The God in the Modern World

The God in the Modern World
Masuk kandang



“Kita sudah sampai, seperti biasa, hotel ini benar-benar ramai. Tapi sayangnya, bagaimana kita bisa mengadakan pertarungan di tengah-tengah umum?” Ucap Lesha sambil memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah hotel Nirwana atau basement.


“Para pembunuh bayaran itu pasti berada di lantai paling atas, tempat hotel berkelas berada. Setidaknya, mereka membutuhkan tempat untuk meeting dan merundingkan bagaimana cara membunuhku. Maka dari itu, kita harus membuat sebuah strategi.” Theon menyentuh dagunya dan berpikir. Karena dia tahu, bahwa untuk menuju lantai atas, dirinya harus mendapatkan izin dari resepsionis karena dianggap sebagai tamu, sedangkan resepsionis akan menelepon ketua pembunuh bayaran itu jika ada tamu di lantai dasar..


Rena yang menemukan cara, dia langsung angkat bicara, “Theon, kau bisa masuk terlebih dahulu. Kemudian, Lesha, dia akan menggunakan kemampuan gempa bumi untuk menarik para penghuni hotel. Karena, jika kita menggunakan cara Lesha mengeluarkan gempa bumi, maka kau tidak akan bisa masuk karena ramainya orang panik yang ingin keluar.”


“Dan mereka akan kesulitan untuk keluar karena mereka berada di lantai paling atas?” Tanya Lesha.


“Benar, dan Theon bisa mencegat mereka di tangga darurat. Gempa bumi tidak mungkin membuat mereka menggunakan lift karena itu sangat di larang.”


“A-apa yang kalian bicarakan? Aku sama sekali tidak mengerti.” Ali tersenyum pahit melihat teman-temannya yang bersikap aneh. Terutama dia mendengar bahwa Lesha akan mengeluarkan gempa bumi seolah seorang dewa.


“Bagaimana dengan Ali? Dia di sini hanya akan sia-sia dan merugikan karena melihat kemampuan kita. Apalagi ayahnya adalah seorang pejabat.” Lesha berbisik kepada Theon yang ada di kursi belakangnya. Apalagi dia bertingkat menjadi panik saat ternyata Rena ingin dirinya mengeluarkan kekuatan elemental dengan diketahui Ali.


Theon sudah memikirkannya, bahwa Ali akan membantunya untuk menghadapi para musuh apabila menggunakan senjata modern yang menurut Theon sangat mengerikan. Apalagi Theon benar-benar kewalahan apabila harus menghadapi para penembak yang begitu banyak. Belum lagi ternyata para pembunuh bayaran itu memiliki senjata plasma, secara, mereka berada di bawah utusan mafia yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan senjata persis dengan tentara.


Sehingga, diam-diam tanpa diketahui oleh Ali, Theon mengambil sniper dan juga pistol untuk dimasukkannya ke dalam cincin ruang. Karena akan sangat berbahaya apabila Ali menunjukkannya secara publik


“Aku akan menyusul bersama dengan Lesha, Theon, kau bisa masuk sekarang juga.”


Theon mengangguk sabil menyeret Ali keluar dari mobil yang tampak begitu kebingungan, karena tak ada waktu untuk menjelaskan kepada Ali sekarang juga. Dia harus masuk ke dalam hotel.


“Tunggu, aku harus apa?”


Theon tetap menarik lengan baju seragam Ali tanpa menjelaskannya lebih lanjut. Kemudian, ketika dirinya sudah masuk lantai dasar sebuah hotel, Theon bersikap tenang dan benar-benar ramah. Bahkan, Theon di sambut hangat oleh pelayan hotel yang bertugas untuk melayani para tamu.


“Tuan, dan?! Maafkan aku, bukankah ini putra salah satu pejabat di provinsi Envuella timur? Senang bisa bertemu dengan Anda. Kami masih memiliki satu kamar dengan fasilitas mewah untuk menikmati hidup Anda.”


Tampaknya, resepsionis itu benar-benar mengenal Ali, dan itu wajar saja bawa Ali sendiri merupakan putra pejabat di provinsi Envuella timur. Jadi, tidak heran bahwa respsionis itu menyambut Ali dengan sangat ramah.


Meski begitu, Ali kesulitan untuk berbicara, dia benar-benar tidak tahu cara mengatakan apa sebenarnya tujuan dia di sini. Dan yang pasti bukan untuk menginap di hotel ini. Sehingga, Ali menyenggol lengan Theon agar Theon berbicara untuk memberikan sebuah alasan mengapa Ali berada di sini.


Mata Theon tajam, dia memperhatikan keadaan sekitar apabila ada gerak-gerak yang mencurigakan. Sehingga, dirinya tidak begitu sadar apabila Ali mencoba untuk membuatnya berbicara.


Sebelumnya, Theon bisa melirik ada orang-orang yang menggunakan pakaian hitam berkacamata sedang memandang ke arahnya sambil mengangkat teleponnya. Tentu hal tersebut membuat Theon benar-benar memasang sebuah kecurigaan bahwa orang itu termasuk bagian pembunuh bayaran.


Hanya saja, Lesha sudah melakukan tugasnya, di basement dengan bantuan Rena dia menyentuh permukaan tanah dan menggunakan sebuah kemampuan teknik gempa bumi. Yang mana itu benar-benar menguras energi yang sangat banyak untuk melakukan demikian. Namun, Rena tidak terlalu memaksa Lesha, karena gempa bumi itu cukup terasa tapi tidak sampai membuat gedung hotel runtuh.


Semua orang menjadi panik dan berlari keluar, gempa bumi benar-benar terasa yang mewajibkan semua penghuni hotel keluar tanpa terkecuali. Lampu hotel juga tiba-tiba mati karena kemungkinan Rena sudah mematikannya yang membuat Theon bisa bergerak tanpa khawatir tentang sebua cctv keamanan.


Theon mengejar orang berpakaian hitam itu tadi, bukannya ikut keluar, dia justru naik tangga umum. Mungkin karena ingin membantu tuannya yang masih terjebak di lantai paling atas. Naasnya, Theon menarik kerah jaket orangtersebut, membuat dia terjatuh dari tangga dan benturan yang sangat keras.


“Dimana tuamu!” Kata Theon dengan nada yang cukup tinggi. Meski begitu, suaranya masih kalah dengan kepanikan orang-orang yang masih merasakan sebuah gempa bumi. Bahkan Ali sendiri juga kebingungan dan ingin lari. Hanya saja, Theon menahannya.


Ali sendiri bisa melihat kepanikan yang ada, bahkan dia juga bisa melihat penghuni hotel yang keluar hanya menggunakan sehelai handuk untuk menutupi badannya. Tidak heran, hotel ini benar-benar penuh dengan orang-orang yang menjual diri mereka sendiri.


“Kau salah masuk kandang. Kau akan mati!”


“Sepertinya percuma berbicara denganmu.” Theon menjawab seruan orang tersebut dengan menyeretnya ke atas. Hanya saja, orang tersebut langsung mengeluarkan pistol dari balik jaketnya untuk membunuh Theon secara langsung.


Theon mengeluarkan pistol dari cincin ruangnya, mengarahkan pula ke arah orang tersebut yang juga menodongkan pistol. Kemudian, Ali dengan ragu, dia yang ada di belakang langsung merebut pistol milik pria berjaket hitam.


“Bagus, gunakan pistol itu Ali.”


“Sialan! Kau anak pejabat mengapa ikut campur dalam masalah ini. Akan ku pastikan bahwa ayahmu tidak akan bisa hidup.”


Theon melemparkan pistol yang dia pegang kepada Ali, dan tentunyaTheon benar-benar geram dan langsung memukul mulut pria berbaju hitam tersebut. Tidak hanya sekali, bahkan berkali-kali membuat bibir orang tersebut mengalami luka lebam serta pendarahan yang cukup banyak.


Dia masih menyeret orang tersebut untuk menaiki tangga secara umum dalam keadaan sepi, karena orang-orang memilih untuk turun menggunakan tangga darurat yang lebih cepat. Kemudian, ketika sudah menaiki lantai kedua, Theon melemparkan orang tersebut tanpa meninggalkan rasa kasihan.


Tentu hal tersebut membuat Ali membuka matanya lebar-lebar, karena, sejak kapan Theon berani untuk membunuh seseorang?


Seketika, ketika mereka sudah berada di lantai kedua, beberapa pembunuh bayaran yang sama sekali tidak takut akan gempa dengan senapan berapi mereka muncul untuk menyerang Theon dan menarik pelatuknya. Namun, Theon mengibaskan tangannya hingga muncul sebuah kobaran elemen api yang membakar seluruh lantai kedua ini.