
“Maksudmu geng Naga Biru, kau ingin membantainya? Jangan bercanda!” Lyu sedikit berkata dengan nada tinggi guna mengekpresikan keterkujatannya. Masalahnya, geng Naga Biru merupakan geng terkuat di kota ini, serta nomor tiga terkuat di provinsi ini. Sehingga, melakukan apa yang dikatakan Theon menurut Lyu benar-benar tidak masuk akal.
Theon menarik napas, “Baiklah jika begitu, aku benar-benar tidak memaksa.” Dengan perkataan sinis, Theon beranjak dari kursinya dan memilih untuk tidak banyak berbicara lagi. Lagipula, kepala sekolah tidak terlalu begitu penting untuk melakukan tindakan yang membahayakan ini. Hanya saja, ketika Lyu menolak, maka Theon juga menolak untuk mengangkatnya menjadi murid, karena seorang murid harus tahu bagaimana gaya khas seorang guru mengajar. Seperti Theon yang ingin menunjukkan pertarungannya.
Tentunya, pertarungan ini mungkin tidak biasa. Jika Leon saja yang merupakan bawahan ketua geng Naga Biru, yang pasti ketuanya juga jauh lebih kuat dibandingkan Leon. Hal itu tentunya membuat Theon benar-benar penasaran mengenai ketua geng Naga Biru.
Masalah kendaraan yang sebelumnya akan dibebankan kepala sekolah, jika kepala sekolah menolak, maka Theon akan menuruti apa yang dikatakan oleh Ali, yaitu menggunakan mobil pribadinya.
“Tunggu, guru! Baiklah aku akan menuruti apa yang kau mau.” Lyu menahan Theon yang hendak pergi melalui pintu ruangan kepala sekolah. Masalahnya, dia ingin sekali Theon membantu atau melatih pengendalian elemen api miliknya, barang kali Theon juga mau mewariskan sebuah teknik.
Theon berbalik badan sebelum dia menarik gagang pintu ruang kepala. Wajahnya sedikit senang ketika dia tahu bahwa kepala sekolah bersedia. Meskipun, dia juga tidak tahu apa fungsi kepala sekolah nantinya, setidaknya Theon juga ingin menjadikan Lyu sebagai muridnya agar Theon sendiri ada sosok yang membantunya untuk membangkitkan elementalnya.
Siapa yang tahu ketika dirinya mempunyai seorang murid, elemennya akan bangkit? Mesipun tidak begitu masuk akal, tapi kenapa tidak? Theon sama sekali tidak ragu untuk mencobanya, apalagi Lyu sendiri memiliki elemen angin yang kemungkinan besar dapat memancing elemental seed bertipe angin milik Theon agar elemennya bisa bangkit.
“Sudah kuduga. Baiklah jika memang begitu, kita akan berangkat sepulang sekolah. Lebih tepatnya ketika sekolah sudah benar-benar begitu sepi.”
“Masalahnya, apa kah guru mengetahui dimana markas keluarga Jark berada? Jika Anda tanya aku, maka aku juga tidak mengetahuinya.” Lyu berpikir sejenak.
Theon terdiam sejenak sambil menyentuh bibirnya, apa yang dia pikirkan tentang Lyu yang kini berubah menjadi formal saat berbicara dengan dirinya. Padahal, Theon sendiri secara harafiah masih murid dari Lyu. Sehingga, dia mulai berkata, “Kepala sekolah, tampaknya jika kita berada di lingkungan sekolah, maka jangan berbicara terlalu formal, berbicaralah seperti kau berbicara dengan murid lainnya.”
“Selain itu, Anda tidak perlu khawatir, aku sudah merencanakannya.” Jawab Theon sembari pergi dari ruangan kepala ini.
.......
Sore telah tiba, kondisi sekolah benar-benar sepi karena semua siswa sudah benar-benar pulang, serta para guru yang telah pulang ke rumahnya masing-masing. Terkecuali, Lyu yang berdiri bersandar di pintu mobilnya sambil bersedekap. Wajah sinisnya kemungkinan membuat semua pria benar-benar luluh hatinya, meskipun sebenarnya kepala sekolah adalah wanita tua.
Penampilannya juga cukup memukau dengan kemeja berwarna putih, serta rok yang begitu minim. Rambut terkucir kuda dengan kacamata bundar yang membuat wanita itu tampak seperti wanita yang cukup kasar.
“Theon, apa maksudmu? Kita bersama kepala sekolah?” Ali yang berjalan di sebelah Theon, menghampiri kepala sekolah yang tampaknya sedang menunggunya. Hal tersebut tentu saja membuat Ali benar-benar terkejut. Dia pikir, Theon menggunakan mobil kepala sekolah itu artinya Theon akan meminjamnya, tapi siapa yang menyangka bahwa Theon mengajak kepala sekolah secara langsung?
Menurut Ali sendiri, tampaknya dia merasa ada yang aneh dengan kepala sekolah ketika dia mendekatinya. Dirumorkan bahwa kepala sekolah jarang muncul, bahkan menjadi pembina upacara sekalipun karena aura panas yang keluar dari tubuhnya. Dan Ali sendiri pernah dekat dengan kepala sekolah, bahwa memang benar apa yang dikatakan oleh orang-orang bahwa kepala sekolah seperti pemanggang.
“Theon, kau mengajak siapa? Aku pikir kita melakukannya secara rahasia.” Kepala sekolah menatap sinis Ali.
“Dia mengetahui dimana markas geng Naga Biru, jadi mau tak mau aku harus mengajaknya.” Theon melirik ke arah ali yang sedang melamun ke arah kepala sekolah. “Dia Ali, satu kelas dengan ku kepala sekolah.”
“Ali ya, jadi kau masih satu kelas dengan Theon? Baiklah, aku juga tidak bisa berkutik tentang apa yang dikatakan oleh temanmu.” Tanya Lyu dengan tatapan yang sedikit sinis.
Ali sedikit gemetar, meski dia tiba-tiba takjub dengan kepala sekolah, dia masih memiliki rasa takut apabila berhadapan dengan kepala sekolah. Apalagi, kepala sekolah dikenal tidak memberi ampun atas sebuah hukuman yang diberikan kepada muridnya. “Be-benar bu, aku Ali dari kelas IPS. A-aku hanya diperintahkan Theon untuk menunjukkan jalan.” Jawab Ali dengan sangat gugup.
Akhirnya, mereka bertiga masuk ke dalam mobil untuk bersiap menuju markas geng Naga Biru, dengan dipandu oleh Ali. Tapi tampaknya, Ali sendiri benar-benar merasa aneh, dia merasa seperti Theon menyembunyikan sesuatu. Karena semenjak tadi dia sedikit bertanya-tanya, mengapa Theon bersikeras ingin mengetahui dimana markas geng Naga Biru? padahal itu sangat berbahaya.
Terlebih lagi, Theon juga mengajak kepala sekolah, padahal Ali sendiri bisa membawa mobil pribadi miliknya. Lebih tepatnya, dia akan meminta sopir yang menjemputnya pulang menggunakan transportasi umum, sedangkan kendaraannya, dia bawa secara pribadi untuk mengentar temannya.
“Theon, aku tegaskan sekali lagi, ini sangat berbahaya, jadi kita hanya melewati markasnya saja, tidak perlu turun dari mobil, kau mengerti?” Ali menegaskan kembali.
Theon dan Lyu saling memandang yang mana mereka berdua duduk di depan dengan Lyu yang menyetir. Wajah Theon tampak begitu santai dan tidak takut apa-apa meski dia akan membantah apa yang dikatakan oleh Ali, sedangkan Lyu, dia hanya menelan ludah secara kasar dengan wajahnya yang ketakutan, bagaimanapun melakukan sebuah pembunuhan atau melihat bukanlah sesuatu yang pernah dia alami, terkecuali ketika dia berumur lima tahun dan belum mengerti apa-apa.
Lyu juga paham dari raut wajah Theon bahwa Theon akan membantah apa yang temannya katakan. Sebagai seorang murid, Lyu tidak ingin membantah, dia akan mengikuti gurunya atau Theon untuk melakukan tindakan pembunuhan, meskipun dia benar-benar ragu apakah dirinya bisa pulang dalam keadaan hidup?
“Apakah kau takut, kepala sekolah? Aku akan menjelaskan sesuatu, tapi tidak ada hubungannya dengan geng Naga Biru. Sebenarnya ada, tapi hanya sedikit.” Kata Theon kepada Lyu yang fokus untuk menyetir.
Namun, sebelum Lyu menjawab, Theon sudah menyahut, “Terkadang, kita harus menghilangkan sebuah ketakutan untuk mencapai apa yang kita mau, seperti halnya sebuah balas dendam. Jika kita diam saja, maka hatimu hanya akan dipenuhi oleh traumatik masa lalu yang berdampak pada kekuatanmu. Balas dendam, memang cara yang bukan bijak, karena akan menyebabkan rantai balas dendam yang tak berujung, sehingga, cara yang paling tepat adalah membunuh untuk memutus rantai balas dendam yang selalu berputar.”
Lyu terdiam, tampaknya dia mengerti bahwa Theon membahas tentang traumatik yang dialami oleh Lyu, yang mana seluruh anggota keluarganya, kecuali ayahnya dibunuh oleh petinggi dunia yang menurutnya memang baj*ngan. Tapi mau bagaimana lagi, Lyu benar-benar tidak bisa berkutik untuk melawan petinggi dunia.
“Apa yang kau katakan Theon?” Ali megerutkan dahinya mendengar Theon tampak begitu menggerutu dengan perkataan yang tidak dapat dicerna oleh akal pikirannya.
“Akhhh bukan apa-apa, sebaiknya kau fokus untuk menunjukkan jalan kepada kepala sekolah, Ali.”