The God in the Modern World

The God in the Modern World
Kebangkitan tokoh hebat pada masanya



Tertunduk bukan karena ketakutan, melainkan karena mendapatkan tendangan yang cukup keras pada bagian kepalanya. Sehingga, bisa dibilang dia hanya tertunduk lemas tak berdaya sambil menerima rasa sakit, serta otaknya antara sadar dan tidak sadar saat ini.


Theon berbalik badan, dia memperhatikan para elementalist yang ketakutan melihat Theon marah karena perbuatan sang provokator. Tidak heran, Theon merupakan sosok Lord Unknown, yang menjadikan sosok elementalist paling kuat, bahkan bisa meratakan beberapa mabes di negara New Santara dan juga Ziosam.


“Aku tegaskan! Perang ini bukanlah sebuah paksaan. Untuk kalian yang merasa keberatan, tidak ingin perang, kalian bisa mundur, merasakan sebuah kesepian diri. Jika memang begitu, perang ini ditujukan kepada elementalist yang memiliki rasa sakit hati yang luar biasa. Puluhan, ratusan atau bahkan ribuan elementalist di luar sana kehilangan istri mereka, kehilangan suami mereka, atau bahkan kehilangan anak mereka.” Theon berteriak dengan cukup keras. Bahkan suaranya sanggup menggema hingga terdengar pada penjuru barisan.


“Jika kalian merasa takut, kalian bisa mundur! Aku tidak akan marah, aku sama sekali tidak marah apabila kalian memiliki sebuah ketakutan untuk melawan petinggi dunia. Tapi jangan sekali-kali menyebarkan paham bahwa apa yang dilakukan oleh petinggi dunia adalah sesuatu hal yang benar.”


“Kalian akan dihadapkan oleh mayat hidup, makhluk Undead yang memiliki kesadaran. Dan itu petinggi dunia ciptakan untuk melawan kalian! Jadi tidak melawan petinggi dunia sekalipun, kalian tidak akan bisa bertahan.” Theon berteriak dengan cukup tegas. Suaranya hingga serak yang membuat wajahnya memerah. Dia juga berada dalam puncak emosi di dalam hidupnya ketika baru saja melihat sebuah pemikiran bodoh dari seorang elementalist.


Sekali lagi, Theon menegaskan bahwa siapa saja yang takut maka diperkenankan untuk mundur. Lagipula mereka bisa bersama dengan para orang tua dan anak-anak. Lagipula juga, perang ini belum berangkat, karena masih ada ratusan ribu elementalist yang masih tersebar di negara ini.


Theon diam dalam beberapa detik. Dia sama sekali tidak melihat adanya seorang elementalist yang keluar dari barisannya. Mereka hanya diam mematung yang menandakan mereka memilih untuk berperang melawan petinggi dunia. Meski sebenarnya, Theon cukup yakin bahwa sebenarnya ada satu atau dua orang yang takut, memilih keluar dari barisan dan tidak ingin menjalankan tugas dari Theon. Hanya saja, orang itu lebih takut kepada Theon.


“Kalian tidak hanya berperang sendirian, menggunakan ratusan ribu pasukan saja. Kalian disebut faksi Osean karena berada di benua Osean. Masih ada jutaan elementalist yang dipimpin oleh Dark Witch dan satu rekanku lagi untuk memimpin sebuah faksi, seperti faksi Hikari yang mungkin berjumlah jutaan elementalist.” Sambung Theon sedikit menurunkan nada suaranya. Hanya saja, dia tidak menghilangkan ketegasannya pada elementalist di hadapannya.


“Benar, aku kehilangan anakku. Kalian yang mungkin tidak setuju untuk perang, itu artinya kalian belum tahu rasanya kehilangan seseorang. Pembunuhan hampir 8 Miliar umat manusia tidak dapat dibenarkan.” Teriak salah seorang wanita yang berada di hadapan Theon, dia memberikan sebuah suara agar menyulut semangat para pasukan.


“Aku juga kehilangan ibuku yang notabene merupakan seorang manusia biasa. Ayahku juga berdiri di sampingku dengan dipenuhi oleh sebuah kesedihan. Jadi, bagaimana mungkin kami harus diam saja?”


“Petinggi dunia harus bertanggung jawab, aku kehilangan pasanganku. Kami sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun.”


Theon tersenyum lebar ketika beberapa elementalist menjadi beradu nasib, yang mana mereka menyulut semangat para elementalist. Sehingga para elementalist berteriak, dan mengangkat tangan mereka untuk meminta pertanggung jawaban kepada petinggi dunia. Meski mereka tahu, bahwa membunuh petinggi dunia merupakan cara yang paling halus dan tidak cukup untuk meredakan emosi mereka.


“Anda berhasil membuat elementalist meneriakkan semangat mereka. Aku jadi penasaran, bagaimana jika seluruh faksi bergabung, hampir 6 juta dari 8 juta elementalist akan berkumpul.” Kata Calum yang berjalan ke arah Theon. Dia juga memperhatikan semangat para elementalist yang masih membara.


Theon juga memperhatikan, ratusan para elementalist menyebar, untuk memanggil para elementalist lainnya. Andaikan teknologi komunikasi masih berfungsi, maka akan bisa dilakukan secara mudah. Sayangnya, komunikasi benar-benar hancur karena aura segitiga iluminasi yang dikeluarkan oleh petinggi dunia. Hanya teknologi transportasi yang masih berfungsi.


.......


“Napoleon bonaparte, maksudku kaisar Napoleon I. Anda sudah mengerti kan tentang ceritaku tadi? Aku dihadapkan dengan sebuah perang, melawan elementalist yang ada di seluruh dunia.” Petinggi dunia membukakan sebuah peta dunia di depan Undead seorang kaisar Napoleon. Selain itu, mereka juga duduk dalam satu meja.


“Apa yang kau lakukan? Ini merupakan tindakan yang cukup keji. Dan kau juga membunuh semua manusia begitu saja?” Seorang Napoleon, dia menggebrak meja dengan cukup kuat. Dia tidak menyangka dirinya akan dimanfaatkan oleh seorang penyihir begitu saja. Namun, tubuhnya seolah dikendalikan, Napoleon yang semulanya ingin berdiri, tubuhnya tidak bisa bergerak seolah dibawah kendali petinggi dunia.


Napoleon terpaksa menurut. Namun itu bukan karena hati nuraninya, melainkan sebuah pengendalian. Mungkin otak kecilnya yang sedikit memberontak. Karena faktanya, dia saat ini tengah berpikir sebuah strategi untuk menyusun rencana sebuah perang.


“Aku mengira bahwa elementalist tidak akan menyerang dari satu arah. Karena mereka tersebar di masing-masing benua, maka mereka pastinya akan menyerang dari semua arah mata angin. Jadi, aku membutuhkan tiga pemimpin pasukan untuk menjaga semua sisi istana petinggi dunia, dan sisanya adalah aku sendiri.”


“Tidak perlu cemas. Aku memiliki semua Dna tokoh dunia di bunker bawah tanah. Meski terdapat serangan dari Lord Unknown, tapi setidaknya dia tidak menyentuh salah satu ruangan paling rahasia dibandingkan bunker itu sendiri. Sebenarnya dna tulangmu ada, tapi aku ingin melihat dengan sendirinya kau bangkit dari kubur.” Petinggi dunia berdiri dari tempat, dia menepukkan tangannya untuk memberikan sebuah isyarat.


Sehingga, bawahannya membawakan sebuah tiga kendi yang mana berisi sebuah debu, atau mungkin pecahan tulang yang merupakan milik tiga tokoh penting di dunia ini.


Bawahan petinggi dunia itu meletakkannya di lantai, di hadapan petinggi dunia dengan jarak beberapa meter pada masing-masing kendi tersebut.


Kemudian, petinggi dunia mengalirkan energi kematian pada ketiga kendi itu secara bersamaan. Sehingga, muncul seketika di bawah kendi itu sebuah peti mati secara tiba-tiba yang terbuat dari tanah. Keluar menuju ke atas dan perlahan terbuka, memperlihatkan tiga tokoh dunia yang terkenal.


“Julius caesar. Kaisar romawi yang hebat, tidak ku sangka dia membutuhkan 120 energi kematian manusia.” Petinggi dunia memperhatikan, seseorang berpakaian putih dengan kain merah yang berada pada pundak kaisar tersebut.


“Alexander the great. Kaisar yunani kuno. Dia lebih hebat, karena sepertinya membutuhkan 150 energi kematian manusia.” Sambungnya sambil melihat sosok yang pakaiannya mirip dengan Julius caesar, hanya saja Alexander memiliki tubuh yang sedikit besar, serta perisai dan pedang di tangannya. Berbeda dengan Julius yang hanya memegang sebuah pedang.


“Dan yang terakhir adalah Gadjah Mada. Seorang patih terhebat yang ada pada kerajaan Majapahit. Meski berbeda jauh dengan dua kaisar, tapi faktanya dia merupakan salah satu jenderal terhebat pada masanya. Selain itu, aku menghabiskan 135 energi kematian.”