
Theon pada akhirnya sanggup kembali ke daratan, tentu itu menjadi sebuah pertanyaan bagi Lesha. Dan sangat berbeda dengan Rena, yang mana dia menutup mulutnya dan cukup tidak percaya tentang apa yang dia lihat.
Sebuah kepulan asap berwarna hitam sedikit ungu keluar dari gerbang dimensi tersebut. Asap yang sangat persis dengan asap yang membatukan seluruh ras di alam dewa sehingga tidak ada yang tersisa. Bahkan, Zeno sendiri juga tidak mampu menghilangkan semua asap itu seolah asap itu merupakan unsur anti elemental.
Tampaknya, dimensi tersebut merupakan gerbang penghubung dengan alam dewa, sehingga kepulan asap tersebut masuk ke dalam pusaran dimensi dan menuju alam ini. Namun yang menjadi pertanyaan, bagaimana bisa asap itu bertahan berbulan-bulan?
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Lesha mengerutkan dahinya ketika dia menatap ke atas. Kepulan asap berwarna hitam keunguan menyebar di langit dengan cukup cepat yang membuat pemandangan benar-benar cukup mengerikan.
Bersamaan dengan itu, sosok Fritz terjatuh, hanya saja kondisinya sudah mematung dan tidak bisa bergerak sepenuhnya karena sepertinya terkena serangan sihir pembatu tersebut. Ketika Fritz terjatuh, patung Fritz juga pecah seolah menjadi sebuah benda padat yang melunak.
Lesha yang menyadarinya cukup histeris, dia langsung berlari ke arah pecahan patung Fritz dan mengerti bahwa asap hitam keunguan itu tampaknya mampu membatukan seseorang. Itulah mengapa, ketika Azazel masuk ke dalam gerbang menuju alam dewa, dia kembali dan terjatuh dalam kondisi membatu.
“Fritz! Apa, apa yang sebenarnya terjadi? Asap apa itu?” Lesha dengan tangan bergetar, dia mengambil kepala Fritz yang dipenuhi sebuah rasa keterkejutan.
Hati Lesha seolah pecah ketika mengetahui bahwa anaknya akan seperti ini. Wajahnya dipenuhi sebuah kesedihan yang begitu luar biasa. Kemudian, dia mengangkat tangannya, berusaha menghentikan asap kegelapan itu menggunakan sebuah unsur kegelapan. Tapi sama sekali tidak berefek yang membuat Lesha sendiri tidak tahu harus berbuat apa.
Perasaannya campur aduk, Theon yang melihat hal itu, dia segera menghampiri Lesha dan berkata. “Tidak akan berguna, itu adalah asap yang membatukan seluruh dewa di alam dewa”
“Apa yang sebenarnya terjadi?!” Lesha mengulangi pertanyaannya dan berteriak dengan cukup histeris, wajahnya memerah dipenuhi oleh sebuah tangis karena Fritz. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Theon.
Semua teman Theon mendekat, mereka dipenuhi kengerian karena melihat asap hitam keunguan yang seolah mengamuk, membekukan seorang demigod cukup membuktikan bahwa manusia biasa seperti mereka pasti tidak akan bisa bertahan.
“Kita harus bekerja sama, Lesha! Tunda dulu kesedihanmu, jawab pertanyaanku secara cepat sebelum kita membatu. Tidak mungkin juga kita bergerak secepat cahaya dan meninggalkan teman-teman kita.” Kata Theon yang mencoba untuk tenang. Berkali-kali dia mengeluarkan elemen angin, tampaknya asap ungu gelap itu tidak bisa terhembus yang membuat keadaan cukup genting.
Tidak ada respon dari Lesha, dia hanya memeluk kepala patung milik anaknya dengan suara tangisan yang menggelegar. Lagipula, ibu mana yang rela kehilangan anaknya, dalam kondisi kepalanya terpisah dan berada di atas pangkuannya?
Meski begitu, Theon tetap bertanya, “Bagaimana perbedaan waktu antara alam dewa dan juga alam manusia?!”
“Lesha, jawab aku! Kau ingin Fritz kembali atau tidak!” Jawab Theon dengan cukup kasar sambil menggoyangkan tubuh Lesha. Dia juga sambil menarik keempat besatnya yang dari tadi diam, karena Theon sendiri melarangnya untuk bertarung.
Lesha yang mendengarkan hal itu, dengan menarik napas yang cukup sesak, dia berkata, “Apa yang akan kau lakukan?” Tanyanya sebelum melanjutkan ucapannya sambil terus memeluk kepala Fritz. “Satu tahun di sini, sama dengan satu hari di alam dewa.”
Theon mengerti, dan lebih dari cukup. Dia melakukan sebuah perhitungan, tapi dia tidak bisa menunggu lama sehingga dia harus melakukannya secara instan dengan menatap seorang kecerdasan buatan yang dikendalikan oleh Ali. “Strega, jika satu tahun di bumi sama dengan satu hari di alam dewa, dan kita seolah berada di tanggal 15 Februari 2022 di bumi, maka tanggal berapa kita bisa mundur setidaknya satu hari di alam dewa?”
Strega yang berubah menjadi sistem, dia menghitung cepat dengan menggunakan sebuah algoritma perhitungan. “Kita bisa mundur satu tahun kebelakang, yaitu 15 Februari 2021. Apa yang akan kau lakukan?” Kata Strega yang berbicara, meskipun Ali ada di dalamnya.
Theon mengeluarkan sebuah bintang neutron dari cincin ruangnya, kemudian dia menarik Lesha yang masih larut dalam sebuah kesedihan yang begitu luar biasa. “Jika perkataan Qin Shi Huang menyebutkan bahwa bintang neutron menjadikan dia seolah menuju ke masa depan, seharusnya bintang neutron ini menjadikan kita kembali ke masa lalu.”
“Lesha, gunakan bintang neutron ini untuk menuju ke masa lalu! Tepat tanggal 15 Februari 2021, tepat satu tahun sebelum hari kematianku!” Sambungnya dengan cukup tergesa-gesa. Dia tidak memiliki cara lain untuk melawan asap tersebut dan kembali menuju alam dewa.
Lesha menatap Theon sambil mengusap air matanya, dan itu merupakan pilihan yang benar. Karena dia dulu melakukan cara yang sama yaitu mengembalikan peradaban dunia setelah pertempuran besar dengan Azazel. Tapi, itu akan menjadi sebuah masalah. “Itu mungkin akan mengembalikan peradaban dunia, tapi karena Azazel mati bukan tersegel dalam ruang hampa, maka ketika kita kembali ke masa lalu, Azazel masih hidup. Tapi selama Alzma tidak melepaskannya, maka itu bukanlah masalah. Aku ....” Lesha berkata dengan berat.
“Butuh pengorbanan untuk melawan Azazel, kita harus melawan asap itu saja. Jangan pedulikan kematian Fritz.” Kata Lesha tertunduk. “Lagipula, apabila kita ke masa lalu, kau tidak akan sepenuhnya menjadi dewa, kau hanya akan menjadi avatar sebagai konsekuensi terbesar.”
“Jangan pedulikan! Asap itu tidak bisa dilawan dengan elemental apapun. Kita akan melawan sebelum asap itu keluar menyerang alam dewa, yaitu tepat pada tanggal 15 Februari 2021! Tentang Azazel, kita bisa melawannya nanti.” Tegas Theon dengan penuh desakan. Dia tidak bisa melihat lagi bahwa asap itu masih mendekat.
“Akh, biarkan kami membatu di sini. Kami tidak akan ikut ke masa lalu jika itu pertarungan para dewa.” Rolland menundukkan kepalanya, begitu juga dengan Lyu Shui.
“Tidak, jika ini berhasil, maka ini akan menjadi sebuah permulaan dan pengulangan waktu. Sehingga di garis waktu ini kalian tidak akan perlu membatu seperti itu. Aku tidak akan peduli konsekuensinya, meskipun berdampak pada diriku sendiri!” Theon terus menerus mendesak. Terlebih dia juga akan mengajak teman dan kepala sekolahnya.
Mendengar desakan dari Theon, Lesha meraih bintang neutron dari tangannya. Bola biru bercahaya itu, dia alirkan dengan energi rembulan miliknya, sehingga berputar ke arah diri dengan cukup cepat. Apalagi menuju masa lalu dalam waktu satu tahun lebih ke belakang, membuat bintang itu berputar puluhan ribu dalam sedetik.
Sehingga sebuah energi terus terpancar, membuat sebuah gempa yang begitu luar biasa. Apalagi bintang neutron itu seolah membelah bumi dan menghancurkannya, mengobrak-abrik kondisi bumi hingga membuat sebuah kengerian yang begitu luar biasa.