cukup terkejut, bersamaan dengan itu, dia terlempar ke belakang dalam kondisi ada seseorang yang mencekiknya dan mendorongnya. Bersamaan dengan itu juga, dia merasakan seperti membentur sesuatu yang keras dan cukup dingin.


Kabut perlahan menghilang, Theon masih mencekik Meridith dengan dinding es di belakangnya. Dengan cengkraman  yang cukup kuat, perlahan leher Meridith membeku, yang kemudian menjalar di seluruh tubuhnya.


Kali ini dia sama sekali tidak menggunakan penutup wajah, hingga wajahnya yang cukup cerah menatap Meridith yang berteriak karena merasakan rasa sakit ditambah dengan rasa terkejut karena tahu siapa yang ada di depannya.


“Kau terkejut?” Tanya Theon dengan tatapan yang cukup sinis.


“Tidak.” Meridith menghilangkan teriakannya dan berkata dengan cukup santai.


Hal tersebut membuat Theon mengangkat alisnya dan menaruh kecurigaan. Tatapan pupil hijau Meridith benar-benar menjebak, yang membuat seolah dirinya sama sekali tidak bisa bergerak.


“Sihir pembatuan!”


Theon memaksa untuk melompat ke belakang, sebuah asap berwarna hitam keunguan bergerak ke arahnya dengan cukup cepat. Yang mana itu sama persis dengan asap yang membatukan para dewa di sini.


Tapi Theon kesulitan untuk bergerak sama sekali yang membuat dia hanya bisa membuka mulutnya karena akan terkena sebuah sihir pembatuan. Seolah tubuhnya membatu terlebih dahulu, padahal dia sama sekali tidak merasakan bahwa bagian tubuhnya mengeras.